7cloud.asia – Sejumlah individu baru ikan hiu paus (Rhincodon typus) berhasil ditemukan di Area Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC), Kwatisore, Kabupaten Nabire, Papua Tengah.
Dilansir wikipedia, hiu paus adalah hiu pemakan plankton yang merupakan spesies ikan terbesar. Cucut ini mendapatkan namanya karena ukuran tubuhnya yang besar dan kebiasaan makannya dengan menyaring air laut menyerupai kebanyakan jenis paus.
Hiu paus juga disebut dengan nama cucut geger lintang (dari bahasa Jawa: punggung berbintang) dan hiu tutul (nama yang cenderung menyesatkan, karena banyak jenis cucut yang berpola tutul), merujuk pada pola warna di punggungnya yang bertotol-totol, serupa bintang di langit.
Hiu paus biasa mengembara di samudera tropis dan lautan yang beriklim hangat, dan dapat hidup hingga berusia 70 tahun. Spesies ini dipercaya berasal dari sekitar 60 juta tahun yang lalu.
Corporate Secretary Pertamina International Shipping (PIS) Muhammad Aryomekka Firdaus dalam siaran pers di Jayapura, Selasa (11/6/2024), menyebut, temuan individu baru hiu paus ini adalah hasil monitoring bersama antara pihaknya bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)
Temuan hiu paus ini sekaligus menjadi hadiah spesial untuk keberlanjutan hayati di lautan yang bertepatan dengan momen World Ocean Day (Hari Laut Internasional) pada 8 Juni.
“Hasil monitoring yang ada di lapangan didapatkan adanya individu-individu baru hiu paus yang berada di kawasan TNTC sehingga jumlah populasinya kian meningkat,” katanya dilansir Antaranews.com.
Menurut Aryomekka, penemuan hiu paus ini menjadi upaya baik yang telah berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Identifikasi ini juga menjadi bukti nyata komitmen perusahaan dalam mendukung keberlanjutan ekosistem laut, khususnya di kawasan perairan Indonesia Timur.
Ia menambahkan, bentuk kerja sama pengelolaan Whale Shark Center di Kwatisore ini mencakup beberapa program
“Di antaranya konservasi dan tagging hiu paus, Pertamina Ocean Warrior atau Endangered Species Monitoring), pelatihan menyelam dan desa energi berdikari,” ujarnya.
Sementara itu Pengendali Ekosistem Habitat Seksi Pengelolaan TNTC Wilayah 1 Kwatisore, Sumaryono mengatakan data awal populasi hiu paus berjumlah 195 ekor.
Namun, setelah dilakukan monitoring bersama pada November 2023 pihaknya mencatat adanya individu baru sehingga jumlahnya mencapai 203 hiu paus per Mei 2024.
“Kami berharap agar ke depan angka ini bisa terus bertambah untuk memonitoring populasi dan pergerakan hiu paus di area TNTC ini,“ katanya.
Menurut Sumaryono, selain telah dilaksanakan program monitoring,l upaya konservasi di TNTC juga dilanjutkan dengan proses tagging hiu-hiu paus untuk merekam dan mengolah data perilaku hiu paus saat di perairan.
Di mana salah satu pemanfaatan data adalah untuk mempelajari rute migrasi dari hiu paus di area perairan laut Papua.
7cloud.asia – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) resmi menjadikan Kabupaten Kaimana, Papua Barat menjadi salah satu lokasi prioritas pengembangan dan rencana aksi nasional konservasi hiu paus di Indonesia.
Ketua Tim Kerja Perlindungan dan Pelestarian Jenis Ikan KKP Pingkan Katharina Roeroe di Kaimana, Rabu (14/8/2024) mengatakan di wilayah Papua dan Kaimana banyak teridentifikasi biota laut yang unik seperti hiu paus yang perlu dijaga dan dilestarikan.
“Hiu paus adalah ikan yang dilindungi secara berkelanjutan, terencana dan terukur hingga tahun 2025,” katanya.
Hiu paus biasa mengembara di samudera tropis dan lautan yang beriklim hangat, dan dapat hidup hingga berusia 70 tahun. Spesies ini dipercaya berasal dari sekitar 60 juta tahun yang lalu.
Pada Juni lalu, ditemukan individu baru hiu paus sebagai hasil monitoring bersama antara Pertamina bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)
Pengendali Ekosistem Habitat Seksi Pengelolaan TNTC Wilayah 1 Kwatisore, menyatakan data awal populasi hiu paus berjumlah 195 ekor.
Pingkan mengatakan untuk melakukan konservasi hiu paus, KKP harus membuat rencana aksi nasional konservasi hiu paus periode 2026-2029 di Kaimana.
Rencana aksi merupakan kolaborasi antara Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (Usaid Kolektif), Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) Konservasi Alam Nusantara dan Konservasi Indonesia.
Rencana aksi nasional lanjut Pingkan, akan dibarengi dengan berbagai kegiatan seperti, sasaran, strategi, indikator, lokasi
Adapun penanggungjawab kegiatan ini akan melibatkan semua pemangku kepentingan atau stakeholder terkait.
“Kami berharap melalui rencana aksi bisa memperoleh masukan dan gagasan dari semua pihak, sehingga kami bisa menyusun dokumen rencana aksi hiu paus untuk periode 2026-2029,” ujarnya.
Kepala Bappeda Kaimana Abdul Rahim Furuada mengapresiasi KKP yang telah memberikan perhatian kepada potensi kelautan di Kabupaten Kaimana.
Dijelaskan, dalam perencanaan tata ruang Kabupaten Kaimana, ada upaya untuk mendukung konservasi hiu paus yang ada di perairan laut Kaimana.
“Tujuan utama dari pemerintah adalah untuk mensejahterakan masyarakat. Untuk itu diperlukan kolaborasi yang baik dari semua pihak, terutama dalam pengelolaan dan pelestarian hiu paus,” ujarnya.
7cloud.asia – Populasi hiu paus (Rhincodon typus) yang menghuni perairan tropis dan hangat mengalami penurunan serius secara global.
Hiu paus tergolong spesies yang terancam punah berdasarkan Uni Internasional Konservasi Alam (IUCN), dan populasi global hiu paus telah mengalami penurunan drastis hingga 50 persen.
Tanpa intervensi serius, pemulihan populasi hiu paus diperkirakan bisa memakan waktu hingga satu abad.
Karena itu Konservasi Indonesia (KI) mendoron pendekatan berbeda oleh industri perkapalan, termasuk penerapan manajemen kecepatan kapal untuk melindungi keberadaan hiu paus.
Hal ini karena lalu lintas kapal besar terbukti memiliki kaitan erat dengan penurunan populasi hiu paus (Rhincodon typus).
Dalam pernyataan di Jakarta, Kamis (27/6/2025) Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata memaparkan bahwa memahami pergerakan hiu paus merupakan kunci dalam menyelamatkan populasi mereka.
Hal ini didasarkan pada kajian tagging hiu paus oleh peneliti global yang melibatkan Konservasi Indonesia dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PNAS, salah satu jurnal ilmiah terbuka bidang biologi.
“Kombinasi data pergerakan satelit hiu paus dan aktivitas kapal menunjukkan bahwa 92 persen ruang gerak horisontal dan hampir 50 persen ruang vertikal yang digunakan hiu paus tumpang tindih dengan lalu lintas kapal besar,” jelasnya seperti dikutip Antaranews.com
“Studi tersebut juga menunjukkan bahwa estimasi risiko tabrakan berkorelasi erat dengan laporan kematian hiu paus akibat tabrakan kapal, menunjukkan tingkat mortalitas lebih tinggi di wilayah dengan tingkat tumpang tindih tertinggi,” kata Iqbal.
Dalam konteks konservasi, lanjut dia, pemulihan bisa memakan waktu hingga satu abad dan Indonesia berada di jalur penting migrasi spesies terancam punah tersebut.
Ia mengatakan mengetahui pergerakan mereka serta durasi singgah adalah kunci perlindungan yang efektif, termasuk mencegah tabrakan kapal yang menjadi salah satu ancaman utama.
Di wilayah-wilayah tertentu yang menjadi lokasi migrasi atau agregasi hiu paus, kata dia, perlu diterapkan zona manajemen musiman dengan pembatasan kecepatan kapal maksimal 10 knot.
Zona perlambatan temporer yang diberlakukan setelah deteksi keberadaan satwa hingga pelarangan melintas di area penting saat musim agregasi, terbukti mampu mengurangi interaksi berisiko tinggi.
Kontribusi teknologi juga diperlukan termasuk pemanfaatan alat sensor suara buoy akustik, radar termal serta platform deteksi real-time.
Langkah itu diperlukan mengingat penurunan populasi spesies penghuni perairan tropis dan hangat itu secara global cukup mengkhawatirkan. Tanpa intervensi serius, pemulihannya diperkirakan bisa memakan waktu hingga satu abad.
Indonesia merupakan jalur penting migrasi hiu paus kawasan Indo-Pasifik, kata dia, perlindungan terhadap spesies itu kini menjadi prioritas mendesak.
Sebelumnya KI dan Pertamina International Shipping (PIS) sebagai unit usaha Pertamina yang bergerak di bidang industri perkapalan dan logistik maritim berkolaborasi mendorong perlindungan koridor ekologis laut melalui kegiatan Edukasi Koridor Satwa Laut.
Kegiatan ini melibatkan peningkatan literasi bagi 130 pelaut PIS yang digelar di Jakarta, Rabu, (25/6/2025).
7cloud.asia – Papua adalah habitat penting bagi hewan langka hiu paus muda (Rhincodon typus). Lebih dari 75 persen hiu paus di kawasan ini terluka akibat interaksi dengan aktivitas manusia.
Karena itu perlu pengelolaan wisata dan alat tangkap yang lebih ramah agar tidak membahayakan populasi hiu paus.
Hiu paus adalah satu jenis ikan terbesar di dunia, dengan panjang tubuh bisa mencapai 18-20 meter.
Riset terbaru penulis bersama tim di Frontiers in Marine Science menunjukkan bahwa hiu paus ternyata juga banyak hidup di Bentang Laut Kepala Burung, Papua, utamanya Kaimana dan bagian selatan Teluk Cenderawasih. Dua area ini menjadi habitat penting bagi hiu paus muda.
Tapi sayangnya, keberadaan hiu paus di wilayah tersebut menghadapi berbagai ancaman akibat aktivitas manusia di sekitar habitat mereka, bahkan kami menemukan mayoritas hiu paus ini dalam kondisi terluka.
Jadi, meskipun Teluk Cenderawasih merupakan taman nasional yang merupakan area konservasi, tekanan pada hiu paus dari aktivitas manusia masih tetap tinggi karena penggunaan alat tangkap bagan masih diperbolehkan di zona tradisional—area masyarakat lokal boleh menangkap ikan secara terbatas.
Jika tidak dikelola dengan bijak, interaksi dengan manusia justru bisa memperparah ancaman terhadap hiu paus dan bisa saja membuat mereka tidak lagi betah di sana.
Risiko wisata hiu paus Hiu paus punya kebiasaan muncul di sekitar bagan saat dini hari hingga pagi untuk menikmati “kudapan gratis” ikan-ikan kecil hasil tangkapan nelayan.
Kebiasaan unik ini lantas dimanfaatkan nelayan untuk wisata hiu paus. Mereka sengaja memberi makan hiu paus supaya tetap berada di sekitar bagan. Dengan begitu, wisatawan bisa berjam-jam ‘berenang bersama’ raksasa laut ini.
Belakangan wisata ini semakin populer, terutama setelah banyak artis dan influencer memamerkan foto bersama hiu paus di Botubarani (Gorontalo) atau Teluk Saleh.
Begitu pula di Papua, khususnya Teluk Cenderawasih, yang sejak dimulainya wisata ini pada 2011, kini menarik ribuan wisatawan setiap tahun.
Ke depan, perlu riset lebih lanjut untuk mengetahui apakah kebiasaan memberi makan hiu paus di bagan ini berdampak negatif pada perilaku makan alami, serta kesehatan raksasa berdarah dingin ini akibat terpapar suhu air yang relatif hangat dalam waktu lama.
Perbaikan kualitas bagan dan perketat aturan wisata Wisata hiu paus tentu bisa mendukung ekonomi lokal, namun dapat berdampak negatif pada hiu paus jika aturan interaksi tidak ditegakkan dengan ketat.
Aturan wisata hiu paus sebenarnya sudah ada, seperti menjaga jarak aman (2 meter dari tubuh dan 3 meter dari ekor), membatasi jumlah wisatawan (1 kapal per bagan dengan batas 1 grup berisi wisatawan dan 1 pemandu).
Selain itu juga ada larangan mengejar dan memegang hiu paus, serta waktu interaksi maksimal 60 menit atau 1 jam per grup.
Namun, aturan ini belum diterapkan sepenuhnya. Selain memperketat aturan wisata, desain bagan juga perlu disesuaikan agar lebih ramah terhadap hiu paus.
Misalnya, melapisi bagian bawah struktur bagan dan perahu dengan karet atau bahan halus untuk mengurangi risiko gesekan dengan sirip hiu paus. Selain itu, tali pancing sebaiknya tidak dibiarkan tergantung agar tidak menjerat hewan ini.
Dengan cara ini, nelayan bagan tetap bisa menangkap ikan dan memperoleh tambahan penghasilan dari wisata tanpa membahayakan hiu paus.
Untuk ikut memantau hiu paus, masyarakat umum, terutama wisatawan juga bisa berkontribusi mengirimkan potret hiu paus ke basis data nasional hiu paus melalui platform yang dikelola oleh Elasmobranch Institute Indonesia.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Edy Setyawan (Lead Conservation Scientist, Elasmobranch Institute Indonesia)
7cloud.asia – Papua adalah habitat penting bagi hewan langka hiu paus muda. Lebih dari 75 persen hiu paus di kawasan ini terluka akibat interaksi dengan aktivitas manusia.
Karena itu perlu pengelolaan wisata dan alat tangkap yang lebih ramah agar tidak membahayakan populasi hiu paus.
Hiu paus (Rhincodon typus) adalah satu jenis ikan terbesar di dunia, dengan panjang tubuh bisa mencapai 18-20 meter.
Sang raksasa laut tropis dan subtropis ini termasuk dalam daftar hewan yang terancam punah karena populasinya terus menurun.
Riset sebelumnya menunjukkan hiu paus di Indonesia hidup di beberapa wilayah, seperti Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat; Talisayan, Kalimantan Timur; Botubarani, Gorontalo; serta perairan Probolinggo di Jawa Timur.
Riset terbaru penulis bersama tim di Frontiers in Marine Science menunjukkan bahwa hiu paus ternyata juga banyak hidup di Bentang Laut Kepala Burung, Papua, utamanya Kaimana dan bagian selatan Teluk Cenderawasih. Dua area ini menjadi habitat penting bagi hiu paus muda.
Tapi sayangnya, keberadaan hiu paus di wilayah tersebut menghadapi berbagai ancaman akibat aktivitas manusia di sekitar habitat mereka, bahkan kami menemukan mayoritas hiu paus ini dalam kondisi terluka.
Pola garis dan bintik nan unik Kami melakukan riset dengan menggabungkan data identifikasi foto yang dikumpulkan oleh ilmuwan dan para pegiat sains warga (citizen science) selama 13 tahun (2010-2023).
Riset kami menemukan setiap individu hiu paus punya pola garis dan bintik yang unik dan permanen pada tubuhnya, layaknya sidik jari pada manusia. Pola inilah yang menjadi kunci untuk membedakan setiap individu.
Dari 1.118 perjumpaan dan ribuan foto yang dianalisis, kami menemukan sebanyak 268 individu hiu paus yang berbeda.
Sebagian besar hiu paus kami temukan di Teluk Cenderawasih (159 individu) dan Kaimana (95 individu), sementara sisanya di perairan Raja Ampat (12 individu) dan Fakfak (2 individu).
Menariknya, sebagian besar hiu paus di kawasan ini adalah jantan muda (90 persen dari 235 individu yang teridentifikasi jenis kelaminnya), terlihat dari ukuran klasper mereka yang masih kecil.
Klasper adalah organ kelamin pada hiu jantan berupa perpanjangan dari sirip perut. Pada hiu paus dewasa ujungnya mengapur seperti kembang kol. Ukurannya melebihi panjang sirip perut.
Tubuh mereka juga masih relatif kecil. Kebanyakan berkisar sepanjang 2-8 meter, dengan rata-rata paling banyak 4-5 meter.
Temuan ini menunjukkan bahwa perairan Papua merupakan tempat pertumbuhan hiu paus muda sebelum mereka bermigrasi ke laut lepas saat mulai beranjak dewasa, yaitu setelah panjang tubuhnya mencapai 9 meter.
Setia pada rumahnya Riset kami juga menunjukkan lebih dari separuh hiu paus yang teridentifikasi terlihat selalu kembali ke area yang sama. Hal ini mengindikasikan bahwa hiu paus memiliki tingkat residensi atau kesetiaan menetap yang tinggi pada area tertentu.
Hal ini kemungkinan karena ketersediaan makanan yang relatif stabil sepanjang tahun, terutama di Teluk Cenderawasih.
Kawasan tersebut dikelilingi oleh hutan mangrove dan muara sungai-sungai besar yang menyuplai sumber makanan utama bagi organisme laut seperti plankton dan ikan-ikan kecil—makanan hiu paus.
Luka di tubuh raksasa Melimpahnya ikan-ikan kecil di Teluk Cenderawasih tidak hanya menarik hiu paus, tapi juga nelayan—terutama dari luar masyarakat setempat—yang menggunakan bagan berperahu (bagan) dilengkapi jaring angkat.
Alat tangkap tradisional asli Sulawesi ini menggunakan lampu terang untuk menarik ikan-ikan di malam hari.
Pertemuan antara hiu paus dan nelayan bagan pun tak terelakkan dan menimbulkan risiko. Riset kami mengungkap bahwa lebih dari 75 persen individu hiu paus yang teridentifikasi memiliki luka atau bekas luka.
Sebagian besar ringan, seperti goresan kecil di sepanjang tepi sirip punggung yang diduga akibat gesekan dengan struktur bagan.
Namun, ada juga luka parah, seperti sirip dada dan ekor yang terpotong atau robek, diduga karena jeratan alat tangkap ikan, baling-baling kapal cepat, atau aktivitas manusia lain yang belum diketahui.
Jadi, meskipun Teluk Cenderawasih merupakan taman nasional yang merupakan area konservasi, tekanan pada hiu paus dari aktivitas manusia masih tetap tinggi karena penggunaan alat tangkap bagan masih diperbolehkan di zona tradisional—area masyarakat lokal boleh menangkap ikan secara terbatas.
Jika tidak dikelola dengan bijak, interaksi dengan manusia justru bisa memperparah ancaman terhadap hiu paus dan bisa saja membuat mereka tidak lagi betah di sana.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Edy Setyawan (Lead Conservation Scientist, Elasmobranch Institute Indonesia)
7cloud.asia – Pernahkah kamu membayangkan seekor ikan yang ukurannya bisa sebesar bus sekolah? Kira-kira sebesar itulah ukuran hiu paus (Rhincodon typus) dewasa.
Meski badannya berukuran raksasa, spesies ini pandai menyembunyikan dirinya dan juga anak-anaknya.
Selama puluhan tahun, para ilmuwan dari seluruh penjuru Bumi dibuat kebingungan untuk mencari tahu di mana si induk hiu paus ini melahirkan dan di mana anak-anaknya tumbuh berkembang. Belum ada satu tempat pun di dunia yang diketahui sebagai tempat melahirkan (pupping ground) hiu paus sampai sekarang.
Lalu teka-teki global ini perlahan mulai terungkap di perairan Indonesia, tepatnya di Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat.
Riset kami yang terbit di jurnal Diversity, berhasil mengonfirmasi penemuan neonatus atau bayi hiu paus berukuran panjang kurang dari 1,5 meter di Teluk Saleh.
Terletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Teluk Saleh memang sudah lama dikenal sebagai habitat penting bagi populasi hiu paus muda (juvenil) berukuran 3 hingga 7 meter.
Di daerah ini, hiu paus acap berinteraksi dengan bagan, yaitu alat tangkap nelayan tradisional berupa kerangka kayu di atas laut yang dilengkapi dengan lampu terang untuk menangkap ikan-ikan kecil pada malam hari.
Pada Agustus 2024, para nelayan bagan di timur Teluk Saleh melaporkan kepada kami, tim peneliti, ihwal kemunculan hiu paus yang ukurannya sangat kecil, hanya sekitar 1,2–1,5 meter. Biasanya, hiu paus yang muncul di bagan, berukuran 3 hingga 7 meter.
Hiu paus mungil ini dilaporkan terlihat di beberapa bagan pada kesempatan yang berbeda, sedang mencari makan pada malam hari hingga menjelang subuh.
Puncaknya terjadi pada 6 September 2024 pukul 04:38 pagi. Nelayan bagan tak sengaja mendapati seekor bayi hiu paus yang terjebak masuk ke dalam jaring angkat mereka.
Sesuai dengan arahan kami, mereka mengangkat sang bayi hiu paus dan segera memindahkannya ke dalam boks pendingin (styrofoam) berisi air laut.
Setelah beberapa menit direkam dan amati di dalam boks, nelayan melepaskan dengan sangat hati-hati sang bayi dalam keadaan sehat tersebut kembali ke laut.
Kami berhasil mengidentifikasi bahwa sang bayi itu berkelamin jantan (terlihat dari organ kelamin jantan atau clasper). Panjang total, dari ujung kepala sampai ujung ekor, diperkirakan sekitar 135–145 cm.
Ini merupakan penemuan pertama bayi hiu paus di Indonesia dan salah satu yang terkecil yang pernah didokumentasikan dalam keadaan berenang bebas secara global.
Kenapa hiu paus muda suka berada di Teluk Saleh?
Teluk Saleh merupakan perairan semi-tertutup yang memiliki perputaran arus air yang terbatas, tapi sangat kaya akan nutrisi. Lokasi ini mendapatkan banyak asupan organik dari hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang di sekelilingnya.
Kondisi tersebut menyebabkan teluk ini dipenuhi dengan makanan lezat dan bernutrisi tinggi, seperti ikan pelagis kecil (misalnya teri) dan udang berukuran kecil yang disebut rebon (Acetes intermedius), yang penting bagi pertumbuhan hiu paus muda.
Kelimpahan makanan ini, ditambah dengan geografis perairannya yang membentuk cekungan semi-tertutup, menjadikannya tempat berlindung yang sangat ideal bagi hiu paus muda dari pemangsa.
Dari temuan langka ini, kami menduga Teluk Saleh tidak hanya berperan sebagai tempat pembesaran hiu paus muda, tetapi juga menjadi tempat lahirnya anak-anak hiu paus.
Satu hal yang paling membanggakan dari riset ini adalah pendekatan sains warga (citizen science) yang kami terapkan. Informasi langka ini sukses kami dapat karena terjalinnya kerja sama yang erat antara masyarakat lokal sebagai nelayan bagan dan kami sebagai ilmuwan.
Sebelum penemuan ini, tim riset sudah melatih dan berkoordinasi dengan para nelayan bagan untuk mengidentifikasi hiu paus dan cara melakukan pelaporan.
Ketika menemui bayi hiu paus, para nelayan ini memotret, merekam video, dan mengirimkan laporan berikut tanggal dan lokasi melalui pesan WhatsApp kepada tim riset.
Penemuan bayi hiu paus di Teluk Saleh ini menjadi kebanggaan ilmiah bagi bangsa Indonesia sekaligus memberi kontribusi luar biasa terhadap pengetahuan dan literatur kelautan global, khususnya tentang spesies ikan raksasa ini.
Meski begitu, riset dan pengawasan yang lebih mendalam masih sangat dibutuhkan untuk melihat pola kehadiran mereka dari waktu ke waktu, meneliti bagaimana bayi hiu paus menggunakan Teluk Saleh sebagai habitat penting mereka.
Masyarakat lokal harus terus diberdayakan sebagai penjaga keanekaragaman hayati kita. Begitu pula ekosistem mangrove, lamun, dan ekosistem terumbu karang di sekitar Teluk Saleh harus dilestarikan demi menjaga kelangsungan hidup “raksasa jinak” ini.
7cloud.asia – Studi oleh tim peneliti lintas lembaga menunjukkan hiu paus (Rhincodon typus) melintasi setidaknya ke 13 negara serta wilayah laut lepas, termasuk Indonesia, sehingga perlindungannya memerlukan pendekatan yang berbeda.
Dilansir Antaranews.com pada Sabtu (2/5/2026), tim peneliti terdiri atas Konservasi Indonesia, Elasmobranch Institute Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, serta Conservation International menganalisis data pelacakan satelit periode 2015-2025 terhadap 70 individu hiu paus di empat lokasi agregasi utama di Indonesia.
Lokasi itu yaitu Teluk Cenderawasih di Papua Tengah, Kaimana di Papua Barat, Teluk Saleh di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Teluk Tomini di Gorontalo, serta pergerakannya di kawasan Indo-Pasifik.
Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata yang memimpin penelitian itu mengatakan studi baru tersebut mengubah cara pandang terhadap konservasi hiu paus.
“Kini kita tidak hanya tahu di mana hiu paus muncul, tetapi juga bagaimana mereka bergerak dan faktor apa yang mendorong pergerakan mereka. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan tidak bisa hanya berbasis lokasi saja, melainkan harus melihat keseluruhan ekosistem laut yang saling terhubung,” ujarnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hiu paus tidak hanya bergantung pada satu lokasi. Mereka berpindah dari wilayah pesisir ke laut lepas, mengikuti ketersediaan makanan dan kondisi lingkungan laut.
Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa habitat yang digunakan hiu paus memiliki fungsi yang berbeda. Di wilayah agregasi seperti Teluk Saleh, perilaku hiu paus didominasi oleh aktivitas mencari makan yang relatif stabil sepanjang tahun.
Sementara itu, perairan yang lebih luas hingga laut lepas berfungsi sebagai koridor migrasi sekaligus area mencari makan secara oportunistik, terutama ketika daya dukung di lokasi agregasi tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dan variasi mangsa bagi hiu paus.
Iqbal menjelaskan hanya sedikit lokasi yang benar-benar mendukung keberadaan hiu paus sepanjang tahun riset dilakukan. Dua diantaranya adalah Teluk Cenderawasih dan Teluk Saleh, yang dinilai sebagai habitat kunci yang tidak tergantikan.
Hasil riset itu juga memperlihatkan bahwa sebagian besar wilayah yang dilalui hiu paus justru berada di luar kawasan perlindungan. Mereka bergerak melintasi setidaknya ke 13 negara serta wilayah laut lepas yang pengelolaannya masih terbatas.
Pergerakan hiu paus mencakup kawasan lintas negara, yakni, Australia, Christmas Island, Timor Leste, Kepulauan Gilbert, Guam, Indonesia, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, Papua Nugini, Filipina, dan Kepulauan Solomon, serta kawasan luas di luar yurisdiksi nasional atau laut lepas.
Dengan perannya sebagai hub konektivitas hiu paus di Indo-Pasifik, Indonesia berada pada posisi unik untuk mendorong kebijakan konservasi yang tidak hanya berdampak nasional, tetapi juga memperkuat kerja sama regional hingga lintas 13 negara.
Guru Besar Bidang Oseanografi dari Universitas Diponegoro yang menjadi salah satu penulis dalam studi itu, Anindya Wirasatriya menambahkan hiu paus memanfaatkan dinamika laut layaknya jaringan jalan tol alami.
“Arus dan produktivitas perairan mengarahkan pergerakan mereka, sementara area tertentu berfungsi sebagai ‘rest area’ tempat mereka berhenti untuk mencari makan.
Ini menunjukkan bahwa perlindungan tidak bisa hanya fokus di satu lokasi, tetapi harus mencakup sistem laut yang saling terhubung,” kata Anindya.
7cloud.asia – Hiu paus merupakan raksasa laut yang pergerakannya lambat. Tapi di balik itu, mereka adalah pengembara soliter yang bisa menyelam ke laut dalam, menempuh perjalanan ribuan kilometer, hingga melintasi batas negara lewat jalur yang sulit diprediksi.
Sifat tersebut membuat migrasi hiu paus menjadi salah satu teka-teki besar dalam ilmu kelautan.
Studi kami yang baru terbit di jurnal Frontiers in Marine Science menguak jawabannya dengan merangkum satu dekade pelacakan satelit hiu paus dari Indonesia, sejak 2015 hingga 2025.
Kami melacak kurang lebih 70 individu dari empat lokasi agregasi utama, yaitu Teluk Cenderawasih di Papua Tengah; Kaimana di Papua Barat; Teluk Saleh di Nusa Tenggara Barat; dan Teluk Tomini di Gorontalo.
Hiu paus berkumpul di perairan Teluk Saleh, memanfaatkan kawasan ini sebagai lokasi mencari makan dan habitat perlindungan. Abdi Hasan/Konservasi Indonesia, CC BY-NC
Hasilnya, kami menemukan bahwa hiu paus berpindah lintas benua dengan pola migrasi yang tidak seragam.
Oleh karenanya, upaya konservasi tidak cukup hanya dilakukan di lokasi tempat mereka sering terlihat, tetapi juga jalur pergerakan mereka di laut melalui perlindungan habitat yang saling terhubung dan kerja sama lintas batas.
Melintasi 13 negara dan laut internasional
Pelacakan perjalanan hiu paus dengan satelit secara jangka panjang umumnya terkendala oleh singkatnya masa transmisi alat pelacak (tag).
Alat yang dipasang pada tubuh hiu paus biasanya terlepas sebelum mereka menyelesaikan satu siklus perjalanan migrasinya. Padahal hiu paus mempunyai wilayah jelajah yang sangat luas. Jalur migrasinya pun berubah-ubah. Akibatnya, para peneliti sering kehilangan jejak pergerakan hiu paus.
Sejak 2015, kami tim peneliti di Conservation International Indonesia dan Konservasi Indonesia mencoba mengatasi keterbatasan tersebut melalui penggunaan fin-mounted satellite tag. Berbeda dengan alat pelacak yang hanya ditambatkan sementara pada bagian bawah kulit, perangkat ini dipasang langsung pada sirip punggung hiu paus menggunakan baut.
Metode ini memungkinkan perangkat terpasang jauh lebih lama, dari satu tahun hingga mendekati tiga tahun. Hiu paus yang kembali ke lokasi agregasi juga bisa dikenali dan dipasangi alat pelacak baru, sehingga perjalanan individu yang sama bisa dipantau dalam periode yang lebih panjang.
Proses pemasangan alat pelacak satelit pada sirip punggung hiu paus menggunakan metode fin-mounted tag.
Kami melakukan pemasangan alat pelacak ini dengan berkolaborasi bersama nelayan, terutama di lokasi tempat hiu paus berinteraksi dengan bagan (alat penangkap ikan yang memakai jaring dan lampu).
Selama satu dekade, tim kami melacak sekitar 70 hiu paus dari empat lokasi agregasi utama di Indonesia: Teluk Cenderawasih, Kaimana, Teluk Saleh, dan Teluk Tomini.
Animasi pergerakan hiu paus berdasarkan data pelacakan satelit, memperlihatkan perjalanan individu dari empat lokasi agregasi utama di Indonesia menuju berbagai wilayah di Indo-Pasifik, melintasi batas negara dan laut lepas. Konservasi Indonesia, CC BY-NC
Hasilnya, hiu paus yang kami lacak dari laut Indonesia ternyata bergerak melintasi 13 negara dan teritori di kawasan Indo-Pasifik, serta memasuki laut lepas—di luar yurisdiksi negara manapun.
Jalur pergerakan mereka membentang dari Christmas Island di barat hingga Kepulauan Marshall di timur, dari pesisir utara Australia di selatan hingga Filipina di utara.
Pergerakan hiu paus yang dipasangi alat pelacak satelit, memperlihatkan bagaimana individu dari Indonesia memanfaatkan habitat yang saling terhubung antar fitur geomorfologi laut seperti seamounts dan canyon di Samudra Hindia dan Pasifik. Putra et al 2026, CC BY-NC
Pola migrasi yang berbeda-beda
Perjalanan setiap hiu paus ternyata juga tidak mengikuti satu “peta jalan” yang sama. Pola migrasinya amat beragam, tergantung jenis kelamin, umur, perilaku, dan musim. Bahkan individu yang berasal dari tempat asal yang sama pun bisa menunjukkan strategi berbeda.
Pergerakan mereka mengikuti perubahan ketersediaan makanan, arus laut, suhu, produktivitas perairan, hingga struktur dasar laut (seperti ngarai bawah laut, lereng curam, dan gunung laut).
Kelompok hiu paus jantan remaja misalnya, lebih suka di wilayah pesisir yang relatif dangkal dan kaya zooplankton. Bagi mereka, teluk merupakan tempat stabil dan aman—yang mampu menyediakan pasokan makanan cukup selama masa fase pertumbuhan mereka yang cepat.
Perjalanan setiap individu hiu paus melintasi ruang dan waktu, dari lokasi agregasi pesisir menuju habitat non-agregasi di laut terbuka. Grafik ini menunjukkan bahwa Teluk Saleh dan Teluk Cenderawasih merupakan dua lokasi utama yang digunakan oleh banyak individu secara konsisten sepanjang tahun dan dari tahun ke tahun. Putra et al 2026, CC BY
Betina remaja juga cenderung menggunakan perairan yang lebih dalam dibandingkan jantan remaja. Sebab, habitat mereka lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika permukaan laut dan keberadaan sistem ngarai bawah laut.
Perbedaan wilayah mangsa ini kemungkinan membantu mereka mengurangi persaingan dalam satu populasi sekaligus mencerminkan kebutuhan biologis yang berubah sepanjang hidup.
Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, Laut Timor, Samudra Hindia bagian tenggara, dan sejumlah kawasan Samudra Pasifik sering digunakan secara musiman sebagai koridor migrasi sekaligus lokasi hiu paus mencari makan.
Di sana, hiu paus memanfaatkan pusaran arus, zona pertemuan massa air, proses arus naik, ngarai bawah laut, dan gunung laut yang dapat mengonsentrasikan makanan. Wilayah ini seperti “rest area” di sepanjang jalan raya: tempat hiu paus berhenti sejenak, makan, dan mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan.
Konservasi tidak bisa berhenti di teluk
Temuan riset kami menegaskan bahwa perlindungan berbasis lokasi tidak cukup untuk melindungi hiu paus. Perlu perubahan cara pandang menuju pengelolaan berbasis keterhubungan habitat, serta siklus hidup dan biologi hiu paus.
Begitu meninggalkan teluk, hiu paus memasuki koridor migrasi yang membentang dari perairan nasional hingga laut lepas.
Di sana, mereka menghadapi risiko tangkapan sampingan, tertabrak kapal, pencemaran, dan aktivitas perikanan yang tidak berkelanjutan yang dapat mengancam populasinya, seperti meningkatnya kejadian hiu paus terdampar akhir-akhir ini.
Sebagian besar koridor migrasi tersebut belum memiliki aturan yang dirancang secara khusus untuk mempertahankan keterhubungan habitat dari satwa-satwa bermigrasi, termasuk habitat makan musiman, laut dalam, gunung laut, dan ngarai bawah laut.
Pendekatan ini juga perlu mempertimbangkan pola migrasi dan habitat yang berbeda antara individu jantan dan betina, maupun antara individu muda dan dewasa. Tanpa perlindungan pada seluruh rangkaian habitat, keberhasilan konservasi di satu lokasi bisa sia-sia ketika hiu paus bergerak keluar dari kawasan tersebut.