Tag: jogja

  • Bakal Merayakan Hari Jadinya yang ke-267, Begini Asal Usul Nama Kota Jogja

    Bakal Merayakan Hari Jadinya yang ke-267, Begini Asal Usul Nama Kota Jogja

    7cloud.asia – Pada 7 Oktober mendatang Kota Jogja akan merayakan hari jadinya yang ke-267. 

    Banyak orang yang menyebut kota ini dengan nama kota Yogyakarta, tetapi warga setempat lebih suka menyebut kota tempat tinggalnya sebagai kota Jogja.

    Saat ini kota Jogja memiliki beragam julukan, selain disebut sebagai kota pendidikan, Jogja juga sering disebut sebagai kota budaya.

    Sebutan kota budaya yang disematkan ke Kota Jogja berkaitan erat dengan peninggalan-peninggalan budaya bernilai tinggi semasa kerajaan Mataram yang masih lestari hingga kini.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Jogja

    Peninggalan budaya inilah yang menjadikan Kota Jogja sebagai salah satu tujuan wisata budaya.

    Tapi, mari kita lupakan dulu beragam julukan untuk kota Jogja. Kali ini kita akan membahas tentang bagaimana hari jadi  Kota Jogja ditetapkan?

    Mengutip situs Pemkot Jogja, hari jadi kota Jogja yang diperingati setiap tanggal 7 Oktober berasal dari Perjanjian Gianti yang diteken pada 13 Februari 1755 atau pada masa penjajahan Belanda.

    Bisa dikatakan, lahirnya kota Jogja tak lepas dari politik pecah belah penjajah Belanda kala itu.

    Baca: Jalan Malioboro ditataulang sesuai posisi dan maknanya dalam sumbu filosofi kota Jogja

    Isi Perjanjian Gianti menyatakan Negara Mataram dibagi dua, yaitu keraton Kasunanan Surakarta dan Kraton Kesultanan yang menjadi hak Pangeran Mangkubumi yang selanjutnya menjadi cikal bakal kraton Yogyakarta.

    Selanjutnya Pangeran Mangkubumi mendapatkan gelar Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah atau Hamengku Buwono 

    Kala itu Sultan Hamengku Buwono akhirnya menetapkan ibukota dan pusat pemerintahan di hutan yang disebut Beringin yang telah memiliki desa kecil bernama Pachetokan.

    Di desa ini ada pesanggrahan yang bernama Garjitowati, yang dibuat Susuhunan Paku Buwono II dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya.

    Baca: Mengenal asal muasal Kota Manado

    Peresmian istana baru atau keraton di Ayodya itu terjadi pada 7 Oktober 1756. Lantas dari mana nama Yogyakarta?

    Detik.com mengutip situs Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY, nama Yogyakarta berasal dari nama Yogya yang kerta. Yogya yang makmur.

    Sementara itu, Ngayogyakarta Hadiningrat memiliki makna Yogya yang makmur dan yang paling utama.

    Baca: Sejarah panjang kota Palembang sebagai kota tertua di Indonesia

    Sumber lain menyebut nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanksrit Ayodhya dalam epos Ramayana.

    Dalam penggunaannya sehari-hari, Yogyakarta lazim diucapkan Jogja(karta) atau Ngayogyakarta (bahasa Jawa).

    Dalam perjalanannya, Jogja pernah menjadi pusat kerajaan baik Kerajaan Mataram (Islam), Kasultanan Yogyakarta maupun Kadipaten Pakualaman.

    Seperti itulah asal usul dan makna nama Kota Jogja yang pekan depan akan merayakan hari jadinya yang ke-267. 

     

  • Mengenal Kotagede yang Menjadi Cikal Bakal Kota Jogja

    Mengenal Kotagede yang Menjadi Cikal Bakal Kota Jogja

    7cloud.asia – Beberapa hari lalu, 7cloud.asia telah menuliskan asal usul nama Kota Jogja. Tapi bicara Kota Jogja, kurang afdol jika tidak mengulik Kotagede yang menjadi cikal bakal kota Jogja.

    Nah, buat kamu yang ingin jalan-jalan ke Jogja sempat waktu untuk mampir ke Kotagede yang berada di arah tenggara pusat kota. 

    Ada banyak tempat menarik yang bisa kamu singgahi saat jalan-jalan ke Kotagede. Tapi sebelum itu, mari kita terlebih dahulu menelusuri sejarah Kotagede dan keterkaitannya dengan kota Jogja.

    Sejarah Kotagede sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tepatnya pada abad ke-8, wilayah Mataram (sekarang disebut Jogja/Yogyakarta) merupakan pusat Kerajaan Mataram Hindu yang menguasai seluruh Pulau Jawa.

    Kerajaan ini sangat makmur dan memiliki peradaban yang luar biasa sehingga mampu membangun Candi dengan arsitektur yang megah, seperti Candi Prambanan.

    Baca: Asal muasal nama Kota Jogja

    Dilansir yogyes.com, pada abad ke-10, kerajaan tersebut memindahkan pusat pemerintahannya ke wilayah Jawa Timur. Rakyatnya berbondong-bondong meninggalkan Mataram dan lambat laun wilayah ini kembali menjadi hutan lebat.

    Enam abad kemudian Pulau Jawa kembali berada di bawah kuasa di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang yang berpusat di Solo, Jawa Tengah.

    Sultan Hadiwijaya yang berkuasa saat itu menghadiahkan Alas Mentaok (alas = hutan) yang luas kepada Ki Gede Pemanahan atas keberhasilannya menaklukkan musuh kerajaan.

    Ki Gede Pemanahan beserta keluarga dan pengikutnya lalu pindah ke Alas Mentaok, sebuah hutan yang sebenarnya merupakan bekas Kerajaan Mataram Hindu dahulu.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Jogja

    Desa kecil yang didirikan Ki Gede Pemanahan di hutan itu mulai makmur. Setelah Ki Gede Pemanahan wafat, beliau digantikan oleh putranya yang bergelar Senapati Ingalaga.

    Di bawah kepemimpinan Senapati yang bijaksana desa itu tumbuh menjadi kota yang semakin ramai dan makmur, hingga disebut Kotagede (=kota besar).

    Senapati lalu membangun benteng dalam (cepuri) yang mengelilingi kraton dan benteng luar (baluwarti) yang mengelilingi wilayah kota seluas kurang lebih 200 ha.

    Sisi luar kedua benteng ini juga dilengkapi dengan parit pertahanan yang lebar seperti sungai.

     

    Baca: Jalan Malioboro ditataulang sesuai fungsinya dalam sumbu filosofi

    Sementara itu, di Kesultanan Pajang terjadi perebutan takhta setelah Sultan Hadiwijaya wafat. Putra mahkota yang bernama Pangeran Benawa disingkirkan oleh Arya Pangiri.

    Pangeran Benawa lalu meminta bantuan Senapati karena pemerintahan Arya Pangiri dinilai tidak adil dan merugikan rakyat Pajang. Perang pun terjadi. Arya Pangiri berhasil ditaklukkan namun nyawanya diampuni oleh Senapati.

    Pangeran Benawa lalu menawarkan takhta Pajang kepada Senapati namun ditolak dengan halus. Setahun kemudian Pangeran Benawa wafat namun ia sempat berpesan agar Pajang dipimpin oleh Senapati.

    Sejak itu Senapati menjadi raja pertama Mataram Islam bergelar Panembahan. Beliau tidak mau memakai gelar Sultan untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Istana pemerintahannya terletak di Kotagede.

     

    Baca: Penataan Stasiun Tugu juga dilakukan berdasarkan sumbu filosofi

    Kerajaan Mataram Islam kemudian menguasai hampir seluruh Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia) dan mencapai puncak kejayaannya di bawah pimpinan raja ke-3, yaitu Sultan Agung (cucu Panembahan Senapati).

    Pada tahun 1613, Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan ke Karta (dekat Plered) dan berakhirlah era Kotagede sebagai pusat kerajaan Mataram Islam.

    Dalam perkembangan selanjutnya Kotagede tetap ramai meskipun sudah tidak lagi menjadi ibukota kerajaan.

    Berbagai peninggalan sejarah seperti makam para pendiri kerajaan, Masjid Kotagede, rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa yang khas.

    Toponim perkampungan yang masih menggunakan tata kota jaman dahulu, hingga reruntuhan benteng bisa ditemukan di Kotagede.

     

    Baca: Kenali gaya hidup alon-alon waton kelakon ala warga Jogja

    Tata kota kerajaan Jawa biasanya menempatkan kraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan – utara.

    Kitab Nagarakertagama yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14) menyebutkan bahwa pola ini sudah digunakan pada masa itu.

    Pasar tradisional Kotagede yang sudah ada sejak jaman Panembahan Senopati masih aktif hingga kini.

    Setiap pagi legi dalam kalender Jawa, penjual, pembeli, dan barang dagangan tumpah ruah di pasar Kotagede ini. Bangunannya memang sudah direhabilitasi, namun posisinya tidak berubah.

    Bila ingin berkelana di Kotagede, kita bisa memulainya dari pasar ini lalu berjalan kaki ke arah selatan menuju makam, reruntuhan benteng dalam, dan beringin kurung.

     

  • Jalan-jalan ke Kotagede, Merasakan Tata Kota Jawa di Masa Lalu

    Jalan-jalan ke Kotagede, Merasakan Tata Kota Jawa di Masa Lalu

    7cloud.asia – Kotagede yang menjaid cikal bakal kota Jogja, hingga masih menjadi tujuan wisata yang menarik.

    Berbagai peninggalan sejarah seperti makam para pendiri kerajaan, Masjid Kotagede, rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa yang khas menjadi tujuan wisata yang menarik untuk dikunjungi. 

    Jalan-jalan ke Kotagede kita akan menemukan toponim perkampungan yang masih menggunakan tata kota jaman dahulu, hingga reruntuhan benteng yang telah berusia ratusan tahun.

    Di Kotagede kita juga akan menemukan tata kota kerajaan Jawa di masa lalu yang biasanya menempatkan kraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan – utara.

    Baca: Mengenal sejarah Kotagede

    Berikut sejumlah tempat yang bisa disambangi saat melancong ke Kotagede: 

    1. Pasar Kotagede

    Pasar tradisional Kotagede yang sudah ada sejak jaman Panembahan Senopati masih aktif hingga kini.

    Setiap pagi legi dalam kalender Jawa, penjual, pembeli, dan barang dagangan tumpah ruah di pasar Kotagede ini. Bangunannya memang sudah direhabilitasi, namun posisinya tidak berubah.

    Bila ingin berkelana di Kotagede, kita bisa memulainya dari pasar ini lalu berjalan kaki ke arah selatan menuju makam, reruntuhan benteng dalam, dan beringin kurung.

    Baca: Asal muasalh nama Kota Jogja

    2. Kompleks Makam Pendiri Kerajaan

    Berjalan 100 meter ke arah selatan dari Pasar Kotagede, kita akan menemukan kompleks makam para pendiri kerajaan Mataram Islam yang dikelilingi tembok yang tinggi dan kokoh.

    Gapura ke kompleks makam ini memiliki ciri arsitektur Hindu. Setiap gapura memiliki pintu kayu yang tebal dan dihiasi ukiran yang indah. Beberapa abdi dalem berbusana adat Jawa menjaga kompleks ini 24 jam sehari.

    Kita akan melewati 3 gapura sebelum sampai ke gapura terakhir yang menuju bangunan makam. Untuk masuk ke dalam makam, kita harus mengenakan busana adat Jawa (bisa disewa di sana).

    Pengunjung hanya diperbolehkan masuk ke dalam makam pada Hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat pukul 08.00 – 16.00 WIB.

    Untuk menjaga kehormatan para pendiri Kerajaan Mataram yang dimakamkan di sini, pengunjung dilarang memotret / membawa kamera dan mengenakan perhiasan emas di dalam bangunan makam.

    Tokoh-tokoh penting yang dimakamkan di sini meliputi: Sultan Hadiwiijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan keluarganya.

    Baca: makna sumbu filosofi dalam tata kota Jogja

    3. Masjid Kotagede

    Berkelana ke Kotagede tidak akan lengkap jika tidak berkunjung ke Masjid Kotagede, masjid tertua di Yogyakarta yang masih berada di kompleks makam.

    Setelah itu tak ada salahnya untuk berjalan kaki menyusuri lorong sempit di balik tembok yang mengelilingi kompleks makam untuk melihat arsitekturnya secara utuh dan kehidupan sehari-hari masyarakat Kotagede.

    4. Rumah Tradisional
    Persis di seberang jalan dari depan kompleks makam, kita bisa melihat sebuah rumah tradisional Jawa.

    Namun bila mau berjalan 50 meter ke arah selatan, kita akan melihat sebuah gapura tembok dengan rongga yang rendah dan plakat yang yang bertuliskan “cagar budaya”.

    Masuklah ke dalam, di sana kita akan melihat rumah-rumah tradisional Kotagede yang masih terawat baik dan benar-benar berfungsi sebagai rumah tinggal.

    Baca: UNESCO akui sumbu filosofi sebagai warisan dunia

    5. Kedhaton
    Berjalan ke selatan sedikit lagi, Anda akan melihat 3 Pohon Beringin berada tepat di tengah jalan.

    Di tengahnya ada bangunan kecil yang menyimpan “watu gilang”, sebuah batu hitam berbentuk bujur sangkar yang permukaannya terdapat tulisan yang disusun membentuk lingkaran: ITA MOVENTUR MUNDU S – AINSI VA LE MONDE – Z00 GAAT DE WERELD – COSI VAN IL MONDO.

    Di luar lingkaran itu terdapat tulisan AD ATERN AM MEMORIAM INFELICS – IN FORTUNA CONSOERTES DIGNI VALETE QUIDSTPERIS INSANI VIDETE IGNARI ET RIDETE, CONTEMNITE VOS CONSTEMTU – IGM (In Glorium Maximam).

    Entah apa maksudnya, barangkali Anda bisa mengartikannya untuk kami?

    Dalam bangunan itu juga terdapat “watu cantheng”, tiga bola yang terbuat dari batu berwarna kekuning-kuningan.

    Masyarakat setempat menduga bahwa “bola” batu itu adalah mainan putra Panembahan Senapati. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa benda itu sebenarnya merupakan peluru meriam kuno.

    Baca: Malioboro ditataulang sesuai posisinya dalam sumbu filosofi kota Jogja

    6. Reruntuhan Benteng
    Panembahan Senopati membangun benteng dalam (cepuri) lengkap dengan parit pertahanan di sekeliling kraton, luasnya kira-kira 400 x 400 meter. Reruntuhan benteng yang asli masih bisa dilihat di pojok barat daya dan tenggara.

    Temboknya setebal 4 kaki terbuat dari balok batu berukuran besar. Sedangkan sisa parit pertahanan bisa dilihat di sisi timur, selatan, dan barat.

    Berjalan-jalan menyusuri Kotagede akan memperkaya wawasan sejarah terkait Kerajaan Mataram Islam yang pernah berjaya di Pulau Jawa.

    Selain itu, kita juga bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakat yang ratusan tahun silam berada di dalam benteng kokoh.

    Berbeda dengan kawasan wisata lain, penduduk setempat memiliki keramahan khas Jawa, santun, dan tidak terlalu komersil.

    Di Kotagede, kita takkan diganggu pedagang asongan yang suka memaksa. Ini memang sedikit mengejutkan, atau lebih tepatnya menyenangkan.

  • Pengelolaan Sampah di Jogja, Dinilai Masih Darurat

    Pengelolaan Sampah di Jogja, Dinilai Masih Darurat

    7cloud.asia – Dosen Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik UGM Prof. Chandra Wahyu Purnomo menyoroti tata kelola sampah di Jogja yang menurutnya masih dalam tahap darurat karena penanganannya belum terselesaikan hingga kini.

    Padahal, pengelolaan sampah dapat disebut sebagai ‘pintu masuk’ dalam mencapai target pembangunan berkelanjutan karena sampah merupakan isu multisektor yang berdampak pada berbagai aspek di masyarakat dan juga ekonomi. 

    “Meskipun peraturan tentang persampahan itu banyak sekali, mulai dari Undang-Undang sampai Peraturan Daerah, tapi untuk sistem pengolahan kita masih tertinggal dengan negara lain, terlebih di Jogja kita masih bertumpu dengan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan,” ujar Chandra.

    Baca Juga: Dibutuhkan Mendesak, Peta Jalan Pengelolaan Sampah di Kota Yogyakarta

    Chandra mengungkapkan, kegagalan dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah di Jogja dikarenakan tidak terbentuknya kesadaran masyarakat sebagai hulu dari permasalahan sampah.

    “Harusnya sampah sudah terpilah di hulu, mulai dari rumah tangga, kantor, pabrik atau industri, dan kampus, karena di hulu saja sudah tercampur, proses pengolahannya akan menjadi berat,” ungkapnya.

    Harapannya partisipasi publik untuk mengelola sampahnya sendiri mencapai 30%, sedangkan sisanya 70% ditangani oleh fasilitas-fasilitas yang ada di pemerintahan.

    Dia menyebut persoalan sampah memang sangat kompleks. Pemanfaatan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah seperti TPS3R dan Bank Sampah belum dioptimalkan oleh masyarakat karena 90% sampah di Jogja masih terbuang di TPA.

    Baca Juga: Atasi Masalah Sampah Organik: Pentingnya Membangun Pembangkit Biogas Skala Kelurahan

    Dari 30 TPS3R yang ada di Sleman yang semuanya dibangun oleh Kementerian PUPR, hanya 10 saja yang beroperasi, sisanya mangkrak.

    “Bayangkan kalau semua TPS3R di Sleman, Kota Jogja, dan Bantul diaktifkan, pastinya akan berdampak pada semakin cepatnya proses pemilahan sampah,” kata koordinator Indonesia Solid Waste Forum (ISWF) ini.

    Riset independen yang dilakukan oleh Chandra di tahun 2021 terkait sampah di Kota Jogja menunjukkan volume sampah mencapai 300 ton per hari.

    Ditengarai jumlah tersebut tidak mengalami perubahan hingga sekarang, bahkan cenderung meningkat jumlahnya.

    “Statusnya sudah darurat, tapi masyarakat belum juga tumbuh kesadaran untuk minimal memilah sampah, jadinya malah muncul masalah baru seperti tiba-tiba ada titik baru yang dijadikan tempat pembuangan sampah ilegal,” ucapnya.

    Baca Juga: Meski Dinilai Ketinggalan Zaman, Pengelolaan Sampah dengan Ditimbun di TPA Tetap Berpeluang untuk Direstorasi

    Chandra menyarankan penanganan sampah di hulu harus diperbaiki dan menjadi prioritas. “Kita harus terus mengedukasi masyarakat agar memiliki komitmen untuk memilah sampah, kalau perlu ada sanksi sosial seperti di negara maju,” tuturnya.

    Selanjutnya yang tidak kalah penting setelah pemilahan, adalah penjadwalan pengumpulan dan pengangkutan dari sumber langsung ke unit pengolahan seperti TPS3R dan TPST, harus terinci dan sistematis agar tidak terjadi konflik kepentingan di dalamnya.

    “Pengelolaan sampah mandiri (PSM) juga harus diatur oleh Pemda/Pemdes sehingga bisa menghindari perselisihan dengan Bumdes, yang memang sekarang ada yang ditugaskan untuk mengelola sampah juga,” pesannya.

    Teknologi pengelolaan sampah berbasis Refuse Derived Fuel (RDF) juga bisa diperhitungkan sebagai solusi untuk menghasilkan bahan bakar yang bisa digunakan untuk meminimalkan pengiriman sampah ke luar DIY, menurut Chandra.

    Sumber:ugm.ac.id

  • Festival Layang-layang Jogja Kembali Digelar, Catat Tanggalnya dan Rasakan Keseruannya

    Festival Layang-layang Jogja Kembali Digelar, Catat Tanggalnya dan Rasakan Keseruannya

    7cloud.asia – Festival Layang-layang Internasional Jogja atau Jogja International Kite Festival (JIKF) 2024 bakal digelar Sabtu-Minggu, 27-28 Juli 2024 di Pantai Parangkusumo, Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Festival yang dihelat paguyuban penggiat layang-layang Indonesia Talikama dan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta itu bakal menyuguhkan sejumlah atraksi menarik bagi pengunjung selama dua hari penyelenggaraannya.

    Festival layang-layang Jogja tahun ini memasuki tahun ke-9 dan mengusung tema “Persatuan dan Perdamaian Dunia – Unity For Love and Peace on Earth”.

    Hal ini diusung untuk membantu menciptakan kerukunan, persatuan, dan perdamaian bagi masyarakat lokal dan mancanegara .

    “Pantai Parangkusumo terpilih sebagai tempat penyelenggaraan karena bentangan pesisir pantai sepanjang 1,5 km dan panjang bibir pantainya mencapai 200 meter,” kata Ketua Umum Talikama selaku penyelenggara festival itu, RM Herdjuno S, Rabu (24/7/2024).

    Baca Juga: Ratusan Tukik atau Anak Penyu Dilepasliarkan di Sela Festival Pesisir Paloh 2024

    Pantai Parangkusumo yang berada di sisi barat Pantai Parangtritis itu dinilai memiliki embusan angin dari arah laut yang kuat, sehingga memungkinkan menerbangkan layang-layang sejenis train naga yang panjangnya mencapai 150 meter.

    Festival layang-layang Jogja kali ini diharapkan dan bisa mengakomodasi lebih dari 285 pelayang dan 50.000 penonton.

    Dilansir Tempo.co, Pelaksana Harian Kepala Dinas Pariwisata DIY Anita Verawati menuturkan, perhelatan festival layang-layang di pantai selatan ini positif sebagai bentuk menyebar agenda pariwisata agar tak selalu terkonsentrasi di pusat kota.

    “Festival yang diikuti banyak peserta mancanegara ini kami harap mendongkrak lama tinggal juga,” kata dia.

    Ada lima hal menarik yang bisa dinikmati wisatawan yang ingin menyaksikan festival layang-layang Jogja kali ini, yaitu:

    Baca Juga: Ubud Food Festival: Merayakan Kekayaan Tradisi Kuliner Nusantara

    1. Melibatkan Klub Mancanegara
    Festival layang-layang tahun ini diikuti lebih dari 55 klub layang-layang internasional dari berbagai negara.

    Hadir pula kampiun kejuaraan layang-layang dunia seperti Sawasdee Kacanop yang merupakan juara Sport Kite Dunia dari Thailand serta Datuk Ibrahim selaku Presiden Layang-layang Malaysia.

    “Jadi totalnya ada 250 peserta, mereka berasal dari 13 negara di mana sebagian klub mancanegara itu merupakan peserta yang sering ikut ajang ini,” kata Herdjuno.

    Sebagian klub internasional langganan yang hadir tiap tahun seperti dari Amerika Serikat, Malaysia, Jepang, Swiss, Thailand, Singapura, China, Korea, dan Taiwan.

    2. Tari, Karnaval, dan Silat
    Pembukaan festival layang-layang ini akan menampilkan tarian khas Yogyakarta yang ditampilkan oleh para penari sanggar tari dari Kabupaten Bantul DIY.

    Juga dimeriahkan peragaan getaran tutup mata dan pemukulan benda keras dari Perguruan Pencak Silat Merpati Putih.

    “Akan ada performa tari tradisonal, yang menampilkan umbul-umbul dari masing-masing klub daerah, peserta dalam dan luar negeri, juga karnaval peserta festival ini,” kata Herdjuno.

    Baca Juga: Catat Tanggalnya! Festival Kuliner Legendaris Bakal Digelar di Sejumlah Kota

    3. Demontrasi Sport Kite Antarnegara dan Night Flying
    Festival ini bakal diwarnai aksi koloborasi para pelayang sport kite antarnegara. Mereka akan menampilkan keterampilan koreografi layang-layang sport dengan iringan musik meriah.

    “Serunya, saat layang layang diterbangkan bersama di langit, tidak akan saling bertabrakan,” kata Herdjuno.

    Selain itu, saat malam hari akan digelar sesi Night Flying dengan layang layang yang dilengkapi cahaya lampu warna-warni dan beragam bentuk akan diterbangkan menghibur pengunjung.

    4. Padat Kegiatan Seru
    Festival yang sudah masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) dari Kemenparekraf ini akan menampilkan sederet hiburan seru.

    Program-program unggulan dalam event ini seperti pameran atau eksibisi, kontes, lomba berdasarkan kategori jenis layang-layang, dan flypass layang-layang.

    Pameran layang-layang internasional akan menampilkan berbagai jenis layang-layang dari 35 (tiga puluh lima) peserta luar negeri dari 13 negara.

    Adapun kontes layang-layang meliputi beberapa kategori. Seperti Tradisional, 2 Dimensi, 3 Dimensi, Rokaku Challenge, dan Train Naga.

    5. Workshop dan Lomba Foto Instagram
    Pada festival kali ini ada workshop yang mengajarkan peserta, terutama anak-anak dan remaja, dalam membuat layang-layang tradisional dan bagaimana main layang-layang dengan aman fasilitator dari Talikama.

    Selain itu Jogja International Kite Festival juga mengundang fotografer dan pecinta fotografi amatir dan profesional untuk mengabadikan momen- momen indah festival layang-layang dengan juri nasional.