Tag: kerusakan lingkungan

  • DPR: Harus Ada Kebijakan yang Memihak Nelayan yang Terdampak Kerusakan Lingkungan

    DPR: Harus Ada Kebijakan yang Memihak Nelayan yang Terdampak Kerusakan Lingkungan

    7cloud.asia – Pemerintah diminta memberikan perhatian khusus terhadap kampung nelayan yang terkena dampak kerusakan lingkungan.

    Kerusakan lingkungan ini harus jadi perhatian pemerintah karena dapat merugikan warga yang tinggal di kampung nelayan.

    Pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan akibat aktivitas perekonomian di pesisir dan laut, termasuk di dalamnya pengelolaan hasil sedimentasi laut.

    “Ini harus menjadi perhatian Pemerintah. Mengingat kerusakan lingkungan ini sangat berdampak kepada kegiatan perikanan tangkap oleh nelayan, yang pada akhirnya akan berpengaruh kepada kesejahteraan nelayan,” ungkap Ketua Komisi IV DPR RI Sudin saat memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR ke Semarang, Jawa Tengah, Selasa (20/6/2023).

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing perubahan iklim

    Sudin menambahkan bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi oleh Pemerintah, seperti kebersihan pengelolaan tempat pelelangan ikan. Sebab, hal itu dapat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat.

    Permasalahan kebersihan, seperti banyaknya sampah dan limbah sisa atau buangan dari aktivitas-aktivitas di tempat pelelangan ikan, menurutnya, secara tidak langsung dapat menimbulkan pencemaran.

    Hasil dari kunjungan kerja ini nantinya dapat menjadi dasar bagi Komisi IV DPR RI dalam menyusun kebijakan dan memperjuangkan langkah-langkah penanggulangan pencemaran serta kerusakan lingkungan, khususnya yang ada di Tambak Lorok Semarang dan wilayah-wilayah sekitarnya. 

    “Saya pikir apa yang sudah dikerjakan di program kemudian sudah dikeluarkan kebijaksanaan terkait dengan kampung nelayan di Tambak Lorok ini sudah on the track,  sudah benar, tentunya harus dikerjakan secara bertahap,” tutupnya.

    Baca: Perubahan iklim memicu banyak ‘bedol desa’ di Pantura

    Dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi IV DPR Djarot Saiful Hidayat menyoroti persoalan sampah dan sedimentasi laut di kampung Nelayan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah.

    Menurutnya, dengan adanya masalah sampah tersebut mengakibatkan adanya pencemaran dan kerusakan lingkungan.

    Djarot meminta Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk segera menindaklanjuti persoalan ini. Menurutnya, jika dikelola dengan baik, kampung nelayan ini dapat menjadi objek wisata.

    Sehingga, dengan adanya penanganan atas pencemaran lingkungan ini, akan berdampak pada peningkatan pendapatan nelayan, juga meningkatkan kualitas hidup karena membaiknya kualitas kesehatan dan pendidikan.

    Baca: Ekspor pasir laut ancam kelangsungan ekosistem laut dan kehidupan nelayan

    Djarot menegaskan perlu adanya program yang dapat memudahkan masyarakat Tambak Lorok ini. Warga, ujar Djarot, butuh ruang-ruang tertentu sehingga saat membangun harus diutamakan sarana dan prasarana.

    Djarot yakin, para nelayan ini bukan ingin dibuat sengsara tetapi justru ingin dibuat lebih sejahtera. Untuk itu harus ada kebijakan yang berpihak kepada para nelayan itu. 

    “Tadi sudah ada janji dari Kementerian Kelautan Perikanan, dari Direktur Jenderal perikanan tangkap, bahwa akan dialokasikan program yang namanya Kampung Nelayan Maju, di kampung nelayan Tambak lorok kota Semarang ini pada tahun 2024,” jelas Djarot. 

    Selain itu, di kampung nelayan tersebut, juga terdapat sedimentasi laut yang semakin lama semakin dangkal. Djarot menjelaskan penyebab utama sedimentasi laut di wilayah tertentu ini karena aktivitas pengerukan sungai atau pelabuhan, deforestasi, atau perubahan aliran sungai.

    Baca: DPR tolak kebijakan ekspor pasir laut

    Karena itu, Djarot berharap Kementerian LHK dapat mengevaluasi dampaknya terhadap lingkungan, ekosistem laut, kelangsungan hidup spesies, dan perekonomian lokal.

    Kapal-kapal yang akan bersandar mempunyai kedalamanya tersendiri, selain itu sudah ada Perpres yang terkait dengan perencanaan pengelolaan atas sedimentasi laut ini.

    “Saya kira itu kita perlu dukung kebijakan, namun harus ada kehati-hatian harus ada pengawasan yang ketat, dan diharapkan akan memberikan pemahaman yang lebih baik untuk memberikan dasar bagi penyusunan kebijakan yang lebih efektif dalam mengatasi sedimentasi laut di wilayah tersebut,” tutupnya 

    Sumber: Parlementaria

  • Nicholas Saputra Ajak Masyarakat Kota Mengubah Perilaku untuk Menahan Laju Kerusakan Lingkungan

    Nicholas Saputra Ajak Masyarakat Kota Mengubah Perilaku untuk Menahan Laju Kerusakan Lingkungan

    7cloud.asia – Aktor Nicholas Saputra yang dikenal sangat peduli lingkungan mengingatkan, perilaku dan cara masyarakat kota mengonsumsi sangat besar pengaruhnya pada kelestarian lingkungan.

    Nico mengakui, secara finansial ada kebutuhan masyarakat kota untuk terus tumbuh dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

    Sayangnya, untuk memenuhi tuntutan masyarakat kota itu, kadang harus dilakukan hal yang merusak lingkungan.

    “Kerusakan terasa di daerah pedesaan karena kita mengambil banyak sekali kebutuhan kita (masyarakat kota, red) dari sana, kan? — merambah hutan, pertambangan,” terang Nico dalam wawancara dengan Marisa Anita dari greatmind.id beberapa waktu lalu.

    Baca: Kiat internetan yang ramah lingkungan

    Menurut pemeran Rangga dalam film AADC ini, salah satu faktor yang menyebabkan kencangnya laju kerusakan lingkungan adalah terputusnya masyarakat kota dengan alam.

    Selama ini masyarakat kota tinggal di lingkungan yang sudah ‘dikondisikan’, sehingga mereka tidak merasakan dampak langsung kerusakan lingkungan.

    Nico mencontohkan, masyarakat kota bisa memanfaatkan segala macam teknologi untuk  menghindari ketidaknyamanan karena kerusakan lingkungan.

    Namun, hal yang sama tidak bisa dilakukan masyarakat yang tinggal di desa. Dan, dampak kerusakan lingkungan sangat mempengaruhi kualitas hidup masyarakat pedesaan. Untuk mengatasai kondisi ini, maka perilaku masyarakat kota harus berubah. 

    Baca: Gaya hidup ramah lingkungan itu nggak cuma suka tanaman

    “Keputusan kita yang berhubungan dengan makanan, pakaian, minuman, anything harus lebih bijak karena sangat berdampak pada apa yang terjadi pada orang-orang yang akan dilihat di film Semesta ini — [yang tinggal] di pesisir, di hutan hujan tropis, di hutan adat, di semi urban. Perilaku kita memang harus berubah. We have to change,” tegasnya.

    Ia mengingatkan jika terjadi kerusakan lingkungan maka masyarakat pedesaan yang lebih merasakan dampaknya. 

    Pun demikian ketika masyarakat desa salah memperlakukan alam sekitarnya, mereka akan langsung merasakan dampaknya.

    “Misal ada satu bukit yang mereka tebang, daerah itu langsung panas, airnya berkurang, banjir — cepat sekali terjadinya dan mereka bisa merasakan langsung. Kita di kota, panas dikit nggak masalah karena ada AC,” imbuhnya.

    Baca: KLHK ajak masyarakat ‘boikot’ produk yang nggak peduli sampah yang dihasilkannya

     

    Untuk perubahan itu, banyak yang bisa dilakukan oleh msayarakat kota. Secara pribadi menerapkannya dalam pemilihan fesyen, pola makan, penggunaan moda transportasi  hingga  penggunaan panel surya di atap rumahnya. 

    Dalam berpakaian misalnya, Nico tidak boros dalam membeli baju. Dia juga me-recycle baju yang telah dibelinya. 

    “Saya memperhatikan bagaimana saya membeli sandang. Macem-macem, tas, sepatu. Saya beli satu produk. Misalnya sudah rusak, saya beli lagi yang itu. Supaya saya terbiasa juga bahwa tidak ada kok keharusan kita harus beli baju ganti-ganti tiap hari. Supaya menekan ego kita juga. Jadi saya akhirnya pakai warna sama, putih semua saja,” terangnya.

    Nico juga mengajak masyarakat urban lebih kritis dalam mengosumsi dan memilih produk yang lebih ramah lingkungan.

    Baca: Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim

    Nico mengajak masyarakat kota untuk menyadari bahwa semua keputusan atau perilaku yang mereka lakukan berdampak pada lingkungan.

    Nico mengajak masyarakat kota untuk mulai melakukan tindakan apapun yang bisa berdampak baik bagi lingkungan dan mencegah kerusakan lingkungan.

    Terkait pola konsumsi makanan, Nico mencontohkan banyak orang yang saat ini mulai menerapkan veganisme yang diyakini bisa membantu mengurangi emisi karbon atau CO2.

    Perilaku manusia terhadap makanan, ujarnya, juga sangat membantu karena berkaitan dengan penggunaan lahan. 

    “No matter how small can make a big impact (sekecil apa pun bisa membawa dampak — red),” tegasnya.