7cloud.asia – Beberapa dekade terakhir, dunia makin menyadari bahwa air merupakan sumber daya yang terbatas yang bisa berdampak buruk jika tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, berbagai upaya konservasi air telah dilaksanakan oleh berbagai lembaga pemerintah dan swasta, dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi.
Salah satu upaya konservasi air dilakukan di Bangalore, kota terbesar ketiga di India dengan populasi lebih dari 14 juta jiwa yang seringkali bergulat dengan krisis air yang parah.
Vishwanath Srikantaiah, seorang pakar konservasi air dan perencana kota, berada di garda terdepan dalam upaya konservasi air di kota tersebut. Dia memberikan saran dan bekerja sama dengan berbagai komunitas untuk membantu menjadikan Bangalore lebih tangguh dalam urusan tata kelola air.
Dalam sebuah wawancara dengan Earth.Org, Srikantaiah membahas berbagai inisiatif yang telah dilaksanakan untuk meningkatkan ketahanan air kota.
Menariknya, banyak dari inisiatif ini dapat dipetakan, baik sengaja atau tidak, ke prinsip-prinsip ekonomi sirkular. Simak penjelasannya berikut ini.
Baca: Upaya menerapkan sirkularitas dalam pengelolaan air
Kurangi
Selama kekurangan air baru-baru ini, kota Bangalore mewajibkan penggunaan keran aerator di seluruh kota.
“Sebagai bagian dari manajemen permintaan, Bengaluru telah mewajibkan pemasangan perlengkapan hemat air pada keran di semua rumah dan bangunan komersial,” jelas Vishwanath.
Aerator keran dapat mengurangi aliran air dari 12-18 liter per menit menjadi tiga hingga enam liter per menit – berpotensi menghemat lebih dari 50 persen air di wastafel dapur dan wastafel cuci tangan tanpa mengurangi fungsinya.
Gunakan Kembali
Di sebagian besar rumah tangga, air dibiarkan mengalir begitu saja setelah digunakan. Hal ini merupakan pemborosan besar-besaran terhadap sumber daya alam yang sudah langka.
Sebaliknya, jika air bekas pakai ini diolah secara kimia, air tersebut dapat digunakan kembali oleh penghuni rumah untuk keperluan non-minum, sehingga mengurangi kebutuhan air secara keseluruhan.
Di Bengalore, pengolahan air menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) diwajibkan di apartemen dengan lebih dari 150 unit.
Baca: Perubahan iklim menuntut pengelolaan air segera dirombak
Air limbah yang telah diolah merupakan peluang besar bagi kota mana pun. Air yang digunakan untuk mesin pencuci piring, mesin cuci, dan pancuran disebut sebagai air limbah.
“Air tersebut dapat diolah di sumbernya di Instalasi Pengolahan Air Limbah di lingkungan apartemen. Air yang telah diolah ini kemudian tersedia untuk digunakan di rumah kita untuk keperluan non-minum,” jelas Vishwanath.
Daur Ulang
Beberapa unit industri membutuhkan air dalam jumlah besar setiap hari. Apartemen diizinkan untuk menjual kelebihan air olahan mereka kepada industri-industri tersebut.
Sungai, danau, aliran air, dan lahan basah disuplai dengan air limbah olahan yang membantu meningkatkan kadar air mereka, sehingga mengisi kembali air tanah. Air olahan juga disuplai kepada para petani di pinggiran kota.
Hal ini membantu para petani mencapai ketahanan air dan pada gilirannya, membantu kota Bengaluru mencapai ketahanan pangan. Dengan cara ini, air didaur ulang dan dimanfaatkan secara produktif.
“Kita perlu berinvestasi dalam jaringan pembuangan limbah agar setiap tetes air limbah dikumpulkan dan diolah,” kata Vishwanath.
Baca: Pengelolaan air masih jarang dipelajari
Bengalore sedang menjalankan proyek terbesar kedua di dunia untuk mengolah sekitar 2.000 juta liter air limbah per hari guna mengisi 500 danau dan memastikan 64.000 petani menerima air limbah olahan tersebut.
Sekitar 1,1 juta hektar lahan digarap, sehingga para petani mencapai ketahanan iklim, ketahanan air, dan kota mencapai ketahanan pangan. “Air limbah didaur ulang dan dimanfaatkan secara produktif,” ujarnya.
Air limbah yang diolah dapat memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan air yang terus meningkat di kota-kota yang berkembang pesat, mendukung pembangunan industri dan pertanian berkelanjutan.
Memperkuat Siklus Air
Peningkatan urbanisasi mengakibatkan peningkatan permukaan kedap air, yang mengakibatkan berkurangnya infiltrasi, yang berdampak buruk pada siklus air alami.
Di Bengalore, selama musim kemarau, danau-danau disuplai dengan air olahan yang membantu mengisi kembali kadar air di akuifer bawah tanah. Pemanenan air hujan wajib dilakukan di apartemen dan fasilitas besar lainnya.
Baca: Pengelolaan air yang buruk dapat memicu krisis air
Terdapat rencana untuk membuat lubang resapan di taman dan area terbuka lainnya di seluruh kota untuk memungkinkan pemanenan air hujan yang lebih besar.
Tindakan ini memperkuat siklus air alami dengan memungkinkan infiltrasi air yang lebih besar dan pengisian kembali air tanah.
Dengan pertumbuhan kota Bangalore yang pesat, kesenjangan implementasi tidak dapat dihindari dan tekanan air masih terjadi secara berkala.
Namun, inisiatif-inisiatif ini, beserta keterlibatan dan edukasi warga, merupakan langkah ke arah yang benar, kata Vishwanath.
Setiap kota yang berkembang pesat dapat berhasil menerapkan ide-ide ini, memperkuat siklus air, dan mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan air mereka.
Artikel ini diterjemahkan dari Earth.com, baca artikel aslinya di sini.

Leave a Reply