Tag: kebakaran hutan dan lahan

  • 2 Bulan Musim Kemarau Terjadi 131 Kebakaran Hutan dan Lahan, Warga Diminta Waspada

    2 Bulan Musim Kemarau Terjadi 131 Kebakaran Hutan dan Lahan, Warga Diminta Waspada

    “Kita saat ini sudah mulai berada pada awal musim kemarau di bulan Juni. Yang diwaspadai ada dua yakni kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan,” kata Muhari dalam diskusi disaster briefing yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (12/6/2023).
     
    Baca: Perubahan iklim sebabkan musim kemarau semakin kering
     
    Dilansir antaranews.com Grafik kejadian bencana sepekan selama 5-11 Juni 2023 tercatat ada 27 kejadian bencana, di mana tujuh di antaranya adalah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa wilayah.
     
    Kebakaran hutan dan lahan antara lain terjadi di Sumatera, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
     

    Namun ia menyatakan ada variabilitas cuaca lokal yang secara umum terjadi musim kemarau tetapi juga berpotensi banjir, sehingga harus diperhatikan pemerintah daerah (pemda).
     
    “Kita musim kemarau iya, tetapi ada daerah-daerah yang potensi banjir juga, misalnya Kabupaten Bogor mengalami kekeringan, sedangkan Kota Depok banjir. Jadi dalam satu kawasan yang tidak terlalu luas, bisa terjadi dua fenomena yang sangat berlawanan,” tuturnya.
     

     

    Meski curah hujan sudah tidak terlalu tinggi, kata dia, tetapi bisa membantu mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan.
     
    “Misalnya ada kebakaran hutan dan lahan di Karo, Sumatera Utara, begitu meluas, ada hujan, itu terbantu, sehingga upaya-upaya pemadaman cepat terbantu oleh faktor alam,” kata Abdul Muhari.
     
    Untuk itu ia berharap tahun ini cuaca tidak terlalu kering, masih ada awan hujan sehingga ketika ada eskalasi dari kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan, masih bisa berharap awan hujan bisa memadamkan karhutla atau setidaknya menjaga sumber-sumber air.
     
    “Dalam jangka panjang kita harus mencari solusi-solusi permanen, misalnya preservasi air, karena ketika musim hujan bisa kita tahan di daerah-daerah resapan air dengan vegetasi yang cukup, sehingga saat musim kemarau, air ini kemudian bisa mengalir sehingga tetap bisa mengisi embung, waduk, dan daerah resapan air yang lain,” kata Muhari.
     

     

    Muhari mengingatkan pentingnya pencegahan agar tak terjadi kebakaran hutan dan lahan parah seperti tahun 2015, di mana kerugian negara ditaksir mencapai Rp116 triliun oleh Bank Dunia.

     

    “kebakaran hutan dan lahan secara umum akan meningkatkan emisi CO2, harus kita putus, dan melihat karhutla sebagai upaya sistematis, yang paling utama adalah pencegahan, jangan sampai ada api. Karena begitu apinya sudah menjalar akan sangat sulit memadamkan,” katanya.
     
    Hingga saat ini BNPB pun telah melakukan upaya modifikasi cuaca dengan hujan buatan untuk menjaga daerah resapan air agar tidak kering.

  • Menhut Imbau Masyarakat Waspada Karhutla pada 10 Hari Pertama Agustus

    Menhut Imbau Masyarakat Waspada Karhutla pada 10 Hari Pertama Agustus

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda sebagian wilayah di Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pun harus diwaspadai masyarakat. Terutama pada 10 hari pertama di bulan Agustus.

    Hal ini dikatakan oleh Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin (28/07/2025).

    Baca: Pemprov Riau tetapkan status tanggap darurat imbas kebakaran dan lahan

    “10 hari pertama Agustus, hampir di semua provinsi adalah warning, peringatan, karena tadi kombinasinya curah hujan kecil, rendah, pembentukan awan rendah, sulit karena awannya tidak ada, dan tingkat kekeringan lahan, tingkat potensi kebakaran hutannya tinggi,” jelas Raja seperti yang dikutip Sindonews.

    Karena itu, dia meminta seluruh pihak untuk berkontribusi demi mencegah potensi Karhutla. Sebab musim hujan baru akan tiba pada bulan Oktober.

    “Meskipun kalau kita tarik lagi Agustus masih berbahaya, tapi yang paling berbahaya 10 hari pertama, September masih berbahaya, tapi agak berkurang karena musim hujan akan datang baru pada bulan Oktober,” terangnya.

    Baca: Pemerintah dianggap lamban dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan

    Pada kesempatan itu, Raja Juli mengatakan kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan pada tahun 2025 ini dapat terkendali dengan baik.

    Meski demikian pihaknya tetap bekerjasama dengan BNPB, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan water bombing dalam mengatasi kebakaran hutan.