Sri Mulyani Bilang Kemiskinan Ekstrem dan Pengangguran Turun Drastis, Benar Sih Tapi Ada Banyak Catatan

Written by

in

7cloud.asia – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat melaporkan pencapaian pemerintahan terkait infrastruktur hingga kesejahteraan masyarakat dalam 10 tahun terakhir, mengatakan ada kemajuan signifikan dalam kualitas SDM dan kesejahteraan masyarakat.

Kemajuan ini salah satunya ditunjukkan dengan menurunnya angka kemiskinan ekstrem dan tingkat pengangguran secara nasional.

Kemiskinan ekstrem, menurut Sri Mulyani, turun tajam dari 6,18persen di tahun 2014 menjadi 1,12persen di tahun 2023.

”Tingkat pengangguran nasional juga terus menurun. Per Februari 2024, tingkat pengangguran tercatat di level 4,82persen, turun signifikan dari 5,7 persen(Februari 2014), dan sudah di bawah level pra-pandemi.” ujar Sri Mulyani dalam Rapat Paripurna DPR Ke-17 Masa Sidang V Tahun Sidang 2023-2024 di DPR.

The Conversation Indonesia berkolaborasi dengan Alexander Michael Tjahjadi, peneliti dan Affiliate Sustainable Growth Lab, Think Policy, untuk menganalisis kebenaran klaim Sri Mulyani tersebut.

Baca: Jumlah penduduk miskin pada Maret 2024 tercatat 25,22 juta orang

Menurut Michael, pernyataan Sri Mulyani tidak salah. Tapi dia memberikan sejumlah catatan.

Di Indonesia, ukuran kemiskinan ekstrem masih mengacu pada purchasing power parity atau paritas daya beli sebesar 0,9 dolar per hari (setara dengan Rp10.739/orang per hari atau Rp322.170/orang/bulan).

Indonesia memang telah mengurangi kemiskinan ekstrem, dari 19persen pada tahun 2002 menjadi 1,5persen pada 2022.

Penurunan angka kemiskinan ekstrem ini karena adanya pertumbuhan sektor pekerjaan dan peningkatan gaji riil.

Meski demikian, pada 2019, 40persen orang Indonesia masih merasa insecure secara ekonomi, karena shock akibat pandemi Covid-19.

Baca: Penurunan angkam kemiskinan tak sesuai target

Pada masa pandemi, persentase pengangguran melonjak menjadi 9,7 juta orang. Ini terjadi karena tingginya tingkat kompetisi, kurangnya perusahaan yang mau merekrut orang baru, dan kesempatan kerja yang kurang.

Sebenarnya kinerja pemerintah sudah baik dalam menurunkan tingkat kemiskinan, kemiskinan ekstrem dan pengangguran.

Namun kemiskinan yang menurun juga disebabkan oleh banyaknya subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk menekan kenaikan harga di konsumen ataupun lewat pemberian bantuan sosial.

Masih perlu dilihat lebih dalam prestasi pemerintah dalam menahan laju unemployment (pengangguran) yang lebih menunjukkan upaya pengentasan kemiskinan yang lebih permanen dan produktif.

Artikel ini merupakan hasil kolaborasi program Panel Ahli Cek Fakta The Conversation Indonesia bersama Kompas.com dan Tempo.co, didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *