7cloud.asia – Hari Air Sedunia 2024 yang diperingati pada tanggal 22 Maret menyoroti krisis air global.
Krisis air global ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim, rusaknya lingkungan hingga kebocoran dalam proses distribusi.
Berikut adalah tujuh hal yang dapat dilakukan oleh negara dan individu untuk mencegah krisis air global, sebagaimana dikutip dari unep.org.
Baca: Separuh-populasi-dunia-terancam-krisis-air
1. Memulihkan ruang alami
Ekosistem yang menyediakan air bersih bagit manusia kini semakin berkurang. Lahan basah, lahan gambut, kawasan hutan, danau, sungai, dan sumber air tanah menjadi korban perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, dan polusi.
Ruang-ruang alam ini perlu segera dilindungi dan ruang-ruang yang telah terdegradasi harus dihidupkan kembali melalui restorasi besar-besaran.
Negara-negara di dunia harus mengembangkan target-target yang spesifik dan terukur untuk upaya ini perubahan, melindungi keanekaragaman hayati, dan menghindari kekeringan dan penggurunan.
Pekerjaan ini sangat penting untuk mengamankan pasokan air bagi kota-kota, yang banyak di antaranya mengalami kekurangan air.
Baca: Mengenal-subak-tata-kelola-air-berkelanjutan-di-Bali
2. Hemat air, terutama untuk bercocok tanam
Pertanian menyumbang sekitar 70 persen dari seluruh air bersih yang digunakan secara global.
Mengadopsi metode produksi pangan yang hemat air, seperti hidroponik, irigasi tetes, dan agroforestri, dapat membantu meningkatkan cadangan air.
Langkah lain yang juga bermanfaat: mendorong masyarakat untuk beralih ke pola makan nabati, yang umumnya membutuhkan lebih sedikit air dibandingkan daging.
Daging sapi, misalnya, dianggap memiliki salah satu jejak air terbesar, karena membutuhkan 15.000 liter air untuk menghasilkan satu kilo daging.
Baca: Cinta-Laura-akan-kampanyekan-konservasi-air-bersih
3. Mengatasi kebocoran air
Menjadi efisien juga berarti mengurangi jumlah air yang hilang karena kebocoran melalui infrastruktur kota dan pipa bangunan.
Tidak ada data global mengenai jumlah air yang hilang melalui cara ini, namun angka nasional menunjukkan bahwa jumlah totalnya sangat besar.
Di Amerika Serikat saja, kebocoran rumah tangga terjadi. membuang hampir 1 triliun galon air per tahun.
Baca: World-Water-Forum: air-bersih-adalah-hak-asasi-manusia
4. Memanfaatkan sumber air yang tidak konvensional
Ketika pasokan air danau, sungai, dan akuifer berkurang, negara-negara harus mengambil tindakan kreatif.
Hal ini berarti memanfaatkan sumber daya air yang kurang dihargai, misalnya dengan mengolah dan menggunakan kembali air limbah.
Masyarakat dunia dapat mulai memanen air hujan, yang melibatkan pengumpulan dan penyimpanan air untuk digunakan pada musim kemarau.
Desalinasi air asin juga merupakan pilihan di beberapa tempat jika dilakukan secara berkelanjutan.
Namun, desalinasi ini sering kali menyebabkan pembuangan air garam beracun ke laut dan peningkatan emisi gas rumah kaca dari energi yang dibutuhkan untuk bahan bakar proses tersebut.
5. Lacak kualitas air
Seringkali air berlimpah namun terlalu tercemar untuk digunakan sebagai minum, manufaktur, atau rekreasi.
Mengukur kualitas air dapat membantu pembuat kebijakan memprioritaskan tindakan untuk membersihkan sumber air. Evaluasi ini dapat dilengkapi dengan data satelit, kecerdasan buatan, dan bahkan ilmu pengetahuan warga
Penjelajah Ekosistem Air Tawar memberikan data kualitas air kepada pengambil keputusan, membantu mendorong tindakan untuk melindungi dan memulihkan ekosistem air tawar.
Baca: KLHK-sebut-kualitas-air-Indonesia-meningkat-di-tahun-2023
6. Menggabungkan pengelolaan air dengan kebijakan perubahan iklim
Perubahan iklim mempengaruhi pola curah hujan, habitat perairan, dan ketersediaan air berkualitas baik.
Pada saat yang sama, lahan gambut dan gudang karbon berair lainnya mengalami degradasi, sehingga menyebabkan lonjakan emisi yang menyebabkan pemanasan global dan memperparah perubahan iklim
Dunia harus menekankan perlindungan dan pemulihan penyerap karbon. Mereka juga harus menyelaraskan strategi pengelolaan air dengan kebijakan mereka untuk membatasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim.
7. Menerapkan pendekatan terpadu dalam pengambilan keputusan
Keputusan mengenai air tidak bisa diambil begitu saja. Air merupakan komponen kunci dalam segala hal, mulai dari pembangkit listrik, industri manufaktur, hingga pertanian.
Pendekatan terpadu dapat membantu negara-negara mengadopsi respons yang koheren terhadap tantangan terkait air sambil memaksimalkan hal-hal seperti produksi pangan dan pembangkitan energi.
Sumber:unep.org