Tag: investor

  • Kepala dan Wakil Kepala Otoritas IKN Mundur, Seperti Apa Dampaknya pada Investor?

    Kepala dan Wakil Kepala Otoritas IKN Mundur, Seperti Apa Dampaknya pada Investor?

    7cloud.asia – Pakar Tata Kota Nirwono Yoga menilai pengunduran diri Kepala dan Wakil Kepala Otoritas Ibu Kota Negara (IKN), Bambang Susantono dan Dhony Rahajoe akan mempengaruhi persepsi investor.

    Pengunduran diri keduanya tentu menjadi pertanyaan besar bagi investor, terlebih menjelang upacara kemerdekaan di IKN yang digagas Jokowi sejak lama.

    Menurutnya, seharusnya Presiden menahan Bambang Susantono dan Dhony Rahajoe paling tidak sampai pelaksanaan upacara kemerdekaan Republik Indonesia di IKN pada 17 Agustus mendatang.

    “Terus terang kalau untuk investor dan pasar ini menjadi berita tidak bagus. Saham-saham pasti akan turun karena banyak pertanyaan-pertanyaan yang istilahnya kita tahu jawabannya tetapi kita tidak bisa ngomong di publik,” ungkap Nirwono dikutip VOA Indonesia.

    Konflik-konflik di dalam dan ketidaksesuaian terkait pembangunan IKN, ujarnya, pasti ada, yang membuat akhirnya Bambang Susantono dan Dhony Rahajoe mengundurkan diri.

     

    Baca: Kepala dan wakil kepala Otoritas IKN mengundurkan diri

    Bagi investor, ini pertanda buruk bahwa koordinasinya tidak jalan, bagaimana antarinstansi pemerintah saja istilahnya tidak bisa sepakat.

    ”Jadi ini, bukan angin bagus buat investasi, kabar buruk buat investor sehingga mereka harus berpikir ulang,” ungkap Nirwono.

    Ia yakin hal ini akan membuat para investor bersikap “wait and see” setidaknya sampai pemerintahan baru terbentuk dan menunggu sikap dan komitmen dari pemerintahan Prabowo Subianto tentang keberlanjutan mega proyek ini selanjutnya.

    Nirwono memproyeksikan investor yang sudah terlanjur menanamkan modal di IKN, akan sangat berhati-hati melanjutnya investasi di sana.

    “Bagi investor ini, bisa dikatakan masa untuk menahan diri. Walaupun mereka sudah terlanjur mereka akan lebih hati-hati, tidak ngebut, tunggu dulu sampai dengan Oktober,” ujarnya.

     

    Baca: Penambangan material untuk pembangunan IKN menuai protes

    Dia menekankan, buat pembangunan IKN benar-benar semuanya tergantung sepenuhnya dari pembangunan infrastruktur oleh Kementerian PUPR.

    Publik akan mengukur keberhasilan pembangunan IKN, sampai dengan Agustus lebih karena pekerjaan infrastruktur dasar kota oleh Kementerian PUPR yang sudah kelihatan.

    ”Buat investor, dia hanya akan berani menunggu kondisi sampai dengan kondusif, karena ini tidak kondusif sebenarnya,” jelasnya.

    Menurutnya, hal realistis yang bisa dilakukan oleh pemerintah, terutama oleh Menteri PUPR Basuki adalah fokus menyelesaikan infrastruktur dasar kota.

    Basuki sedianya tidak dibebani tugas untuk menyelesaikan permasalahan investasi dan lahan, karena bukan bidang kerja yang dikuasainya selama ini.

    Baca: Pembangunan IKN dinilai melanggar hak masyarakat adat setempat

    Nirwono melanjutkan, yang harus dipastikan saat ini adalah penyelesaian infrastruktur, investasi dan pembebasan tanah ditahan dan ditinggalkan lebih dulu.

    ”Fokus sampai dengan Oktober infrastruktur dasar diselesaikan dulu, baru setelahnya dipikirkan ulang bagaimana kelanjutan investasi, karena suka tidak suka untuk investasi dan tadi untuk masalah dengan lahan bisa ditunda,” pungkasnya.

    Pengunduran diri ketua dan wakil ketua OIKN tampaknya belum berdampak ke lantai bursa. Saat penutupan bursa pada Senin sore, Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia (IHSG BEI) ditutup menguat.

    Hal ini tampaknya mengikuti penguatan bursa saham di kawasan Asia.

    Dikutip dari berita pasar bursa dan kantor berita ANTARA, IHSG ditutup menguat 65,44 point atau 0,94 persen ke posisi 7.036,18.

    Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 16,85 poin atau 1,93 persen ke posisi 888,28.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Gonjang-ganjing Kebijakan Tarif AS Akan Berdampak ke Pasar Modal di Indonesia

    Gonjang-ganjing Kebijakan Tarif AS Akan Berdampak ke Pasar Modal di Indonesia

    7cloud.asia – Dalam kondisi ketidak-pastian global akibat kebijakan tarif Amerika Serikat seperti sekarang, investor global akan cenderung beralih ke aset aman.

    Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan hal ini menanggapi kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang menjadi sumber volatilitas kebijakan.

    Menurut dia, investor membaca kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) bukan sekadar proteksionisme, tetapi sebagai sumber volatilitas kebijakan (policy uncertainty).

    Ketika aturan perdagangan bisa berubah dalam waktu singkat, proyeksi laba perusahaan, harga komoditas, serta arus logistik menjadi sulit diprediksi.

    Karena itu, menurutnya, investor global cenderung memindahkan dana sementara ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS dan dolar AS.

    “Sementara aset emerging market dianggap lebih berisiko meskipun fundamental domestiknya tidak berubah,” ujar Rizal dikutip Antaranews.com, Minggu (22/2/2026)

    Baca: Putusan Mahkamah Agung AS bakal picu perang dagang baru

    Rizal menjelaskan, gejolak tarif AS terutama bekerja melalui kanal risk sentiment global, bukan langsung melalui perdagangan barang.

    “Perubahan kebijakan yang cepat meningkatkan ketidakpastian perdagangan dunia sehingga investor global cenderung mengurangi eksposur di aset negara berkembang (risk-off),” ujar Rizal.

    Untuk Indonesia, ia mengatakan dampaknya biasanya berupa arus keluar portofolio jangka pendek dari obligasi dan saham, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta tekanan pada likuiditas pasar.

    “Jadi pengaruh awalnya lebih terasa di pasar keuangan dibanding sektor riil,” ujar Rizal.

    Rizal melanjutkan, tekanan paling cepat biasanya terjadi pada rupiah karena sensitif terhadap pergerakan dolar global dan arus modal.

    Ia menyebut, penguatan dolar AS dan capital outflow (aliran modal keluar) berpotensi membuat rupiah melemah sementara.

    Baca: Mahkamah Agung AS batalkan kebijakan tarif global Donald Trump

     

    Sedangkan IHSG cenderung bergerak volatil dengan sektor komoditas relatif lebih bertahan dibanding sektor manufaktur dan perbankan.

    “Namun sifatnya masih sentiment driven, sehingga arah pasar akan sangat tergantung stabilitas global beberapa hari ke depan, bukan semata faktor domestik,” ujar Rizal.

    Pada pekan depan, Rizal mengungkapkan investor akan menunggu tiga hal utama, di antaranya arah kebijakan suku bunga The Fed dan data inflasi AS.

    Pasar juga menunggu respons kebijakan Bank Indonesia (stabilitas rupiah dan likuiditas), serta kepastian dan kejelasan implementasi tarif AS terhadap negara mitra termasuk Indonesia.

    “Selain itu, data domestik seperti inflasi, cadangan devisa, dan perkembangan arus modal asing juga akan menjadi indikator apakah tekanan eksternal hanya sementara atau mulai memengaruhi stabilitas makro nasional,” ujar Rizal.