Tag: Indonesia Fashion Parade

  • Indonesia Fashion Parade 2025: Mengusung Kekayaan Warisan Wastra Nusantara

    Indonesia Fashion Parade 2025: Mengusung Kekayaan Warisan Wastra Nusantara

    7cloud.asia – Indonesia Fashion Parade kembali digelar di penghujung bulan Juni 2025 ini dengan mengusung tema Heritage&Legacy.

    Penggagas Indonesia Fashion Parade, Athan Siahaan mengatakan dengan tema ini pihaknya ingin mengenalkan beragam busana dari berbagai wilayah di Nusantara sebagai kekayaan fesyen nasional.

    “Indonesia sangat kaya dengan busana tradisional, kebaya hanyalah salah satunya. Sebelum ada pihak lain mengklaim ini, maka kami ingin memperkenalkannya kepada publik, ini loh kekayaan budaya Indonesia, ujar Athan ditemui di sela pembukaan Indonesia Fashion Parade 2025, Sabtu (28/6/2025).

    Pada pembukaan Indonesia Fashion Parade ini, sejumlah desainer menampilkan karyanya. Selain Athan Siahaan, desainer lain yang juga menggelar karyanya adalah Sonny Muchlison, Lenny Hartono dan sejumlah desainer muda lainnya.

    Total sebanyak 59 desainer dari berbagai daerah di Indonesia turut meramaikan helatan yang digelar hingga Minggu (29/8/2025).

    Baca: Komunitas Perempuan Berkebaya kenalkan beragam kebaya Nusantara

    Adapun rangkaian Indonesia Fashion Parade yang sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu antara lain meliputi Indonesia Fashion Design Competition, Talk Show dan Peragaan Busana.

    Indonesia Fashion Design Competition diikuti 900an desainer muda dari berbagai daerah di Indonesia, yang disaring menjadi hanya 25 finalis untuk berkompetisi di fase akhir.

    Para finalis inilah yang akan menggelar karya terbaiknya di panggung Indonesia Fashion Parade (IFP) 2025.

    Dengan tema “Fusion Innovation” yang menggabungkan inovasi mutakhir dan tradisi warisan lokal dalam satu benang merah desain, para peserta mengusung beragam gaya, motif, dan teknik dari nusantara yang diinterpretasikan ulang.

    “Yang paling menarik tahun ini adalah nuansa globalnya. Peserta tidak hanya dari pusat, tetapi juga daerah-daerah, membawa keindahan wastra dan teknik ragam busana tradisional ke interpretasi modern yang segar,” ungkap Athan Siahaan yang juga Ketua Penyelenggara IFDC 2025.

    Baca: Akulturasi budaya Indonesia dan China dalam wastra tradisional

    Para semifinalis menampilkan karya yang penuh eksplorasi—dari teknik tenun, sulam, hingga inovasi cutting-edge.

    Dari proses itu, 25 desain terbaik dipilih berdasarkan dua kriteria utama: daya pakai (wearability) dan daya jual (marketability) di pasar internasional. Pemenang kompetisi akan diumumkan pada hari penutupan pada Minggu (29/6/2025).

    “Kelima finalis ini menunjukkan potensi besar untuk bersaing di kancah global,” lanjut Athan.

    Diharapkan, kegiatan ini bisa meletakkan nilai- nilai kearifan lokal sehingga memberikan setitik noktah yang akan berkembang secara alami. Sehingga identitas kelokalan bisa dikembangkan para desainer sebagai karakter identitas masing- masing.

  • Indonesia Fashion Parade 2025 Resmi Ditutup, Ini Daftar Pemenangnya

    Indonesia Fashion Parade 2025 Resmi Ditutup, Ini Daftar Pemenangnya

    7cloud.asia – Indonesia Fashion Parade 2025 yang berlangsung selama dua hari di Hotel Manhattan, Jakarta resmi ditutup pada Minggu (29/6/2025) malam.

    Indonesia Fashion Parade 2025 mengusung tema “Heritage & Legacy” dan menghadirkan pelaku fesyen dari seluruh daerah Indonesia dan berbagai negara di kawasan Asia Tenggara.

    Menurut Presiden Indonesia Fashion Parade, Athan Siahaan peragaan busana selama dua hari Indonesia Fashion Parade 2025 bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan wastra Nusantara.

    Indonesia Fashion Parade 2025 juga mendorong pengurangan limbah pakaian, dengan menantang para desainer mereka-ulang isi lemari mereka.

    “Karya yang ditampilkan hari ini dipersembahkan untuk nusa dan bangsa Indonesia dalam rangka untuk mengurangi limbah pakaian di Indonesia,” kata Athan.

    Baca: Indonesia Fashion Parade 2025 mengangkat kekayaan wastra Nusantara

    Athan berharap, semua pelaku industri fashion di Indonesia akan menjadi penggerak upaya ini mengingat Indonesia adalah penyumbang limbah pakaian terbesar kedua di dunia setelah India

    Selain parade karya, malam penutupan Indonesia Fashion Parade 2025 juga ditandai dengan pengumuman pemenang Indonesia Fashion Design Copmetision atau IFDC 2025.

    Adapun para pemenang adalah Anisa Lutfia Rahma untuk Best Design, Best Taditional Weaving jatuh kepada Dia Ayunda Afita, dan Best Creativity kepada Nur Widya Rahmawati,

    Best Concept diberikan kepada Maliqa Aisha Agustina, Best Original kepada Siti Rahmi, Best Performance disabet oleh Amelia Putri, Best Art kepada Sheika Fajrianita, dan Best Presentation diberikan Arvilia Kartika.

    Indonesia Fashion Parade 2025 juga menggelar Indonesia Model Hunt 2025, yang mana First Runner Up Top Model 2025 dimenangkan oleh Mickalen Wong Ming Fai dari Malaysia dan Top Model 2025 dimenangkan oleh Zayyanah Dzatil Izzah dari Kendari, Indonesia.

    Baca: BliBli Fashion Fest terapkan fesyen ramah lingkungan

    Tahun ini merupakan kali kelima Indonesia Fashion Parade digelar dan perhelatan tahun ini diikuti oleh desainer dan model dari Malaysia, Timor Leste, Vietnam dan Indonesia.

    Di hari pertama Indonesia Fashion Parade 2025, dilakukan gelar karya dari 13 desainer, 10 dari Indonesia, 1 dari Vietnam dan 2 dari Malaysia – dan peragaan ragam busana tradisional Indonesia oleh Komunitas Perempuan Berkebaya.

    Selain itu, 25 finalis Indonesia Fashion Design Competition (IFDC) 2025 juga menampilkan karya-karya mereka yang lolos.

    Hari kedua Indonesia Fashion Parade 2025 menghadirkan karya delapan desainer, satu dari Timor Leste dan tujuh dari Indonesia.

    Baca: Mengenal beragam kebaya Nusantara

    Semua desainer yang ikut serta di Indonesia Fashion Parade 2025 memperkenalkan karya-karyanya yang menggabungkan unsur-unsur wastra tradisi daerah atau negaranya dan menggabungkannya dengan

    Dalam sambutan video yang diputar di hari pembukaan, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan bahwa Indonesia Fashion Parade tidak hanya sekadar fashion show.

    ”Indonesia Fashion Parade juga menjadi wadah bagi para desainer, industry tekstil dan pelaku lainnya untuk berkolaborasi, berinovasi sekaligus berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

    Sejumlah duta besar dan perwakilan negara sahabat ikut hadir di acara pembukaan pada Sabtu (28/6/2025).

  • Penampilan Komunitas Perempuan Berkebaya Saat Pembukaan Indonesia Fashion Parade 2025

    Penampilan Komunitas Perempuan Berkebaya Saat Pembukaan Indonesia Fashion Parade 2025

    7cloud.asia – Komunitas Perempuan Berkebaya turut tampil di atas catwalk saat pembukaan Indonesia Fashion Parade 2025, Sabtu (28/6/2025).

    Sepuluh anggota Komunitas Perempuan Berkebaya tampil dengan mengenakan beragam gaya kebaya yang dipadu dengan aneka wastra Nusantara.

    Ketua Komunitas Perempuan Berkebaya, Lia Nathalia menjelaskan ragam kebaya dan wastra yang dikenakan oleh anggotanya. Kebaya yang dikenakan seperti kebaya kutubaru, kebaya bali, kebaya Jawa, kebaya Labuh (Melayu) dan kebaya Basiba (Sumatra Barat).

    Peragaan oleh Komunitas Perempuan Berkebaya ini mendapat sambutan antusias dari ratusan tamu yang memadati Ballroom Hotel Manhattan, Jakarta Selatan

    Berikut penjelasan satu per satu jenis kebaya yang diperkenalkan Komunitas Perempuan Berkebaya yang kami kutip dari penjelasan Lia Nathalia.

    Indiah membuka penampilan Komunitas PerempuanvBerkebaya dengan mengenakan kebaya noni dari Manado, Sulawesi Utara yang dipadukan dengan kain tenun dari Makassar, Sulawesi Selatan. Tata rambutnya adalah konde cepol Betawi atau Jakarta.

    Disusul kemudian oleh Heydi yang mengenakan kebaya kutu baru motif bunga kuno, yang berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang dipadukan dengan motif batik merak dan parang tuding dari Yogyakarta.

    Motif ini melambangkan kekayaan, kehidupan yang baik, awet muda dan simpatik. Tata rambutnya adalah konde Jawa klasik.

    Baca: Mengenal beragam kebaya Nusantara

    Selanjutnya, Utami mengenakan kebaya kutu baru beludru hitam dari Jawa Tengah, yang dipadukan dengan motif Batik Gringsing dari Solo, Jawa Tengah.

    Batik gringsing biasanya dikenakan untuk perlindungan dari penyakit dan bahaya. Tata rambutnya adalah sanggul atau konde bangun tulak, sanggul klasik Solo yang biasanya dikenakan untuk resepsi pernikahan.

    Valma mengenakan kebaya encim dengan motif bunga dan daun, yang awalnya digunakan oleh wanita Tionghoa-Indonesia.

    Kebaya encim dengan menggunakan teknik krancang ini dipadukan dengan Batik Jawa Hokokai-nya, dengan motif mawar dan kupu-kupu dengan matahari terbit di latar belakang.

    Motif batik Hokokai ini awalnya diproduksi di sepanjang daerah pesisir di bagian utara Pulau Jawa, seperti Pekalongan, selama pendudukan Jepang di Indonesia antara tahun 1942 dan 1945. Tata rambutnya adalah konde cepol dari Betawi atau Jakarta.

    Clevia mengenakan kebaya kutubaru beludru hitam panjang, yang berasal dari Jawa Tengah, dipadukan dengan motif Batik Sidomukti, yang melambangkan harapan yang mulia dan sejahtera.

    Sidomukti ini biasanya dikenakan untuk pakaian pernikahan dengan jumputan merah, teknik tie-die Indonesia. Tata rambutnya adalah konde Jawa klasik.

    Selanjutnya adalah Allysa mengenakan kebaya encim biru muda dengan motif bunga dan daun yang menggunakan teknik krancang. Kebaya encim awalnya digunakan oleh perempuan Tionghoa-Indonesia.

    Baca: UNESCO tetapkan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia

    Ia memadukan kebaya encim dengan kain Batik dari Lasem, Jawa Tengah, dengan motif burung Hong atau burung Phoenix dengan latar belakang melingkar atau “ukel-ukel”, yang melambangkan kedamaian, keberuntungan, ketenaran, dan kesehatan. Tatanan rambutnya adalah konde cepol dari Betawi atau Jakarta.

    Febi mengenakan kutu baru hijau limau yang dipadukan dengan motif Batik Sidomukti, yang melambangkan harapan yang mulia dan sejahtera. Febi menambahkan kain jumputan untuk stagen.

    Motif batik Sidomukti biasanya digunakan oleh kedua mempelai dan orang tua mereka saat upacara pernikahan. Tatanan rambutnya adalah konde Jawa klasik dengan melati segar.

    Lystria mengenakan kebaya janggan hitam yang dipadukan dengan batik motif Tiga Negeri. Kebaya janggan awalnya dikenakan oleh para abdi dalem atau mereka yang bertugas di dalam komplek Keraton Yogyakarta, populer karena potongannya yang sederhana dan kerahnya yang tinggi.

    Adapun batik motif Tiga Negeri diwarnai di tiga lokasi –-warna merah di Lasem, warna biru di Pekalongan, dan warna cokelat di Solo– yang dirancang oleh orang Tionghoa-Indonesia selama pendudukan Belanda dan sekarang jarang diproduksi. Tatanan rambutnya adalah konde Jawa klasik.

    Rihaya adalah mengenakan kebaya Basiba dari suku Minang di Sumatera Barat, unik dengan potongan ketiak segitiganya. Ia memadukan kebaya basiba dengan kain Songket dari Padang di Sumatera Barat.

    Tatanan rambutnya adalah konde modern dengan kembang roti atau yang diyakini sama dengan kembang manten dalam motif Batik Jawa, bunga pinang yang melambangkan awal baru dalam sebuah upacara pernikahan. 

    Terakhir, Nathalia mengenakan kebaya kutu baru yang dipadukan dengan kain Tapis dari Lampung, teknik bordir untuk menghias selembar kain. Dikenakan dengan selendang tapis gaya Bali. Tatanan rambut saya adalah konde modern.