Tag: kelaparan

  • Gak Cukup Hanya Bantuan, Perlu Solusi Jangka Panjang Tuk Atasi Bencana Kelaparan di Papua

    Gak Cukup Hanya Bantuan, Perlu Solusi Jangka Panjang Tuk Atasi Bencana Kelaparan di Papua

     

    7cloud.asia – Kelaparan di Distrik Agandugume dan Distrik Lambewi Kabupaten Puncak Papua Tengah disebabkan oleh kemarau panjang yang dibarengi dengan cuaca dingin ekstrem hingga membuat daerah tersebut mengalami kekeringan.

    Akibat bencana kelaparan kali ini, 7.500 warga terdampak bencana kelaparan, khususnya yang berada di Distrik Agandugume dan Distrik Lambewi Papua Tengah.

    Masyarakat di dua distrik itu akhirnya mengungsi ke distrik-distrik terdekat yang kondisinya sedikit lebih baik.

    Berdasarkan laporan yang diterima, terdapat 6 warga di Distrik Agandugume dan Distrik Lambewi di Kabupaten Puncak, Papua Tengah, meninggal dunia di tengah kemarau panjang tahun ini.

    Sebanyak lima korban meninggal akibat kelaparan ini merupakan orang dewasa dan satu orang lainnya bayi berusia 6 bulan.

    Baca: Pemerintah akan bangun lumbung sosial di Papua Tengah

    Berada di belakang pegunungan Carstensz, Kabupaten Puncak kerap mengalami kekeringan saat musim kemarau seperti saat ini. Fenomena El Nino membuat kondisi semakin parah.

    Suhu rendah di Kabupaten Puncak akibat kemarau panjang menyebabkan kekeringan terjadi sehingga tanaman seperti umbi-umbian tidak bisa tumbuh.

    Padahal umbi-umbian merupakan makanan pokok masyarakat setempat sehingga saat gagal panen, mereka kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.

    Bencana kelaparan ini bukan pertama terjadi di Papua. Pada tahun 1982, ratusan warga Jayawijaya, Kabupaten Puncak Jaya, juga mengalami hal yang sama.

    Lalu, pada tahun 1984 dan 1986, kelaparan kembali berulang dengan jumlah kematian yang juga tak sedikit.

    Selain kejadian di tahun 2023, bencana terkini terjadi pada 2022, saat empat orang di Lanny Jaya meninggal akibat kelaparan.

    Baca: Antisipasi Kementan hadapi ancaman El Nino terhadap ketahanan pangan

    Di Kabupaten Puncak sendiri, bencana kelaparan hampir setiap tahun terjadi.

    Menyoroti bencana kelaparan di Kabupaten Puncak, Papua Tengah ini, Ketua DPR Puan Maharani menegaskan Pemerintah Indonesia perlu menyiapkan solusi jangka panjang guna mengatasi peristiwa yang terjadi hampir setiap tahun.

    Puan meminta Pemerintah melakukan langkah terpadu menghadapi bencana kelaparan yang rutin terjadi di wilayah tersebut. 

    “Gotong royong dari seluruh pihak diperlukan untuk membantu saudara-saudara kita di Papua yang saat ini menghadapi bencana kelaparan dampak dari cuaca ekstrem,” kata Puan Kamis (3/8/2023) seperti dikutip Parlementaria

    Puan mengigatkan penyelesaian masalah kelaparan di daerah pegunungan di Papua ini harus dilakukan secara komprehensif.

    Tidak cukup hanya dengan sekadar memberi bantuan, tapi juga antisipasi agar ke depannya bencana kelaparan bisa dihindari.

    Baca: Fenomena El Nino dan dampaknya bagi lingkungan

    Penyelesaian bencana kelaparan di Papua secara terpadu diperlukan mengingat medan geografis yang sulit menyebabkan bantuan susah sampai. Akses yang paling mudah dan cepat adalah dengan menggunakan pesawat. 

    Puan mendukung pengamanan dari TNI/Polri dalam penyaluran bantuan ke warga Papua Tengah dari gangguan keamanan dari Organisasi Papua Merdeka (OPM).

    Puan menyebut, dukungan dari TNI/Polri bisa membantu penyaluran logistik yang tertahan. 

    “Sebagai pilar penjaga keamanan di Papua, TNI/Polri harus menjamin keamanan saat pasokan bantuan tiba di Papua. Upayakan agar bantuan untuk warga segera sampai dan antisipasi adanya masalah saat proses pendistribusiannya, serta pastikan masyarakat aman saat menerima bantuan,” paparnya.

    Baca: DPR usulkan insentif bagi daerah penghasil Oksigen

    Ia mendukung upaya Pemerintah yang saat ini tengah bekerja secara masif dengan penetapan tambahan masa tanggap darurat bencana kekeringan di Papua Tengah menjadi dua minggu.

    “Ini pekerjaan rumah yang sangat besar. Pemerintah dengan dukungan seluruh elemen bangsa harus bisa mengatasi persoalan kelaparan di Papua ini. Tentunya DPR akan memberi dukungan lewat fungsi dan kewenangan kami,” pungkasnya. 

  • 23 Orang Meninggal di Yahukimo Papua Pegunungan, Diduga Akibat Kelaparan

    23 Orang Meninggal di Yahukimo Papua Pegunungan, Diduga Akibat Kelaparan

    7cloud.asia – Sebanyak 23 warga Yahukimo Papua Pegunungan dkabarkan meninggal karena kelaparan hingga Oktober ini. 

    Namun, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy belum bisa memastikan bahwa 23 orang warga Yahukimo Papua Pegunungan ini meninggal akibat kelaparan. 

    “Jadi kami belum bisa memastikan dia (warga Yahukimo, Papua) memang meninggal kelaparan,” ujar Menko Muhadjir dalam konferensi pers penanganan kelaparan di Kemenko PMK, Jakarta, Rabu (25/10/2023)

    Baca: Pertanian cerdas untuk produksi pangan

    Dilansir Antaranews.com, sebelumnya dikabarkan sebanyak 23 orang meninggal akibat kelaparan di Distrik Amuma, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, akibat gagal panen sebagai imbas cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut.

    Berdasarkan penjelasan Bupati Yahukimo, kata Menko Muhadjir, belum ada bukti bahwa mereka yang meninggal akibat kelaparan.

    Pasalnya secara frekuensi waktu, puluhan warga yang meninggal tersebut cukup panjang mulai dari Februari hingga Oktober.

    Baca: Pemerintah kaji solusi jangka panjang bencana kelaparan di Papua

    “Artinya tidak ada kaitan, belum ada bukti bahwa itu ada kaitan langsung dengan kelaparan,” ujar Menko Muhadjir.

    Namun ia tidak menyangkal bahwa tengah terjadi krisis pangan pada 13 kampung di Distrik Amuma, Yahukimo, sebagai dampak gagal panen.

    Krisis pangan itu, diakuinya, membuat 15 ribu orang terdampak kelaparan. Untuk mengatasi bencana kelaparan, kata dia, pemerintah segera mengirimkan bantuan untuk mengatasi krisis pangan di Distrik Amuma.

    Baca: Pemerintah akan bangun lumbung sosial di Papua Tengah

    “Makanya akan kami pasok (bantuan). Kalau memang betul tadi itu, disebabkan oleh karena kelaparan, ya ini bisa jadi solusi untuk segera kami siapkan bahan pangan yang cukup itu,” kata Menko Muhadjir.

    Sebelumnya Ketua BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan bantuan yang akan dikirimkan berupa beras sebanyak 20 ton, makanan siap saji 10 ribu bungkus, biskuit protein 10 ribu bungkus, serta anggaran operasional sebesar Rp1 miliar.

     

  • Dampak Serangan Israel, 71 Persen Penduduk Gaza Alami Kelaparan Ekstrem

    Dampak Serangan Israel, 71 Persen Penduduk Gaza Alami Kelaparan Ekstrem

    7cloud.asia – Sekitar 71 persen penduduk Gaza mengalami kelaparan ekstrem lantaran terus menderita akibat serangan tiada henti Israel, kata sebuah penelitian yang dirilis kelompok hak asasi manusia Euro-Med Monitor.

    Berdasarkan temuan yang melibatkan sampel 1.200 orang di Gaza itu, 98 persen responden mengaku mengonsumsi makanan yang tidak layak.

    Menurut temuan ini, 64 persen responden mengaku mengonsumsi rumput, buah, makanan mentah dan bahan-bahan kadaluarsa untuk menghilangkan rasa lapar.

    Baca: Israel kuasai Rumah Sakit Indonesia

    Penelitian itu juga menyebutkan  jatah air di Gaza, termasuk air minum, mandi dan air bersih, berkurang menjadi 1,5 liter per orang setiap hari.

    “Jumlah ini berkurang 15 liter dari jumlah kebutuhan air untuk bertahan hidup berdasarkan standar internasional,” sebut hasil penelitian itu.

    Terungkap juga 66 persen responden mengaku pernah mengalami diare, ruam kulit atau penyakit saluran cerna dalam sebulan terakhir.

    Baca: Sebanyak 3714 pelajar Palestina tewas

    Gempuran udara dan darat Israel sejak Hamas melancarkan serangan pada 7 Oktober telah menewaskan sedikitnya 19.667 warga Palestina dan melukai 52.586 orang.

    Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, kata otoritas kesehatan di kantong Palestina itu.

    Perang menyebabkan kehancuran di Gaza di mana separuh persediaan rumah di wilayah pesisir rusak atau hancur dan hampir dua juta penduduk mengungsi di tengah kondisi krisis makanan dan air bersih.

    Sementara itu, hampir 1.200 orang Israel diyakini tewas dan lebih dari 130 orang masih disandera.
     
    Sumber: Anadolu

  • Kelaparan di Gaza Semakin Kritis, Menlu AS: Sedianya Tak Ada Anak Palestina Meninggal Karena Kelaparan

    Kelaparan di Gaza Semakin Kritis, Menlu AS: Sedianya Tak Ada Anak Palestina Meninggal Karena Kelaparan

    7cloud.asia – Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken menegaskan tidak boleh ada anak Palestina yang meninggal karena kelaparan.

    “Sedianya tidak boleh ada anak-anak yang meninggal karena kekurangan gizi di Gaza.” ujarnya ketika memberikan keterangan pers bersama Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry di Kairo pada hari Kamis (21/3/2024).

    “Seperti yang Anda dengar dari Menteri Shoukry, ada kesepakatan mendesak untuk meningkatkan dan mempertahankan bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza. Sedianya tidak boleh ada anak-anak yang meninggal karena kekurangan gizi di Gaza atau di mana pun.” ujarnya.

    Blinken mengatakan, saat ini 100% penduduk Gaza mengalami tingkat kerawanan pangan sangat akut. Dunia,ujarnya, tidak bisa dan tidak boleh membiarkan hal itu terus berlanjut.

    Saat ini, gencatan senjata – yang memang sedang kami upayakan – merupakan cara terbaik dan paling cepat yang memungkinkan kami dapat meningkatkan bantuan kemanusiaan.

    “Kita telah melihat adanya sedikit peningkatan pengiriman bantuan selama beberapa minggu terakhir, tetapi itu tidak cukup.” tandas Blinken

    Baca: Kelaparan jadi metode perang  baru Israel di Gaza

    Blinken melangsungkan pertemuan dengan menteri luar negeri Mesir, Yordania, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di Kairo untuk membahas rencana pasca-konflik di Gaza.

    Pertemuan dilangsungkan saat semakin memburuknya hubungan Amerika dan Israel terkait perang Israel melawan Hamas.

    Hal ini menyusul adanya niatan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk melakukan operasi militer besar-besaran di kota Rafah, di bagian selatan Gaza.

    Presiden Joe Biden telah meminta Netanyahu untuk tidak melakukan hal itu tanpa rencana rinci soal bagaimana melindungi warga sipil yang tidak berdosa dan telah mengungsi ke kota itu untuk berlindung.

    Namun hingga kini Israel tidak kunjung menyampaikan rencana itu, dan bersikukuh memulai operasi darat ke Rafah.

    Blinken mengatakan ada “konsensus yang jelas” mengenai perlunya gencatan senjata segera di Gaza, yang telah diupayakannya bersama Qatar dan Israel.

    Baca: Antre makanan bukan lagi tempat yang aman di Gaza

    “Kesenjangan semakin menyempit dan kami terus mendorong tercapainya kesepakatan di Doha. Masih ada pekerjaan yang sulit untuk mencapainya, namun saya tetap percaya bahwa hal itu mungkin tercapai.”

    Dia juga mengatakan bahwa gencatan senjata segera adalah cara terbaik untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Gaza, yang “mengalami tingkat kerawanan pangan akut yang parah.”

    Dokter & Staf Rumah Sakit Juga Makan ala Kadarnya

    Situasi kelaparan yang sangat akut di Gaza juga menimbulkan dampak pada para dokter dan staf rumah sakit di RS Al Aqsa, di Gaza Tengah.

    Dr. Bashar Abdel Qader, seorang dokter sukarelawan di rumah sakit itu mengatakan, “Ya, kami mendapat beberapa kali kesempatan makan… makanan tersebut tidak cukup bergizi; maksud saya, setiap kali makan harus dibagi dengan seorang dokter lain.

    “Setiap kali makan biasanya terdiri dari nasi dan mungkin sedikit sayuran, dan tentu saja itu tidak cukup untuk seorang dokter yang bekerja 24 jam.”

    Analisis terbaru Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang dirilis pada Senin lalu (18/3/2024) memperingatkan bahwa situasi di Gaza sangat buruk.

    Baca: Pilihan anak Palestina, peluru Israel atau kelaparan

    Di mana kelaparan sangat akut akan segera terjadi di bagian utara Gaza, dan mengancam daerah-daerah lain di Jalur Gaza.

    Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola oleh Hamas, mengatakan hingga hari Kamis ini lebih dari 32.000 orang meninggal dunia di Gaza akibat serangan serangan darat dan udara Israel

    Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Sementara lebih dari 75.000 lainnya luka-luka.

    WHO dan mitra-mitranya telah menjalankan misi berisiko tinggi untuk mengirimkan obat-obatan, bahan bakar, dan makanan bagi para petugas kesehatan dan pasien.

    Tetapi permintaan untuk mengirimkan pasokan sering kali diblokir atau ditolak oleh tentara Israel.

    Jalan-jalan yang rusak dan pertempuran yang terus berlanjut, termasuk di dalam dan di dekat rumah sakit, mempersulit upaya pengiriman barang-barang penting itu.

    Baca: Hanya gencatan senjata yang bisa hentikan genosida di Gaza

    Dampak Jangka Panjang

    Situasi saat ini diyakini akan berdampak jangka panjang pada kehidupan dan kesehatan ribuan orang. Saat ini banyak anak sedang sekarat karena efek gabungan dari kekurangan gizi dan penyakit.

    Malnutrisi membuat orang lebih rentan untuk jatuh sakit parah, mengalami pemulihan yang lambat, atau meninggal dunia karena terinfeksi penyakit.

    Efek jangka panjang dari kekurangan gizi, rendahnya konsumsi makanan kaya gizi, infeksi berulang, dan kurangnya layanan kebersihan dan sanitasi akan memperlambat pertumbuhan anak secara keseluruhan.

    Hal ini membahayakan kesehatan dan kesejahteraan seluruh generasi Palestina  mendatang.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Bantuan Kemanusiaan Makin Sulit Masuk, Gaza Terancam Bencana Kelaparan

    Bantuan Kemanusiaan Makin Sulit Masuk, Gaza Terancam Bencana Kelaparan

    7cloud.asia – Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, mengatakan bahwa pengiriman bantuan menjadi “semakin rumit” dan jumlah penyeberangan ke Gaza pun masih jauh dari yang dibutuhkan.

    Semakin maraknya penjarahan truk pengangkut bantuan ke Gaza juga menjadi salah satu faktor mengapa Lazzarini menyebut Gaza saat ini mengalami “kerusakan hukum dan ketertiban yang nyaris menyeluruh.”

    “Kami perlu pengiriman bantuan yang berkelanjutan, bermakna, dan tidak terputus di Jalur Gaza jika kita ingin membalikkan situasi kelaparan di sana,” jelas Lazzarini kepada wartawan di markas PBB Jenewa, Selasa (25/6/2024).

    Pengiriman bantuan melalui jalur udara ke Gaza juga masih dilakukan.

    Baca Juga: AS Desak Israel Lindungi Pekerja Kemanusiaan di Jalur Gaza

    Meski begitu, menurut laporan terbaru dari lembaga Klasifikasi Ketahanan Pangan Terpadu (IPC), hampir semua orang di Gaza berjuang untuk mendapat makanan yang cukup.

    Diperkirakan, lebih dari 495.000 orang, atau 1 dari 5 orang di Gaza, akan mengalami tingkat kelaparan tertinggi dalam beberapa bulan mendatang.

    “Selama saya berkarir, saya belum pernah melihat situasi di mana hampir 100% penduduknya menghadapi risiko kelaparan,” ujar Jeremy Konyndyk, Ketua Refugees Internasional dikutip VOA Indonesia.

    Para staf medis di Rumah Sakit Ahli Arab berduka di dekat jenazah rekan mereka yang dibungkus kafan yang terbunuh selama pemboman Israel di kamp pengungsi Shati, di lokasi rumah sakit di Kota Gaza (14/6/2024).

    Baca Juga: Ketegangan Israel dan Hizbullah Picu Kekhawatiran akan Meluasnya Perang Gaza

    “Saya kira apa yang benar-benar mengejutkan dari data IPC adalah bahwa semua upaya yang telah dilakukan, semua tekanan terhadap pemerintah Israel pada bulan Maret dan April, semua yang telah dicapai, hanyalah kembali meningkatkan risiko bencana kelaparan menjadi sangat tinggi,” pungkas Konyndyk.

    Konyndyk juga menyebut bahwa jika proses pengiriman bantuan kembali terganggu, seperti halnya yang terjadi selama operasi Rafah, maka “semua kemajuan itu, meski sedikit dan belum cukup, akan hilang lagi.”

    Setelah sempat terhenti atas dugaan adanya keterlibatan dengan Hamas, aliran bantuan dana untuk warga Palestina melalui UNRWA kembali dilanjutkan sebagian besar negara pendonor, dan sejumlah donor baru pun bermunculan.

    Lazzarini mengatakan bahwa pihaknya mendapat dukungan yang kuat dari masyarakat. Namun semua ini tidak dapat mengimbangi penangguhan donor utama kami, Amerika Serikat.

    “Dan bahkan jika kami memiliki Amerika Serikat, kami pasti tidak akan berada dalam jalur yang berkelanjutan dalam hal pendanaan yang dapat diprediksi untuk lembaga ini,” ujar Lazzarini.

    Baca Juga: UNRWA Sebut Lebih dari 50 Ribu Anak di Jalur Gaza Kekurangan Gizi Akut

    Pada awal tahun ini, Israel menuduh belasan staf UNRWA ikut ambil bagian dalam serangan 7 Oktober yang berakibat penangguhan donor dari Amerika Serikat dan belasan negara lainnya.

    Semua negara, kecuali Amerika Serikat dan Inggris, kini telah melanjutkan kembali pendanaan mereka setelah dilakukan pemeriksaan independen terhadap UNRWA.

    Negara pendonor baru pun bermunculan seperti Algeria, Irak, Yordania dan Oman, ditambah donor individual dari Singapura.

    Perang antara Israel dan Hamas telah melumpuhkan hampir seluruh kapasitas Gaza untuk menghasilkan produk pangan mereka sendiri.

    Amerika Serikat telah menggalang dukungan internasional untuk proposal pembebasan sandera dan gencatan senjata permanen, namun baik Israel maupun Hamas belum sepenuhnya menerima proposal tersebut.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Gudang Logistik di Distrik Agandugume-Papua Tengah Diresmikan, Diharapkan Mampu Cegah Bencana Kelaparan

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Kementerian Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kamis (16/1/2025), meresmikan gudang logistik di Distrik Agandugume, Kabupaten Puncak, Papua Tengah.

    Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menko PMK Pratikno, yang dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara serah terima oleh Kepala BNPB Suharyanto, kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah.

    Peresmian gudang logistik BNPB Agandugume ini menjadi oase di tengah ancaman kelangkaan bahan pangan atas dampak dari potensi bencana hidrometeorologi yang sering terjadi di Papua Tengah.

    Gudang logistik BNPB Agandugume ini diharapkan memenuhi kebutuhan pangan dan peralatan di Kabupaten Puncak. Sebelumnya gudang logistik BNPB di Distrik Sinak juga telah rampung dan diresmikan pada 7 Agustus 2024.

    Dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (17/1/2025), disebutkan sesuai dengan fungsinya, gudang logistik itu akan memperkuat ‘lumbung pangan’ di wilayah Indonesia timur.

    Segala jenis barang logistik maupun peralatan seperti tenda, genset, permakanan, obat-obatan hingga keperluan bayi dan ibu hamil akan tersedia dan disimpan di gudang itu untuk didistribusikan dalam kondisi tertentu.

    Dampak Cuaca Ekstrem Bertahun-Tahun
    Dua gudang logistik ini dibangun menyusul bencana kekeringan, tanah longsor hingga dampak cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada Mei 2023 silam.

    Bencana ini menyebabkan warga setempat menderita kelaparan hingga menimbulkan korban jiwa.

    Baca: Butuh solusi jangka panjang untuk atasi bencana kelaparan di Papua

    Dalam paparannya, Kepala BNPB mengatakan bahwa secara kronologi, pada pertengahan 2023 lalu sedikitnya 8.012 warga di Kabupaten Puncak terdampak kekeringan yang memicu munculnya fenomena embun upas.

     

    Fenomena itu mengakibatkan gagal panen sehingga masyarakat kekurangan bahan makanan, air bersih, kelaparan dan muncul wabah penyakit diare. Sebanyak enam warga pun kehilangan nyawa akibat peristiwa tersebut.

    Jika ditarik mundur, kejadian bencana akibat cuaca ekstrem yang berdampak signifikan di Papua telah terjadi beberapa kali. Pada tahun 1997 sebanyak 24 orang di Distrik Sinak dan Ilaga meninggal dunia.

    Kemudian pada tahun 1998, sebanyak 60 warga meninggal dunia. Berikutnya 2015 silam ada 11 jiwa yang meninggal. Selanjutnya, di Asmat sebanyak 72 orang meninggal dunia.

    Adapun pada 2019 sebanyak 809 anak mengalami gizi buruk di Intan Jaya. Kemudian pada 2022 sebanyak 2.740 warga Lanny Jaya terdampak bencana cuaca ekstrem dan 4 jiwa meninggal.

    Terakhir pada 2023 sebanyak 8.012 warga Kabupaten Sinak turut terdampak bencana kelaparan termasuk 6 warga yang kehilangan nyawa.

    Baca: Cegah kelaparan terulang, akan dibangun Lumbung Sosial di Papua Tengah

    Kondisi geografis wilayah Kabupaten Puncak berupa pegunungan berbukit dan tidak dapat ditembus dengan kendaraan darat ditambah cuaca yang berubah-ubah menjadi kendala pemerintah daerah untuk menyalurkan bantuan pada saat itu.

    Di sisi lain, kondisi keamanan di Papua Tengah juga menjadi hal yang perlu diantisipasi.

    Pemerintah pusat kemudian mengambil inisiatif yang cepat, tepat dan terpadu untuk segera memberikan dukungan penuh kepada papa-mama dan anak-anak papua demi melanjutkan hidup dengan baik.

    Pembangunan gudang logistik ini dikerjakan dalam waktu sekitar setahun oleh Satgas Yonif 751/VJS di bawah naungan Kodam XVII Cendrawasih atas perintah dari Mabes TNI.

    Pembangunan gudang logistik itu diawali dengan sosialisasi, pembukaan lahan, pembangunan hingga penyelesaian akhir yang tentunya juga melibatkan dukungan dari masyarakat setempat.

    “Ini dimaksudkan agar ada lumbung pangan di kawasan Agandugume dan sekitarnya untuk mengantisipasi jangan sampai nanti kalau ada paceklik, krisis pangan dan cuaca ekstrem masyarakat kesulitan mengakses pangan,” kata Menko PMK.

    Baca: 23 Orang meninggal di Yahukimo Papua Pegunungan, diduga akibat kelaparan

    Pratikno mengatakan, gudang itu adalah milik seluruh masyarakat Indonesia, khususnya warga Kabupaten Puncak dan Papua Tengah, untuk mendukung ketahanan pangan dan kedaruratan bencana.

    Harapannya, gudang yang pada akhirnya selesai dibangun dan telah diresmikan itu dapat dijaga dan dimanfaatkan demi kelangsungan hidup dalam jangka panjang.

    “Meski namanya Gudang Logistik BNPB, namun sejatinya ini adalah milik masyarakat Indonesia khususnya di Papua Tengah. Mari apa yang sudah kita miliki ini kita jaga dan kita kelola dengan baik,” jelasnya.

    Adapun setelah peresmian dan serah terima dilakukan, maka status Gudang Logistik BNPB ini akan dikelola dan dioperasikan oleh Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Pemerintah Pusat tetap akan siap mendukung apabila dibutuhkan dalam kondisi tertentu.

    “Setelah ini maka gudang akan dikelola oleh Pemda. Pada intinya Pemerintah Pusat akan siap mendukung dalam kondisi tertentu apabila dibutuhkan,” ujar Kepala BNPB.

    Segala hal yang berkaitan dengan keamanan, Pemprov Papua Tengah memberikan kepercayaan kepada Kodam XVII Cendrawasih dan Polda setempat untuk menjaga kestabilan dan keamanan dalam operasional termasuk pendistribusian barang dan peralatan bagi warga Kabupaten Puncak.

  • Ancaman Kelaparan di Gaza Karena Israel Melarang Masuknya Bantuan Makanan

    Ancaman Kelaparan di Gaza Karena Israel Melarang Masuknya Bantuan Makanan

    7cloud.asia – Kantor media otoritas Jalur Gaza mengutuk keputusan Israel yang melarang masuknya bantuan kemanusiaan dan bahan bakar sehingga memperparah bencana kelaparan di wilayah kantong Palestina itu.

    Dalam pernyataannya pada Selasa (1/4/2025), kantor media itu menuduh Israel melakukan “kejahatan baru” terhadap 2,4 juta penduduk Gaza dengan melarang kiriman tepung, bantuan, dan bahan bakar selama sebulan.

    “Hal ini telah menyebabkan semua toko roti tutup total, memperparah kelaparan yang mengancam jiwa warga sipil,” tulis pernyataan itu.

    Media tersebut juga meminta Israel yang didukung Amerika Serikat “bertanggung jawab penuh atas kejahatan yang keji” tersebut.

    Baca: Warga Gaza rayakan Idul Fitri dalam keprihatinan

    Kantor media itu meminta PBB, komunitas internasional, dan kelompok hak asasi manusia untuk segera turun tangan, dan menekankan bahwa Gaza telah memasuki kondisi kelaparan

    Kondisi ini disebut telah menandai salah satu bencana kemanusiaan terburuk dalam sejarah dunia modern.

    Sebelumnya, Abdel Nasser Al-Ajrami, ketua Asosiasi Pemilik Toko Roti di Jalur Gaza, mengatakan bahwa toko-toko roti, yang mendapat bantuan dari Program Pangan Dunia, berhenti beroperasi karena kekurangan bahan baku dan solar karena Israel menutup perbatasan.

    Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, menyebut kondisi tersebut sebagai eskalasi berbahaya dari aksi genosida Israel.

    Baca: PBB diminta menekan Israel agar izinkan bantuan masuk ke Gaza

    Pada 2 Maret, Israel menutup pintu perlintasan di Gaza untuk mencegah masuknya bantuan kemanusiaan, pertolongan, dan medis.

    Pada Minggu (31/4/2025), pemimpin Israel Benjamin Netanyahu berjanji untuk meningkatkan intensitas genosida di Gaza dan merealisasikan rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengusir warga Palestina.

    Sejak 18 Maret, pasukan Israel melakukan serangan udara di Gaza yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan melukai lebih dari 2.000 orang.

    Serangan itu telah menghancurkan kesepakatan pada Januari tentang gencatan senjata dan perjanjian pertukaran tawanan antara Israel dan Hamas.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

     

  • Hamas Sebut Israel Sengaja Menciptakan Kelaparan di Gaza

    Hamas Sebut Israel Sengaja Menciptakan Kelaparan di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok Hamas menuduh Israel merekayasa kelaparan di Jalur Gaza dan memperingatkan agar tidak membangun kamp-kamp penahanan di wilayah selatan dengan dalih distribusi bantuan kemanusiaan.

    Dalam sebuah pernyataan, yang dirilis Kamis (22/5/2025) juru bicara Hamas mengatakan Israel secara sistematis membuat lebih dari 2 juta warga Palestina di Gaza kelaparan dengan membatasi bantuan kemanusiaan dan mengaitkannya dengan syarat politik dan keamanan.

    “Kebijakan ini merupakan bagian dari apa yang sekarang dikenal sebagai ‘rekayasa kelaparan’, yakni berupaya memaksakan fakta di lapangan melalui rencana ‘bantuan ghetto’, yang secara keliru digambarkan sebagai solusi kemanusiaan,” bunyi pernyataan Hamas tersebut.

    Hamas menambahkan bantuan yang diizinkan masuk ke Gaza setelah 81 hari blokade Israel “bahkan tidak ada setetes air di lautan jika dibandingkan dengan apa yang dibutuhkan.”

    Kelompok tersebut memperkirakan bahwa daerah kantong tersebut membutuhkan setidaknya 500 truk bantuan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi jumlah yang diizinkan masuk kurang dari sepersepuluhnya.

    Baca: Hanya 9 truk bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk ke Gaza

    Krisis tersebut memburuk karena meningkatnya jumlah warga di lokasi pengungsian, runtuhnya sistem kesehatan, serta kondisi kelaparan yang meluas, terutama di kalangan anak-anak.

    Kantor Media Pemerintah Gaza mengonfirmasi 87 truk bantuan masuk pada Rabu (21/5/2025), pertama kalinya dalam hampir tiga bulan, namun menekankan bahwa dibutuhkan 500 truk bantuan dan 50 truk bahan bakar setiap hari untuk mempertahankan kehidupan di tengah kondisi kelaparan parah.

    Hamas memperingatkan militer Israel menggunakan bantuan sebagai kedok untuk menjalankan rencana yang menyerupai kamp penahanan di Gaza selatan.

    Hamas menggambarkan kondisi ini sebagai “skema kolonial yang pasti akan gagal menghadapi keteguhan rakyat kami.”

    Hamas menyerukan kepada komunitas internasional dan organisasi kemanusiaan untuk “segera menghentikan pengepungan, menolak kelaparan dan penghinaan yang direkayasa, serta memastikan koridor kemanusiaan yang bebas dan permanen.”

    Baca: Krisis kemanusiaan di Gaza semakin parah

    Israel dan Amerika Serikat mempromosikan mekanisme distribusi bantuan baru yang menurut para kritikus bertujuan untuk mengurangi jumlah pendudukan Gaza utara dengan mengarahkan warga Palestina ke wilayah selatan, terutama Rafah.

    Radio Tentara Israel pada Selasa (20/5/2025) melaporkan rencana tersebut menetapkan bahwa semua warga Jalur Gaza bagian utara yang menuju pusat distribusi bantuan di selatan poros Salah al-Din tidak akan diizinkan kembali ke utara Gaza.

    Ditambahkan bahwa dengan cara ini, Israel berniat mempercepat evakuasi warga Gaza dari jalur Gaza utara dan bahwa daerah tersebut dapat sepenuhnya dikosongkan dari penduduknya.

    Sebelumnya pada Kamis, lembaga penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan bahwa distribusi makanan oleh perusahaan asal Amerika Serikat akan dimulai pada Minggu melalui empat pusat—satu di koridor Netzarim, Gaza tengah, dan tiga lainnya di dekat Rafah.

    Sejak 2 Maret, Israel telah menutup total semua penyeberangan ke Gaza, yang menurut lembaga bantuan telah menjebak wilayah kantong tersebut dalam kelaparan dan menyebabkan banyak korban jiwa.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • UNRWA: Warga Gaza Kelaparan Karena Kondisi yang Disengaja Israel

    UNRWA: Warga Gaza Kelaparan Karena Kondisi yang Disengaja Israel

    7cloud.asia – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan bahwa kelaparan massal di Jalur Gaza “dibuat dan disengaja.”

    Dalam pernyataan yang dirilis Jumat (25/7/2025) UNRWA mengatakan bahwa mekanisme distribusi bantuan yang didukung Israel dan AS, yang dikenal sebagai “Yayasan Kemanusiaan Gaza,” atau GHF, dibentuk untuk memuluskan “tujuan militer dan politik.”

    “Kelaparan massal yang disengaja dan terencana. Hari ini, lebih banyak anak meninggal, tubuh mereka kurus kering karena kelaparan,” demikian pernyataan tersebut.

    Mereka menekankan bahwa “sistem distribusi (GHF) yang cacat tersebut tidak dirancang untuk mengatasi krisis kemanusiaan.”

    UNRWA menekankan bahwa sistem itu “melayani tujuan militer dan politik. Sistem ini kejam karena lebih banyak merenggut nyawa daripada menyelamatkan nyawa.”

    Badan tersebut menjelaskan bahwa di bawah sistem tersebut, Israel mengendalikan “semua aspek akses kemanusiaan, baik di luar maupun di dalam Gaza.”

    Sejak 27 Mei, Tel Aviv mulai melaksanakan rencana penyaluran bantuan melalui “Yayasan Kemanusiaan Gaza,” sebuah mekanisme yang didukung oleh Israel dan AS tetapi ditolak oleh PBB dan organisasi-organisasi kemanusiaan besar.

    UNRWA mencatat bahwa selama gencatan senjata sebelumnya pada 2025, yang dimulai pada Januari dan kemudian tidak diimplementasikan oleh Israel pada Maret, mereka “membalikkan kelaparan yang semakin dalam.”

    Badan tersebut menambahkan bahwa “Saat ini, UNRWA sendiri memiliki 6.000 truk bantuan makanan dan medis yang tertahan di Mesir dan Yordania.”

    UNRWA telah berulang kali menyerukan pengaktifan kembali mekanisme distribusi bantuan yang diawasi PBB untuk membantu meringankan krisis kelaparan di Gaza.

    Sejak 2 Maret, Israel sudah tidak melaksanakan gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tahanan dengan Hamas serta menutup perlintasan Gaza, sehingga ratusan truk bantuan terdampar di perbatasan.

    Israel menolak seruan internasional untuk melaksanakan gencatan senjata dan terus melancarkan serangan brutal di Gaza sejak akhir 2023, sehingga menewaskan lebih dari 59.600 warga Palestina.

    Kematian akibat kelaparan melonjak dalam beberapa hari terakhir akibat blokade yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dan buruknya distribusi bantuan yang dilakukan oleh lembaga bantuan GHF yang kontroversial.

    Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk PM Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perangnya di daerah kantong tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Korban Meninggal Akibat Kelaparan di Gaza Terus Bertambah, Total Mencapai 227 Orang

    Korban Meninggal Akibat Kelaparan di Gaza Terus Bertambah, Total Mencapai 227 Orang

    7cloud.asia – Otoritas kesehatan di Gaza melaporkan lima orang tewas dalam 24 jam terakhir akibat malanutrisi dan kelaparan, menjadikan jumlah total kematian akibat malanutrisi mencapai 227 orang

    Juru Bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Stephane Dujarric pada Selasa (12/8/2025) mengatakan dalam taklimat pers harian bahwa kematian akibat malanutrisi mencakup 103 anak sejak Oktober 2023.

    Sementara, Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan kelaparan dan malanutrisi di Gaza telah mencapai tingkat tertinggi sejak konflik dimulai pada bulan yang sama.

    Baca: Rencana Israel kuasai Gaza ditentang banyak negara

    Dalam konteks tersebut, Stephane mengatakan bahwa pasokan bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza masih jauh di bawah batas minimum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

    Dia menambahkan, “pergerakan bantuan kemanusiaan masih menghadapi penundaan yang signifikan dan hambatan lain yang menghalangi PBB untuk menyalurkan bantuan dalam skala yang dibutuhkan”.

    Pada Senin (11/8/2025), PBB mengajukan permintaan untuk berkoordinasi dengan otoritas Israel terkait 16 misi, termasuk pengumpulan makanan, pasokan medis, dan bahan bakar.

    Baca: Warga Gaza kelaparan karena kondisi yang disengaja Israel

    Namun, kata Dujarric, hanya empat misi yang difasilitasi, dan tiga misi lainnya ditolak. Empat misi sempat terhambat, tetapi akhirnya berhasil diselesaikan sepenuhnya.

    Ia mengungkapkan dari lima misi yang tersisa, dua di antaranya dibatalkan oleh organisasi masing-masing, dua lainnya mengalami hambatan dan tidak dapat diselesaikan. Sementara, satu misi lainnya juga terhambat tetapi masih diupayakan.

    “Upaya-upaya untuk mengoordinasikan pergerakan bantuan kemanusiaan kerap memakan waktu selama berjam-jam akibat perizinan yang tidak terprediksi dari otoritas Israel, sehingga menyia-nyiakan waktu yang berharga,” tuturnya.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua