Tag: krisis air

  • Demi Dapat Air Bersih, Warga Lebak Harus Cari ke Hutan

    Demi Dapat Air Bersih, Warga Lebak Harus Cari ke Hutan

    7cloud.asia – Kemarau panjang akibat fenomena El Nino mengakibat sejumlah daerah mengalami krisis air. Bahkan warga harus berjalan jauh masuk ke hutan demi mendapatkan air bersih. Seperti di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten.

    Masyarakat di wilayah ini sejak sebulan terakhir mencari air bersih hingga masuk ke hutan akibat dampak perubahan iklim kemarau 2023 atau El Nino.

    “Kita pada malam hari mendapatkan air bersih dari sumber mata air di kawasan hutan,” kata Sarip, warga Margaluyu Kabupaten Lebak, seperti dikutip Antaranews.

    Demi mendapatkan air bersih, lanjut Sarip, masyarakat di wilayah ini terpaksa berjalan kaki ke hutan- hutan sepanjang 1 kilometer menggunakan sepeda motor.

    “Selama ini, sumur bawah tanah yang biasa kami pakai untuk keperluan wudhu dan cuci serta kakus (MCK) mengalami kekeringan,” ucap pria berusia 40 tahun ini.

    Karena itu, Sarip bersama warga lainnya setiap hari mencari air bersih ke sumber mata air setempat. Biasanya mereka mulai mencari air usai salat Isya.

    “Kami mencari air bersih untuk bisa terpenuhi bak dan tempat lainnya dari pukul 18.20 WIB sampai pukul 22.00 WIB,” ungkapnya.

    Hal senada juga diungkapkan oleh Suhari, warga dari Kecamatan Sajira Kabupaten Lebak. Ia kini harus mencari air bersih ke hutan-hutan yang ada sumber mata air.

    Pihaknya juga telah berusaha mengadukan masalah ini ke pihak desa agar dapat bantuan air.  Namun, Suhari mengaku hingga kini belum ada bantuan air bersih yang diterimanya

    “Kami sudah melaporkan krisis air bersih ke desa setempat untuk pengajuan bantuan air bersih ke Pemkab Lebak,” jelas Suhari.

    Kordinator Pendistribusian Air Bersih Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Kabupaten Lebak, Irman Utharman menjelaskan masyarakat yang dilanda krisis air bersih dapat mengajukan permintaan pengiriman air.

    Masyarakat, lanjutnya, dapat melaporkan ke kepala desa setempat. Kemudian kepala desa melampirkan jumlah kepala keluarga yang terjadi krisis air bersih dan diketahui aparat kecamatan.

    Setelah itu, permohonan permintaan air bersih bisa langsung mendatangi BPBD Lebak. “Kami sampai hari ini sudah mendistribusikan air bersih di atas 700 ribu liter tersebar di 20 kecamatan yang dilanda krisis air bersih akibat kemarau itu,” ungkap Irman.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Perubahan Iklim Akibat Emisi Gas Rumah Kaca Dapat Memicu Krisis Air

    Perubahan Iklim Akibat Emisi Gas Rumah Kaca Dapat Memicu Krisis Air

    7cloud.asia – Emisi gas rumah kaca terus meningkat, hal ini dapat menyebabkan fenomena perubahan iklim yang akhirnya memicu terjadinya krisis air.

    Peruabhan iklim yang memicu krisis air ini diungkapkan oleh kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati seperti yang dilansir Antaranews Jumat (13/10/2023).

    “Krisis air menjadi ancaman serius sekaligus nyata dan harus jadi perhatian seluruh negara. Salah satu penyebab utama krisis air adalah terus meningkatnya emisi gas rumah kaca yang berdampak pada peningkatan laju kenaikan suhu udara,” jelas Dwikorita.

    Baca: Perubahan iklim membuat banjir makin sering terjadi

    Pada acara Forum Air Dunia di Bali, Dwikorita mengatakan kenaikan suhu udara berakibat pada proses pemanasan global terus berlanjut.

    Hal ini berdampak pada fenomena perubahan iklim yang memicu krisis pangan dan bahkan krisis energi, serta meningkatnya frekuensi, intensitas, dan durasi, kejadian bencana hidrometeorologi.

    Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) tahun 2022 lalu melaporkan Planet Bumi jauh lebih hangat dan suhunya naik 1,15 derajat Celcius jika dibandingkan rata-rata suhu udara permukaan pada masa pra-industri (1850-1900).

    Baca: Green skills untuk antisipasi perubahan iklim

    “Saat ini dalam penilaian awal (September 2023) menunjukkan bahwa tahun 2023 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah,” ungkapnya.

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan dampak dari variabilitas dan perubahan iklim sering kali dirasakan melalui air.

    Dinamika siklus air dan interaksinya dengan manusia menghasilkan pola ketersediaan sumber daya air yang bervariasi secara spasial dan temporal.

    Baca: Anak muda punya kesadaran lingkungan tinggi tapi enggan bergerak

    Selain itu dampak ekstrem terkait air sangat mempengaruhi kehidupan, perkembangan, dan keberlanjutan ekosistem, serta masyarakat dan individu.

    Tantangan lainnya yang dihadapi dalam pemenuhan kebutuhan air adalah ekstraksi air tanah yang menyebabkan penurunan muka air tanah.

    Musim kemarau yang berkepanjangan, tidak meratanya aksesibilitas serta distribusi air bersih.

    Baca: Seperti ini media memotret aksi lingkungan Gen Z

    Infrastruktur untuk pengelolaan sumber daya air juga merupakan tantangan dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan terhadap ketersediaan air.

    Jika hal ini dibiarkan, lanjut Dwikorita, krisis air akan berujung pada krisis pangan, krisis energi, bahkan krisis sosial.

    “Semakin menipisnya sumber daya alam, termasuk air juga disebabkan oleh jumlah populasi penduduk dunia yang terus bertambah,” kata anggota Dewan Eksekutif WMO ini.

    Baca: Negara maju diminta ambil peran lebih besar menahan laju perubahan iklim

    Karena itu, ia meminta semua negara harus melakukan aksi mitigasi dan adaptasi secara sistematis dan kolaboratif.

    Selain itu ia juga meminta semua negara dapat merumuskan kebijakan konservasi dan pengelolaan sumber daya air secara efisien berbasis ilmu pengetahuan.

    “Ini penting untuk segera dilakukan karena air adalah salah satu kebutuhan dasar hidup manusia,” katanya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BMKG: Indonesia Memiliki Teknologi yang Baik Atasi Krisis Air  

    BMKG: Indonesia Memiliki Teknologi yang Baik Atasi Krisis Air  

    7cloud.asia – Krisis air kini terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia akibat perubahan iklim. Padahal sebenarnya Indonesia memiliki kemampuan teknologi yang cukup baik dalam mengatasi krisis air tersebut.

    Penjelasan ini disampaikan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (17/10/2023).

    “Indonesia memiliki kemampuan teknologi yang cukup baik, ditambah berbagai kearifan lokal budaya masyarakat yang dapat menutup kesenjangan kapasitas dan ketangguhan dalam mengatasi krisis air akibat perubahan iklim,” jelasnya dikutip Antaranews.

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan dengan teknologi yang mumpuni, maka informasi dan data cuaca dan iklim dapat dipublikasikan ke masyarakat.

    Hal ini untuk melakukan berbagai langkah pencegahan, mitigasi ataupun pengurangan risiko bencana, sebelum bencana terjadi.  

    Menurutnya saat ini terjadi kesenjangan yang lebar antara negara maju dengan negara berkembang, negara kepulauan, dan negara miskin dalam hal kapasitas sosial-ekonomi dan teknologi.  

    Kondisi  ini berimbas pada ketangguhan suatu negara dalam beradaptasi dan memitigasi dampak perubahan iklim, terutama terkait dampak terhadap ketersediaan air, pangan dan energi.

    Berdasarkan laporan dari Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO), 60 persen kerugian bencana di negara maju terjadi akibat perubahan iklim.

    Namun dampak terhadap produk domestik bruto (PDB) negara tersebut hanya sekitar 0,1 persen.

    Sementara negara berkembang, tujuh persen kerugian bencana bisa menyebabkan dampak hingga 5-30 persen terhadap PDB.

    Sedangkan bagi negara kepulauan, 20 persen dari bencana dapat berdampak hingga 50 persen terhadap PDB. Bagi beberapa negara, bahkan bisa berdampak hingga 100 persen terhadap PDB.

    Dengan kondisi ini, lanjut Dwikorita, akan semakin memperparah kesenjangan ekonomi yang berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan dan ketangguhan masyarakat dalam beradaptasi dan memitigasi perubahan iklim.

    “Negara-negara maju mungkin menganggap persoalan ini adalah persoalan sepele, namun bagi negara berkembang, kepulauan, dan miskin persoalan ini dampaknya bisa sangat besar,” imbuhnya.

    Maka dari itu, Dwikorita menegaskan bahwa World Water Forum(WWF) yang akan dilangsungkan di Bali pada 18-24 Mei 2024 mendatang dapat menjadi momentum kolaborasi.

    Hal ini untuk menutup kesenjangan antar bangsa, untuk lebih dini dalam mengantisipasi krisis iklim dan krisis air, baik secara global ataupun regional dan lokal.

    Selain teknologi, untuk mengantisipasi krisis air yang akan terjadi, butuh keterlibatan berbagai pihak, antara pemerintah, akademisi/ilmuwan, pihak Swasta, masyarakat dan media.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Krisis Pangan dan Air Akibat Pengolahan Tanah

    Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Krisis Pangan dan Air Akibat Pengolahan Tanah

    7cloud.asia – Masalah lingkungan terbesar selanjutnya adalah krisis air dan pangan yang kini mulai dirasakan dampaknya di banyak negara di dunia.

    Pemanasan global dan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan telah mengakibatkan meningkatnya ancaman krisis air dan pangan di banyak negara.

    Krisis air dan pangan ini layak disebut sebagai salah satu masalah lingkungan terbesar saat ini.

    Secara global, lebih dari 68 miliar ton lapisan tanah atas terkikis setiap tahun dengan kecepatan 100 kali lebih cepat dibandingkan proses pemulihan alami.

    Karena sarat dengan biosida dan pupuk, tanah tersebut berakhir di saluran air sehingga mencemari air minum dan kawasan lindung di hilir.

    Baca: Pemanasan global menjadi masalah lingkungan serius

    Selain itu, tanah yang terbuka dan tidak bernyawa lebih rentan terhadap erosi angin dan air karena kurangnya sistem akar dan miselium yang mengikatnya.

    Salah satu penyebab utama erosi tanah adalah pengolahan tanah secara berlebihan: meskipun hal ini meningkatkan produktivitas dalam jangka pendek.

    Pengolahan tanah secara berlebihan dapat dijelaskan dengan mencampurkan unsur hara permukaan (misalnya pupuk, dan banyak di antaranya menggunakan pupuk kimia.

    Pengolahan tanah secara fisik merusak struktur tanah dan dalam jangka panjang menyebabkan pemadatan tanah atau hilangnya tanah.

    Pengolahan tanah secara berlebihan juga mengurangi kesuburan dan pembentukan kerak permukaan yang memperburuk erosi lapisan atas tanah.

    Baca: Mengenal keanekaragaman hayati tanah Papua

    Dengan populasi global yang diperkirakan akan mencapai 9 miliar orang pada pertengahan abad ini, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memproyeksikan bahwa permintaan pangan global akan meningkat sebesar 70% pada tahun 2050.

    Di seluruh dunia, lebih dari 820 juta orang mengalami peningkatan tersebut. tidak mendapatkan cukup makanan.

    Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan, kecuali dilakukan tindakan segera, sangat mungkin akan terjadi keadaan darurat keamanan pangan global.

    “Krisis pangan ini dapat berdampak jangka panjang pada ratusan juta orang dewasa dan anak-anak,” ujarnya.

    Baca: KLHK temukan spesies baru di hutan Indonesia

    Ia mendesak negara-negara untuk memikirkan kembali sistem pangan mereka dan mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.

    Dalam hal ketahanan air, hanya 3% air di dunia merupakan air tawar, dan dua pertiganya tersimpan di gletser beku atau tidak tersedia untuk kita gunakan.

    Akibatnya, sekitar 1,1 miliar orang di seluruh dunia kekurangan akses terhadap air, dan total 2,7 miliar orang mengalami kelangkaan air setidaknya selama satu bulan dalam setahun.

    Akibat kondisi ini, pada tahun 2025, dua pertiga penduduk dunia mungkin akan menghadapi kekurangan air.

    Sumber: earth.org

  • Warga Masih Alami Krisis Air Bersih, BPBD DKI Jakarta Distribusikan 1,4 Juta Liter Air

    Warga Masih Alami Krisis Air Bersih, BPBD DKI Jakarta Distribusikan 1,4 Juta Liter Air

    7cloud.asia – Meski hujan mulai turun, krisis air bersih masih terjadi di sejumlah wilayah di Jakarta.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta mendistribusikan 1,4 juta liter air bersih ke sejumlah kawasan yang alami krisis air bersih..

    Menurut Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta, Isnawa Adji, bantuan air bersih tersebut telah berlangsung sejak 16 September 2023.

    Total air bersih yang kami distribusi 1,4 juta liter sepanjang 16 September hingga 21 November 2023,” jelas Isnawa seperti yang dilansir Antaranews pada Selasa (21/11/2023).

    Baca: Demi dapat air bersih warga lebak harus cari ke hutan

    Selanjutnya Isnawa memaparkan pihaknya telah menyasar 2.053 kepala keluarga (KK) atau 6.538 jiwa  di 17 kelurahan pada 10 kecamatan selama enam hari tersebut.

    Di wilayah Jakarta Barat, BPBD telah menyalurkan air bersih ke 17 kelurahan.

    Diantaranya Cengkareng Barat, Kapuk, Kedaung Kali Angke, Kalideres, Pegadungan, Tegal Alur, Kelapa Dua, Kembangan Utara, Palmerah, dan Jembatan Lima.

    Di wilayah Jakarta Pusat meliputi di Cideng. Sementara untuk wilayah Jakarta Selatan meliputi Cipedak dan Lenteng Agung.

    Di wilayah Jakarta Utara BPBD telah menyalurkan air ke kelurahan Cilincing, Kali Baru, Penjaringan, dan Pluit.

    Baca: Autoimun nggak bisa dicegah, ini cara mengurangi risikonya

    “Total capaian pengangkutan atau ritase yakni 9.277 rit,” ungkapnya.

    Selama proses distribusi tersebut, lanjut Isnawa, pihaknya bekerjasama dengan PAM Jaya, BAZNAS BAZIS DKI Jakarta, PMI, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

    Sementara itu, Perusahaan Umum Daerah Air Minum Jakarta (Perumda PAM Jaya) menyatakan kesiapan pihaknya untuk mengalokasikan kembali (realokasi) saluran air.

    Relokasi tersebut dilakukan di 18 kelurahan di Jakarta Utara dan Jakarta Barat yang terdampak krisis air.

    Baca: Berkat air bersih bantuan Ganjar Pranowo, warga desa ini kini bisa nikmati air bersih 

    Ke 18 kelurahan yang terdampak tersebut adalah Penjaringan, Pejagalan, Pluit, Kapuk, Kalideres, Rawa Buaya, Pegadungan, Cengkareng Barat, Cengkareng Timur.

    Selain itu kelurahan Pegadungan, Semanan, Duri Kosambi, Wijaya Kusuma, Jelambar Baru, Kapuk Muara, Tegal Alur, Kamal, Kamal Muara dan sekitarnya.

    Penyaluran air ini tercatat sebanyak 1,7 juta liter atau setara 1.712 meter kubik yang direalisasikan selama periode 9 hingga 19 September.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Separuh Populasi Global Terancam Krisis Air, Berikut 7 Langkah Global untuk Mengatasinya

    Separuh Populasi Global Terancam Krisis Air, Berikut 7 Langkah Global untuk Mengatasinya

    7cloud.asia – Hari Air Sedunia 2024 yang diperingati pada tanggal 22 Maret menyoroti krisis air global.

    Krisis air global ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan iklim, rusaknya lingkungan hingga kebocoran dalam proses distribusi.

    Berikut adalah tujuh hal yang dapat dilakukan oleh negara dan individu untuk mencegah krisis air global, sebagaimana dikutip dari unep.org.

    Baca: Separuh-populasi-dunia-terancam-krisis-air

    1. Memulihkan ruang alami

    Ekosistem yang menyediakan air bersih bagit manusia kini semakin berkurang. Lahan basah, lahan gambut, kawasan hutan, danau, sungai, dan sumber air tanah menjadi korban perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, dan polusi.

    Ruang-ruang alam ini perlu segera dilindungi dan ruang-ruang yang telah terdegradasi harus dihidupkan kembali melalui restorasi besar-besaran.

    Negara-negara di dunia harus mengembangkan target-target yang spesifik dan terukur untuk upaya ini perubahan, melindungi keanekaragaman hayati, dan menghindari kekeringan dan penggurunan.

    Pekerjaan ini sangat penting untuk mengamankan pasokan air bagi kota-kota, yang banyak di antaranya mengalami kekurangan air.

    Baca: Mengenal-subak-tata-kelola-air-berkelanjutan-di-Bali

    2. Hemat air, terutama untuk bercocok tanam

    Pertanian menyumbang sekitar 70 persen dari seluruh air bersih yang digunakan secara global.

    Mengadopsi metode produksi pangan yang hemat air, seperti hidroponik, irigasi tetes, dan agroforestri, dapat membantu meningkatkan cadangan air.

    Langkah lain yang juga bermanfaat: mendorong masyarakat untuk beralih ke pola makan nabati, yang umumnya membutuhkan lebih sedikit air dibandingkan daging.

    Daging sapi, misalnya, dianggap memiliki salah satu jejak air terbesar, karena membutuhkan 15.000 liter air untuk menghasilkan satu kilo daging.

    Baca: Cinta-Laura-akan-kampanyekan-konservasi-air-bersih

    3. Mengatasi kebocoran air
    Menjadi efisien juga berarti mengurangi jumlah air yang hilang karena kebocoran melalui infrastruktur kota dan pipa bangunan.

    Tidak ada data global mengenai jumlah air yang hilang melalui cara ini, namun angka nasional menunjukkan bahwa jumlah totalnya sangat besar.

    Di Amerika Serikat saja, kebocoran rumah tangga terjadi. membuang hampir 1 triliun galon air per tahun.

    Baca: World-Water-Forum: air-bersih-adalah-hak-asasi-manusia

    4. Memanfaatkan sumber air yang tidak konvensional
    Ketika pasokan air danau, sungai, dan akuifer berkurang, negara-negara harus mengambil tindakan kreatif.

    Hal ini berarti memanfaatkan sumber daya air yang kurang dihargai, misalnya dengan mengolah dan menggunakan kembali air limbah.

    Masyarakat dunia dapat mulai memanen air hujan, yang melibatkan pengumpulan dan penyimpanan air untuk digunakan pada musim kemarau.

    Desalinasi air asin juga merupakan pilihan di beberapa tempat jika dilakukan secara berkelanjutan.

    Namun, desalinasi ini sering kali menyebabkan pembuangan air garam beracun ke laut dan peningkatan emisi gas rumah kaca dari energi yang dibutuhkan untuk bahan bakar proses tersebut.

    5. Lacak kualitas air

    Seringkali air berlimpah namun terlalu tercemar untuk digunakan sebagai minum, manufaktur, atau rekreasi.

    Mengukur kualitas air dapat membantu pembuat kebijakan memprioritaskan tindakan untuk membersihkan sumber air. Evaluasi ini dapat dilengkapi dengan data satelit, kecerdasan buatan, dan bahkan ilmu pengetahuan warga

    Penjelajah Ekosistem Air Tawar memberikan data kualitas air kepada pengambil keputusan, membantu mendorong tindakan untuk melindungi dan memulihkan ekosistem air tawar.

    Baca: KLHK-sebut-kualitas-air-Indonesia-meningkat-di-tahun-2023

    6. Menggabungkan pengelolaan air dengan kebijakan perubahan iklim

    Perubahan iklim mempengaruhi pola curah hujan, habitat perairan, dan ketersediaan air berkualitas baik.

    Pada saat yang sama, lahan gambut dan gudang karbon berair lainnya mengalami degradasi, sehingga menyebabkan lonjakan emisi yang menyebabkan pemanasan global dan memperparah perubahan iklim

    Dunia harus menekankan perlindungan dan pemulihan penyerap karbon. Mereka juga harus menyelaraskan strategi pengelolaan air dengan kebijakan mereka untuk membatasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

    7. Menerapkan pendekatan terpadu dalam pengambilan keputusan

    Keputusan mengenai air tidak bisa diambil begitu saja. Air merupakan komponen kunci dalam segala hal, mulai dari pembangkit listrik, industri manufaktur, hingga pertanian.

    Pendekatan terpadu dapat membantu negara-negara mengadopsi respons yang koheren terhadap tantangan terkait air sambil memaksimalkan hal-hal seperti produksi pangan dan pembangkitan energi.

    Sumber:unep.org

     
     
  • Krisis Air: Separuh Populasi Dunia Terancam Kekurangan Air

    Krisis Air: Separuh Populasi Dunia Terancam Kekurangan Air

    7cloud.asia – Jelang peringatan Hari Air Sedunia pada Maret lalu, sejumlah berita utama terkait air muncul di sejumlah negara.

    Otoritas Spanyol mengumumkan keadaan darurat akibat kekeringan di sejumlah wilayahnya. Kekurangan air yang belum pernah terjadi sebelumnya juga melanda Meksiko City.

    Pemerintah Zambia juga memperingatkan akan adanya bencana nasional akibat kekurangan air di banyak wilayahnya.

    Ini semua merupakan gejala apa yang disebut para ahli sebagai krisis air yang sedang dihadapi masyarakat dunia.

    Setidaknya 50 persen populasi dunia – yang berjumlah 4 miliar orang – akan menghadapi kekurangan air setidaknya dalam satu bulan dalam setahun. 

    Baca: Mengenal subak, tata kelola air berkelanjutan di Bali

    Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyebut kejadian ini sebagai “kelangkaan air mutlak.”

    Menghadapi hal tersebut, Majelis Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa pada awal bulan ini mengeluarkan resolusi yang menyerukan negara-negara untuk mengelola ekosistem perairan dengan lebih baik.

    Seruan itu juga mengajak dunia memperkuat kolaborasi mereka di bidang air untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

    Ketahanan dari kekeringan dan krisis air juga akan menjadi fokus Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024. yang diselenggarakan oleh Arab Saudi.

    “Solusi sudah bisa dicapai,” kata Leticia Carvalho, Koordinator Utama Cabang Ekosistem Air Tawar dan Laut di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP). 

    Baca: Pemanasan global akibatkan separuh danau di-dunia mengering

    Tapi, ujarnya, dunia butuh pemikiran inovatif, komitmen politik yang lebih besar, kolaborasi dan meningkatkan pembiayaan

    “Sehingga saat berbicara tentang air, tidak boleh ada yang tertinggal,” imbuhnya.

    Hari Air Sedunia yang diperingati setiap 22 Maret menyoroti krisis air global, yang disebabkan oleh berbagai faktor.

    Faktor penyebab krisis air itu mulai dari perubahan iklim, kebocoran dalam distribusi hingga apa yang dapat dilakukan seseorang untuk mencegah kekurangan air.

    Baca: Cinta Laura jadi duta World Water Forum ke-10

    Langkah utama yang harus dilakukan untuk mencegah krisis air adalah melindungi dan memulihkan ruang alami.

    Ekosistem yang menyediakan air bersih bagi umat manusia kini semakin berkurang. Lahan basah, lahan gambut, kawasan hutan, danau, sungai, dan sumber air tanah terdampak perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, dan polusi.

    Ruang-ruang alami ini perlu segera dilindungi dan ruang-ruang yang telah terdegradasi harus dihidupkan kembali melalui restorasi berskala besar.

    Negara-negara di dunia akan dapat mengembangkan target-target yang spesifik dan terukur untuk upaya ini perubahan, melindungi keanekaragaman hayati, dan menghindari kekeringan dan penggurunan.

    Pekerjaan ini sangat penting untuk mengamankan pasokan air bagi kota-kota, yang banyak di antaranya mengalami kekurangan air.

    Sumber:unep.org

     

  • Cinta Laura Ingatkan Krisis Air Akan Jadi Masalah Besar Jika Tidak Ada Kesadaran

    Cinta Laura Ingatkan Krisis Air Akan Jadi Masalah Besar Jika Tidak Ada Kesadaran

    7cloud.asia – Duta Komunikasi World Water Forum ke-10 yang juga aktris, Cinta Laura krisis iklim terutama krisis air akan semakin jadi masalah besar. Karena itu, perlu adanya kesadaran mengenai pentingnya kebutuhan dan akses air bersih.

    “Kalau perasaan kepedulian tidak ada, tidak akan mungkin orang mengambil aksi dan kalau aksi tidak diambil tidak akan ada perubahan nyata yang terjadi,” ujar Cinta seperti yang dilansir Antaranews.

    Memang ia menyadari bahwa isu kemanusiaan dan kualitas hidup belum menjadi prioritas. Sebab masih banyak masyarakat Indonesia yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

    “Jadi sebagai communication ambassadorrole (peran) aku di sini adalah menyosialisasikan isu krisis air ini kepada masyarakat secara luas, terutama anak muda. Karena merekalah yang bisa merubah habit (perilaku) mereka agar kita bisa mencapai goals (sasaran) kita dalam 20 tahun ke depan,” jelasnya.

    Baca: Cinta Laura jadi duta World Water Forum

    Dia mengungkapkan upaya keberlanjutan termasuk dari sektor air sudah tercantum dalam Peta Jalan Ekonomi Biru yang akan mulai dilaksanakan tahun 2025 sampai tahun 2045.

    Aktris berdarah Jerman ini menjelaskan bahwa upaya tersebut membutuhkan banyak sumber daya termasuk air untuk meningkatkan Produk Domestik Bruto.

    Namun, disisi lain kesejahteraan masyarakat harus menjadi perhatian utama. Menurutnya kesejahteraan masyarakat bisa dimulai dengan mencegah krisis air melalui langkah sederhana.

    Diantaranya dengan memilah sampah dan tidak membuang sampah ke sungai atau laut yang dapat mencemari kualitas air. Selain itu, masyarakat dapat mendaur ulang sampah agar bernilai ekonomi.

    Baca: World Water Forum resmi dibuka

    Saat ini, lanjut Cinta, dirinya tengah aktif membuat program-program dan membangun kerja sama dengan organisasi-organisasi agar kesadaran di kalangan masyarakat kita bisa meningkat.

    “Agar mereka sadar bahwa jika mereka ingin mencari kualitas hidup yang lebih tinggi di keesokan hari, mereka harus melibatkan isu lingkungan, isu krisis air. Inilah yang akan sangat berdampak terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi kita di masa depan,” tuturnya.

    World Water Forum yang digelar di Nusa Dua, Bali merupakan forum internasional yang melibatkan sejumlah pemangku kepentingan di berbagai sektor sumber daya air.

    Baca: Air bersih adalah hak asasi manusia

    Mulai dari pemerintah, parlemen, pemimpin politik, lembaga multilateral, politisi, akademisi, masyarakat sipil, pelaku usaha, dan lain sebagainya.

    Ada beberapa sub-tema yang diusung dalam WWF ke-10 ini, yaitu ketahanan dan kesejahteraan air, air untuk manusia dan alam, pengurangan dan pengelolaan risiko bencana.

    Selain itu, sub-tema lainnya adalah tata kelola, kerja sama, dan hidro-diplomasi, pembiayaan air berkelanjutan, dan pengetahuan dan inovasi.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Atasi Krisis Air di Bali: Yayasan Idep dan PNB Bali Perbanyak Sumur Pemanenan Air Hujan

    Atasi Krisis Air di Bali: Yayasan Idep dan PNB Bali Perbanyak Sumur Pemanenan Air Hujan

    7cloud.asia – Tantangan utama yang dihadapi Bali saat ini adalah ancaman krisis air yang dipengaruhi perubahan iklim dan masifnya pertumbuhan pariwisata terutama di bagian selatan Bali.

    Pertumbuhan pariwisata yang pesat di Bali mengakibatkan terus meningkatnya konsumsi air sehingga mempengaruhi kuantitas dan kualitas air tanah. Dalam jangka panjang hal ini bisa memicu krisis air.

    Berdasarkan data Organisasi lingkungan nonprofit Yayasan Idep Selaras Alam, dari laporan Walhi Bali, penggunaan air tanah di Bali melebihi kapasitas siklus hidrologi dan intrusi air laut yang terjadi di sejumlah tempat wisata.

    Muka air tanah Bali juga mengalami penurunan di Cekungan Air Tanah Denpasar-Tabanan tercatat sebesar 1,4 hingga 29,2 meter dalam kurun waktu 1985-2004.

    Karena itu Yayasan Idep bersama Politeknik Negeri Bali (PNB) terus membangun sumur pemanenan air hujan (rain water harvesting).

    Baca: Mengenal subak, tata kelola air secara berkelanjutan di Bali

    Dilansir Antaranews.com, sejak tahun 2018, setidaknya 91 sumur pemanenan air hujan telah dibangun untuk mendukung konservasi sumber daya air di Pulau Dewata.

    “Kami berupaya membangun di daerah imbuhan (resapan) utama supaya cadangan air tanah Bali terus bertambah,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Idep Selaras Alam Muchamad Awal di sela diskusi terkait isu air di Sanur, Denpasar, Bali, Selasa (30/7/2024).

    Pembangunan sumur yang menampung air hujan itu dilakukan di wilayah imbuhan utama yang terletak di wilayah tengah Bali atau bagian hulu di antaranya Kabupaten Bangli, Karangasem, Tabanan dan Buleleng.

    Ia menjelaskan, satu unit instalasi itu diperkirakan menelan biaya Rp36 juta dengan kedalaman misalnya hingga 32 hingga 50 meter yang menyesuaikan kondisi daerah.

    Baca: Jakarta juga terancam krisis air

    Di atas sumur itu terlebih dahulu dibangun bak penampungan misalnya berukuran sekitar 2×4 meter dan tinggi sekitar 1,2 meter serta dilengkapi saringan untuk menghindari kontaminasi kandungan zat lain.

    Kemudian air hujan yang tertampung di bak, dialirkan ke sumur pemanenan dengan menggunakan pipa.

    Dari 91 sumur air hujan itu, sebanyak 24 di antaranya dibangun oleh PNB dan ditargetkan dapat membangun 136 sumur pemanenan air hujan.

    Sementara itu, Guru Besar Ergonomi PNB Prof Dr Lilik Sudiajeng dalam kesempatan yang sama menjelaskan sumur pemanenan air hujan berbeda dengan sumur resapan.

    Baca: Separuh populasi dunia terancam krisis air

    Sumur resapan, kata dia, menampung semua air termasuk air buangan sehingga perlu difilter lebih ketat.

    Selain di daerah imbuhan, lanjut dia, sumur panen air hujan itu dibangun di tempat publik untuk sekaligus edukasi masyarakat di antaranya di halaman sekolah, balai banjar (dusun/desa), hingga gelanggang olahraga.

    Ia menambahkan salah satu sumur pemanenan air hujan yang dibangun di daerah hulu di Desa Munduk, Kabupaten Buleleng dapat menghasilkan air resapan dengan kapasitas 41 meter kubik per jam.

    Nantinya air hujan di dalam sumur itu akan meresap dan mengalir ke wilayah yang lebih rendah sebagai cadangan baru air tanah.

  • Kemarau Melanda Pulau Jawa, Ribuan Warga di Jonggol Krisis Air Bersih

    Kemarau Melanda Pulau Jawa, Ribuan Warga di Jonggol Krisis Air Bersih

    7cloud.asia – Musim kemarau tengah melanda Pulau Jawa. Sejumlah wilayah mengalami kekeringan, tak terkecuali wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

    Ribuan warga di wilayah ini mengalami krisis air bersih sejak beberapa hari yang lalu seiring dengan menurunnya intensitas hujan.  

    Menurut Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, M Adam sebanyak 1.847 jiwa di wilayah Jonggol, Kabupaten Bogor mengalami krisis air bersih.

    Baca: Wilayah Banyumas mulai mengalami kekeringan

    “Intensitas hujan yang menurun di wilayah tersebut, sehingga mengakibatkan sumber mata air warga berkurang dan warga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih setiap harinya,”  jelas Adam seperti yang dilansir INews.

    Selanjutnya Adam menjelaskan ada dua kampung di Desa Sukanegara, Kecamatan Jonggol sebanyak 146 KK dengan 448 jiwa yang mengalami krisis air bersih. Untuk mengatasinya, pihaknya juga telah menyalurkan  10.000 liter air ke wilayah tersebut.

    “Pengambilan air bersih di Kantor BPBD Kabupaten Bogor dan PDAM Tirta Kahuripan Cabang Jonggol,” ungkapnya.

    Baca: Yogyakarta tetapkan status siaga darurat bencana kekeringan

    Selain itu, lanjut Adam, terdapat  465 KK dengan 1.399 jiwa di Desa Jonggol, Kecamatan Jonggol yang kekurangan air bersih. “Volume pengiriman air bersih 5.000 liter,” katanya.

    Dengan adanya bantuan tersebut, saat ini kebutuhan air bersih di wilayah tersebut sudah terpenuhi.

    Namun, jika masyarakat membutuhkan air bersih kembali, maka dapat berkoordinasi dengan aparatur desa setempat dan BPBD Kabupaten Bogor.

    “Kebutuhan air bersih untuk hari ini sudah terpenuhi,” katanya.