Dua Kematian Akibat Heatstroke di Akhir Juni: Penyakit Akibat Perubahan Iklim Adalah Nyata

Written by

in

7cloud.asia – Dalam waktu kurang dari dua pekan pada Juni 2026, dua orang dilaporkan meninggal dunia diduga karena mengalami heatstroke.

Korban pertama merupakan peserta ajang lari maraton, sementara korban lainnya adalah peserta Pelatihan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).

Dua kematian akibat heatstroke tersebut menjadi pengingat bahwa paparan panas ekstrem bukan lagi sekadar persoalan rasa tidak nyaman, tetapi juga mengancam kesehatan.

Heatstress dan heatstroke telah menjadi ancaman kesehatan yang nyata, tetapi masih banyak anggota masyarakat yang belum menyadari. Gangguan kesehatan akibat cuaca panas ini juga belum mendapat perhatian yang memadai dalam kebijakan kesehatan publik.

Dipaparkan dalam webinar yang diselenggarakan LaporIklim beberapa waktu lalu, heatstress merupakan kondisi ketika tubuh mulai kesulitan membuang panas akibat kombinasi suhu lingkungan, kelembapan udara, paparan sinar matahari, maupun aktivitas fisik.

Bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi heat exhaustion atau bahkan heatstroke, yaitu keadaan darurat medis ketika suhu inti tubuh meningkat drastis dan mulai merusak organ-organ vital.

Tanpa penanganan cepat, heatstroke dapat menyebabkan kegagalan organ hingga kematian.

Baca: Kenali Gejala dan Cara Mengatasi Heatstroke

Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof. Herawati Sudoyo menegaskan bahwa paparan panas ekstrem harus dipandang sebagai isu kesehatan masyarakat, bukan sekadar persoalan cuaca.

Menurutnya, saat suhu lingkungan meningkat, tubuh akan bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal melalui pelebaran pembuluh darah dan penguapan keringat.

Namun, ketika mekanisme tersebut tidak lagi mampu mendinginkan tubuh, seseorang dapat mengalami heat stress hingga heatstroke yang mengancam jiwa.

“Panas ekstrem bukan lagi sekadar persoalan cuaca, melainkan isu kesehatan masyarakat. Dampaknya dapat dicegah apabila kita mengenali risikonya, melindungi kelompok rentan, dan membangun kesiapsiagaan sejak dini.”

Herawati menjelaskan bahwa heatstress ditandai dengan keringat berlebih, kelelahan, kram otot, pusing, dan dehidrasi.

Apabila paparan panas terus berlanjut hingga suhu inti tubuh melebihi 40°C, kondisi dapat berkembang menjadi heatstroke yang menyebabkan kerusakan organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal akibat respons peradangan sistemik.

Selain berdampak pada kesehatan fisik, paparan suhu panas juga dapat memengaruhi kesehatan mental.

Baca: Cara untuk Tetap Dingin yang Lebih Ramah Lingkungan

Suhu tinggi dapat menurunkan konsentrasi, mengganggu kualitas tidur, memicu kebingungan hingga penurunan kesadaran, dan pada kasus berat berpotensi menyebabkan kerusakan otak permanen.

“Panas ekstrem telah menjadi salah satu penyebab utama kematian yang berkaitan dengan cuaca (weather-related deaths), sehingga memerlukan perhatian serius dari sektor kesehatan dan berbagai pemangku kepentingan.”

Dua kematian yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua pekan tersebut menjadi pengingat bahwa Indonesia perlu mulai memandang paparan panas sebagai isu kesehatan publik yang memerlukan edukasi, sistem peringatan dini, serta kesiapsiagaan lintas sektor.

“Kita tidak dapat menghentikan cuaca yang semakin panas, tetapi kita dapat mengurangi dampaknya. Literasi kesehatan adalah perlindungan pertama yang dapat menyelamatkan nyawa bagi setiap keluarga,” tandasnyaa

Selain faktor kesehatan individu, risiko paparan panas juga dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Kota-kota yang dipenuhi bangunan, minim ruang terbuka hijau, serta didominasi beton dan aspal cenderung menyerap dan menyimpan panas lebih lama.

Kondisi ini memicu fenomena urban heat island (pulau panas perkotaan), yang membuat suhu kawasan perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah sekitarnya dan meningkatkan risiko heat stress bagi masyarakat.

Karena itu, Eksekutif Direktur Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, mengatakan bahwa adaptasi terhadap suhu panas tidak dapat hanya dibebankan kepada individu.

“Cara rumah, lingkungan, dan kota dirancang turut menentukan tingkat paparan panas yang dialami warga,” tegasnya.

Baca: Wujudkan Hunian dan Kawasan Rendah Emisi Bersama BeCool

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *