Tag: homeschooling

  • Cara Mudah Mengenalkan Kebiasaan Membaca pada Anak Sejak Dini

    Cara Mudah Mengenalkan Kebiasaan Membaca pada Anak Sejak Dini

    7cloud.asia – Semua pasti setuju dengan pepatah ‘Membaca adalah Jendela Dunia’ yang bermakna bahwa membaca akan memperluas ilmu dan pengetahuan tentang apapun yang ada di dunia.

    Kemajuan teknologi dan informasi berbasis digital saat ini, memungkinkan seseorang untuk mengetahui banyak hal tanpa harus membeli atau membaca buku, majalah, koran, dll.

    Fasilitas pun juga makin memadai, karena hampir semua orang sudah menjadikan handphone atau smartphone serta komputer sebagai kebutuhan pokok sehingga mereka bisa membaca di mana saja dan kapan saja. 

    Baca: Penjelasan mengapa tes Calistung dihaus dari seleksi masuk SD

    Dirangkum dari beberapa sumber, membaca merupakan aktivitas manusia yang
    sangat penting karena manfaatnya antara lain :

    (1) Memperkaya kosakata,

    (2) Menstimulasi otak,

    (3) Mengurangi stress,

    (4) Memecahkan permasalahan,

    (5) Mendorong tujuan hidup seseorang.

    Baca: Dampak negatif gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Kelima manfaat membaca tersebut tentu saja erat kaitannya dengan semua bidang kehidupan manusia, mulai dari cara untuk memenuhi kebutuhan dasar, bekerja, belajar, bersosialisasi, hingga menjalankan beribadah.

    Kegiatan membaca juga sangat berkaitan dengan kemampuan menulis seseorang. Tanpa bisa membaca, maka anak tidak akan bisa menulis. Begitu pula sebaliknya.

    Pada usia dini, anak-anak sudah dikenalkan pada bentuk huruf dari A sampai Z serta bagaimana cara membaca huruf-huruf yang sudah membentuk kata dan kalimat. Lalu pada jenjang selanjutnya, anak akan diajarkan untuk memahami bacaan di buku pelajaran.

    Untuk mengetahui pemahaman anak terhadap bacaan, anak harus mengerjakan tugas atau evaluasi. Hasilnya bisa menjadi tolok ukur apakah anak tersebut sudah mampu menyerap dan memahami setiap materi pelajaran di sekolah. Tahapan ini terus dilakukan hingga jenjang pendidikan tinggi.

    Baca: Thrifting lagi ngetrend di kalangan anak muda, ini penjelasannya

    Mengenalkan aktivitas membaca dapat dilakukan di usia dini, yaitu antara 3 sampai 6 tahun. Sekolah Homeschool Tunas Bangsa yang sudah mengenalkan aktivitas membaca sejak usia pra TK atau PAUD.

    Sekolah yang menerapkan cara belajar aktif mandiri ini bahkan menjadikan membaca sebagai rutinitas wajib para siswanya mulai dari TK hingga SMA.

    Dengan dukungan fasilitas perpustakaan yang menyediakan buku bacaan lengkap, siswa menjadi terbiasa dengan rutinitas membaca.

    Baca: Ciri produk ramah lingkungan

    Cara memperkenalkan aktivitas membaca di usia pra TK dilakukan Sekolah Homeschool Tunas Bangsa antara lain dengan :

    (1). Membacakan dongeng sebelum tidur siang yang dilakukan guru terhadap siswa di kelas pra TK sampai kelas 3 SD. Tidur siang masuk dalam jadwal harian sekolah, dengan durasi 1
    jam (pukul 11.30 – 12.30). Tujuannya adalah agar anak tidak hanya berpikir untuk bermain saja.

    (2). Mengajak anak-anak bergabung dengan kakak-kakak kelasnya yang sedang membaca buku di perpustakaan.

    (3). Mengajarkan story telling kepada siswa TK hingga SD yang akan dipentaskan dalam program Production di akhir semester.

    Program Production merupakan program yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menampilkan bakat dan kemampuannya termasuk kemampuannya membaca di atas panggung. Kegiatan ini disaksikan oleh seluruh guru dan wali murid.

    Bagaimana membangun kebiasaan membaca ini diuji dan dirawat, ikuti tulisan edisi lanjutannya

     

     

     

  • Ingin Memasukkan Anak ke Homeschooling, Pertimbangkan Beberapa Hal Ini

    Ingin Memasukkan Anak ke Homeschooling, Pertimbangkan Beberapa Hal Ini

    7cloud.asia – Beberapa orang teman saya mengeluh, usai pandemi semangat belajar putra-putri mereka menurun. Anak-anak jadi enggan belajar ke sekolah, sehingga ada yang mempertimbangkan untuk mendaftarkan anaknya ke homeschooling.

    Ya, di mata orang tua homeschooling dikenal sebagai metode pendidikan yang berbeda. Dengan homeschooling, anak tak harus berangkat ke sekolah setiap hari.

    Anak yang menjalani homeschooling bisa belajar dengan nyaman di rumahnya sendiri. Kedengarannya menarik ya?

    Sepintas, pilihan untuk memasukkan anak ke homechooling terlihat menarik. Namun, sebelum memutuskan hal itu orang tua perlu tahu kelebihan dan kekurangan homeschooling agar tidak salah ambil keputusan. 

    Baca: Pembelajaran berpusat pada siswa belum tentu sesuai untuk semua orang

    Homeschooling sudah diakui sebagai salah satu sistem pendidikan yang legal di Indonesia. Homeschooling diatur dalam UU Sisdiknas.

    Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 129 tahun 2014 mendefinisikan sekolah rumah atau homeschooling sebagai proses layanan pendidikan secara sadar dan terencana dilakukan oleh orang tua/keluarga di rumah atau tempat dengan suasana kondusif.

    Jika Anda ingin menyekolahkan putra-putri Anda dengan metode homeschooling, berikut beberapa hal yang perlu Anda ketahui.

    Homeschooling atau sekolah mandiri adalah metode pendidikan alternatif yang ada saat ini selain sekolah formal. Sesuai namanya, metode homeschooling dilakukan secara mandiri di rumah.

    Baca: Mengapa metode montessori makin diminati

    Dengan metode homeschooling orangtua dan siswa berperan aktif menentukan sendiri cara belajarnya sesuai kemampuan, minat, serta gaya belajar anak.

    Orangtua yang memilih homeschooling untuk anaknya bisa mendatangkan staf pengajar ke rumah untuk mengajari anaknya kurikulum formal layaknya di sekolah. Hanya saja, suasana belajar homeschooling lebih homey karena dilakukan di rumah.

    Bagi orang tua yang ingin menerapkan metode homeschooling untuk anaknya, diwajibkan untuk melapor ke kepala dinas pendidikan di tingkat kabupaten atau kota setempat.

    Keuntungan yang paling utama dari homeschooling adalah anak bisa mendapatkan perhatian penuh dari staf pengajar, sehingga ia tidak perlu menunggu giliran untuk mempelajari sesuatu.

    Baca: Sekolah alternatif buat mereka yang putus sekolah

    Homeschooling juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

    Bila siswa homeschooling mampu mengikuti pelajaran dengan baik, maka guru bisa melanjutkan belajar ke tahap berikutnya. Sebaliknya, bila siswa homeschooling merasa kesulitan, guru bisa terus mengajarkan pelajaran tersebut sampai dia memahaminya.

    Mereka yang sudah pernah mencoba homeschooling pun mengaku dapat menikmati proses belajar dengan leluasa. Keuntungan homeschooling sebagaimana dilansir di halodoc.com

    1. Orangtua dan anak dapat menentukan waktu dan durasi belajar. Hal ini sangat menguntungkan bagi anak yang punya segudang aktivitas seperti dari kalangan artis, olahragawan, dan sebagainya.
    2. Orangtua bisa menentukan sendiri topik dan cara belajar yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan gaya belajar anak. Dengan demikian, anak bisa mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal.
    3. Kebanyakan sekolah formal menetapkan jadwal belajar yang padat dari pagi sampai sore untuk anak. Sedangkan homeschooling, membiarkan anak untuk mengatur waktu belajarnya secara fleksibel, sehingga anak bisa mendapatkan waktu istirahat yang lebih lama.
    4. Dengan homeschooling, orangtua juga bisa memantau perkembangan belajar anak serta pergaulannya.

    Baca: Homeschool ini membuat siswanya gemar membaca dan jago menulis

    Adapun kekurangan metode pendidikan homeschooling.

    1. Anak yang homeschooling biasanya memiliki kehidupan sosial yang kurang luas, sehingga dia kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial.
    2. Belum semua homeschooling memenuhi standarisasi kurikulum 
    3. Biaya homeschooling relatif lebih mahal dibanding sekolah reguler
    4. Kurang memiliki daya saing karena sekolah merupakan salah satu tempat terbaik untuk melatih jiwa kompetitif anak.

    Setelah membaca kelebihan dan kekurangan homeschooling, para orangtua diharapkan bisa memilih sistem pendidikan yang paling sesuai dengan kondisinya.

    Satu hal yang patut digarisbawahi, libatkan anak dalam mengambil keputusan. Jangan jadikan homeschooling sebagai jalan pintas bagi anak, dan pertimbangkan semua aspek yang ada dengan matang. 

    Seperti telah disebutkan sebelumnya, homeschooling belum tentu sesuai untuk semua anak. Namun, homeschooling bisa dijadikan solusi bagi anak-anak dengan banyak kegiatan ataupun anak berkebutuhan khusus dan memiliki keterbatasan tertentu.

  • Metode Pendidikan Unschooling: Ketika Pendidikan Formal Tidak Memberi Pencerahan

    Metode Pendidikan Unschooling: Ketika Pendidikan Formal Tidak Memberi Pencerahan

    7cloud.asia – “Tidak masalah bagi saya anak-anak tidak belajar matematika atau ilmu pengetahuan alam. Tapi mereka harus selalu membaca buku,“ ujar Anette Ellen saat jadi pembicara dalam diskusi bertajuk Peran Kelas Menengah dalam Krisis Demokrasi yang dihelat Aliansi Ibu Indonesia di Jakarta, Rabu (1/10/2025).

    Anette memilih mendidik sendiri tiga anaknya dan menolak sistem pendidikan formal yang diselenggarakan Negara karena dinilainya hanya mengindoktrinasi nilai dan tidak mendidik anak berpikir kritis.

    Mendidik sendiri ini benar-benar dilakukan Anette. Dia tidak mendaftarkan anak-anaknya ke lembaga yang menyelenggarakan homeschooling, tetapi memilih metode unschooling.

    Penasaran, saya lantas browsing apa itu unschooling. Unschooling adalah salah satu bentuk homeschooling yang berfokus pada pembelajaran mandiri dan alami, bukan kurikulum formal, dan sering kali melibatkan anak-anak dalam keputusan belajar mereka.

    Metode yang paling awal muncul dalam sejarah gerakan homeschooling modern adalah unschooling. Di Indonesia, istilah unschooling mungkin belum banyak dikenal, dan pemahaman orang-orang atasnya masih kabur dan tidak berbasis kajian historis.

    Baca: Pertimbangan bagi orang tua yang ingin memasukkan anak ke Homeschooling

    Dalam perbincangan dengan 7cloud.asia usai diskusi, Anette menjelaskan, prinsip unschooling adalah setiap orang berhak memiliki kendali penuh atas pendidikan anak-anaknya dan tidak harus tunduk pada negara.

    Dan, penerapan pola unschooling ini sangat beragam dan tergantung pada bagaimana orang tua ingin mendidik anaknya.

    “Seorang petani, misalnya, mungkin menginginkan anaknya menjadi petani andal, yang menguasai teknologi pertanian maju tapi juga paham kondisi lokal. Pun demikian dengan nelayan,“ ujarnya.

    Dengan tujuan yang sangat berbeda ini, maka materi pendidikan formal khususnya di sekolah dasar dan menengah sering tidak relevan atau bahkan membebani banyak orang tua siswa.

    Nah, dengan unschooling ini maka orang tua bisa mendidik sendiri anaknya sesuai minat dan kebutuhan sang anak.

    Baca: Metode pendidikan montessori makin diminati

    Lantas, bagaimana hasil pendidikan dengan pola unschooling ini mendapat pengakuan dari lembaga resmi? Menurut Anette, ia memanfaatkan ujian penyetaraan yang diselenggarakan pemerintah lewat Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

    Anette menjelaskan, beberapa tahun belakangan makin banyak orang tua di Indonesia yang menerapkan unschooling untuk anak-anaknya. Para pelaku unschooling ini bergabung dalam Perhimpunan Homeschooling Indonesia yang didirikan Anette pada 2016

    “Berdiri sejak 2016, hingga sekarang ada lebih 300 orang tua yang menjadi anggota PHI. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia,“ ujar Anette.

    Dia menambahkan, orang tua yang akan cocok menerapkan unschooling adalah orangtua yang betul-betul mengimani 100 peren bahwa secara alamiah anak pasti suka belajar. Orangtua unschooler berketetapan bahwa belajar adalah agenda si anak, bukan agendanya.

    Mereka merasa tidak punya agenda pribadi tentang proses belajar anaknya selain menemani, mendampingi, dan menghantarkan anaknya untuk menemukan panggilan hidupnya dan menjalani pilihan hidup pribadinya.

    “Anak-anak harus bisa berpikir sendiri, atau setidaknya mencaritahu sendiri kebenaran tentang sesuatu,“ tandasnya.

    Baca: Pembelajaran berpusat pada siswa belum tentu sesuai dengan semua anak