Tag: idul adha

  • Salon Sapi, Tradisi Unik di Kota Blitar Jelang Hari Raya Idul Adha

    Salon Sapi, Tradisi Unik di Kota Blitar Jelang Hari Raya Idul Adha

    7cloud.asia – Ada yang unik di kota Blitar, Jawa Timur menjelang hari raya Idul Adha. Beberapa hari jelang hari raya Idul Adha peternak sapi biasa membawa ternak sapinya ke salon sapi

    Tak hanya di Blitar, tadisi merapikan penampilan ternak sapi ke salon sapi menjadi hal yang lumrah di pasar hewan di berbagai kota di Jawa Timur, seperti Tulungagung, Kediri, Wage, Pahing, dan Ngunut.

    Merapikan penampilan ternak sapi ke salon sapi dilakukan karena bisa meningkatkan harga jual, apalagi menjelang hari raya Idul Adha permintaan sapi melonjak tajam.

    Baca: Ibadah haji sudah dilakukan lama sebelum Islam berkembang

    Alhasil, menjelang hari raya Idul Adha seperti sekarang, permintaan untuk mendandani sapi meningkat tajam. 

    Salon sapi itu antara lain bisa ditemukan di pasar hewan Dimoro, Kota Blitar. Sepekan jelang hari raya Idul Adha 2023 kesibukan melonjak tajam di pasar hewan terbesar di Kota Blitar tersebut.

    Pelanggan jasa salon sapi di kota Blitar biasanya mengunakan paket perawatan kuku dan tanduk yang dipatok seharga Rp50.000 per paket.

    Baca: Mengenal ritual thudong, saat para bhante berjalan ribuan kilometer ke Borobudur

    Jelang hari raya Idul Adha, peternak dan pedagang sapi berbondong-bondong ke pasar hewan Dimoro, Blitar untuk merapikan kuku dan tanduk ternak mereka. 
     
    Sebelum dibawa ke salon sapi, biasanya ternak sapi terlebih dahulu dimandikan sehingga kulitnya lebih bersih agar laku untuk dijual sebagai binatang kurban di hari raya Idul Adha.
     
    Salah satu penyedia jasa salon sapi ini adalah Nur Rohman (55) asal Rejotangan, Kabupaten Tulungagung yang ditemui di pasar hewan Dimoro, Biltar.
     
     
     

    Dengan teliti, Nur Rohman mengerok tanduk sapi dengan menggunakan sabit. Tanduk sapi yang awalnya panjang itu kemudian dipotong dan diruncingkan, sehingga tampak lebih rapi.

    Nur Rohman bukan satu-satunya penyedia jasa salon sapi di pasar hewan Dimoro, Blitar. Ada beberapa orang lain yang juga menyediakan jasa serupa.

    Nur Rohman mengungkapkan, mereka yang berkecimpung di bisnis ini kebanyakan merupakan keluarga dekat.

    Baca: Ribuan bahasa di dunia terancam punah

    Awalnya, Nur Rohman membuk ajasa salon sapi bersama kakaknya, Setelah sang kakak meninggal, Nur Rohman menjalankan usaha salon sapi ini dengan dibantu keponakan dan anak-anaknya.

    Keponakan dan anak-anak Nur Rohman juga menyediakan jasa salon sapi. Selain di Blitar, Nur  Rohman juga memiliki salon sapi di Tulungagung, yang dijalankan oleh anaknya sendiri.

    Nur menjelaskan jasa salon sapi yang dilakukannya mencakup perawatan kuku dan tanduk, serta membersikan ternak. 

    Untuk merapikan kuku dan tanduk sapi mereka menggunakan berbagai alat seperti sabit, gergaji, gerinda, tatah, dan palu.

    Baca informasi selengkapnya di sini

  • Memaknai Idul Adha: Mencari Pemimpin yang penuh Keikhlasan, Kesabaran dan Keteladanan

    Itulah kalimat pembuka khotbah yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien, Prenduan, Sumenep, Jawa Timur Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani saat menjadi khatib pada Shalat Idul Adha di halaman Bakorwil 4 Pamekasan.
     
    Kalimat tersebut mengingatkan akan peran penting manusia sebagai khalifah atau Wakil Tuhan di muka Bumi dengan tugas pokok melestarikan dan memakmurkan Bumi beserta isinya.

    Peran kekhalifahan inilah yang menjadi pertimbangan Allah Swt untuk menjadikan manusia sebagai makhluk penyampai risalah (rasul), apalagi ia tercipta dalam sebaik-baik bentuk (ahsani taqwim), meski pada sisi lain, makhluk yang memiliki bentuk terbaik ini juga memiliki kekurangan, yakni sebagai makhluk yang memiliki sifat lupa dan keliru (mahallul khatha’ wan-nis’yan).

    Sebutan bahwa manusia lebih mulia dari pada malaikat dan di satu sisi bisa lebih rendah derajatnya dari binatang, karena jenis makhluk ini memang merupakan hewan yang berakal (hayawanun-natiq) menempatkan manusia sebagai makhluk yang serba bisa, termasuk bisa menjadi pemimpin di antara manusia yang lain.

    Maka menjadi wajar, apabila Allah memberikan perhatian khusus kepada manusia sebagai nabi, yakni, penerima wahyu untuk dirinya sendiri, serta penerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umat manusia lainnya, yang dalam kitab suci Al Quran disebut dengan rasul.

    Dalam literatur keagamaan, jumlah nabi seluruhnya mencapai 124 ribu, 313 di antaranya merupakan nabi dan rasul, dan sebanyak 25 di antara nabi dan rasul ini disebutkan dalam teks Al Quran. Dua di antaranya adalah mendapatkan sebutan suri tauladan yang baik (uswatun hasanah), yakni Nabi Muhammad Saw dan Nabi Ibrahim As.

    Nabi Ibrahim dikenal sebagai bapaknya para nabi atau ‘abu al an-biya‘. Nabi-nabi yang diutus sebelum Nabi Ibrahim itu rata-rata tidak berjumpa dan tidak bertemu dalam satu silsilah keturunan, atau dari orang tua yang sama, meskipun semuanya merupakan anak cucu Nabi Adam.

    Sejak Nabi Ibrahim As diutus oleh Allah sebagai rasul, maka nabi-nabi dan rasul setelah itu semuanya adalah anak cucu keturunan yang silsilah nasabnya kepada Nabi Ibrahim.

    Selain karena memang telah menjadikan pilihan Allah Swt, status dan peran Nabi Ibrahim sebagai ‘abu al an-biya‘ juga berkat doa yang ia panjatkan dan dikabulkan oleh Allah Swt sebagaimana tertuang dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 124.

    “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”.

    Konsekwensi pilihan pada pemimpin berkualitas ini, maka Allah sendiri yang kemudian mendidik karakter Nabi Ibrahim sebagai pemimpin yang harus siap dan rela berkorban. Berkorban mengalahkan kepentingan diri dan kelompoknya, mengalahkan egoisme, dan kepentingan jangka pendek dengan hanya menghambakan diri kepada Allah.

    Pendidikan keluarga, nampaknya menjadi syarat untuk memimpin umat manusia. Ketaatan sebuah keluarga kepada Allah Swt menjadi modal dasar dalam berupaya membina ketaatan umat, termasuk dalam membina dan membentuk karakter anak.

    Di sinilah Allah Swt kemudian menguji keluarga Nabi Ibrahim As dengan memerintahkan untuk mengorbankan dengan menyembelih putra semata wayangnya yang bernama Ismail.

    Perintah yang disampaikan Allah melalui mimpi itu, tentu menjadi dilema, mengingat Nabi Ismail merupakan putra satu-satunya. Akan tetapi ketakwaan yang tak ternilai kepala Allah telah membulatkan tekat Nabi Ibrahim untuk tetap menyampaikan perintah itu kepada putranya.

    Dengan penuh kelembutan, tawadu dan penuh rasa kasih sayang, ia menyampaikan perintah Allah itu sebagaimana dalam mimpinya.

    “Wahai puteraku yang aku sayangi, aku telah melihat dalam mimpi aku menyembelih engkau dengan perintah dan izin dari Allah. Sampaikan apa pendapatmu?”

    Penyampaikan perintah Allah dalam bentuk dialogis ini sengaja dilakukan, karena Nabi Ibrahim ingin putranya Ismail mengambil keputusan secara mandiri, tak tertekan dan sesuai dengan keinginannya sendiri.

    Pola komunikasi interaksionisme simbolik yang dilakukan Nabi Ibrahim kepada putranya Nabi Ismail mampu mengomunikasikan hati dan pikiran antara sang ayah dengan anak, sehingga pertanyaan dalam penuturan perintah ‘menyembelih’ ini juga mampu dipahami dengan baik oleh Nabi Ismail dengan penuh kepasrahan dan ketakwaan hanya kepada Allah Swt.

    Nabi Ismail langsung menjawab “Wahai Ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

    Jawaban Nabi Ismail ini telah meneguhkan komitmen di keluarga itu bahwa ketakwaan dan kemampuan menerima ujian Allah Swt merupakan hal pertama dan utama yang tertanam dengan kuat, sehingga mereka mengabaikan kecintaan dalam bentuk apapun kepada selain Allah, meskipun pada akhirnya penyembelihan itu  gagal karena Allah mengganti Ismail dengan hewan sembelihan.

    Kisah Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail tersebut terkandung pelajaran berharga bahwa Allah meminta kita untuk mematuhi proses awal, bukan melihat hasilnya. Allah akan menilai bagaimana kita ini berproses untuk menjadi orang yang beriman, menjadi orang yang bertakwa, menjadi ayah yang saleh bagi keluarganya, yang telah dididik dengan nilai-nilai keimanan kepada Allah hingga kelak menjadi keluarga yang diberkahi oleh-Nya.

    Setidaknya ada beberapa hikmah yang dapat dipetik dari ibadah kurban yang disyariatkan Allah Swt. Pertama, nilai-nilai kepemimpinan yang dasarnya takwa kepada Allah, menaati perintah dan menjauhi larangan Allah.

    Kedua, kepemimpinan itu harus dimulai dari rumah tangga. Jika keluarga kita mampu dididik dengan baik, insya Allah kita bisa memimpin umat manusia ini ke jalan yang diridoi oleh Allah.

    Ketiga, ‘menyembelih’ sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri manusia, karena maksud dari ibadah kurban tersebut bukan hanya menyembelih seekor kambing, sapi, ataupun unta, melainkan juga yang lebih dasar dari itu, yakni harus menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri manusia, sebagai hewan atau binatang yang berakal (hayanun-natiq).

    Karena itu, ketika menyembelih hewan kurban, maka niat yang harus tertanam kuat di lubuk hati adalah ingin menaati perintah Allah, meninggalkan rasa tamak dan cinta kepada dunia, menyingkirkan rasa sombong dan egois, serta menyingkirkan perasaan-perasaan yang buruk terhadap Allah.

     Sumber: Antaranews.com

     

  • KLHK Perkirakan Timbulan Sampah Plastik Saat Idul Adha Mencapai 608 Ton

    KLHK Perkirakan Timbulan Sampah Plastik Saat Idul Adha Mencapai 608 Ton

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperkirakan timbulan sampah yang terjadi sebagai bagian perayaan Idul Adha dapat mencapai 608 ton sampah kantong plastik sekali pakai.

    Mayoritas sampah kantong plastik sekali pakai ini berasal dari kegiatan pembagian daging kurban.

    “Sekitar 121,5 juta lembar kantong plastik sekali pakai ukuran sedang atau 15×24 cm dengan berat 5 gram atau setara 608 ton sampah plastik kresek yang berasal dari kebutuhan hewan kurban nasional sebesar 1,97 juta ekor,” kata Direktur Pengurangan Sampah KLHK Vinda Damayanti Ansjar, dikutip Antaranews.com.

    Merespons potensi timbulan sampah kantong plastik sekali pakai tersebut, dia mengatakan KLHK sudah mengeluarkan imbauan yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri LHK Nomor SE.6/MENLHK/PSLB3/PLB.0/6/2014 tentang Pelaksanaan Hari Raya Idul Adha Tanpa Sampah Plastik.

    Baca Juga: Agar Lebih Ramah Lingkungan, Warga Tangerang Diimbau Hindari Penggunaan Kantong Plastik Sekali Pakai Tuk Bungkus Daging Kurban

    Surat edaran ini dikeluarkan pada 13 Juni 2024. Di dalam edaran itu KLHK mengimbau agar masyarakat tidak menggunakan kantong plastik, terutama dalam membagikan daging kurban.

    Lewat edaran itu KLHK juga mendorong pemda melakukan pengangkutan sampah tidak hanya di lokasi penyembelihan dan pembagian daging kurban, tapi di berbagai titik Shalat Idul Adha.

    Inti SE ini adalah mengimbau seluruh masyarakat yang merayakan Idul Adha untuk tidak menggunakan kantong plastik atau kresek dalam membagikan daging kurban.

    Kantong plastik dapat digantikan dengan wadah yang dapat dipakai ulang, atau daun pisang/jati, besek atau bongsang.

    Baca Juga: Studi: Potensi Ekonomi Ibadah Kurban 2024 Capai Rp28 triliun

    “Dengan upaya tersebut diharapkan dapat menghindari atau mengurangi timbulan sampah plastik,” ujar Vinda.

    Lewat edaran itu, kata dia, KLHK juga memberikan arahan kepada gubernur, walikota, dan bupati, untuk memberikan arahan kepada panitia pembagian daging kurban agar menghindari penggunaan plastik saat membagikan kurban dan menggunakan wadah yang dapat dipakai ulang.

    Terkait proses pemotongan dan pembagian daging kurban, KLHK juga meminta pemerintah daerah (pemda) selain mengimbau kepada masyarakat di wilayah masing-masing untuk menghindari penggunaan kantong plastik sekali pakai.

    Masyarakat juga diminta menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung upaya pengurangan timbulan sampah plastik.

    Baca Juga: Perang Akibatkan Warga Palestina Tak Dapat Rayakan Hari Raya Kurban

    “Menyediakan sarana perwadahan dan pengumpulan sampah terpilah di lokasi pelaksanaan Shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban dan pembagian daging kurban,” ujarnya.

    Selain itu pemda juga diharapkan mengumpulkan dan mengangkut sampah yang timbul dari kegiatan Shalat Idul Adha dan tahapan penyembelihan hewan kurban serta pembagian daging kurban.

    “Menyediakan satuan tugas khusus di lapangan yang bertugas menangani sampah, sekaligus sebagai tenaga kampanye dan edukasi publik dalam pengurangan sampah plastik,” pungkas Vinda.

    Sumber:Antaranews.com

  • Prihatin! Warga Gaza Salat Idul Adha di Tengah Puing Bangunan

    Prihatin! Warga Gaza Salat Idul Adha di Tengah Puing Bangunan

    7cloud.asia – Ratusan orang di Gaza pada Minggu (16/6) melaksanakan salat Idul Adha di tengah puing-puing dan bangunan yang hancur.

    Mereka melaksanakan salat Idul Adha dalam suasana muram yang ditandai dengan berlanjutnya agresi Israel dan tidak adanya kegembiraan pada hari raya tersebut.

    Koresponden kantor berita Palestina, WAFA, melaporkan bahwa ratusan jamaah melaksanakan salat Idul Adha di berbagai wilayah Gaza, di atas puing-puing, di sisa-sisa bangunan mesjid, dan di tempat terbuka, sambil membawa serta anak-anak mereka.

    Baca: Israel pasang besi penghalag di gerbang masjid Al Aqsha

    Semangat perayaan Idul Adha yang lazim tidak ada karena agresi Israel yang tiada henti yang telah berlangsung selama sembilan bulan.

    Para pemimpin salat Idul Adha menekankan pentingnya menjenguk keluarga dari kerabat mereka yang sudah meninggal, korban luka, dan narapidana untuk menjaga tali silaturahmi.

    Mereka menekankan perlunya memberikan kebahagiaan kepada anak-anak yatim piatu, serta anak-anak korban luka dan tahanan.

    Sumber: WAFA

  • Jelang Idul Adha, Harga Sayur Mayur Turun

    Jelang Idul Adha, Harga Sayur Mayur Turun

    7cloud.asia – Beberapa hari jelang Idul Adha harga sayur mayur di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan terpantau turun. 

    Pada Sabtu (31/05/2025), pembeli mulai ramai berbelanja. Banyak anggota masyarakat yang berbelanja untuk keperluan Idul Adha.

    Mirna, salah satunya. Ibu yang tinggal di Jalan Panjang ini sengaja berbelanja saat ini untuk keperluan Idul Adha. Hal ini dia lakukan untuk menghindari kenaikan harga barang yang berpotensi terjadi mendekati Idul Adha nanti.

    “Kalau nanti udah deket (Idul Adha), harga-harga biasanya naik,” kata Mirna saat ditemui 7cloud.asia

    Baca: Pasca lebaran, pasar tradisional masih sepi

    Sementara berdasarkan hasil pemantauan harga di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, harga cabai merah keriting kini dibanderol dengan harga Rp 50.000/kg. Harga ini turun dari sebelumnya yang mencapai Rp 70.000/kg.

    Kemudian harga cabai merah besar kini berada di angka Rp 60.000/kg dari harga Rp 80.000/kg. Penurunan harga juga terjadi pada cabai rawit dari harga Rp 100.000/kg kini dijual dengan harga Rp 50.000/kg.

    Tak hanya cabai, harga bawang merah dan bawang putih juga terpantau turun. Kini bawang merah dijual dengan harga Rp 50.000/kg dari harga sebelumnya Rp 80.000/kg. Demikian juga harga bawang putih kini berada pada angka Rp 50.000/kg dari harga Rp 70.000/kg.  

    Baca: Harga cabai tinggi, pedagang menjerit

    Namun demikian ada sejumlah sayuran yang harganya naik. Seperti tomat kini dibanderol dengan harga Rp 24.000/kg dari harga Rp 20.000/kg. Timun berada pada kisaran harga Rp 15.000/kg dari harga sebelumnya Rp 12.000/kg.

    Salah satu pedagang sayur mayur, Husnia menjelaskan penurunan harga barang ini mulai terjadi sejak 2 minggu terakhir. Setelah harga sayur mayur sempat naik setelah lebaran lalu.

    Husnia dan para pedagang lainnya menyambut gembira penurunan harga ini. Menurutnya pembeli kini ramai dan mereka membeli dalam jumlah banyak.

    Baca: Pemerintah baru, harga bahan pokok tinggi

    “Semoga bisa tetap turun seperti ini, biar yang belanja banyak dan omset kita tinggi juga,” harap Husnia.

    Selanjutnya Husnia mengungkapkan saat harga sayaur mayur tinggi, dirinya hanya mendapat omset paling banyak Rp 1000.000 per hari.

    Tetapi sejak harga sayur mayur turun, omsetnya meningkat menjadi Rp 1.500.000 per hari. “Alhamdulillah, omset bisa naik segini aja (Rp 500.000) dah lumayan banget. Maunya sih nanti lebih rame lagi,” katanya.

  • Memaknai Kurban dengan Mengendalikan Konsumsi dan Berbagi Secara Berkelanjutan

    Memaknai Kurban dengan Mengendalikan Konsumsi dan Berbagi Secara Berkelanjutan

    7cloud.asia – Ibadah kurban saat Idul Adha adalah salah satu pilar penting dalam ajaran Islam di Indonesia yang mengajarkan keikhlasan, pengorbanan, dan solidaritas sosial.

    Setiap tahun, jutaan umat Muslim menyembelih sapi kurban atau kambing sebagai bentuk ketaatan dan kepedulian terhadap sesama dengan potensi sumbangsih ke perekonomian nasional mencapai Rp28,2 triliun.

    Namun, di balik makna spiritual yang mendalam, praktik kurban sering kali disertai dengan perilaku konsumsi berlebihan—baik dalam bentuk pesta makan, distribusi yang mubazir, hingga penggunaan plastik sekali pakai dalam skala besar.

    Di tengah krisis lingkungan dan tekanan ekonomi yang semakin kompleks, Iduladha seharusnya menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran baru: ibadah kurban perlu dijalankan seiring dengan prinsip mindful consumption, atau konsumsi yang sadar, bijak, dan bertanggung jawab.

    Godaan makan daging berlebih
    Iduladha di Indonesia bukan perayaan spiritual semata, tapi juga momen pemerataan dan keadilan sosial. Sebab, sebagian besar daging sapi atau kambing maupun domba kurban dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

    Dalam suasana penuh kebersamaan ini, konsumsi makanan sering kali melonjak drastis. Sate, gulai, tongseng, rendang—semuanya hadir dalam jumlah besar, tidak jarang melampaui kebutuhan.

    Euforia kurban mendorong semangat berbagi dan menjamu, namun juga sering menimbulkan pemborosan.

    Pola konsumsi yang berlebih ini bukan tanpa dampak. Dari sisi kesehatan, lonjakan konsumsi daging dalam waktu singkat dapat menimbulkan gangguan pencernaan, kolesterol tinggi, hingga tekanan darah yang meningkat.

    Baca: Makna wukuf yang menjadi inti ibadah haji

    Toh di tengah situasi ekonomi domestik dan global yang sedang tidak kondusif seperti ini, lonjakan konsumsi di periode Idul Adha tak memberi sumbangsih besar pada perekonomian nasional. Pada momen Idulfitri pun tren lonjakan konsumsi hanya untuk kalangan kelas menengah semata.

    Upaya mengurangi limbah plastik saat Idul Adha
    Sementara itu, dari perspektif lingkungan, pembagian daging kurban seringkali dilakukan menggunakan kantong plastik sekali pakai.

    Akibatnya, limbah kantong plastik menjadi meningkat pesat pada hari-hari pembagian daging kurban. Meskipun pemerintah setiap tahun mengeluarkan himbauan, tapi tetap saja sulit mengubah perilaku hasil tradisi yang sudah lama ini.

    Upaya mengurangi limbah plastik selama Iduladha menjadi bagian penting dalam mewujudkan konsumsi yang sadar dan bertanggung jawab.

    Di Indonesia, penggunaan plastik sekali pakai saat pembagian daging kurban masih sangat umum, mulai dari kantong plastik hingga wadah pembungkus sekali pakai. Padahal, limbah plastik ini sulit terurai dan berdampak buruk pada lingkungan, terutama jika dibuang sembarangan.

    Salah satu alternatif yang sangat cocok dan tradisional adalah penggunaan besek dari daun kelapa, pandan, atau bambu.

    Besek ini tidak hanya ramah lingkungan karena terbuat dari bahan alami yang mudah terurai, tetapi juga kuat dan cukup praktis untuk membungkus serta membawa daging kurban.

    Untuk menjaga kebersihan dan mencegah bocor, bagian dalam besek dapat ditambah lapisan daun pisang atau daun jati, yang juga mudah didapat dan ramah lingkungan. Penggunaan besek menghidupkan kembali tradisi lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.

    Baca: Ibadah Haji sudah ada sebelum Islam berkembang

    Selain itu, untuk pembagian daging dalam skala kecil atau komunitas yang lebih terbatas, warga dapat diimbau membawa wadah sendiri dari rumah.

    Membawa wadah sendiri sudah menjadi tren dalam berbagai aktivitas ramah lingkungan dan mudah diterapkan dalam pembagian daging kurban.

    Hal-hal kecil seperti ini bisa jadi lahan edukasi bagi masyarakat bahwa berkurban tidak hanya soal ritual, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan.

    Menghidupkan kembali semangat kurban yang sesungguhnya
    Salah satu ayat dalam Al-Qur’an menyebutkan bahwa “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu”.

    Artinya, yang utama dalam kurban adalah niat dan ketakwaan, bukan besarnya hewan atau banyaknya daging yang dibagikan. Kurban adalah tentang keikhlasan melepaskan sesuatu yang dicintai demi Allah dan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama manusia.

    Kurban juga mengandung pesan sosial yang kuat. Daging hewan yang disembelih bukan untuk dinikmati sendiri sepenuhnya, tetapi untuk dibagikan kepada mereka yang berhak: keluarga, kerabat, tetangga, dan terutama fakir miskin.

    Daripada larut dalam perayaan hari raya semata, ada baiknya semua pihak baik dari masyarakat dan pemerintah menjadikan momen Iduladha sebagai titik mula kebiasaan berbagi.

    Contoh inisiasi yang patut mendapat apresiasi adalah Dompet Dhuafa yang memiliki program Program Tebar Hewan Kurban. Model kurban berkelanjutan ini bertujuan untuk memenuhi suplai hewan kurban ke rural area, seperti daerah pinggiran, kawasan pedalaman, daerah rawan pangan, komunitas minoritas, hingga daerah-daerah pascabencana.

    Baca: Potensi ekonomi ibadah Kurban capai lebih dari Rp20 triliun

    Program ini mampu mendistribusikan kurban ke lebih dari 1.500 desa dengan kategori tingkat kemiskinan di atas rata-rata di 38 provinsi.

    Disamping distribusi, program ini juga memanfaatkan instrumen keuangan islami seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf untuk membina peternakan lokal kecil di berbagai daerah di Indonesia agar lebih produktif, dan bersaing melalui pelatihan manajemen ternak, peningkatan standar kesehatan hewan, dan strategi pemasaran.

    Begitu juga yang dilakukan oleh platform penggalangan dana dan donasi Kitabisa. Platform ini bisa memudahkan para darmawan untuk berkurban hingga bisa memilih destinasi alokasi kurban yang dihendaki.

    Bahkan, ada program cicilan hewan kurban. Alhasil, sepanjang tahun lalu, lebih dari 8.900 hewan kurban yang dibagi menjadi 300 ribu paket yang disalurkan kepada yang membutuhkan di seluruh Nusantara.

    Indonesia juga masih menghadapi persoalan malnutrisi karena pola makan yang tidak seimbang.

    Konsumsi daging sapi Indonesia juga hanya rata-rata 2,4 kg/orang/tahun. Ini merupakan peringkat kedua terendah di antara negara-negara anggota OECD (Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan).

    Lebih lagi, angka rata-rata ini berarti ada sebagian penduduk yang mengkonsumsi daging sapi lebih sedikit dan ada sebagian penduduk yang mengkonsumsi lebih banyak dari angka rata-rata tersebut.

    Karena itu, di momen perayaan Iduladha ini penting untuk kembali merenungkan esensi ibadah kurban yang sejati.

    Kurban bukan semata tentang penyembelihan hewan, melainkan bentuk ketundukan dan ketulusan hati untuk prihatin dan berbagi antar sesama yang bisa dilakukan secara berkelanjutan tanpa harus menunggu event tahunan.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Imam Salehudin (Associate professor, Universitas Indonesia/UI)