7cloud.asia – Papua adalah habitat penting bagi hewan langka hiu paus muda (Rhincodon typus). Lebih dari 75 persen hiu paus di kawasan ini terluka akibat interaksi dengan aktivitas manusia.
Karena itu perlu pengelolaan wisata dan alat tangkap yang lebih ramah agar tidak membahayakan populasi hiu paus.
Hiu paus adalah satu jenis ikan terbesar di dunia, dengan panjang tubuh bisa mencapai 18-20 meter.
Riset terbaru penulis bersama tim di Frontiers in Marine Science menunjukkan bahwa hiu paus ternyata juga banyak hidup di Bentang Laut Kepala Burung, Papua, utamanya Kaimana dan bagian selatan Teluk Cenderawasih. Dua area ini menjadi habitat penting bagi hiu paus muda.
Tapi sayangnya, keberadaan hiu paus di wilayah tersebut menghadapi berbagai ancaman akibat aktivitas manusia di sekitar habitat mereka, bahkan kami menemukan mayoritas hiu paus ini dalam kondisi terluka.
Jadi, meskipun Teluk Cenderawasih merupakan taman nasional yang merupakan area konservasi, tekanan pada hiu paus dari aktivitas manusia masih tetap tinggi karena penggunaan alat tangkap bagan masih diperbolehkan di zona tradisional—area masyarakat lokal boleh menangkap ikan secara terbatas.
Baca: Kaimana ditetapkan menjadi lokasi konservasi hiu paus
Jika tidak dikelola dengan bijak, interaksi dengan manusia justru bisa memperparah ancaman terhadap hiu paus dan bisa saja membuat mereka tidak lagi betah di sana.
Risiko wisata hiu paus
Hiu paus punya kebiasaan muncul di sekitar bagan saat dini hari hingga pagi untuk menikmati “kudapan gratis” ikan-ikan kecil hasil tangkapan nelayan.
Kebiasaan unik ini lantas dimanfaatkan nelayan untuk wisata hiu paus. Mereka sengaja memberi makan hiu paus supaya tetap berada di sekitar bagan. Dengan begitu, wisatawan bisa berjam-jam ‘berenang bersama’ raksasa laut ini.
Belakangan wisata ini semakin populer, terutama setelah banyak artis dan influencer memamerkan foto bersama hiu paus di Botubarani (Gorontalo) atau Teluk Saleh.
Begitu pula di Papua, khususnya Teluk Cenderawasih, yang sejak dimulainya wisata ini pada 2011, kini menarik ribuan wisatawan setiap tahun.
Ke depan, perlu riset lebih lanjut untuk mengetahui apakah kebiasaan memberi makan hiu paus di bagan ini berdampak negatif pada perilaku makan alami, serta kesehatan raksasa berdarah dingin ini akibat terpapar suhu air yang relatif hangat dalam waktu lama.
Baca: Individu baru hiu paus ditemukan di Nabire, Papua Tengah
Perbaikan kualitas bagan dan perketat aturan wisata
Wisata hiu paus tentu bisa mendukung ekonomi lokal, namun dapat berdampak negatif pada hiu paus jika aturan interaksi tidak ditegakkan dengan ketat.
Aturan wisata hiu paus sebenarnya sudah ada, seperti menjaga jarak aman (2 meter dari tubuh dan 3 meter dari ekor), membatasi jumlah wisatawan (1 kapal per bagan dengan batas 1 grup berisi wisatawan dan 1 pemandu).
Selain itu juga ada larangan mengejar dan memegang hiu paus, serta waktu interaksi maksimal 60 menit atau 1 jam per grup.
Namun, aturan ini belum diterapkan sepenuhnya. Selain memperketat aturan wisata, desain bagan juga perlu disesuaikan agar lebih ramah terhadap hiu paus.
Misalnya, melapisi bagian bawah struktur bagan dan perahu dengan karet atau bahan halus untuk mengurangi risiko gesekan dengan sirip hiu paus. Selain itu, tali pancing sebaiknya tidak dibiarkan tergantung agar tidak menjerat hewan ini.
Dengan cara ini, nelayan bagan tetap bisa menangkap ikan dan memperoleh tambahan penghasilan dari wisata tanpa membahayakan hiu paus.
Untuk ikut memantau hiu paus, masyarakat umum, terutama wisatawan juga bisa berkontribusi mengirimkan potret hiu paus ke basis data nasional hiu paus melalui platform yang dikelola oleh Elasmobranch Institute Indonesia.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Edy Setyawan (Lead Conservation Scientist, Elasmobranch Institute Indonesia)

Leave a Reply