“Pemerintah berharap pada tahun 2024 mendatang angka kemiskinan ekstrem dapat menjadi nol persen,” kata Muhadjir Effendy dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (26/5/2023).
Dia menjelaskan berdasarkan informasi dari BPS per September 2022 angka kemiskinan ekstrem sudah turun menjadi 1,76 persen.
Baca: Mencari solusi kemiskinan ekstrem di Indonesia
Sementara menurut data Bank Dunia angka kemiskinan ekstrem di Indonesia tercatat 1,5 persen. Namun standard yang digunakan disoal karena dinilai terlalu rendah yakni 1,9 USD per kapita per hari.
“Beberapa hari lalu telah dilaksanakan Rapat Pleno Perkembangan Penanganan Kemiskinan Ekstrem, dan bapak Wakil Presiden Ma’ruf Amin telah memberikan arahan dan persetujuan agar masyarakat dengan miskin ekstrem dapat memperoleh bantuan multi-program,” katanya.
Beberapa program telah disiapkan pemerintah untuk mewujudkan target kemiskinan ekstrem tersebut.
Nantinya, kata dia, masyarakat akan dapat memperoleh bantuan dari Kemensos berupa program keluarga harapan (PKH) atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), bantuan dari dana desa, bansos dari pemerintah daerah, atau bahkan dari CSR sekaligus.
“Wapres juga mendorong perbaikan data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem atau P3KE untuk terus disempurnakan,” katanya.
Baca: Masih banyak kelompok menengah yang rentan kembali miskin
Muhadjir menambahkan, perbaikan data diperlukan agar dapat ditindaklanjuti dengan intervensi yang tepat sasaran untuk menurunkan kemiskinan ekstrem.
Muhadjir juga mengatakan bahwa pada saat ini pemerintah akan terus berupaya melakukan berbagai inovasi program dalam rangka mempercepat penanganan kemiskinan ekstrem.
“Salah satunya dengan memotong tahapan untuk mempercepat proses penanganan kemiskinan ekstrem,” katanya.
Sementara itu, dia juga kembali mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan konvergensi program penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem secara simultan.
“Konvergensi program dengan melibatkan semua pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam penghapusan kemiskinan ekstrem dan penurunan angka stunting,” katanya.
Baca: PKBM, harapan bagi merek ayang telanjur putus sekolah
Muhadjir menjelaskan bahwa permasalahan stunting dan kemiskinan ekstrem saling beririsan sehingga upaya penanganan yang dilakukan dapat berjalan simultan dan berkesinambungan.
Konvergensi program, kata dia, merupakan pendekatan penyampaian intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terintegrasi, dan bersama-sama untuk mencegah stunting dan sekaligus menghapus kemiskinan ekstrem kepada sasaran prioritas.


