Tag: komunikasi

  • Tumbuhan Juga Berkomunikasi, Bagaimana Caranya Simak di Sini

    Tumbuhan Juga Berkomunikasi, Bagaimana Caranya Simak di Sini

    7cloud.asia – Kemampuan berkomunikasi secara lisan merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan evolusi manusia. Mulai dari memperingatkan satu sama lain soal bahaya hingga menyampaikan berbagai informasi rumit.

    Tapi ternyata, bukan hanya manusia dan hewan yang mengembangkan komunikasi kompleks, tumbuhan juga.

    Banyak orang menganggap tumbuhan sebagai makhluk pasif, padahal sebenarnya mereka memiliki cara sendiri untuk berinteraksi satu sama lain. Keunikan mereka bahkan banyak menginspirasi film-film Hollywood seperti Avatar.

    Temuan sains terbaru menunjukkan bahwa sistem komunikasi tumbuhan jauh lebih kompleks daripada yang kita bayangkan.

    Jaringan komunikasi, baik pada manusia maupun tumbuhan, sangat rentan dan keseimbangannya mudah terganggu. Kita tentu bisa membayangkan betapa chaos dunia jika sistem jaringan komunikasi global tiba-tiba rusak.

    Gangguan jaringan yang baru-baru ini terjadi pada CrowdStrike—perusahaan keamanan siber international asal Amerika Serikat (AS)—hanyalah salah satu contoh.

    Peristiwa ini menunjukkan kepada kita, rusaknya jaringan komunikasi bisa berdampak signifikan pada aktivitas perusahaan-perusahaan besar dunia. Hal yang sama juga berlaku pada tumbuhan.

    Untuk memahami bagaimana organisme yang tidak bisa berbicara menyampaikan informasi satu sama lain, kita perlu menyadari bahwa manusia juga memiliki sistem komunikasi non-verbal. Ini termasuk indera penglihatan, penciuman, pendengaran, rasa, dan sentuhan.

    Baca: Konservasi tumbuhan di kebun raya

    Misalnya, ketika perusahaan energi menambahkan bahan kimia yang disebut mercaptan ke dalam gas alam.

    Campuran senyawa ini akan menimbulkan bau “telur busuk” yang khas sehingga kita bisa mendeteksi kebocoran. Selain itu, kita juga telah mengembangkan bahasa isyarat, dan banyak orang mahir membaca gerak bibir.

    Di samping indera-indera tersebut, kita juga memiliki kemampuan lain seperti equilibrioception (kemampuan untuk menjaga keseimbangan dan postur tubuh), proprioception (kemampuan untuk merasakan posisi relatif bagian-bagian tubuh).

    Juga thermoception (kemampuan untuk merasakan perubahan suhu), dan nociception (kemampuan untuk merasakan rasa sakit). Semua kemampuan ini memungkinkan manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan alam.

    Spesies lain, termasuk tumbuhan, juga menggunakan indera mereka untuk menyebarkan informasi. Namun tentunya, dengan cara mereka sendiri.

    Tumbuhan saling memantau tetangga
    Sebagian besar dari kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan bau rumput yang baru dipotong.

    Bau itu sebenarnya berasal dari senyawa volatil atau zat kimia yang dilepaskan oleh rumput untuk memberitahu tanaman lain bahwa ada pemangsa yang datang mendekat, misalnya mesin pemotong rumput.

    Peringatan tersebut kemudian mendorong penyesuaian dalam pertahanan tumbuhan. Alih-alih menggunakan isyarat pendengaran atau petunjuk suara, tumbuhan mengandalkan komunikasi yang dipicu oleh zat kimia.

    Baca: Tumbuhan liar ini menyimpan banyak manfaat untuk kesehatan

    Namun, komunikasi tumbuhan tidak berhenti di situ. Baru-baru ini, para ilmuwan menemukan adanya “sistem pengawasan tetangga” pada tumbuhan.

    Sama seperti tetangga yang saling memperhatikan dan memperingatkan satu sama lain tentang ancaman di lingkungan mereka, tumbuhan juga berkomunikasi dan “memantau” satu sama lain melalui akar, sinyal, jaringan jamur bawah tanah dan mikroba tanah.

    Sistem ini memungkinkan mereka untuk berbagi informasi tentang hama atau perubahan lingkungan—mirip dengan sistem pemantauan yang dimiliki oleh komunitas manusia yang saling menjaga lingkungan mereka.

    Saat ini kita mengenal elektrofisiologi—sebuah disiplin ilmu baru yang mempelajari sinyal listrik pada tumbuhan.

    Dengan kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), penelitian di bidang ini berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa para ilmuwan semakin mampu memahami kompleksitas komunikasi listrik dalam tumbuhan.

    Para ilmuwan mulai mengintegrasikan komunikasi sinyal listrik dalam dan antar tumbuhan ke dalam rumah kaca modern.

    Ini memungkinkan mereka untuk memantau dan mengontrol penyiraman tanaman atau mendeteksi kekurangan nutrisi, yang dapat meningkatkan hasil pertanian.

    Dengan menggunakan probe listrik kecil, mirip dengan jarum akupunktur, para ilmuwan menguji bagaimana perubahan sinyal listrik mempengaruhi kinerja tumbuhan, seperti dalam proses mengangkut air, nutrisi, dan konversi cahaya menjadi gula yang penting bagi tumbuhan.

    Baca: Tanaman khas Jakarta ini diabadikan menjadi nama daerah

    Penelitian juga menunjukkan bahwa para peneliti dapat mempengaruhi perilaku tumbuhan dengan mengirimkan sinyal listrik dari ponsel, sehingga tumbuhan dapat merespons dengan membuka atau menutup daun, seperti pada tumbuhan venus flytrap.

    Melihat perkembangan ini, mungkin tidak lama lagi kita bisa menerjemahkan sepenuhnya bahasa tumbuhan.

    Sebagian besar komunikasi antar tumbuhan terjadi di bawah tanah, difasilitasi oleh jaringan jamur besar yang dikenal sebagai “wood wide web” atau jaringan kayu yang luas.

    Jaringan jamur ini menghubungkan pohon dan tumbuhan di bawah tanah, memungkinkan mereka untuk berbagi sumber daya seperti air, nutrisi, dan informasi. Melalui sistem ini, pohon yang lebih tua dapat membantu pohon yang lebih muda untuk tumbuh, dan pohon-pohon dapat saling memperingatkan satu sama lain tentang bahaya seperti hama.

    Sistem ini mirip dengan jaringan internet bawah tanah yang membantu mereka saling mendukung dan berkomunikasi satu sama lain. Jaringan tersebut sangat luas, dengan lebih dari 80% tumbuhan diyakini terhubung, menjadikannya salah satu sistem komunikasi tertua di dunia.

    Sama seperti internet yang memungkinkan manusia untuk terhubung, berbagi ide, pengetahuan, dan informasi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan, “wood wide web” memungkinkan tumbuhan menggunakan jamur simbiosis untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan lingkungan.

    Namun, kerusakan tanah akibat bahan kimia, penggundulan hutan, atau perubahan iklim dapat mengganggu simpul komunikasi tumbuhan akibat siklus air dan nutrisi dalam jaringan yang terdampak, sehingga membuat mereka kurang terhubung. Penelitian mengenai efek dari gangguan jaringan ini memang masih sangat terbatas.

    Namun, kita tahu bahwa perilaku responsif tumbuhan, seperti respons pertahanan dan regulasi gen, dapat diubah oleh jaringan jamur jika mereka terhubung ke jaringan tersebut.

    Oleh karena itu, gangguan komunikasi dapat membuat tumbuhan lebih rentan, menyulitkan perlindungan dan pemulihan ekosistem di seluruh dunia. Dan tentunya, masih banyak yang harus dipelajari para ilmuwan tentang jaringan yang sangat kompleks ini.

    Kita tahu bahwa penting untuk membantu anak-anak belajar membaca agar mereka bisa menjelajahi dunia di sekitar mereka. Ini sama pentingnya dengan memastikan bahwa kita tidak memutus jalur komunikasi tumbuhan.

    Bagaimana pun juga, kita bergantung pada tumbuhan untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup kita.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Sven Batke, Associate Head of Research and Knowledge Exchange – Reader in Plant Science, Edge Hill University

  • Kenali Cara Komunikasi yang Inklusif dengan Pasien Kanker

    7cloud.asia – Orang dengan kanker atau pasien kanker sering kali mendapatkan komentar tidak menyenangkan—yang mungkin tidak disengaja—tetapi menyakitkan. Komentar semacam ini dikenal sebagai mikroagresi verbal.

    Komentar halus ini tidak hanya bersumber dari orang asing, tetapi juga bisa dilontarkan oleh keluarga, teman, dan atasan. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa komentarnya bisa menyinggung perasaan, bahkan menghancurkan hidup pasien kanker.

    Mikroagresi verbal berbahaya karena berisiko merusak self esteem (harga diri), meningkatkan stigma diri, serta mengurangi rasa percaya diri maupun optimisme pasien kanker untuk sembuh.

    Kami melakukan penelitian di Hong Kong dengan mewawancarai 10 perempuan yang didiagnosis kanker. Berdasarkan riset kami dan pengalaman penulis utama sebagai penyintas kanker, setidaknya ada enam jenis mikroagresi verbal, di antaranya:

    1. Mengomentari penampilan
    Efek samping pengobatan kanker bisa menyebabkan rambut rontok, badan lemas, dan penurunan berat badan secara drastis. Sering kali, orang dengan kanker berjuang untuk bisa menerima perubahan penampilannya.

    Beberapa pasien kanker mungkin merasa malu dengan perubahan ini, sehingga berusaha untuk menyembunyikannya.

    Sayangnya, perubahan penampilan ini tak lepas dari komentar-komentar menyakitkan, contohnya:

    “Kamu kok jadi kelihatan tua dan lemah,” atau “Cuaca panas banget, kok masih pakai wig?”

    Komentar-komentar ini justru memperburuk rasa tidak percaya diri pasien kanker, sehingga mereka cenderung menganggap dirinya berbeda dari orang lain.

    Baca: Sel kanker bisa sembunyi lalu hidup lagi setelah puluhan tahun

    2. Tuntutan untuk menjelaskan penyakit
    Orang dengan kanker kerap mempertanyakan nasib mereka, seperti:

    “Mengapa ini harus terjadi pada saya?” atau “Apa yang saya lakukan sampai bisa kena kanker?”

    Namun, ketika pertanyaan serupa dilontarkan orang lain, beban mental yang dirasakan orang dengan kanker semakin berat. Beberapa pasien dalam penelitian kami bahkan menghindari interaksi sosial agar terhindar dari pertanyaan semacam ini.

    Seorang responden berkata, “Lebih baik saya merasa sendiri daripada harus menerima pertanyaan, ‘Bagaimana perasaanmu?’”

    Yang lain mengatakan, “Saya tidak ingin bicara dengan siapa pun, karena saya sendiri tidak bisa menjelaskan apa yang sedang saya alami.”

    Meski begitu, penelitian tahun 2024 dalam jurnal Healthcare mengungkapkan bahwa menghindari interaksi sosial justru bisa berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan kesejahteraan mental orang dengan kanker.

    3. Asumsi soal ketidakmampuan pasien kanker
    Selain mengganggu kehidupan sehari-hari orang dengan kanker, diagnosis dan proses pengobatan berisiko memicu kekhawatiran orang lain mengenai kemampuan pasien kanker dalam bekerja. Contoh komentarnya:

    “Kamu masih bisa bekerja?”

    Meski terdengar simpatik, komentar ini justru dapat mengurangi rasa percaya diri dan optimisme pasien kanker untuk sembuh.

    Baca: Perubahan warna kuku bisa jadi indikasi dan risiko kanker

    4. Asumsi bahwa hidup mereka tidak lama lagi
    Banyak orang mengira bahwa kanker merupakan penyakit yang mengurangi harapan hidup pengidapnya—persepsi ini sering kali diperkuat oleh pemberitaan media.

    Pemahaman ini bisa mendorong orang lain berkomentar, seperti:

    “Luangkan waktu bersama keluarga.”

    Hal ini dapat diartikan sebagai: “Kamu akan segera meninggal.”

    Komentar semacam ini—meski bertujuan baik—justru meningkatkan kekhawatiran pasien kanker. Dampaknya menurut partisipan kami menyebabkan sulit tidur, cemas, dan jantung berdebar.

    5. Takut tertular kanker
    Beberapa pasien kanker melaporkan mikroagresi yang berkaitan dengan ketakutan orang lain untuk terlalu dekat dengan mereka, seolah-olah kanker itu menular.

    Seorang perempuan menceritakan bahwa ia pernah diberi tahu:

    “Kamu harus mandi dan bersih-bersih dengan sangat baik.”

    Komentar ini menyiratkan bahwa kanker dikhawatirkan bisa menular. Komentar semacam ini sangat menyakitkan, terutama dari orang-orang terdekat.

    Faktanya, American Cancer Society menegaskan bahwa kanker bukanlah penyakit menular.

    6. Belas kasihan palsu
    Penderita kanker tidak suka menerima empati yang dangkal, seperti:

    “Saya benar-benar mengerti apa yang kamu rasakan.”

    Beberapa pasien kanker dalam studi kami menganggap bahwa komentar ini tidak tulus. Mereka beranggapan bahwa orang yang belum pernah terkena kanker, tidak bisa benar-benar memahami situasi yang mereka alami.

    Dampak fisik dan psikologis kanker menyebabkan stres dan kecemasan. Orang dengan kanker pun menjadi lebih rentan terhadap mikroagresi verbal karena kerap mempertanyakan diri dan menganalisis komentar orang lain secara berlebihan.

    Untuk mengurangi dampak mikroagresi verbal, pasien kanker perlu membentengi diri, serta mendorong lingkungan sosial yang inklusif dan penuh empati lewat sejumlah cara

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Madhu Neupane Bastola (Postdoctoral Fellow, Hong Kong Polytechnic University) dan Margo Louise Turnbull (Assistant Professor of Health Communication , Hong Kong Polytechnic University)

  • Edukasi Bahasa Isyarat Penting: Komunikasi adalah Hak Semua Orang

    Edukasi Bahasa Isyarat Penting: Komunikasi adalah Hak Semua Orang

    7cloud.asia – Memperingati hari jadinya yang ke-24 Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menggelar kegiatan edukasi bahasa isyarat di Museum Penerangan, Jakarta Timur.

    Edukasi bahasa isyarat yang berlangsung di Museum Penerangan, Jakarta Timur ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat solidaritas sosial.

    ”Kami percaya bahwa setiap orang berhak untuk dipahami dan memahami. Melalui kegiatan belajar bahasa isyarat ini, kami ingin membangun jembatan komunikasi yang lebih inklusif,” kata Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (Dirjen KPM) Fifi Aleyda Yahya di Jakarta, Minggu (28/9/2025) dikutip dari Antaranews.com

    Acara bertema “Mengenal Isyarat, Menebar Manfaat” itu digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Bahasa Isyarat Internasional yang diperingati setiap tanggal 23 September.

    Hari Bahasa Isyarat Internasional ini menjadi momen penting untuk mengingat bahwa komunikasi adalah hak semua orang.

    Baca: Mengenal bahasa isyarat, cara komunitas tuli berkomunikasi

    Bahasa isyarat hadir sebagai cara berkomunikasi yang kaya makna, bukan hanya bagi komunitas Tuli, tapi juga bagi siapa pun yang ingin membuka akses komunikasi lebih luas.

    Bagi disabilitas tuli dan mereka yang memiliki gangguan pendengaran dan bicara, bahasa isyarat menjadi jembatan penting untuk berinteraksi di lingkungan sosial. Menariknya, kini bahasa isyarat semakin dipelajari banyak orang karena manfaatnya yang begitu beragam.

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Museum Penerangan (Muspen) Mashuri Nur, mengatakan edukasi bahasa isyarat ini sejalan dengan visi pembangunan Muspen sebagai ruang publik untuk mengenal komunikasi secara luas.

    Menurutnya, acara seperti ini juga dapat menjadi pemantik untuk lebih banyak masyarakat berkomunikasi dengan beragam cara dan membuatnya semakin inklusif.

    “Hari ini bukan hanya soal belajar bahasa isyarat, tetapi juga langkah awal menjadi orang yang peduli, mau belajar, dan berdiri bersama komunitas tuli dalam membangun komunikasi yang setara dan inklusif,” katanya.

    Baca: Drama Korea When the Phone Rings populerkan penggunaan bahasa isyarat

    Meski masih kurang, penggunaan bahasa isyarat di Indonesia terus menunjukkan kemajuan yang positif. Semakin banyak kalangan yang menyertakan penerjemah bahasa isyarat untuk mengakomodasi disabilitas tuli.

    Dilansir di wikipedia, perkembangan bahasa isyarat di Indonesia ditandai dengan munculnya dua sistem utama, yaitu Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang berkembang alami dari komunitas Tuli.

    Selain itu juga ada Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang lebih formal dan didasarkan pada American Sign Language (ASL) untuk pendidikan.

    Meskipun penggunaan bahasa isyarat sudah ada sejak abad ke-20 dengan pendirian sekolah untuk anak tuli pada 1954, pengakuan formal BISINDO baru berkembang pada 2006, sementara SIBI dibakukan pada 1994.

    Baca: Surya Sahetapy, difabel tuli Indonesia yang sukses jadi dosen di AS