7cloud.asia – Dalam kondisi ketidak-pastian global akibat kebijakan tarif Amerika Serikat seperti sekarang, investor global akan cenderung beralih ke aset aman.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan hal ini menanggapi kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang menjadi sumber volatilitas kebijakan.
Menurut dia, investor membaca kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) bukan sekadar proteksionisme, tetapi sebagai sumber volatilitas kebijakan (policy uncertainty).
Ketika aturan perdagangan bisa berubah dalam waktu singkat, proyeksi laba perusahaan, harga komoditas, serta arus logistik menjadi sulit diprediksi.
Karena itu, menurutnya, investor global cenderung memindahkan dana sementara ke aset aman seperti obligasi pemerintah AS dan dolar AS.
“Sementara aset emerging market dianggap lebih berisiko meskipun fundamental domestiknya tidak berubah,” ujar Rizal dikutip Antaranews.com, Minggu (22/2/2026)
Baca: Putusan Mahkamah Agung AS bakal picu perang dagang baru
Rizal menjelaskan, gejolak tarif AS terutama bekerja melalui kanal risk sentiment global, bukan langsung melalui perdagangan barang.
“Perubahan kebijakan yang cepat meningkatkan ketidakpastian perdagangan dunia sehingga investor global cenderung mengurangi eksposur di aset negara berkembang (risk-off),” ujar Rizal.
Untuk Indonesia, ia mengatakan dampaknya biasanya berupa arus keluar portofolio jangka pendek dari obligasi dan saham, kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta tekanan pada likuiditas pasar.
“Jadi pengaruh awalnya lebih terasa di pasar keuangan dibanding sektor riil,” ujar Rizal.
Rizal melanjutkan, tekanan paling cepat biasanya terjadi pada rupiah karena sensitif terhadap pergerakan dolar global dan arus modal.
Ia menyebut, penguatan dolar AS dan capital outflow (aliran modal keluar) berpotensi membuat rupiah melemah sementara.
Baca: Mahkamah Agung AS batalkan kebijakan tarif global Donald Trump
Sedangkan IHSG cenderung bergerak volatil dengan sektor komoditas relatif lebih bertahan dibanding sektor manufaktur dan perbankan.
“Namun sifatnya masih sentiment driven, sehingga arah pasar akan sangat tergantung stabilitas global beberapa hari ke depan, bukan semata faktor domestik,” ujar Rizal.
Pada pekan depan, Rizal mengungkapkan investor akan menunggu tiga hal utama, di antaranya arah kebijakan suku bunga The Fed dan data inflasi AS.
Pasar juga menunggu respons kebijakan Bank Indonesia (stabilitas rupiah dan likuiditas), serta kepastian dan kejelasan implementasi tarif AS terhadap negara mitra termasuk Indonesia.
“Selain itu, data domestik seperti inflasi, cadangan devisa, dan perkembangan arus modal asing juga akan menjadi indikator apakah tekanan eksternal hanya sementara atau mulai memengaruhi stabilitas makro nasional,” ujar Rizal.

Leave a Reply