7cloud.asia – Jelang peringatan Hari Air Sedunia pada Maret lalu, sejumlah berita utama terkait air muncul di sejumlah negara.
Otoritas Spanyol mengumumkan keadaan darurat akibat kekeringan di sejumlah wilayahnya. Kekurangan air yang belum pernah terjadi sebelumnya juga melanda Meksiko City.
Pemerintah Zambia juga memperingatkan akan adanya bencana nasional akibat kekurangan air di banyak wilayahnya.
Ini semua merupakan gejala apa yang disebut para ahli sebagai krisis air yang sedang dihadapi masyarakat dunia.
Setidaknya 50 persen populasi dunia – yang berjumlah 4 miliar orang – akan menghadapi kekurangan air setidaknya dalam satu bulan dalam setahun.
Baca: Mengenal subak, tata kelola air berkelanjutan di Bali
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) menyebut kejadian ini sebagai “kelangkaan air mutlak.”
Menghadapi hal tersebut, Majelis Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa pada awal bulan ini mengeluarkan resolusi yang menyerukan negara-negara untuk mengelola ekosistem perairan dengan lebih baik.
Seruan itu juga mengajak dunia memperkuat kolaborasi mereka di bidang air untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Ketahanan dari kekeringan dan krisis air juga akan menjadi fokus Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024. yang diselenggarakan oleh Arab Saudi.
“Solusi sudah bisa dicapai,” kata Leticia Carvalho, Koordinator Utama Cabang Ekosistem Air Tawar dan Laut di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).
Baca: Pemanasan global akibatkan separuh danau di-dunia mengering
Tapi, ujarnya, dunia butuh pemikiran inovatif, komitmen politik yang lebih besar, kolaborasi dan meningkatkan pembiayaan
“Sehingga saat berbicara tentang air, tidak boleh ada yang tertinggal,” imbuhnya.
Hari Air Sedunia yang diperingati setiap 22 Maret menyoroti krisis air global, yang disebabkan oleh berbagai faktor.
Faktor penyebab krisis air itu mulai dari perubahan iklim, kebocoran dalam distribusi hingga apa yang dapat dilakukan seseorang untuk mencegah kekurangan air.
Baca: Cinta Laura jadi duta World Water Forum ke-10
Langkah utama yang harus dilakukan untuk mencegah krisis air adalah melindungi dan memulihkan ruang alami.
Ekosistem yang menyediakan air bersih bagi umat manusia kini semakin berkurang. Lahan basah, lahan gambut, kawasan hutan, danau, sungai, dan sumber air tanah terdampak perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, dan polusi.
Ruang-ruang alami ini perlu segera dilindungi dan ruang-ruang yang telah terdegradasi harus dihidupkan kembali melalui restorasi berskala besar.
Negara-negara di dunia akan dapat mengembangkan target-target yang spesifik dan terukur untuk upaya ini perubahan, melindungi keanekaragaman hayati, dan menghindari kekeringan dan penggurunan.
Pekerjaan ini sangat penting untuk mengamankan pasokan air bagi kota-kota, yang banyak di antaranya mengalami kekurangan air.
Sumber:unep.org

Leave a Reply