7cloud.asia – Para perempuan bukan sekadar sebagai pelengkap dalam struktur pemerintahan atau masyarakat, apalagi jika dikaitkan dengan upaya membangun ketahanan iklim.
Peneliti Pusat Riset (PR) Hukum, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ade Angelia mengatakan bahwa perempuan adalah aktor utama yang memainkan peran penting dalam membangun ketahanan iklim.
“Perempuan pesisir terbukti menjadi kelompok yang rentan, sekaligus agen perubahan yang tangguh,” ucap Ade saat menyampaikan paparan dalam forum Diseminasi Hasil Penelitian PR Hukum BRIN yang berlangsung Selasa (3/6/2025).
Pada kesempatan itu, ia menyampaikan hasil risetnya tentang strategi ketahanan perempuan dalam menanggapi dampak perubahan iklim di wilayah pesisir utara Semarang, Jawa Tengah.
Baca: Peran agama dan gender membangun ketahanan iklim di Jawa Tengah
Fokus kajian ini menyoroti tiga aspek utama dalam merespons dampak perubahan iklim di wilayah pesisir utara Kota Semarang yaitu ekonomi, lingkungan hidup, dan pemberdayaan masyarakat.
Ade menyebutkan, dalam banyak studi, perempuan lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim. Hal itu karena keterbatasan akses terhadap sumber daya dan beban domestik yang lebih besar.
Di sisi lain, mereka juga menunjukkan kapasitas luar biasa dalam mengelola sumber daya rumah tangga dan komunitas, terlibat dalam pertanian lokal, konservasi lingkungan, hingga advokasi kebijakan.
Seperti yang ia amati di pesisir utara Semarang yang sedang menghadapi krisis serius lingkungan. Di mana, ada kenaikan permukaan laut, penurunan muka tanah, dan sistem drainase yang buruk.
Baca: Adaptasi iklim warga Pantura di Jawa Barat
“Sejak 1985 hingga 1998, terjadi peningkatan suhu rata-rata dan kerusakan lingkungan seperti kualitas air menurun, infrastruktur rusak, hingga peningkatan penyakit kulit dan pernapasan,” jelasnya.
Tantangan yang dihadapi perempuan pesisir yaitu legalitas usaha, pemasaran digital, permodalan, kerentanan tenaga kerja, kepemilikan lahan dan infrastruktur, dan pemangkasan anggaran.
Ade menyimpulkan bahwa perubahan iklim sangat nyata di pesisir Semarang. Mulai dari banjir rob hingga perubahan musim. Menurutnya, perempuan adalah kelompok paling terdampak namun juga menjadi motor utama dalam adaptasi dan inovasi lokal.
“Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis komunitas, perempuan pesisir Semarang dapat menjadi pilar utama dalam menghadapi perubahan iklim. Tentu saja dengan tetap menjunjung prinsip keadilan gender,” simpul Ade.

Leave a Reply