Tag: kalimantan timur

  • Masyarakat Sipil Soroti Pelepasan Ribuan Hektare Hutan di Kalimantan Timur

    Masyarakat Sipil Soroti Pelepasan Ribuan Hektare Hutan di Kalimantan Timur

    7cloud.asia – Komisi IV DPR menerima audiensi dari Audiensi Komisi IV DPR RI dengan beberapa LSM pemerhati hutan pada Rabu (12/7/2023).

    LSM tersebut yakni Yayasan Auriga Nusantara, WALHI, Forest Watch Indonesia (FWI), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), dan, dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman).

    Dalam audiensi tersebut Koalisi masyarakat sipil meminta pemerintah untuk mengkaji ulang pelepasan dan penurunan status kawasan hutan seluas 612.355 hektare yang tercantum dalam revisi Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) di Kalimantan Timur.

    “Kami tidak melihat adanya transparansi mengenai data dan kepentingan publik di dalam revisi itu,” kata Juru Kampanye Yayasan Auriga Nusantara, Hilman Afif.

    Baca: Jelang pemilu, masyarakat sipil ingatkan jangan obral lahan

    Hilman menuturkan ada 156 izin konsesi perusahaan yang mencaplok kawasan hutan tersebut. Perusahaan-perusahaan itu terdiri dari sektor pertambangan, monokultur kelapa sawit skala besar, dan perkebunan kayu.

    Menurutnya, sebanyak 56 persen kawasan hutan yang akan dilepaskan itu masih berupa hutan alam dan menjadi habitat bagi orang utan serta badak sumatra.

    Status kawasan itu di dalam dokumen revisi RTRW berupa pengelolaan oleh masyarakat dan peruntukannya kepada masyarakat, tetapi koalisi melihat ada izin usaha pertambangan di atasnya.

    “Aktivitas pertambangan itu tidak memiliki pinjam pakai kawasan ataupun pelepasan kawasan hutan,” ujar Hilman.

    Baca: KLHK sebut deforestasi di Indonesia terus menurun

    Yayasan Auriga Nusantara mencatat, dari total 156 izin konsesi perusahaan yang membebani kawasan yang akan dilepas tersebut, sebanyak 138.021 hektare yang masuk dalam usulan pelepasan adalah lahan dengan perizinan berusaha pemanfaatan hutan pada hutan tanaman (PBPH-HT).

    Total perusahaan hutan tanaman yang terdeteksi dalam kawasan itu mencapai 39 korporasi. Sebesar 98 persen dari total luas  tersebut berupa pelepasan kawasan hutan.

    Selain itu, sebanyak 25.684 hektare masih berupa tutupan hutan alam. Seluas 164.429 hektare telah dibebani oleh 101 izin usaha pertambangan.

    Lebih rinci, 106.782 hektar atau 65 persen diusulkan untuk pelepasan status kawasan hutan dan 56.395 hektare atau 34 persen merupakan penurunan status kawasan dari hutan lindung menjadi hutan produksi terbatas.

    Baca:  Madani berkelanjutan soroti hilangnya hutan alam

    Seluas 100.323 hektare masih berupa tutupan hutan alam. Selain itu, 3.824 hektare telah dibebani oleh 16 izin perkebunan kelapa sawit dan seluruhnya berupa penurunan status kawasan hutan menjadi areal penggunaan lain.

    Secara total ada 736.055 hektare hutan yang bakal diubah fungsi dan peruntukannya dengan rincian 83,19 persen atau setara 612.355 hektare mengalami pelepasan kawasan hutan, 13,83 persen atau setara 101.788 hektare mengalami penurunan status kawasan hutan,

    dan hanya 2,7 persen atau setara 19.858 hektare yang mengalami peningkatan status kawasan hutan, serta 0,28 persen atau setara 2.054 hektare tidak mengalami perubahan status.

    Manajer Kampanye Hutan dan Kebun Walhi Nasional, Uli Arta Siagian mengatakan ketimpangan pengelolaan kawasan hutan antara perhutanan sosial, hutan adat, dan hutan konsesi dapat memperpanjang rantai konflik.

    Baca: Komitmen Indonesia jaga hutan tropis diacungi jempol

    Ia menambahkan, ketimpangan juga berpotensi memperbanyak cerita kriminalisasi karena orang-orang saling berebut klaim.

    “Ini juga sebenarnya jauh dari komitmen iklim Indonesia, apalagi 54 persen adalah hutan alam,” kata Uli.

    “Kita jauh-jauh pergi ke pertemuan internasional untuk membicarakan komitmen iklim, tapi di dalam negeri kontradiktif antara apa yang dilakukan dengan apa yang diucapkan di forum-forum internasional tersebut,” imbuhnya.

    Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat ada 40 letusan konflik agraria yang terjadi selama lima tahun terakhir di Kalimantan Timur. Angka itu berkontribusi sebagai lima besar penyumbang letusan konflik agraria tahun 2021 dan luasan konflik agraria tahun 2019.

    Konflik agraria telah menyebabkan masyarakat sekitar kehilangan tanah dan kekayaan alam sebagai sandaran untuk kelangsungan hidup.

    Baca: Indonesia menjaid salah satu negara dengan hutan terluas di dunia

    Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR Budi Satrio Djiwandono mengatakan, isu yang disampaikan oleh LSM yang hadir akan menjadi perhatian khusus bagi komisi IV DPR yang juga membidangi Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

    “Ya isu pelepasan hutan ini tidak bisa kita anggap enteng anggap sepele. apapun itu tujuannya,” ungkap Budi ketika ditemui tim Parlementaria usai audiensi.

    Ia menilai, meski pemanfaatan hutan memiliki tujuan tujuan tertentu, pemerintah  harus perhatikan dengan detail dan saksama.

    yakni dengan tidak membiarkan ekosistem-ekosistem essential atau hutan-hutan yang mempunyai fungsi untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan manusia ini bisa terdampak, terdegradasi yang sudah banyak terjadi.

    “Kita ingin pembangunan ekonomi berjalan, rakyat benar-benar mendapatkan manfaat dari pembangunan ekonomi, mendapatkan kesempatan kerja. tapi di saat yang sama kita juga menjaga aset-aset bangsa ini,” tutupnya.

    Baca: Mekanisme perdagangan karbon ditataulang demi pemasukan negara

  • Titik Panas di Kalimantan Timur Meningkat Jadi 169 Titik

    Titik Panas di Kalimantan Timur Meningkat Jadi 169 Titik

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Balikpapan mendeteksi sebanyak 169 titik panas tersebar di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

    Sehingga semua pihak terkait diharap melakukan penanganan sesuai prosedur.

    “Sebanyak 169 titik panas ini terpantau sepanjang Kamis (11/4) kemarin mulai pukul 01.00 hingga 24.00 WITA,” ujar Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balikpapan Diyan Novrida di Balikpapan, Jumat (12/04/2024).

    Sebaran titik panas ini telah disampaikan ke pihak terkait seperti Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Penyelamatan dan Pemadaman Kebakaran baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, agar dapat dilakukan tindakan sesuai prosedur.

    Jumlah titik panas sebanyak ini mengalami kenaikan drastis ketimbang hari sebelumnya, Rabu (10/4) yang terpantau 32 titik dan tersebar di dua kabupaten, yakni Kutai Timur sebanyak 31 titik dan di Kutai Kartanegara ada satu titik panas.

    Mengingat jumlah titik panas mengalami peningkatan, maka semua pihak diminta selalu waspada dan saling mengingatkan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seperti tidak melakukan pembakaran saat mengelola lahan.

    “Kewaspadaan perlu dilakukan karena sejumlah kawasan masih mengalami cuaca panas dalam beberapa hari berturut-turut, sehingga hal ini menyebabkan dahan, ranting, dan daunnya mengering yang rawan terjadi kebakaran,” katanya.

    Ia melanjutkan, sebanyak 169 titik panas yang terpantau kemarin tersebar di lima kabupaten/kota, yakni di Kota Bontang (2), Kabupaten Kutai Barat (40), Kutai Timur (86), Kutai Kartanegara (37), dan Kabupaten Berau (4) titik panas.

    Rinciannya, di Bontang yang terpantau dua titik berada di Kecamatan Bontang Selatan dengan tingkat kepercayaan menengah, di Berau dengan empat titik tersebar di Kecamatan Kelay dua dan Segah dua dengan tingkat kepercayaan menengah dan rendah.

    Di Kutai Barat dengan 40 titik tersebar pada tiga kecamatan, yakni Muara Pahu (37), Jempang (1), Kecamatan Penyinggahan (2) titik dengan tingkat kepercayaan menengah dan rendah.

    Di Kutai Timur yang terpantau 86 titik tersebar pada 14 kecamatan yakni Sangatta Utara (6), Bengalon (25), Busang (3), Karangan (1), Kongbeng (8), Muara Wahau (3), Rantau Pulung (8), Sangkulirang (4), Telen (5), Kongbeng (2), Long Mesangat (13), Muara Bengkal (2), Muara Wahau (3), dan Teluk Pandan (3) titik dengan tingkat kepercayaan menengah dan rendah.

    “Di Kutai Kartanegara yang terpantau 37 titik tersebar pada delapan kecamatan, yakni Muara Muntai (14), Muara Kaman (8), Muara Jawa (1), Marang Kayu (7), Loa Kulu (2), Kota Bangun (1), Kenohan (2), dan Kecamatan Anggana (2) dengan tingkat kepercayaan menengah,” ujar Diyan.

    Sumber: Antaranews

  • Karst Sangkulirang Mangkalihat: Warisan Geologi di Bumi Kalimantan Timur

    Karst Sangkulirang Mangkalihat: Warisan Geologi di Bumi Kalimantan Timur

    7cloud.asia – Tanah Kalimantan Timur memiliki dua warisan geologi yang sangat bernilai, yakni kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat dan Delta Mahakam.

    Akademisi Teknik Geologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (Kaltim) Syamsidar Sutan Malim Polawan menyoroti pentingnya pelestarian dua warisan geologi ini.

    “Kalimantan Timur memiliki dua warisan geologi potensial yang mesti dilindungi, yaitu Karst Sangkulirang Mangkalihat dan Delta Mahakam. Namun, keberadaan kedua warisan alam ini bisa saja terancam punah akibat berbagai faktor, termasuk eksplorasi sumber daya alam,” katanya di Samarinda, Jumat (10/5/2024).

    Menurut Syamsidar, Karst Sangkulirang Mangkalihat merupakan bentang alam karst yang unik dengan lukisan-lukisan alam dan gua-gua yang menyimpan berbagai macam keanekaragaman hayati.

    Kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat ini telah masuk dalam daftar situs warisan dunia UNESCO.

    Baca Juga: Kawasan Bonjol Akan Diusulkan sebagai Geopark Equatorial ke UNESCO

    Sementara, Delta Mahakam adalah kawasan delta yang terdiri atas beberapa pulau yang terbentuk akibat endapan di muara Sungai Mahakam.

    Kawasan ini memiliki luas sekitar 150.000 hektare dan merupakan habitat bagi berbagai flora dan fauna.

    Kedua warisan geologi ini terancam punah karena berbagai faktor, seperti pertambangan, penebangan hutan, perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan pembangunan infrastruktur.

    Syamsidar menyampaikan, perubahan lingkungan ini dapat menyebabkan kerusakan pada bentang alam, hilangnya habitat flora dan fauna, bahkan bencana alam.

    Oleh karena itu, dia menegaskan pentingnya untuk melestarikan warisan geologi Kalimantan Timur.

    “Kita perlu bekerja sama untuk melindungi warisan geologi ini, baik dari pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta. Kita perlu melakukan edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam,” tuturnya.

    Baca Juga: UNESCO Beri Kartu Kuning pada Pengelola Geopark Kaldera Toba

    Upaya pelestarian warisan geologi Kalimantan Timur dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti penetapan kawasan lindung, pengembangan ekowisata, serta penelitian, dan edukasi.

    Pada aspek perlindungan, pemerintah perlu menetapkan kawasan lindung di sekitar warisan geologi untuk mencegah kerusakan akibat aktivitas manusia.

    Pada pengembangan ekowisata, dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dan sekaligus menjaga kelestarian alam.

    “Ke depan, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mempelajari warisan geologi Kalimantan Timur dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam,” kata Syamsidar.

    Ia menambahkan dengan upaya bersama diharapkan warisan geologi Kalimantan Timur dapat dilestarikan dan dinikmati oleh generasi sekarang dan mendatang.

    Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah menjadikan Karst Mangkulihat Sangkulirang yang berada di Kabupaten Kutai Timur menjadi Warisan dunia.

    Baca Juga: Berpetualang Sambil Belajar di Geopark Anggota UNESCO Global Geoparks

    Karst Sangkulirang Mangkalihat terletak di Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Kutai Timur.

    Seperti halnya kawasan karst, lokasi dari Sangkulirang Mangkalihat ini pun dikelilingi oleh dinding-dinding terjal, gua bawah tanah dengan ukiran alam eksotis, serta perbukitan hijau yang membuat travelers terkagum-kagum.

    Keindahaan kelompok karst berukuran raksasa ini membenteng dari Kabupaten Kutai Timur hingga ke Kabupaten Berau.

    Kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat bisa dicapai lewat perjalanan dari kota Samarinda, waktu tempuh dengan bus atau mobil carteran sekitar 8 – 9 jam dengan melewati jalan bekas perusahaan kayu, tepatnya melewati Sangatta dan Bengalon.

    Kawasan ini punya luas mencapai 1,8 juta hektar. Bahkan, area ini punya kawasan ekosisten inti seluas 550.000 hektar. Aset yang sangat berharga karena memiliki nilai ekonomi, budaya, sosial, dan ilmiah.

    Menurut hasil penelitian, kawasan karst ini memberi informasi tentang jejak manusia purba yang bisa dilihat dari lukisan di gua-gua di sana.

    Lukisan tangan, gambar perahu, dan lukisan berbagai jenis binatang yang tergambar jelas pada dinding-dinding gua dan konon telah ada sekitar 10.000 tahun SM.

    Di sini juga ditemukan tulang, wadah yang terbuat dari tanah liat, serta alat-alat yang terbuat dari batu. Masih dari hasil penelitian, diperkirakan penyebaran rumpun manusia purba Austronesia diawali dari pegunungan karst Sangkulirang.

    Ini artinya, Karst Sangkulirang Mangkalihat menjadi titik awal kemunculan manusia purba yang ada di Nusantara

    Ketika dieksplorasi, kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat memiliki beberapa bagian pada puluhan gua berlorong panjang dengan hiasan ornamen alami beserta stalagtit dan stalagmit mengagumkan.

    Sedangkan flowstone yang terjajar indah memancarkan kristal kalsit yang memukau mata. Mengeksplorasi gua-gua bawah tanah juga menjadi tantangan sendiri buat para penjejah karena ketinggian air pada tiap-tiap spot berbeda.

    Selain potensi sungai bawah tanah yang bisa dimanfaatkan, kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat juga punya potensi alam lain yang bisa meningkatkan nilai ekonomi, seperti hutan kayu dan non kayu, batuan mineral, potensi wisata alam, serta sarang burung walet yang cukup menjanjikan.

    Tidak hanya itu, keanekaragaman hayati begitu berlimpah yang ditawarkan kawasan karst ini juga sangat kaya karena tempat ini dihuni oleh hewan endemik seperti orangutan.

    Di tempat ini terdapat situs berharga, seperti untuk bidang plaeontologi, arkeologi, situs fosil, struktur geologi-mineral, litologi, serta beragamnya flora dan fauna endemik.

    Keberadaan gua-gua, sungai bawah laut, cadangan batu kapur dan bahan semen pun cukup melimpah sehingga cocok sekali dijadikan spot pariwisata alam.

    Karena dunia menyatakan kalau Sangkulirang Mangka lihat menjadi kawasan karst dunia yang terancam punah, pemerintah daerah setempat pun menetapkan area ini sebagai kawasan terlindung sehingga kelestariannya senantiasa terjaga dari tangan-tangan nakal yang akan mengeksplorasi alam karst dengan membabi-buta.

  • Meski Bakal Jadi Lokasi Ibu Kota Negara, Lebih 100 Desa di Kalimantan Timur Belum Ada Aliran Listrik

    Meski Bakal Jadi Lokasi Ibu Kota Negara, Lebih 100 Desa di Kalimantan Timur Belum Ada Aliran Listrik

    7cloud.asia – Gegap gempita pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Sepaku, Penajam Paser Utara ternyata tak serta merta berdampak positif kepada masyarakat Kalimantan Timur.

    Faktanya, masih ada sekitar 113 desa di sejumlah daerah di Kalimantan Timur yang belum teraliri listrik.

    Hal ini diungkap Anggota Komisi XII DPR, Syafruddin saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII bersama Direktur Utama PLN dan jajaran manajemennya di Senayan, Jakarta, Senin (2/12/2024) lalu.

    Dalam kesempatan itu politisi PKB itu menceritakan kunjungan langsungnya ke PLN Provinsi Kalimantan Timur. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka memperjuangkan aspirasi masyarakat di desa-desa terpencil yang belum menikmati aliran listrik.

    Udin, sapaan akrabnya, menekankan pentingnya pertemuan dengan operator lapangan untuk mencari solusi terkait eletrikfikasi di Kalimantan Timur ini.

    Baca: Perampasan lahan milik rakyat dalam pembangunan IKN

    Legislator dapil Kalimantan Timur ini mengungkapkan bahwa meskipun tantangan geografis dan cuaca menjadi hambatan dalam penyediaan listrik, penting untuk mencari langkah strategis yang efektif.

    Udin akan melibatkan pihak-pihak terkait dalam pertemuan selanjutnya, termasuk jajaran pemerintah daerah, untuk membahas solusi dalam pengadaan tiang listrik dan infrastruktur lainnya.

    Jika PLN tidak mampu menyediakan tiang, maka Syarifuddin akan meminta dukungan dari pihak lain.

    ”Kami tidak ingin dana besar yang ada tidak memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya usai menyerap aspirasi langsung di Kalimantan Timur baru-baru ini kepada Parlementaria.

    Meski terus meningkat, elektrifikasi di Kalimantan Timur tergolong rendah dan di bawah angka nasional.

    Baca: Warga Korban IKN serukan ‘Indonesia is Not For Sale’

    Data BPS menunjukkan angka elektrifikasi di Kalimantan Timur 90,21 persen (2020), 91,98 persen (2021) dan 93,09 persen (2022).

    Sedangkan di Penajam Paser Utara yang menjadi lokasi IKN, angka lektrifikasi lebih rendah lagi yakni 82,11 persen (2020), 82,67 persen (2021) dan 83,14 persen (2022).

    Syariffudin menegaskan komitmennya untuk terus berjuang demi kepentingan masyarakat, terutama dalam hal akses listrik untuk desa-desa yang masih terisolasi.

    Syariffudin mengajak semua pihak untuk berkolaborasi demi mencapai tujuan ini. Dia yakin, dengan kolaborasi dan komitmen yang tinggi, 113 desa yang saat ini tidak teraliri listrik dapat segera menikmati pelayanan listrik yang layak, sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

    “Jika ada informasi atau dukungan yang diperlukan, saya siap memimpin rombongan untuk berdialog lebih lanjut dengan pihak-pihak yang berkepentingan, termasuk Komisi di DPR,” tambahnya.

  • Marak Eksploitasi Lingkungan, DPR Ingatkan Potensi Banjir Sumatera Terulang di Kalimantan Timur

    Marak Eksploitasi Lingkungan, DPR Ingatkan Potensi Banjir Sumatera Terulang di Kalimantan Timur

    7cloud.asia – Anggota Komisi XII DPR Syafruddin mengingatkan pemerintah agar menjadikan bencana banjir dan longsor yang terjadi di Pulau Sumatera  atau Banjir Sumatera sebagai peringatan serius untuk mencegah kejadian serupa di Kalimantan Timur. 

    Syafruddin menilai Kalimantan Timur berada pada tingkat kerentanan yang tinggi akibat masifnya aktivitas tambang dan buruknya pengelolaan lingkungan di kawasan tersebut.

    “Banjir Sumatera harus kita tahan agar tidak terulang, misalnya di Kalimantan Timur. Karena Kalimantan Timur sangat rawan terjadi bencana seperti yang terjadi di Pulau Sumatera dan Aceh,” ujar Syafruddin dalam Rapat Kerja Komisi XII dengan Menteri Lingkungan Hidup di Gedung Nusantara I, DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (03/12/2025).

    Syafruddin menjelaskan bahwa Kalimantan Timur menampung sejumlah perusahaan tambang raksasa yang terus menggerus hutan dan mencemari sungai, sehingga meningkatkan risiko bencana ekologis.

    Baca Juga: WALHI Ingatkan Potensi Bencana Alam di Jawa Barat Tergolong Tinggi

    Dia menyebut sejumlah perusahaan besar seperti PT KPC, Berau Coal, Indominco, PT Bayan, PT IITM Group, hingga Kideco yang beroperasi secara masif di wilayah tersebut.

    “Perusahaan-perusahaan tambang terus-menerus menggunduli hutan dan tentu saja mencemari sungai dan air di sana,” tegasnya.

    Lebih jauh, legislator asal Dapil Kalimantan Timur itu menyoroti keberadaan sekitar 1.700 lubang tambang yang belum direklamasi yang ia sebut sebagai ancaman besar bagi keselamatan warga.

    Menurutnya, lubang-lubang tambang tersebut bukan hanya berpotensi memperburuk bencana, tetapi telah memakan korban jiwa. 

    “Sudah menelan korban, ada 51 anak yang meninggal di lubang tambang. Itu baru korban yang meninggal di lubang tambang, belum yang akibat bencana seperti di Pulau Sumatera,” ungkap Politisi Fraksi PKB ini.

    Baca Juga: Kemenkeu Siapkan Rp 2,03 Triliun untuk Tangani Banjir Sumatera

    Syafruddin mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan untuk memperketat seluruh proses perizinan dan pengawasan lingkungan, termasuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). 

    Ia meminta pemerintah bergerak cepat menata ulang tata kelola lingkungan di Kalimantan Timur sebelum kerusakan semakin parah.

    Menutup pernyataannya, Syafruddin kembali meminta perhatian khusus pemerintah terhadap kondisi Kaltim. 

    “Sekali lagi, mohon atensi Pak Menteri dan jajaran. Kalimantan Timur kalau bisa ditangani serius, jangan sampai terjadi seperti di Sumatera,” pungkasnya