Tag: la nina

  • El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, Indonesia akan menghadapi fenomena alam La Nina yang bisa mengganggu produktivitas bahan pangan.

    Fenomena alam yang disebut La Nina itu akan muncul setelah Indonesia menghadapi fenomena El Nino beberapa waktu lalu.

    BMKG mengungkapkan fenomena El Nino akan segera menuju masa netral, untuk kemudian akan digantikan dengan La Nina pada Juli mendatang.

    “El Nino diprediksi akan segera menuju netral pada periode Mei, Juni, Juli 2024,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers virtual.

    La Nina diperkirakan akan muncul mulai Juli 2024. Nantinya akan melemah setelah triwulan ketiga pada Juli hingga September mendatang.

    Baca: Peneliti BRIN ingatkan fenomena el nino berlanjut hingga 2024

    La Nina adalah kondisi anomali suhu kebalikan El Nino yang berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

    Sedangkan La Nina secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
    Pengaruh El Nino dan La Nina juga tergantung musim.

    Mengingat luasnya wilayah Indonesia dan merupakan negara kepulauan, dampak El Nino /La Niña berbeda di setiap wilayah.

    Sejumlah prediksi juga memperkirakan hal serupa. Salah satunya diungkapkan oleh Institute for Climate and Society (IRI).

    “Namun peluang klimatologisnya (La Nina) mencapai musim panas Boreal 2024 (Juni-September), La Nina menjadi kategori yang paling mungkin terjadi pada Juli-September 2024 dan seterusnya,” demikian keterangan resmi IRI.

    Baca: Fenomena el nino penyebab dan dampaknya bagi lingkungan dan pertanian

    Fenomena alam El Nino dan La Nina sangat mempengaruhi kondisi lahan pangan maupun produktivitasnya.

    Karena itu, otoritas terkait telah mempersiapkan langkah antisipasi.

    Badan Pangan Nasional (Bapanas) salah satunya, dengan menyiapkan koordinasi bersama Kementerian Pertanian (Kementan) untuk melakukan manajemen tanam yang disesuaikan dengan prediksi BMKG.

    “Termasuk bagaimana menjadwalkan agar tanam dan panennya tepat berdasarkan peta-peta yang sudah diprediksi BMKG,” kata Kepala Biro Perencanaan, Kerjasama dan Humas Bapanas Budi Waryanto kepada wartawan saat ditemui di Hotel Grandhika Jakarta, Maret lalu.

    Selain itu, Budi menyebut, pemerintah juga akan melakukan pemantauan khusus pada daerah sentra hortikultura, seperti sentra cabai dan sentra bawang merah di Brebes, Solo dan daerah lainnya.

    Baca: Sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau

    Daerah-daerah ini nantinya, akan diberikan perhatian khusus untuk memastikan produksi tetap berjalan baik.

    Bapanas juga akan menyiapkan bantuan cool storage atau mesin pendingin di daerah sentra produksi. Dengan demikian, saat musim panen produk hortikultura itu bisa disimpan di cold storage agar tidak cepat membusuk.

    “Kami juga sedang menambah cold storage ke wilayah konsumen, karena hortikultura kan sifatnya mudah rusak,” ujarnya.

    Budi menilai, dengan manajemen penanaman yang baik serta dibantu dengan teknologi, maka dampak La Nina terhadap beberapa komoditas pangan diharapkan dapat teratasi.

  • WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

     

    7cloud.asia – Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO memperingatkan kemungkinan terjadinya musim badai yang berbahaya karena pergantian dari fenomena El Nino menjadi La Nina.

    Juru bicara WMO Clare Nullis menyampaikan, dunia perlu bersiap dan memitigasi bencana untuk mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

    WMO memperkirakan akan terjadi musim badai yang sangat aktif selama masa transisi dari El nino ke La Nina ini.

    “Kandungan panas laut yang tinggi dan antisipasi perkembangan peristiwa La Nina diperkirakan akan memicu musim badai yang sangat, sangat aktif tahun ini,” Clare Nullis, juru bicara WMO, mengatakan pada sebuah pengarahan di Jenewa.

    “Hanya diperlukan satu kali badai untuk menghambat pembangunan sosio-ekonomi selama bertahun-tahun.” lanjutnya.

    Baca: Dunia bersiap menyambut fenomena La Nina pada Juli

    Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) memperkirakan akan terjadi 17 hingga 25 bibit badai dengan rata-rata kekuatan 14.

    Dari badai tersebut, delapan hingga 13 diperkirakan akan benar-benar menjadi badai.

    WMO mencatat, musim badai Atlantik yang biasa berlangsung dari Juni hingga November, mencatat aktivitas di atas rata-rata selama delapan tahun berturut-turut.

    “Peringatan dini telah membantu menyelamatkan nyawa dan benar-benar berhasil mengurangi angka kematian secara dramatis,“ ujarnya.

    Namun, imbuhnya, bahkan kerugian yang diderita negara-negara di pulau-pulau kecil di Karibia secara tidak proporsional baik dari segi ekonomi dan kehidupan.

    Baca: WMO sebut pemanasan global akan memicu bencana

    El Nino adalah suatu fenomena pemanasan suhu muka laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah.

    Sedangkan La Nina merupakan kebalikan dari El Nino yakni SML di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya.

    “Kandungan panas laut yang tinggi dan perkembangan peristiwa La Nina diperkirakan akan memicu musim badai yang sangat, sangat, sangat aktif tahun ini,” kata Nullis, dalam sebuah pengarahan di Jenewa, dikutip dari Reuters.com, Senin (27/5/2024).

    Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS atau NOOA memperkirakan El Nino akan menghilang secara perlahan pada Juni. Setelah El Nino berakhir, langsung akan berganti dengan fenomena La Nina pada paruh kedua tahun 2024 ini.

    Ada kemungkinan 49 persen bahwa La Nina akan berkembang selama periode Juni hingga Agustus dan meningkat menjadi 69 persen pada Juli hingga September.

    Baca: Pemanasan global memicu masalah serius pada lingkungan

    Para ahli telah memperingatkan bahwa negara-negara harus waspada terhadap peralihan cepat dari El Nino ke La Nina kali ini.

    Pasalnya, perubahan ini akan menyebabkan sektor pertanian sangat terdampak dan tidak punya banyak waktu untuk pulih.

    “La Nina kemungkinan besar akan mempengaruhi produksi gandum dan jagung di AS, serta kedelai, barley, gandum dan jagung di Amerika Latin termasuk Brasil, Argentina, dan Uruguay,” kata Sabrin Chowdhury, kepala komoditas di BMI.

    “Fenomena cuaca dikaitkan dengan kekeringan berkepanjangan di seluruh wilayah Amerika, memicu buruknya kualitas tanaman dan penurunan rata-rata hasil panen, sehingga semakin memperburuk masalah pangan global,” sambungnya.

  • Penjelasan Pakar Soal Apa yang Akan Terjadi Saat La Nina Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia

    Penjelasan Pakar Soal Apa yang Akan Terjadi Saat La Nina Melanda Sebagian Besar Wilayah Indonesia

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa sejak awal tahun, osilasi selatan El Niño (ENSO) yang terjadi tahun lalu mulai melemah.

    Namun, fase netral osilasi selatan El Niño ini justru diperkirakan berpeluang berkembang menjadi fenomena La Nina pada semester kedua 2024 atau periode Juli-Desember.

    Fenomena La Nina akan memicu kondisi lebih basah dibandingkan kondisi normal sehingga meningkatkan risiko hujan ekstrem.

    Pemerhati masalah lingkungan dan atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof Eddy Hermawan MSc mengatakan, El Nino dan La Nina juga menjadi perhatian dunia.

    Sebab, tujuh lembaga riset dunia dari Australia, Kanada Eropa, Perancis, Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang juga melakukan penelitian tentang ENSO.

    Hasilnya pun sama bahwa di bulan Juni hingga Juli 2024 suhu permukaan laut global berada pada kondisi normal. Namun, pada bulan Agustus hingga Oktober 2024, satu hingga dua lembaga tersebut menunjukkan hasil riset menggambarkan kehadiran fenomena La Nina.

    Baca Juga: WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    Meskipun demikian, menurutnya, tidak bisa dijadikan pertimbangan pasti jika La Nina akan terjadi secara global.

    “Prediksi dari lembaga lainnya tetap menunjukkan kondisi iklim normal,” katanya dikutip dari rilis di laman resmi ITB, dikutip Minggu (14/7/2024).

    Dalam riset tersebut dijelaskan, fenomena La Nina bisa terjadi ketika suhu permukaan laut berada pada rentang penyimpangan kurang dari -0,5 derajat Celcius. Sedangkan El Nino terjadi saat suhu permukaan laut ada di rentang lebih dari 0.5 derajat Celcius.

    Prediksi berbagai institusi dunia menyatakan pada 2024 suhu permukaan laut saat ini berada pada rentang -0.5 °C sampai 0.5 °C yang memiliki arti kondisi netral.

    Namun, Prof Eddy menjelaskan bila memandang kondisi cuaca dan musim di Indonesia tidak bisa hanya terfokus pada La Nina atau El Nino saja. Karena keadaan Indian Ocean Dipole (IOD) dapat meredam La Nina.

    “Seberapapun besarnya kekuatan La Nina, kalau oleh IOD diredam, maka tidak akan memberikan impact yang besar,” ujar Prof Eddy.

    Baca Juga: El Nino Berlalu, Indonesia Kini Bersiap Hadapi La Nina pada Juli Mendatang

    Sementara, Dosen Program Studi Meteorologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (FITB ITB) yang juga pemerhati sistem iklim, Dr Joko Wiratmo MP mengatakan, terkait terjadi kapan terjadinya La Nina, setiap daerah memiliki waktu yang berbeda tergantung wilayah dan sumber lembaga riset yang ada.

    Menurutnya, keadaan suhu permukaan laut yang netral, meskipun beberapa daerah mengalami kondisi kering tidak akan parah dibanding saat El Nino menyerang.

    “Terkait beberapa daerah di Indonesia seperti Jakarta hingga Banten, kalaupun ada kondisi kering di bulan Juni, Juli, Agustus (JJA), kondisi kering tidak akan parah dan peluang terjadinya hujan tidak akan berkurang atau bertambah signifikan,” katanya.

    Ia menambahkan, untuk mengetahui informasi lebih detail dapat dicari ke BMKG. Karena lembaga tersebut menggunakan data observasi yang lebih rinci dan tentu menghindari kesimpangsiuran informasi dan berita hoaks mengenai cuaca dan iklim di wilayah Indonesia.

    “Merekalah yang mempunyai hak resmi untuk menyatakan kondisi wilayah Indonesia. Apa yang kami sampaikan merupakan gambaran umum serta analisis cuaca dan musim yang kemungkinan akan terjadi dari perspektif regional global,” pungkasnya.

    Sumber:CNBCIndonesia

  • Cuaca Hari Ini: Siap Payung, Hujan Deras Disertai Petir Bakal Mengguyur Beberapa Wilayah

    Cuaca Hari Ini: Siap Payung, Hujan Deras Disertai Petir Bakal Mengguyur Beberapa Wilayah

    7cloud.asia – Kondisi cuaca hujan deras disertai petir diperkirakan akan mengguyur beberapa wilayah di Indonesia pada Kamis (08/08/2024).

    Dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah yang berpotensi hujan deras disertai petir adalah Kabupaten Bangka Selatan dan Bangka Tengah, Kabupaten Boalemo, Bone Bolango, Gorontalo, Gorontalo Utara, Gorontalo.

    Selain itu, wilayah Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Kotabaru, Tabalong, Tanah Bumbu, Barito Timur, Kapuas, Katingan, Kotawaringin Timur, Murung Raya, Seruyan, Sukamara juga berpotensi terjadi hujan deras.

    Kondisi cuaca serupa berpotensi terjadi di wilayah Kutai Kartanegara, Kota Balikpapan, Kota Samarinda, Bulungan, Malinau, Tana Tidung, Kota Tarakan, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Tidore Kepulauan.

    Baca: Banjir di Gorontalo capai 2 meter akibat hujan deras

    Wilayah Kampar, Pasangkayu, Mamuju Tengah, Enrekang, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Pinrang, Tana Toraja, Kota Palopo, Parigi Moutong, Banggai, Donggala dan Papua juga berpotensi hujan deras.

    Kemudian Kabupaten Agam, Kepulauan Mentawai, Lima Puluh Kota, Padang Pariaman, Pasaman, Pasaman Barat, Asahan, Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Mandailing Natal, Kota Tanjung Balai juga berpeluang hujan deras.

    Sedangkan hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Pekanbaru, Padang, Medan, Denpasar, Mataram, Palangka Raya, Tanjung Selor, Mamuju, Makassar, Kendari, Palu, Ambon, Nabire, Sorong, Manokwari, Jayapura, Jayawijaya.

    Sementara itu, untuk seluruh wilayah DKI Jakarta pada pagi hari diprediksi berawan tebal, dengan suhu rata-rata antara 27 hingga 29 derajat celcius.

    Baca: Musim kemarau kok masih hujan?

    Kondisi cuaca seperti ini masih berlanjut hingga siang hari dengan suhu berkisar antara 27 hingga 34 derajat celcius.

    Potensi hujan dengan intensitas ringan terjadi pada sore hari di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Tingkat kelembaban udara berkisar antara 74-86 persen.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati sebelumnya mengatakan ada peningkatan potensi hujan. Hal ini akibat adanya fenomena iklim La Nina dibeberapa wilayah yang diprakirakan berlangsung pada Agustus 2024.

    Fenomena La Nina merupakan banyaknya uap air yang masuk ke wilayah Indonesia, sehingga mengakibatkan banyaknya pertumbuhan awan-awan hujan yang akhirnya dapat meningkatkan potensi terjadi hujan.

     

  • Badan Meteorologi Australia: Pemanasan Global Mengakibatkan Prediksi La Nina dan El Nino Makin Sulit Dilakukan

    Badan Meteorologi Australia: Pemanasan Global Mengakibatkan Prediksi La Nina dan El Nino Makin Sulit Dilakukan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Australia mengubah cara mereka mengkomunikasikan fenomena iklim seperti El Niño dan La Niña. Alasannya pemanasan global membuat prediksi berdasarkan masa lalu menjadi kurang dapat diandalkan.

    Minggu ini, Badan Meteorologi Australia mengingatkan warga dalam “waspada La Niña” dan mengatakan jika sistem iklim di Pasifik benar-benar berkembang, kemungkinan besar fenomena tersebut hanya berumur pendek dan lemah.

    Secara historis, fenomena La Niña terjadi saat air hangat berkumpul di bagian utara Australia– dikaitkan dengan kondisi yang lebih dingin dan basah di seluruh barat laut Australia hingga tenggara.

    Sementara, fenomena El Niño seringkali diartikan kondisi atmosfer yang lebih hangat dan kering.

    Namun Dr Karl Braganza, manajer nasional layanan iklim di Badan Meteorologi Australia mengatakan, perubahan iklim dan kenaikan suhu lautan membuat pola lama tersebut menjadi kurang dapat diandalkan.

    Perubahan iklim mungkin tidak “menghancurkan” hal tersebut, katanya, “tetapi frekuensi ketidakkonsistenan iklim dengan apa yang kita lihat di masa lalu akan semakin meningkat”.

    Badan Meteorologi Australia menerbitkan informasi terkini secara berkala mengenai “pendorong iklim” seperti El Niño, La Niña, dan kondisi di Samudera Hindia yang dapat mempengaruhi curah hujan.

    Braganza mengatakan pihaknya mendorong masyarakat untuk melihat perkiraan jangka panjangnya daripada terlalu bergantung pada pemahaman berdasarkan masa lalu.

    Selama dekade terakhir, Badan Meteorologi Australia telah mengembangkan versi yang disebut “model dinamis” untuk prakiraan jangka panjang 90 hari.

    Versi saat ini, ACCESS-S, melakukan pengamatan terhadap lautan dan atmosfer, termasuk perubahan konsentrasi gas rumah kaca, dan menghasilkan prakiraan berdasarkan fisika.

    Braganza mengatakan model statistik lama yang berdasarkan prediksi pada pengamatan sejarah “berfungsi dengan baik dalam iklim yang stasioner”, namun model dinamis ini sekarang lebih berguna.

    “Ini tidak bergantung pada masa lalu, tapi pada informasi terkini.”

    Braganza mencontohkan El Niño tahun lalu. El Niño secara historis dikaitkan dengan kondisi panas dan kering, tetapi setelah awal musim panas, terjadi hujan lebat pada bulan Desember dan Januari.

    “Model dinamis menangkap hujan tersebut,” kata Braganza.

    Seperti kebanyakan prakiraan cuaca, kata Braganza, ACCESS-S tidak dapat memberikan akurasi 100persen: semakin jauh jaraknya, hasilnya juga semakin tidak akurat.

    Model ini digunakan terus-menerus dan memberikan perkiraan jangka panjang berdasarkan hasil 99 model yang dijalankan yang memberikan kemungkinan curah hujan dan suhu di atas atau di bawah rata-rata.

    “Ini adalah perkiraan yang bersifat probabilistik, jadi ketika Anda mengatakan ada kemungkinan 70persen curah hujan di atas rata-rata, itu juga berarti ada kemungkinan 30persen curah hujan di bawah rata-rata,” katanya.

    Ia menambahkan, “Masyarakat perlu menggunakannya untuk melindungi risiko mereka, dibandingkan menggunakannya untuk memandu seluruh operasi mereka.”

    Braganza mengatakan pihaknya menyadari bahwa beberapa komunitas mengembangkan ekspektasi mereka sendiri terhadap curah hujan atau suhu “berdasarkan pengetahuan mereka tentang sejarah” yang menjadi pemicu iklim seperti El Niño yang seringkali lebih kering.

    Jika kami mengatakan, ‘ada El Niño’, kami menemukan bahwa masyarakat membuat prakiraan curah hujan sendiri,” katanya.

    Cuaca Australia dipengaruhi oleh tiga kali La Niña yang jarang terjadi pada tahun 2020 hingga 2023, diikuti oleh El Niño yang berakhir pada bulan April.

    La Niña adalah fase El Niño Southern Oscillation (Enso) yang terkait dengan suhu permukaan laut yang lebih dingin dari rata-rata di wilayah Pasifik khatulistiwa.

    Biro tersebut mengatakan minggu ini bahwa suhu permukaan laut global merupakan rekor terpanas setiap bulannya, mulai April 2023 hingga Juni 2024.

    Juli dan Agustus tahun ini hanya sedikit lebih rendah dari rekor suhu tahun lalu, “tetapi jauh lebih hangat dibandingkan tahun-tahun lainnya sejak pengamatan dimulai. .pada tahun 1854”.

    Badan Meteorologi Australia mengatakan tiga dari tujuh model iklim internasional, termasuk modelnya sendiri, menunjukkan bahwa suhu tropis Pasifik dapat melampaui ambang batas La Niña mulai bulan Oktober dan tiga model lainnya memiliki suhu yang mendekati ambang batas tersebut.

    Badan Cuaca Nasional AS mengatakan ada kemungkinan 71persen kemungkinan terjadinya La Niña yang lemah sebelum bulan November.

    Sumber:TheGuardian

  • La Nina Berpotensi Terjadi Hingga Maret 2025, Begini Dampaknya di Indonesia

    La Nina Berpotensi Terjadi Hingga Maret 2025, Begini Dampaknya di Indonesia

    7cloud.asia – Fenomena La Nina berpotensi muncul hingga Maret 2025 dan berdampak pada curah hujan yang tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) dalam laman resminya.

    “La Nina diperkirakan akan muncul pada bulan September-November (peluang 60%) dan diperkirakan akan bertahan hingga Januari-Maret 2025,” demikian NOAA dalam laman resminya.

    La Nina sendiri  merupakan kebalikan dari fenomena El Nino yaitu kondisi naiknya suhu permukaan laut yang dapat berakibat pada kekeringan ekstrem seperti yang terjadi di Indonesia pada tahun lalu.

    Baca: BMKG ajak masyarakat waspada potensi banjir

    Berdasarkan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), La Nina merupakan keadaan suhu permukaan laut (SPL) atau sea surface temperature (SST) di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin dibandingkan suhu normalnya.

    Kondisi ini biasanya diikuti dengan berubahnya pola sirkulasi Walker (sirkulasi atmosfer arah timur barat yang terjadi di sekitar ekuator) di atmosfer yang berada di atasnya dan dapat mempengaruhi pola iklim dan cuaca global.

    Kondisi La Nina ini dapat berulang dalam beberapa tahun sekali dan setiap kejadian dapat bertahan sekitar beberapa bulan hingga dua tahun.

    Baca: Akibat pemanasan global, El Nino dan La Nina sulit diprediksi

    Sementara itu Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan dari data BMKG suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah cenderung mendingin dan hampir menyentuh batas La Nina.

    Kondisi ini terjadi selama Agustus hingga awal Oktober 2024. Ardhasena mengungkapkan suhu permukaan laut akan terus mendingin dan diperkirakan akan berlanjut hingga Maret 2025.

    “Fenomena La Nina terjadi di Samudra Pasifik, tapi akan berdampak secara global, termasuk di Indonesia,” kata Ardhasena seperti yang dilansir Kompas.com.

    Baca: Transisi cepat El Nino ke La Nina memicu musim badai

    La Nina memberikan dampak yang beragam di wilayah Indonesia, terutama dampak terhadap curah hujan bulanan dan musiman. 

    Jika terjadi pada bulan Juni-Juli-Agustus (JJA), La Niña menyebabkan peningkatan curah hujan di hampir di sebagian besar wilayah Indonesia.

    Kemudian jika terjadi pada bulan September-Oktober-November (SON), La Niña berpengaruh pada meningkatnya curah hujan di wilayah tengah hingga timur Indonesia.

    Sedangkan pada Desember-Januari-Februari (DJF), dan Maret-April-Mei (MAM), La Niña berpengaruh pada meningkatnya curah hujan di wilayah Indonesia bagian timur.

    Baca: Indonesia harus bersiap dengan fenomena La Nina

    Peningkatan curah hujan saat La Niña umumnya berkisar 20-40% lebih tinggi dibandingkan curah hujan saat tahun Netral. Namun, terdapat juga beberapa wilayah yang mengalami peningkatan curah hujan lebih dari 40%.

    Pada periode puncak musim hujan (DJF), La Nina tidak memberikan dampak peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan barat sebagai akibat interaksinya dengan sistem monsun.

    Dengan adanya fenomena La Nina ini, peningkatan curah hujan berpotensi menimbulkan banyak bencana hidrometeorologi, air dan atmosfer. Misalnya banjir, longsor, angin putting beliung, dan lain-lain.

  • BMKG: Hujan Awal November Tandai Berakhirnya Tren Suhu Panas di Indonesia

    BMKG: Hujan Awal November Tandai Berakhirnya Tren Suhu Panas di Indonesia

    7cloud.asia – Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia pada awal November ini menandai berakhirnya tren suhu panas maksimum di Tanah Air pada tahun 2024.

    Hasil analisa iklim dari tim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, saat ini hujan masuk secara gradual ke wilayah Indonesia menggusur suhu panas, karena La Nina sudah mulai aktif kembali dalam kategori lemah.

    Deputi Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan saat di konfirmasi di Jakarta, Selasa (5/11/2024) mengatakan terus menjauhnya keberadaan beberapa siklon tropis dari wilayah Indonesia juga berkontribusi dalam pertumbuhan awan hujan tersebut.

    Sejumlah siklon tropis seperti Trami dan Kong-Rey sebelumnya terpantau oleh tim BMKG sejak Selasa (21/10/2024), berada di sekitar 14,5 derajat Lintang Utara – 126,0 Bujur Timur Laut Filipina atau sekitar 1.240 kilometer sebelah utara Tahuna, Sulawesi Utara.

    Pergerakan siklon ber kecepatan 74 kilometer per jam (kategori II) saat itu telah menarik awan potensial, sehingga suhu di wilayah Indonesia menjadi panas karena tidak ada tutupan awan yang menghalangi paparan sinar matahari yang sedang tepat di atas khatulistiwa.

    Baca: BMKG ajak masyarakat bersiap hadapi musim hujan

    BMKG sempat mencatat suhu panas maksimum di Indonesia berada pada rentang 37 – 38,4 derajat Celcius pada akhir Oktober 2024, salah satunya menyasar wilayah Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Ardhasena menjabarkan periode La Nina ini diprakirakan mulai berlangsung dari November 2024 dan berakhir pada kuartal pertama 2025, setelah itu diyakini tidak ada gangguan iklim signifikan di Indonesia secara umum.

    BMKG mengklasifikasikan terdapat 67 persen wilayah Indonesia yang berpotensi mendapatkan curah hujan tahunan lebih dari 2.500 mm/tahun pada 2025.

    Wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan tinggi antara lain adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau bagian barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung bagian utara.

    Juga Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah bagian barat, sebagian kecil Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi bagian tengah dan selatan, sebagian Bali, sebagian kecil NTT, Kepulauan Maluku, dan Papua.

    Baca: Minim ruang terbuka hijau, kota-kota di belahan bumi selatan rawan alami suhu panas

    Selain itu terdapat sekitar 15 persen wilayah Indonesia yang diprediksi mengalami curah hujan tahunan di atas normal, antara lain sebagian kecil Aceh, Riau, Sulawesi bagian tengah dan utara

    Sebagian kecil Sulawesi Selatan bagian selatan, sebagian kecil Sulawesi tenggara, sebagian kecil NTT, sebagian kecil kepulauan Maluku, dan sebagian Papua bagian tengah.

    Kendati demikian BMKG mendorong semua pihak agar memanfaatkan curah hujan untuk mengisi waduk, bendungan, irigasi, dan embung-embung

    Hal ini guna menjamin ketahanan air dan energi persiapan musim kering yang dapat memicu bencana kekeringan hingga kebakaran kawasan hutan dan lahan (karhutla) tahun depan.

    Dalam hal ini BMKG memetakan sebanyak satu persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami hujan di bawah normal antara lain Sumatera Selatan bagian barat, Bali, NTT, NTB, Maluku utara, dan Papua Barat bagian utara, pada medio Mei-Juli 2025.

  • BMKG: Waspada, La Nina Hingga April 2025 Bisa Picu Bencana Hidrometeorologi

    BMKG: Waspada, La Nina Hingga April 2025 Bisa Picu Bencana Hidrometeorologi

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena La Nina akan terus berlangsung hingga April 2025. Masyarakat diimbau mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.

    Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Jakarta, Jumat (22/11/2024) menjelaskan fenomena La Nina ini mengakibatkan potensi penambahan curah hujan antara 20 hingga 40 persen.

    “Kami mengimbau masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapinya karena fenomena ini dapat berdampak signifikan pada kondisi cuaca. Utamanya bagi masyarakat yang bermukim di wilayah perbukitan, lereng-lereng gunung, dataran tinggi, juga sepanjang bantaran sungai,” ungkap Dwikorita.

    Baca: BMKG ajak masyarakat waspada bencana hingga Desember 2025

    Selanjutnya Dwikorita menjelaskan fenomena La Nina ini berpotensi mengakibatkan berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung.

    Termasuk, lanjut dia, bencana banjir lahar hujan yang berpotensi terjadi ketika air hujan bercampur dengan material vulkanik dari gunung berapi.

    Lahar hujan ini berupa pasir, abu, dan bebatuan serta kayu atau pohon yang terjadi terutama untuk gunung api yang saat ini sedang atau baru saja mengalami erupsi.

    Karena itu, Dwikorita mengajak seluruh komponen baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun masyarakat agar mewaspadai dan melakukan mitigasi bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi.

    Baca: Awas bencana hidrometeorologi di musim hujan

    Fenomena La Nina merupakan fenomena anomali iklim global yang diakibatkan oleh suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mendingin, lebih dingin dibandingkan biasanya.

    Fenomena ini berlangsung mulai November atau akhir tahun 2024 hingga setidaknya Maret atau April 2025. Dwikorita menjelaskan ada dua faktor utama yang mempengaruhi cuaca dan iklim di Indonesia pada tahun 2025.

    Pertama, adanya penyimpangan suhu muka laut di Samudra Pasifik, Samudra Hindia, dan perairan Indonesia.

    Penyimpangan suhu di wilayah ini berhubungan erat dengan fenomena La Nina Lemah, yang berpotensi menyebabkan peningkatan curah hujan di Indonesia.

    Kedua, adanya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga mempengaruhi distribusi hujan di wilayah Indonesia.

    Baca: BMKG keluarkan peringatan dini banjir di sejumlah wilayah

     

    Berdasarkan analisis dinamika atmosfer dan lautan, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia pada 2025 akan mengalami curah hujan tahunan dalam kategori normal, dengan jumlah berkisar antara 1.000 hingga 5.000 mm per tahun.

    Sebanyak 67% wilayah Indonesia diprediksi akan menerima curah hujan lebih dari 2.500 mm per tahun (kategori tinggi), meliputi sebagian besar Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau bagian barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan.

    Selain itu wilayah Bangka Belitung, Lampung bagian utara, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi bagian tengah dan selatan, serta sebagian besar wilayah Papua juga akan menerima curah hujan yang tinggi.

    Sementara itu, 15% wilayah diprediksi mengalami curah hujan di atas normal, termasuk sebagian kecil Sumatera, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Maluku, dan Papua bagian tengah.

    Di sisi lain, 1% wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami curah hujan di bawah normal, seperti di Sumatera Selatan bagian barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku Utara.

     

  • Fenomena La Nina Landa Indonesia, Ini Dampak Positifnya

    Fenomena La Nina Landa Indonesia, Ini Dampak Positifnya

    7cloud.asia – Fenomena La Nina yang sedang terjadi berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Namun, sebenarnya fenomena ini dapat berdampak positif untuk masyarakat.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan peluang positif akibat La Nina dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

    Menurutnya, melimpahnya air hujan akibat La Nina dapat dimanfaatkan secara optimal guna mendukung ketahanan pangan dan air serta energi.

    Di sektor pertanian, papar Dwikorita, petani memiliki peluang percepatan tanam, perluasan area tanam padi baik di lahan sawah irigasi, tadah hujan, maupun ladang.

    Baca: Waspada La Nina yang picu bencana hidrometeorologi hingga April 2025

    Selain itu, Dwikorita mengatakan dengan langkah mitigasi yang tepat, tingginya curah hujan akibat La Nina juga bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas tampungan air di bendungan dan waduk.

    Hal ini akan mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air secara maksimum sehingga menjamin pasokan energi listrik.

    Masyarakat, tambah dia, dapat memanen air hujan atau rainwater harvesting dan digunakan saat musim kemarau tiba guna mengantisipasi kekeringan.

    “Untuk itu, penting untuk terus menjaga kualitas infrastruktur seperti bendungan dan waduk agar siap digunakan sepanjang tahun. Selain itu, optimalisasi drainase dan tampungan air harus disiapkan guna menghadapi musim kemarau berikutnya,” jelas Dwikorita.

    Baca: Kapan La Nina melanda Indonesia

    La Nina merupakan fenomena anomali iklim global yang diakibatkan oleh suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mendingin, lebih dingin dibandingkan biasanya.

    Fenomena ini berlangsung mulai November atau akhir tahun 2024 hingga setidaknya Maret atau April 2025. 

    Sebelumnya BMKG telah menjelaskan meski lemah, fenomena La Nina ini mengakibatkan potensi penambahan curah hujan antara 20 hingga 40 persen.

    Dampaknya adalah bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang dan lain-lain.