Tag: Ketahanan Iklim

  • Greenpeace: Isu Ketahanan Iklim Kota Harus Jadi Bahasan dalam Pilkada Jakarta

    Greenpeace: Isu Ketahanan Iklim Kota Harus Jadi Bahasan dalam Pilkada Jakarta

    7cloud.asia – Greenpeace Indonesia, pada Selasa (1/10/2024) berkunjung ke kantor KPUD Jakarta untuk memberikan masukan agar isu krisis dan ketahanan iklim menjadi agenda dalam kampanye Pilkada Jakarta.

    “Kunjungan kami kali ini untuk mendiskusikan bagaimana Jakarta akan dibangun di masa mendatang, khususnya bagaimana membangun ketahanan iklim dan pemulihan lingkungan,” ujar Leonard Simanjuntak, Kepala Greenpeace Indonesia seperti dilansir di akun greenpeace.org.

    Leonard mengatakan, cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi dan berdampak semakin buruk, tidak terkecuali untuk Jakarta. Menurut data BAPPENAS, kerugian akibat krisis iklim diperkirakan mencapai 544 T sepanjang 2020-2024.

    “Cagub dan cawagub yang nantinya akan memimpin DKJ perlu memperhatikan persoalan ini. Greenpeace Indonesia menilai bahwa isu krisis iklim perlu menjadi topik debat yang secara resmi akan diselenggarakan oleh KPUD Jakarta” tambahnya.

    Beberapa contoh dampak krisis iklim yang dirasakan warga Jakarta antara lain polusi udara dan penurunan muka air tanah. Kualitas udara di Jakarta kerap berada dalam kategori buruk atau tidak sehat berdasarkan Air Quality Index.

    Baca: Mampukah Dewan Aglomerasi atasi polusi dan banjir di Jakarta

    Penurunan muka air tanah sebesar rata-rata 5 cm/tahun, diperparah dengan kenaikan muka air laut sebanyak 0,8 cm – 1,2 cm/tahun dan berujung pada tenggelamnya pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu.

    Selain itu, 14 persen wilayah Jakarta berada di bawah permukaan air laut. Menurut riset Greenpeace Indonesia, masyarakat miskin adalah kelompok yang paling terdampak krisis iklim di Jakarta.

    Berbicara dampak krisis iklim, ujar Leonard, bukan hanya bicara bagaimana dampaknya terhadap lingkungan, namun, juga dampaknya terhadap sektor ekonomi dan kesehatan.

    Sebagai contoh, nelayan ikan dan kerang yang berkurang jauh pendapatannya, pemukiman yang terus tergerus akibat banjir rob di wilayah utara Jakarta, serta gangguan kesehatan yang disebabkan buruknya kualitas udara.

    Penanganan dampak krisis iklim pernah dituangkan pada sejumlah regulasi dan strategi di tingkat DKI Jakarta.

    Baca: Dampak krisim iklim pada warga perkotaan

    Di tahun 2019, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga pernah menyusun Jakarta Resilience Strategy, sayangnya hal ini tidak pernah diejawantahkan menjadi regulasi.

    Lalu ada Peraturan Gubernur 90 tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Rendah Karbon Daerah. Tetapi implementasi dari Peraturan Gubernur ini masih belum terlihat secara nyata.

    “Pemimpin Jakarta yang akan datang perlu memikirkan strategi penanganan dampak krisis iklim secara komprehensif, terutama di tahun pertama ketika menjabat karena Jakarta tak lagi menjadi ibukota,“ ujar Leonard.

    Kepala Daerah Khusus Jakarta, ujar Leonard, akan mendapatkan sorotan publik terkait tentang bagaimana sebuah kota global dikelola, termasuk dalam penanganan krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang terjadi di dalamnya.

    “Maka menjadi penting, isu ini dibawa menjadi salah satu topik debat di debat kandidat yang akan diselenggarakan oleh KPUD Jakarta” ucap Jeanny Sirait, Juru Kampanye Keadilan Perkotaan.

    Baca: Aksi Global Climate Strike dibubarkan paksa

    “Kita akan memahami dan mengetahui bagaimana komitmen para cagub dan cawagub terhadap isu ketahanan iklim di debat tersebut,” ungkapnya.

    Sementara komisioner KPU Daerah Jakarta Astri Megatari menyatakan tema lingkungan dan tata kota, dengan pembahasan mencakup isu-isu ketersediaan air bersih, kualitas udara, kemacetan, dan kenaikan muka air laut, serta penanganan limbah dan sampah akan dibahas di debat ketiga.

    KPUD Jakarta menyambut baik masukan dari Greenpeace Indonesia dan bersepakat bahwa isu ketahanan iklim merupakan isu yang penting secara elektoral.

    Sehingga isu ketahanan iklim perlu menjadi isu yang dibicarakan di ruang publik, meskipun bukan termasuk isu yang populer.

    KPUD Jakarta juga siap menerima kerjasama dan masukan berupa data konkret yang detail, maupun kerjasama lainnya, sebagai acuan mereka dalam memformulasikan kategori pertanyaan pada debat kandidat nanti.

  • Upaya Jakarta Membangun Ketahanan Iklim: Memperbanyak Ruang Hijau hingga Membenahi Transportasi Publik

    Upaya Jakarta Membangun Ketahanan Iklim: Memperbanyak Ruang Hijau hingga Membenahi Transportasi Publik

    7cloud.asia – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menegaskan komitmen Pemprov DKI dalam membangun kota Jakarta yang berketahanan iklim.

    Hal itu diungkapkan Parmono Anung saat menghadiri Climate Resilience and Innovation Forum (CRIF) atau Forum Ketahanan Iklim dan Inovasi 2025 di sebuah hotel di Jakarta Pusat, pada Rabu (21/5/2025).

    Forum ini mengusung tema “Empowering Cities and Local Governments for a Climate-Resilient Future” atau “Memberdayakan Kota dan Pemerintah Daerah untuk Masa Depan yang Tangguh terhadap Iklim.”

    Pramono mengatakan, sejak 2012 Pemprov DKI Jakarta telah berkomitmen mengurangi emisi karbon sebesar 30 persen.

    Diakuinya, hal ini bukan perkara mudah, tetapi sebagai gubernur, Pramono Anung berjanji akan serius menjalankan upaya tersebut.

    ”Karena itu, semangat menggunakan transportasi umum sedang kami benahi secara serius,” ujarnya.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Ia menyebut, kebijakan wajib menggunakan transportasi umum setiap Rabu bagi seluruh pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI merupakan langkah konkret untuk menekan emisi sekaligus mendorong pemanfaatan angkutan publik secara optimal.

    “Mudah-mudahan ini menjadi tradisi di hari-hari lainnya. Bahkan, besok saya akan membuka trayek baru dari PIK ke Blok M, sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi. Seluruh kebijakan ini kami jalankan secara terencana dan sungguh-sungguh,” tambahnya.

    Upaya Pemprov DKI Jakarta dalam membangun ketahanan iklim antara lain diwujudkan dengan mempromosikan transportasi berkelanjutan melalui perluasan jaringan transportasi publik.

    Pemprov DKI Jakarta juga mendorong penggunaan kendaraan listrik, serta pengembangan area ramah untuk pejalan kaki dan pesepeda.

    Selain itu, lanjutnya, Pemprov DKI Jakarta juga terus mengupayakan berbagai langkah adaptasi terhadap perubahan iklim.

    Langkah itu antara lain investasi dalam sistem pengendalian banjir, peningkatan kapasitas drainase, serta pembangunan tembok laut untuk melindungi kawasan pesisir dari kenaikan permukaan air laut.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan tambah 800 ruang terbuka hijau

    Pemprov DKI Jakarta juga akan memperbanyak taman dan ruang terbuka hijau untuk menyerap air, mengurangi suhu perkotaan, dan meningkatkan kualitas udara.

    ”Di sisi lain, kami juga terus membangun kesadaran masyarakat mengenai risiko perubahan iklim dan memperkuat kapasitas mereka dalam beradaptasi melalui kerja sama dengan komunitas lokal,” tandasnya.

    Jakarta sebagai kota tuan rumah Sekretariat United Cities and Local Governments Asia-Pacific (UCLG ASPAC), ujar Pramono Anung, merasa terhormat dan mendukung penuh forum ini.

    Menurutnya, forum ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kapasitas lokal, memberdayakan para pemimpin, dan membangun kemitraan menuju pembangunan kota berkelanjutan.

    Hal ini selaras dengan Perjanjian Paris dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs)

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor mendesak dilakukan di Jakarta

  • BRIN: Perempuan Memegang Peran Penting dalam Membangun Ketahanan Iklim

    BRIN: Perempuan Memegang Peran Penting dalam Membangun Ketahanan Iklim

    7cloud.asia – Para perempuan bukan sekadar sebagai pelengkap dalam struktur pemerintahan atau masyarakat, apalagi jika dikaitkan dengan upaya membangun ketahanan iklim.

    Peneliti Pusat Riset (PR) Hukum, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ade Angelia mengatakan bahwa perempuan adalah aktor utama yang memainkan peran penting dalam membangun ketahanan iklim.

    “Perempuan pesisir terbukti menjadi kelompok yang rentan, sekaligus agen perubahan yang tangguh,” ucap Ade saat menyampaikan paparan dalam forum Diseminasi Hasil Penelitian PR Hukum BRIN yang berlangsung Selasa (3/6/2025).

    Pada kesempatan itu, ia menyampaikan hasil risetnya tentang strategi ketahanan perempuan dalam menanggapi dampak perubahan iklim di wilayah pesisir utara Semarang, Jawa Tengah.

    Baca: Peran agama dan gender membangun ketahanan iklim di Jawa Tengah

    Fokus kajian ini menyoroti tiga aspek utama dalam merespons dampak perubahan iklim di wilayah pesisir utara Kota Semarang yaitu ekonomi, lingkungan hidup, dan pemberdayaan masyarakat.

    Ade menyebutkan, dalam banyak studi, perempuan lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim. Hal itu karena keterbatasan akses terhadap sumber daya dan beban domestik yang lebih besar.

    Di sisi lain, mereka juga menunjukkan kapasitas luar biasa dalam mengelola sumber daya rumah tangga dan komunitas, terlibat dalam pertanian lokal, konservasi lingkungan, hingga advokasi kebijakan.

    Seperti yang ia amati di pesisir utara Semarang yang sedang menghadapi krisis serius lingkungan. Di mana, ada kenaikan permukaan laut, penurunan muka tanah, dan sistem drainase yang buruk.

    Baca: Adaptasi iklim warga Pantura di Jawa Barat

    “Sejak 1985 hingga 1998, terjadi peningkatan suhu rata-rata dan kerusakan lingkungan seperti kualitas air menurun, infrastruktur rusak, hingga peningkatan penyakit kulit dan pernapasan,” jelasnya.

    Tantangan yang dihadapi perempuan pesisir yaitu legalitas usaha, pemasaran digital, permodalan, kerentanan tenaga kerja, kepemilikan lahan dan infrastruktur, dan pemangkasan anggaran.

    Ade menyimpulkan bahwa perubahan iklim sangat nyata di pesisir Semarang. Mulai dari banjir rob hingga perubahan musim. Menurutnya, perempuan adalah kelompok paling terdampak namun juga menjadi motor utama dalam adaptasi dan inovasi lokal.

    “Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis komunitas, perempuan pesisir Semarang dapat menjadi pilar utama dalam menghadapi perubahan iklim. Tentu saja dengan tetap menjunjung prinsip keadilan gender,” simpul Ade.