Mengenal Kotagede yang Menjadi Cikal Bakal Kota Jogja

Written by

in

7cloud.asia – Beberapa hari lalu, 7cloud.asia telah menuliskan asal usul nama Kota Jogja. Tapi bicara Kota Jogja, kurang afdol jika tidak mengulik Kotagede yang menjadi cikal bakal kota Jogja.

Nah, buat kamu yang ingin jalan-jalan ke Jogja sempat waktu untuk mampir ke Kotagede yang berada di arah tenggara pusat kota. 

Ada banyak tempat menarik yang bisa kamu singgahi saat jalan-jalan ke Kotagede. Tapi sebelum itu, mari kita terlebih dahulu menelusuri sejarah Kotagede dan keterkaitannya dengan kota Jogja.

Sejarah Kotagede sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tepatnya pada abad ke-8, wilayah Mataram (sekarang disebut Jogja/Yogyakarta) merupakan pusat Kerajaan Mataram Hindu yang menguasai seluruh Pulau Jawa.

Kerajaan ini sangat makmur dan memiliki peradaban yang luar biasa sehingga mampu membangun Candi dengan arsitektur yang megah, seperti Candi Prambanan.

Baca: Asal muasal nama Kota Jogja

Dilansir yogyes.com, pada abad ke-10, kerajaan tersebut memindahkan pusat pemerintahannya ke wilayah Jawa Timur. Rakyatnya berbondong-bondong meninggalkan Mataram dan lambat laun wilayah ini kembali menjadi hutan lebat.

Enam abad kemudian Pulau Jawa kembali berada di bawah kuasa di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang yang berpusat di Solo, Jawa Tengah.

Sultan Hadiwijaya yang berkuasa saat itu menghadiahkan Alas Mentaok (alas = hutan) yang luas kepada Ki Gede Pemanahan atas keberhasilannya menaklukkan musuh kerajaan.

Ki Gede Pemanahan beserta keluarga dan pengikutnya lalu pindah ke Alas Mentaok, sebuah hutan yang sebenarnya merupakan bekas Kerajaan Mataram Hindu dahulu.

Baca: Makna sumbu filosofi dalam tata kota Jogja

Desa kecil yang didirikan Ki Gede Pemanahan di hutan itu mulai makmur. Setelah Ki Gede Pemanahan wafat, beliau digantikan oleh putranya yang bergelar Senapati Ingalaga.

Di bawah kepemimpinan Senapati yang bijaksana desa itu tumbuh menjadi kota yang semakin ramai dan makmur, hingga disebut Kotagede (=kota besar).

Senapati lalu membangun benteng dalam (cepuri) yang mengelilingi kraton dan benteng luar (baluwarti) yang mengelilingi wilayah kota seluas kurang lebih 200 ha.

Sisi luar kedua benteng ini juga dilengkapi dengan parit pertahanan yang lebar seperti sungai.

 

Baca: Jalan Malioboro ditataulang sesuai fungsinya dalam sumbu filosofi

Sementara itu, di Kesultanan Pajang terjadi perebutan takhta setelah Sultan Hadiwijaya wafat. Putra mahkota yang bernama Pangeran Benawa disingkirkan oleh Arya Pangiri.

Pangeran Benawa lalu meminta bantuan Senapati karena pemerintahan Arya Pangiri dinilai tidak adil dan merugikan rakyat Pajang. Perang pun terjadi. Arya Pangiri berhasil ditaklukkan namun nyawanya diampuni oleh Senapati.

Pangeran Benawa lalu menawarkan takhta Pajang kepada Senapati namun ditolak dengan halus. Setahun kemudian Pangeran Benawa wafat namun ia sempat berpesan agar Pajang dipimpin oleh Senapati.

Sejak itu Senapati menjadi raja pertama Mataram Islam bergelar Panembahan. Beliau tidak mau memakai gelar Sultan untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Istana pemerintahannya terletak di Kotagede.

 

Baca: Penataan Stasiun Tugu juga dilakukan berdasarkan sumbu filosofi

Kerajaan Mataram Islam kemudian menguasai hampir seluruh Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia) dan mencapai puncak kejayaannya di bawah pimpinan raja ke-3, yaitu Sultan Agung (cucu Panembahan Senapati).

Pada tahun 1613, Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan ke Karta (dekat Plered) dan berakhirlah era Kotagede sebagai pusat kerajaan Mataram Islam.

Dalam perkembangan selanjutnya Kotagede tetap ramai meskipun sudah tidak lagi menjadi ibukota kerajaan.

Berbagai peninggalan sejarah seperti makam para pendiri kerajaan, Masjid Kotagede, rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa yang khas.

Toponim perkampungan yang masih menggunakan tata kota jaman dahulu, hingga reruntuhan benteng bisa ditemukan di Kotagede.

 

Baca: Kenali gaya hidup alon-alon waton kelakon ala warga Jogja

Tata kota kerajaan Jawa biasanya menempatkan kraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan – utara.

Kitab Nagarakertagama yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14) menyebutkan bahwa pola ini sudah digunakan pada masa itu.

Pasar tradisional Kotagede yang sudah ada sejak jaman Panembahan Senopati masih aktif hingga kini.

Setiap pagi legi dalam kalender Jawa, penjual, pembeli, dan barang dagangan tumpah ruah di pasar Kotagede ini. Bangunannya memang sudah direhabilitasi, namun posisinya tidak berubah.

Bila ingin berkelana di Kotagede, kita bisa memulainya dari pasar ini lalu berjalan kaki ke arah selatan menuju makam, reruntuhan benteng dalam, dan beringin kurung.

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *