7cloud.asia – Fenomena La Nina yang sedang terjadi berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Namun, sebenarnya fenomena ini dapat berdampak positif untuk masyarakat.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan peluang positif akibat La Nina dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, melimpahnya air hujan akibat La Nina dapat dimanfaatkan secara optimal guna mendukung ketahanan pangan dan air serta energi.
Di sektor pertanian, papar Dwikorita, petani memiliki peluang percepatan tanam, perluasan area tanam padi baik di lahan sawah irigasi, tadah hujan, maupun ladang.
Baca: Waspada La Nina yang picu bencana hidrometeorologi hingga April 2025
Selain itu, Dwikorita mengatakan dengan langkah mitigasi yang tepat, tingginya curah hujan akibat La Nina juga bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas tampungan air di bendungan dan waduk.
Hal ini akan mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air secara maksimum sehingga menjamin pasokan energi listrik.
Masyarakat, tambah dia, dapat memanen air hujan atau rainwater harvesting dan digunakan saat musim kemarau tiba guna mengantisipasi kekeringan.
“Untuk itu, penting untuk terus menjaga kualitas infrastruktur seperti bendungan dan waduk agar siap digunakan sepanjang tahun. Selain itu, optimalisasi drainase dan tampungan air harus disiapkan guna menghadapi musim kemarau berikutnya,” jelas Dwikorita.
Baca: Kapan La Nina melanda Indonesia
La Nina merupakan fenomena anomali iklim global yang diakibatkan oleh suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mendingin, lebih dingin dibandingkan biasanya.
Fenomena ini berlangsung mulai November atau akhir tahun 2024 hingga setidaknya Maret atau April 2025.
Sebelumnya BMKG telah menjelaskan meski lemah, fenomena La Nina ini mengakibatkan potensi penambahan curah hujan antara 20 hingga 40 persen.
Dampaknya adalah bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang dan lain-lain.

Leave a Reply