Tag: konservasi air

  • Jadi Duta World Water Forum ke-10, Cinta Laura Akan Kampanyekan Konservasi Air Bersih

    Jadi Duta World Water Forum ke-10, Cinta Laura Akan Kampanyekan Konservasi Air Bersih

    7cloud.asia – Duta Komunikasi World Water Forum ke-10 Cinta Laura mengatakan agenda yang diusung oleh Indonesia di ajang WWF ke-10 sangat krusial, mengingat masih banyak penduduk yang belum memiliki akses ke air bersih.

    World Water Forum ke-10 yang akan berlangsung di Bali mengusung empat agenda utama, yaitu upaya konservasi air, ketersediaan air bersih dan sanitasi, ketahanan pangan dan energi, serta mitigasi bencana alam.

    “Fokus Indonesia pada konservasi air, akses air bersih, sanitasi, keamanan pangan dan energi, serta mitigasi bencana di World Water Forum sangatlah krusial,” ucap Cinta dalam keterangan tertulis kepada ANTARA, Jumat.

    “Dengan lebih dari 27 juta penduduk Indonesia yang belum memiliki akses ke air bersih dan 80 persen penyakit disebabkan oleh kualitas air yang buruk, agenda-agenda tadi perlu segera dilakukan,” sambung dia.

    Cinta menilai komitmen Indonesia di WWF ke-10 sudah sangat jelas, mengingat kerentanan negara terhadap bencana alam seperti banjir dan kekeringan, yang diperparah oleh perubahan iklim.

    Baca Juga: The 10th World Water Forum: Air Bersih adalah Hak Asasi Manusia

    Cinta Laura melihat agenda-agenda tersebut sebagai hal yang penting untuk pembangunan berkelanjutan.

    “Saya ingin memberikan apresiasi atas pendekatan proaktif Indonesia dalam mengatasi masalah-masalah mendesak ini di platform global,” kata dia.

    Sebagai Duta Komunikasi untuk World Water Forum ke-10, Cinta mengatakan dirinya berperan untuk menyebarkan pesan-pesan penting mengenai isu-isu air kepada masyarakat Indonesia secara luas.

    Melalui berbagai saluran komunikasi seperti penjangkauan media, kampanye di media sosial, acara publik, dan program-program edukasi.

    Dia akan berupaya meningkatkan kesadaran tentang pentingnya konservasi air, akses air bersih, sanitasi, keamanan pangan dan energi, serta mitigasi bencana.

    “Dengan menyampaikan pesan-pesan ini secara efektif, kami bertujuan untuk menggerakkan dukungan masyarakat, memfasilitasi kolaborasi antara pemangku kepentingan, dan menginspirasi tindakan kolektif dalam mengatasi tantangan terkait air di Indonesia dan di seluruh dunia,” ujar dia.

    Baca Juga: Museum Subak Jatiluwih Bakal Jadi Tujuan Kunjungan Delegasi World Water Forum ke-10

    Cinta Laura juga menyampaikan strateginya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya konservasi dan manajemen sumber daya air yang berkelanjutan.

    Cinta Laura antara lain akan melaksanakan lokakarya dan program penjangkauan berkenaan dengan upaya konservasi air di tingkat komunitas.

    Menurut dia, lokakarya akan mencakup materi tentang teknik pengumpulan air hujan, metode pengoptimalan penggunaan air di tingkat rumah tangga dan usaha pertanian, serta strategi pelestarian ekosistem air.

    Dia juga mengemukakan pentingnya kolaborasi dengan organisasi lokal, lembaga pemerintah, dan institusi pendidikan dalam mempromosikan upaya konservasi air.

    Sebagai komisaris PT Maharaksa Biru Energi Tbk, Cinta Laura berkomitmen mendukung upaya pelestarian lingkungan.

    Baca Juga: Ribuan Relawan Sumut Bersihkan Sampah di World Clean Up Day2023

    Cinta menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir dia aktif berinteraksi dengan universitas dalam mengorganisir pelaksanaan seminar dan diskusi untuk meningkatkan kepedulian pemuda terhadap lingkungan.

    “Saya secara teguh percaya bahwa mengedukasi tiap individu sangat penting untuk menumbuhkan kepedulian yang tulus terhadap lingkungan dan memahami dampaknya terhadap kesejahteraan fisik, mental, sosial, dan ekonomi kita,” jelasnya.

    Tanpa dasar ini, lanjutnya, sulit untuk menginspirasi perubahan yang bermakna dalam kebiasaan dan perilaku masyarakat.

    Cinta mengemukakan rencana untuk menggandeng lembaga pendidikan dan organisasi lokal dalam kampanye guna meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap masalah lingkungan.

    “Tujuan kami adalah untuk membangun keterlibatan jangka panjang dalam masyarakat untuk memastikan pelestarian sumber daya air dan lingkungan untuk generasi mendatang,” katanya.

    World Water Forum ke-10 akan diselenggarakan di Bali dari 18 sampai 24 Mei 2024. Forum itu akan membahas masalah konservasi air, air bersih dan sanitasi, ketahanan pangan dan energi, serta mitigasi bencana alam.

  • Penerapan Prinsip Reduce-Reuse-Recycle dalam Konservasi Air: Contoh Kasus di Bangalore, India

    Penerapan Prinsip Reduce-Reuse-Recycle dalam Konservasi Air: Contoh Kasus di Bangalore, India

    7cloud.asia – Beberapa dekade terakhir, dunia makin menyadari bahwa air merupakan sumber daya yang terbatas yang bisa berdampak buruk jika tidak dikelola dengan baik.

    Karena itu, berbagai upaya konservasi air telah dilaksanakan oleh berbagai lembaga pemerintah dan swasta, dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi.

    Salah satu upaya konservasi air dilakukan di Bangalore, kota terbesar ketiga di India dengan populasi lebih dari 14 juta jiwa yang seringkali bergulat dengan krisis air yang parah.

    Vishwanath Srikantaiah, seorang pakar konservasi air dan perencana kota, berada di garda terdepan dalam upaya konservasi air di kota tersebut. Dia memberikan saran dan bekerja sama dengan berbagai komunitas untuk membantu menjadikan Bangalore lebih tangguh dalam urusan tata kelola air.

    Dalam sebuah wawancara dengan Earth.Org, Srikantaiah membahas berbagai inisiatif yang telah dilaksanakan untuk meningkatkan ketahanan air kota.

    Menariknya, banyak dari inisiatif ini dapat dipetakan, baik sengaja atau tidak, ke prinsip-prinsip ekonomi sirkular. Simak penjelasannya berikut ini.

    Baca: Upaya menerapkan sirkularitas dalam pengelolaan air

    Kurangi
    Selama kekurangan air baru-baru ini, kota Bangalore mewajibkan penggunaan keran aerator di seluruh kota.

    “Sebagai bagian dari manajemen permintaan, Bengaluru telah mewajibkan pemasangan perlengkapan hemat air pada keran di semua rumah dan bangunan komersial,” jelas Vishwanath.

    Aerator keran dapat mengurangi aliran air dari 12-18 liter per menit menjadi tiga hingga enam liter per menit – berpotensi menghemat lebih dari 50 persen air di wastafel dapur dan wastafel cuci tangan tanpa mengurangi fungsinya.

    Gunakan Kembali
    Di sebagian besar rumah tangga, air dibiarkan mengalir begitu saja setelah digunakan. Hal ini merupakan pemborosan besar-besaran terhadap sumber daya alam yang sudah langka.

    Sebaliknya, jika air bekas pakai ini diolah secara kimia, air tersebut dapat digunakan kembali oleh penghuni rumah untuk keperluan non-minum, sehingga mengurangi kebutuhan air secara keseluruhan.

    Di Bengalore, pengolahan air menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) diwajibkan di apartemen dengan lebih dari 150 unit.

    Baca: Perubahan iklim menuntut pengelolaan air segera dirombak

    Air limbah yang telah diolah merupakan peluang besar bagi kota mana pun. Air yang digunakan untuk mesin pencuci piring, mesin cuci, dan pancuran disebut sebagai air limbah.

    “Air tersebut dapat diolah di sumbernya di Instalasi Pengolahan Air Limbah di lingkungan apartemen. Air yang telah diolah ini kemudian tersedia untuk digunakan di rumah kita untuk keperluan non-minum,” jelas Vishwanath.

    Daur Ulang
    Beberapa unit industri membutuhkan air dalam jumlah besar setiap hari. Apartemen diizinkan untuk menjual kelebihan air olahan mereka kepada industri-industri tersebut.

    Sungai, danau, aliran air, dan lahan basah disuplai dengan air limbah olahan yang membantu meningkatkan kadar air mereka, sehingga mengisi kembali air tanah. Air olahan juga disuplai kepada para petani di pinggiran kota.

    Hal ini membantu para petani mencapai ketahanan air dan pada gilirannya, membantu kota Bengaluru mencapai ketahanan pangan. Dengan cara ini, air didaur ulang dan dimanfaatkan secara produktif.

    “Kita perlu berinvestasi dalam jaringan pembuangan limbah agar setiap tetes air limbah dikumpulkan dan diolah,” kata Vishwanath.

    Baca: Pengelolaan air masih jarang dipelajari

    Bengalore sedang menjalankan proyek terbesar kedua di dunia untuk mengolah sekitar 2.000 juta liter air limbah per hari guna mengisi 500 danau dan memastikan 64.000 petani menerima air limbah olahan tersebut.

    Sekitar 1,1 juta hektar lahan digarap, sehingga para petani mencapai ketahanan iklim, ketahanan air, dan kota mencapai ketahanan pangan. “Air limbah didaur ulang dan dimanfaatkan secara produktif,” ujarnya.

    Air limbah yang diolah dapat memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan air yang terus meningkat di kota-kota yang berkembang pesat, mendukung pembangunan industri dan pertanian berkelanjutan.

    Memperkuat Siklus Air
    Peningkatan urbanisasi mengakibatkan peningkatan permukaan kedap air, yang mengakibatkan berkurangnya infiltrasi, yang berdampak buruk pada siklus air alami.

    Di Bengalore, selama musim kemarau, danau-danau disuplai dengan air olahan yang membantu mengisi kembali kadar air di akuifer bawah tanah. Pemanenan air hujan wajib dilakukan di apartemen dan fasilitas besar lainnya.

    Baca: Pengelolaan air yang buruk dapat memicu krisis air

    Terdapat rencana untuk membuat lubang resapan di taman dan area terbuka lainnya di seluruh kota untuk memungkinkan pemanenan air hujan yang lebih besar.

    Tindakan ini memperkuat siklus air alami dengan memungkinkan infiltrasi air yang lebih besar dan pengisian kembali air tanah.

    Dengan pertumbuhan kota Bangalore yang pesat, kesenjangan implementasi tidak dapat dihindari dan tekanan air masih terjadi secara berkala.

    Namun, inisiatif-inisiatif ini, beserta keterlibatan dan edukasi warga, merupakan langkah ke arah yang benar, kata Vishwanath.

    Setiap kota yang berkembang pesat dapat berhasil menerapkan ide-ide ini, memperkuat siklus air, dan mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan air mereka.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.com, baca artikel aslinya di sini.

  • Kawasan Barito Bakal Menjadi Tempat Konservasi Air dan Ruang Ekologi Berkelanjutan

    Kawasan Barito Bakal Menjadi Tempat Konservasi Air dan Ruang Ekologi Berkelanjutan

    7cloud.asia – Pemprov DKI Jakarta akan mengintegrasikan Taman Langsat, Taman Leuser, dan Taman Ayodia, menjadi satu dengan nama Taman Bendera Pusaka.

    Lebih dari sekadar ruang terbuka hijau, ketiga taman ini memiliki fungsi vital sebagai area resapan air, penyeimbang ekosistem, serta menjadi ruang beragam aktivitas sosial masyarakat.

    Dilansir di beritajakarta.id, elemen khas ketiga taman ini adalah adanya badan air berupa kanal atau sungai yang mengalir membelah kawasan, serta kolam yang memperkuat karakter lanskap.

    Fakta ini sangat mendukung fungsi ekologis taman secara keseluruhan. Harapannya, taman tidak hanya indah, tapi juga lestari.

    Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan infrastruktur pengendali banjir dan sanitasi modern dalam pembangunan Taman Bendera Pusaka.

    Baca: Kawasan Barito diproyeksi bakal jadi magnet baru

    “Dinas SDA DKI Jakarta akan mengintegrasikan Taman Langsat dan Taman Leuser dengan kolam retensi. Panjang badan air dari Taman Langsat hingga Taman Leuser yaitu 750 meter,” terang Ika di Jakarta, pada Jumat (8/8/2025).

    Di sepanjang badan air ini akan dibangun infrastruktur pengendali banjir, berupa pintu air, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), saringan sampah, dan sediment trap.

    Dinas SDA juga akan memperbaiki saluran drainase di sekeliling taman. Hal ini untuk membantu mereduksi debit limpasan air ke Hang Lekir, Hang Jebat, dan sekitarnya saat musim hujan.

    Saat musim kemarau, lanjut Ika, air yang mengalir di saluran penghubung (PHB) Jelawe dapat lebih jernih karena sudah diolah melalui IPAL. Ia memaparkan, debit air limbah yang akan diolah IPAL adalah 800 meter kubik per hari.

    Hasil keluaran dari IPAL nantinya akan memenuhi Baku Mutu Air Limbah Domestik yang diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.68/2016.

    Baca: Taman di sekitar Blok M yang asyik buat nongkrong

    Menurut Ika, program sanitasi ini dirancang untuk mengantisipasi berbagai tantangan perkotaan, seperti urbanisasi, perubahan iklim, dan tekanan lingkungan.

    “Sehingga, diharapkan mampu menjaga kesehatan masyarakat sekaligus kelestarian lingkungan hidup, demi tercapainya pembangunan di bidang lingkungan dan kesehatan yang terintegrasi serta berkelanjutan,” tutur Ika.

    Perbaikan fungsi ekologis dalam penataan kawasan Barito juga disampaikan oleh pakar bioteknologi lingkungan dan tata kelola air FTUI, yang juga Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Firdaus Ali.

    Ia mengungkapkan, penataan tiga taman di Jakarta Selatan juga mengedepankan tata kelola air yang modern, sehingga kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat bersantai dan beraktivitas.

    Taman Bendera Pusaka diharapkan juga berkontribusi dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.

    Baca: Bakal direvitalisasi, para pedagang Pasar Barito direlokasi

    Selama ini, menurut Firdaus, belum ada adalah IPAL-nya karena itu akan dibangunkan IPAL, karena aliran limbah domestik ikut mengalir ke taman.

    Selama ini juga tidak ada saringan sampah, maka kita perlu siapkan saringan sampah, sehingga aliran air bebas sampah.

    Infrastruktur pengendali banjir yang disediakan itu disiapkan agar air limpasan atau run off yang ada bisa kita kendalikan, sehingga dampaknya ke kawasan akan dapat semakin kita minimalisasi,” terang Firdaus.

    Ia menambahkan, penataan dan integrasi ketiga taman ini dimaksudkan untuk menyediakan ruang publik terpadu yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat luas.

    Konsep ini menggabungkan fungsi ruang terbuka hijau, ruang terbuka biru, serta area rekreatif yang mendukung kegiatan olahraga, seni, dan budaya.

    “Dengan integrasi ini, kawasan tersebut dapat menjadi pusat kegiatan yang nyaman, hijau, dan bernilai ekologis tinggi bagi masyarakat dalam konteks kota global yang berbudaya dan berkelanjutan,” pungkas Firdaus.

    Baca: Pedagang Pasar Barito menolak direlokasi