Nicholas Saputra Ajak Masyarakat Kota Mengubah Perilaku untuk Menahan Laju Kerusakan Lingkungan

Written by

in

7cloud.asia – Aktor Nicholas Saputra yang dikenal sangat peduli lingkungan mengingatkan, perilaku dan cara masyarakat kota mengonsumsi sangat besar pengaruhnya pada kelestarian lingkungan.

Nico mengakui, secara finansial ada kebutuhan masyarakat kota untuk terus tumbuh dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Sayangnya, untuk memenuhi tuntutan masyarakat kota itu, kadang harus dilakukan hal yang merusak lingkungan.

“Kerusakan terasa di daerah pedesaan karena kita mengambil banyak sekali kebutuhan kita (masyarakat kota, red) dari sana, kan? — merambah hutan, pertambangan,” terang Nico dalam wawancara dengan Marisa Anita dari greatmind.id beberapa waktu lalu.

Baca: Kiat internetan yang ramah lingkungan

Menurut pemeran Rangga dalam film AADC ini, salah satu faktor yang menyebabkan kencangnya laju kerusakan lingkungan adalah terputusnya masyarakat kota dengan alam.

Selama ini masyarakat kota tinggal di lingkungan yang sudah ‘dikondisikan’, sehingga mereka tidak merasakan dampak langsung kerusakan lingkungan.

Nico mencontohkan, masyarakat kota bisa memanfaatkan segala macam teknologi untuk  menghindari ketidaknyamanan karena kerusakan lingkungan.

Namun, hal yang sama tidak bisa dilakukan masyarakat yang tinggal di desa. Dan, dampak kerusakan lingkungan sangat mempengaruhi kualitas hidup masyarakat pedesaan. Untuk mengatasai kondisi ini, maka perilaku masyarakat kota harus berubah. 

Baca: Gaya hidup ramah lingkungan itu nggak cuma suka tanaman

“Keputusan kita yang berhubungan dengan makanan, pakaian, minuman, anything harus lebih bijak karena sangat berdampak pada apa yang terjadi pada orang-orang yang akan dilihat di film Semesta ini — [yang tinggal] di pesisir, di hutan hujan tropis, di hutan adat, di semi urban. Perilaku kita memang harus berubah. We have to change,” tegasnya.

Ia mengingatkan jika terjadi kerusakan lingkungan maka masyarakat pedesaan yang lebih merasakan dampaknya. 

Pun demikian ketika masyarakat desa salah memperlakukan alam sekitarnya, mereka akan langsung merasakan dampaknya.

“Misal ada satu bukit yang mereka tebang, daerah itu langsung panas, airnya berkurang, banjir — cepat sekali terjadinya dan mereka bisa merasakan langsung. Kita di kota, panas dikit nggak masalah karena ada AC,” imbuhnya.

Baca: KLHK ajak masyarakat ‘boikot’ produk yang nggak peduli sampah yang dihasilkannya

 

Untuk perubahan itu, banyak yang bisa dilakukan oleh msayarakat kota. Secara pribadi menerapkannya dalam pemilihan fesyen, pola makan, penggunaan moda transportasi  hingga  penggunaan panel surya di atap rumahnya. 

Dalam berpakaian misalnya, Nico tidak boros dalam membeli baju. Dia juga me-recycle baju yang telah dibelinya. 

“Saya memperhatikan bagaimana saya membeli sandang. Macem-macem, tas, sepatu. Saya beli satu produk. Misalnya sudah rusak, saya beli lagi yang itu. Supaya saya terbiasa juga bahwa tidak ada kok keharusan kita harus beli baju ganti-ganti tiap hari. Supaya menekan ego kita juga. Jadi saya akhirnya pakai warna sama, putih semua saja,” terangnya.

Nico juga mengajak masyarakat urban lebih kritis dalam mengosumsi dan memilih produk yang lebih ramah lingkungan.

Baca: Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim

Nico mengajak masyarakat kota untuk menyadari bahwa semua keputusan atau perilaku yang mereka lakukan berdampak pada lingkungan.

Nico mengajak masyarakat kota untuk mulai melakukan tindakan apapun yang bisa berdampak baik bagi lingkungan dan mencegah kerusakan lingkungan.

Terkait pola konsumsi makanan, Nico mencontohkan banyak orang yang saat ini mulai menerapkan veganisme yang diyakini bisa membantu mengurangi emisi karbon atau CO2.

Perilaku manusia terhadap makanan, ujarnya, juga sangat membantu karena berkaitan dengan penggunaan lahan. 

“No matter how small can make a big impact (sekecil apa pun bisa membawa dampak — red),” tegasnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *