Tag: ikan paus

  • Ikan Paus Seberat 300 KilogramTerdampar di Pantai Pringbaya, NTB

    Ikan Paus Seberat 300 KilogramTerdampar di Pantai Pringbaya, NTB

    7cloud.asia – Seekor ikan paus terdampar di Pantai Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Rabu (6/3/2024).

    Saat ini warga dngan dibantu aparat gabungan TNI-Polri berusaha menyelamatkan ikan paus yang terdampar di wilayah mereka.

    Danramil Pringgebaya Kodim 1615 Lombok Timur Kapten Inf Abdul Wahab di Lombok, mengatakan ikan paus ini diperkirakan berbobot 300 kilogram.

    Besarnya ukuran ikan paus yang terdampar membuat warga kesulitan mengevakuasi ke laut. 

    Baca: Penangkapan ikan secara berlebihan picu masalah serius bagi lingkungan 

    Ikan paus tersebut ditemukan nelayan setempat saat terdampar di Pantai Mbang Mbang, Desa Pringgabaya Utara, pada Rabu pukul 03.00 WITA.

    “Saat ini warga bersama aparat gabungan berusaha menyelamatkan ikan yang dilindungi, dengan cara menarik ikan ke tengah laut,” katanya.

    Setelah menerima informasi tersebut, pihaknya langsung melakukan pengecekan dan mengimbau masyarakat tidak membunuh ikan paus tersebut karena ikan paus itu merupakan hewan mamalia yang dilindungi pemerintah.

    Baca: Ikan-ikan kecil menepi ke pantai Bengkulu

    “Ikan ini merupakan hewan yang dilindungi pemerintah,” katanya.

    Saat ini warga bersama aparat keamanan sedang berusaha mendorong ikan paus tersebut ke tengah laut dengan menggunakan peralatan seadanya.

    “Semoga ikan paus ini terselamatkan dan kembali ke habitat,” katanya.

    Untuk penyebab ikan paus itu terdampar, pihaknya belum bisa memberikan penjelasan lebih rinci.

    “Untuk penyebab kita belum tahu, saat ini kita upayakan penyelamatan bersama pihak terkait,” katanya.

    Sumber: Antaranews.com

  • Puluhan Ikan Paus Pemandu Sirip Pendek Terdampar di Pantai: Bisa Jadi Pertanda Rusaknya Ekosistem

    Puluhan Ikan Paus Pemandu Sirip Pendek Terdampar di Pantai: Bisa Jadi Pertanda Rusaknya Ekosistem

    7cloud.asia – Beberapa pekan lalu, puluhan ikan paus pemandu sirip pendek (short-finned pilot whale) terdampar di pesisir Kecamatan Pureman, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

    Fenomena ini memang bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia, namun hal ini dapat menjadi sebuah pertanda terjadinya gangguan terhadap ekosistem ikan paus pemandu sirip pendek

    Peneliti dari College of Science and Engineering, James Cook University, Australia, Putu Liza Kusuma Mustika menjelaskan terdamparnya puluhan ikan paus pemandu sirip pendek dapat disebabkan oleh faktor alamiah maupun faktor antropogenik.

    Dilansir di laman resmi brin.go.id, Icha, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa ikan paus merupakan mamalia laut yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, seperti penggunaan sonar di bawah laut, pencemaran air, kontaminasi sampah laut, hingga badai matahari yang menyebabkan gangguan elektromagnetik pada kutub-kutub bumi.

    Paus menggunakan sonar untuk sistem navigasinya, sehingga bisa terganggu oleh penggunaan perangkat yang memancarkan gelombang elektromagnetik atau sonar di dalam laut seperti pada kegiatan eksplorasi migas.

    Baca: Kaimana ditetapkan menjadi lokasi konservasi Hiu Paus

    Menurunnya kualitas air juga dapat menurunkan imunitas paus, sedangkan semakin banyaknya sampah laut (terutama plastik) telah menyebabkan lebih banyak paus yang mati karena menelan sampah-sampah tersebut.

    “Fenomena terdamparnya paus, seperti pada paus sperma, dapat juga berkaitan dengan terjadinya badai matahari,” tambah Icha.

    Icha menyebut bahwa faktor alami lain seperti penyakit atau usia tua dapat membuat paus lebih rentan terdampar.

    “Paus yang sakit atau tua sering kali kehilangan kemampuan navigasinya, atau terpisah dari kawanan, yang menyebabkan mereka lebih rentan terdampar di pantai,” tambahnya.

    Menurut Icha, kejadian ini perlu mendapatkan perhatian serius karena paus merupakan spesies yang dilindungi.

    Baca: KLHK dan Pertamina identifikasi individu baru hiu paus

    Untuk itulah jejaring penanganan mamalia laut terdampar di Indonesia yang beranggotakan pegiat lingkungan, pemerintah pusat dan daerah, organisasi non-pemerintah, serta komunitas masyarakat di seluruh pesisir Indonesia terus bekerja sama melakukan tindakan penanganan dengan cara yang tepat.

    Langkah yang dilakukan seperti upaya pengembalian paus ke laut bagi biota yang masih hidup, atau penguburan bagi biota yang sudah mati.

    Upaya penyelidikan lebih lanjut mengenai penyebab spesifik terdamparnya paus juga perlu dilakukan melalui nekropsi (bedah bangkai hewan).

    Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Achmad Sahri menambahkan dari sisi pola distribusi kejadian paus terdampar di Indonesia.

    BRIN juga bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Peneliti dari College of Science and Engineering, James Cook University, Australia, untuk melakukan riset terkait ekologi paus dan kejadian terdampar, guna memahami lebih jauh tentang tingkah laku biota ini dan mencegah terulangnya kejadian serupa.

    Riset yang dikerjakannya bersama Icha-Ketua Tim Peneliti dan beberapa peneliti dari Indonesia dan Amerika Serikat menelaah data kejadian terdampar selama 26 tahun dari tahun 1995-2021.

    Hasilnya akan dikupas dalam tulisan selanjutnya.

  • Puluhan Ikan Paus Pemandu Sirip Pendek Terdampar, Ini Rekomendasi BRIN

    Puluhan Ikan Paus Pemandu Sirip Pendek Terdampar, Ini Rekomendasi BRIN

    7cloud.asia – Beberapa pekan lalu, puluhan ikan paus pemandu sirip pendek (short-finned pilot whale) terdampar di pesisir Kecamatan Pureman, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.

    Fenomena ini memang bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia, namun hal ini dapat menjadi sebuah pertanda terjadinya gangguan terhadap ekosistem ikan paus pemandu sirip pendek

    Dilansir di laman resmi brin.go.id, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Achmad Sahri menyoroti fenomena ini dari sisi pola distribusi kejadian paus terdampar di Indonesia.

    BRIN juga bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dengan Peneliti dari College of Science and Engineering, James Cook University, Australia, untuk melakukan riset terkait ekologi paus dan kejadian terdampar.

    Hal ini untuk lebih memahami lebih jauh tentang tingkah laku biota ini sekaligus mencegah terulangnya kejadian serupa.

    Baca: Seringnya ikan paus terdampar bisa jadi pertanda kerusakan ekosistem

    Riset yang dikerjakannya bersama Peneliti dari College of Science and Engineering, James Cook University, Australia, Putu Liza Kusuma dan Ketua Tim Peneliti dan beberapa peneliti dari Indonesia dan Amerika Serikat menelaah data kejadian terdampar selama 26 tahun dari tahun 1995-2021.

    Achmad Sahri mengatakan, selama periode 1995-2021, setidaknya ada 26 spesies paus dan lumba-lumba yang terdampar di perairan Indonesia.

    ”Satu dari enam spesies yang paling sering terdampar adalah paus pemandu sirip pendek yang juga terdampar di perairan Alor NTT beberapa minggu lalu,” imbuh Sahri.

    Dikatakan Sahri, dengan memahami pola sebaran spasial dan temporal dari kejadian mamalia laut terdampar di Indonesia dapat mendukung upaya penyelamatan biota tersebut.

    “Informasi ini sangat penting bagi penanganan kejadian terdampar, terutama berguna untuk pengalokasian personil atau kemungkinan mendatangkan alat berat,” ungkap Sahri.

    Baca: Kaimana ditetapkan menjadi wilayah konservasi hiu paus

    “Identifikasi area rawan tersebut juga dapat meningkatkan kesempatan bagi keberlangsungan hidup biota yang terdampar,” tambahnya.

    Kedua narasumber mengimbau, masyarakat di sekitar pesisir diminta untuk melaporkan kejadian serupa kepada pihak berwenang dan tidak melakukan tindakan yang bisa membahayakan paus.

    Masyarakat juga dihimbau untuk tidak mengganggu/menaiki tubuh paus yang terdampar, karena hewan ini dalam kondisi lemah dan perlu penanganan yang tepat. Segera laporkan kepada pihak berwenang untuk penanganan lebih lanjut.

    Dengan meningkatnya frekuensi kejadian terdamparnya paus di perairan Indonesia, BRIN bekerja sama dengan berbagai pihak akan terus melakukan penelitian terkait fenomena alam ini.

    Hal tersebut sebagai upaya untuk mencari solusi pencegahan yang lebih efektif serta memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut.