“Kita saat ini sudah mulai berada pada awal musim kemarau di bulan Juni. Yang diwaspadai ada dua yakni kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan,” kata Muhari dalam diskusi disaster briefing yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin (12/6/2023).
Dilansir antaranews.com Grafik kejadian bencana sepekan selama 5-11 Juni 2023 tercatat ada 27 kejadian bencana, di mana tujuh di antaranya adalah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di beberapa wilayah.
Kebakaran hutan dan lahan antara lain terjadi di Sumatera, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Namun ia menyatakan ada variabilitas cuaca lokal yang secara umum terjadi musim kemarau tetapi juga berpotensi banjir, sehingga harus diperhatikan pemerintah daerah (pemda).
“Kita musim kemarau iya, tetapi ada daerah-daerah yang potensi banjir juga, misalnya Kabupaten Bogor mengalami kekeringan, sedangkan Kota Depok banjir. Jadi dalam satu kawasan yang tidak terlalu luas, bisa terjadi dua fenomena yang sangat berlawanan,” tuturnya.
Meski curah hujan sudah tidak terlalu tinggi, kata dia, tetapi bisa membantu mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan.
“Misalnya ada kebakaran hutan dan lahan di Karo, Sumatera Utara, begitu meluas, ada hujan, itu terbantu, sehingga upaya-upaya pemadaman cepat terbantu oleh faktor alam,” kata Abdul Muhari.
Untuk itu ia berharap tahun ini cuaca tidak terlalu kering, masih ada awan hujan sehingga ketika ada eskalasi dari kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan, masih bisa berharap awan hujan bisa memadamkan karhutla atau setidaknya menjaga sumber-sumber air.
“Dalam jangka panjang kita harus mencari solusi-solusi permanen, misalnya preservasi air, karena ketika musim hujan bisa kita tahan di daerah-daerah resapan air dengan vegetasi yang cukup, sehingga saat musim kemarau, air ini kemudian bisa mengalir sehingga tetap bisa mengisi embung, waduk, dan daerah resapan air yang lain,” kata Muhari.
Muhari mengingatkan pentingnya pencegahan agar tak terjadi kebakaran hutan dan lahan parah seperti tahun 2015, di mana kerugian negara ditaksir mencapai Rp116 triliun oleh Bank Dunia.
“kebakaran hutan dan lahan secara umum akan meningkatkan emisi CO2, harus kita putus, dan melihat karhutla sebagai upaya sistematis, yang paling utama adalah pencegahan, jangan sampai ada api. Karena begitu apinya sudah menjalar akan sangat sulit memadamkan,” katanya.
Hingga saat ini BNPB pun telah melakukan upaya modifikasi cuaca dengan hujan buatan untuk menjaga daerah resapan air agar tidak kering.

Leave a Reply