Tag: laki-laki

  • Polusi dan Gaya Hidup Turunkan Kesuburan Laki-laki, Ini Langkah Mengatasinya

    Polusi dan Gaya Hidup Turunkan Kesuburan Laki-laki, Ini Langkah Mengatasinya

    7cloud.asia – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa gangguan reproduksi atau susah memiliki anak dialami oleh 1 dari 6 orang di seluruh dunia.

    Sayangnya, stigma negatif masyarakat sering kali menyalahkan perempuan ketika pasangan suami istri belum memiliki keturunan. Padahal 30 persen penyebabnya berasal dari laki-laki.

    Sebuah penelitian tahun 2023 menemukan bahwa jumlah sperma laki-laki di dunia dalam setengah abad terakhir menurun lebih dari 50 persen sejak tahun 1970-an. Penurunan ini terjadi hampir di semua wilayah, termasuk Asia.

    Selain memperkecil peluang kehamilan, penurunan jumlah sperma menjadi sinyal serius bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam pola hidup dan lingkungan kita.

    Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa polusi udara sangat memengaruhi kualitas sperma. Studi tahun 2022 dalam jurnal Science of The Total Environment mengungkap bahwa polusi yang kita hirup setiap hari bisa mengurangi jumlah sperma.

    Selain polusi dan faktor lingkungan, gaya hidup tidak sehat juga berperan besar. Kebiasaan merokok, minum alkohol, kurang tidur, dan konsumsi makanan tinggi lemak bisa menurunkan kualitas sperma secara perlahan.

    Gaya hidup tidak sehat bisa memicu obesitas yang terbukti menurunkan kadar hormon seks laki-laki, testosteron.

    Sementara itu, stres kronis dan kurang istirahat dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon testosteron yang berujung pada gangguan produksi sperma.

    Sayangnya, banyak laki-laki enggan memeriksakan diri ketika pasangan sulit hamil. Budaya dan stigma membuat masalah kesuburan sering dianggap urusan perempuan semata.

    Baca: Polusi dan perubahan iklim picu infertlitas pada laki-laki

    Dampak sosial yang jarang dibicarakan
    Infertilitas bukan hanya masalah medis, tetapi juga persoalan emosional dan sosial. Banyak pasangan mengalami tekanan dari keluarga, lingkungan, bahkan diri sendiri ketika belum memperoleh keturunan.

    Beberapa pasangan bahkan mencoba berbagai pengobatan alternatif tanpa panduan medis, karena keputusasaan dan tekanan sosial.

    Masalah ini juga memiliki dampak ekonomi. Biaya pemeriksaan dan terapi kesuburan bisa mencapai Rp4 — 60 juta, sementara akses layanan andrologi (masalah kesehatan pada sistem reproduksi dan seksual laki-laki) di Indonesia masih terbatas.

    Jumlah dokter spesialis andrologi di Indonesia pada 2024 sekitar 108 orang, dan mayoritas terkonsentrasi di kota besar.

    Cegah dengan pola hidup sehat
    Sebenarnya, terdapat beberapa cara untuk mengurangi risiko penyebab infertilitas, seperti:

    1. Berhenti merokok dan membatasi konsumsi alkohol.

    2. Menjaga berat badan ideal dan rutin berolahraga.

    3. Tidur cukup dan mengelola stres.

    4. Mengurangi paparan polusi dan panas berlebih (misalnya memangku laptop terlalu lama).

    5. Konsumsi makanan kaya antioksidan, seperti buah, sayur, ikan, dan biji-bijian.

    Selain upaya pribadi, pemerintah juga perlu menyediakan layanan kesehatan untuk membantu pemeriksaan infertilitas.

    Skrining kesuburan laki-laki bisa dimasukkan ke dalam layanan kesehatan primer, sama seperti pemeriksaan tekanan darah atau kolesterol.

    Pendidikan tentang kesehatan reproduksi laki-laki juga penting diajarkan sejak dini, agar laki-laki lebih sadar dan terbuka membicarakan kesehatannya sendiri.

    Dengan pemeriksaan yang tepat, gaya hidup sehat, dan dukungan tenaga medis, kualitas sperma dapat terjaga sehingga peluang untuk memiliki keturunan tetap terbuka.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: William William (Staff Pengajar Departemen Biologi Kedokteran, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)

  • Studi: Kromosam Y yang Tentukan Jenis Kelamin Laki-laki Bisa Hilang Seiring dengan Bertambahnya Usia

    Studi: Kromosam Y yang Tentukan Jenis Kelamin Laki-laki Bisa Hilang Seiring dengan Bertambahnya Usia

    7cloud.asia – Penelitian mengungkap kromosom Y yang menentukan jenis kelamin laki-laki pada manusia dapat melemah.

    Dilansir sciencealert.com, dalam 5 juta tahun ke depan, beberapa ahli genetika berpendapat bahwa kromosom Y penentu jenis kelamin ini akan hilang sepenuhnya dari spesies kita.

    Sementara itu, kita memiliki kekhawatiran yang lebih besar. Seiring bertambahnya usia, beberapa laki-laki kehilangan kromosom Y dalam darah, otak, atau sel imun mereka, dan hal itu dapat berdampak serius pada kesehatan.

    Kehilangan kromosom Y memiliki hubungan yang mengejutkan dengan kanker, penyakit ginjal, penyakit jantung, dan Alzheimer.

    Selama beberapa dekade, para peneliti telah memperhatikan bahwa seiring bertambahnya usia beberapa laki-laki, sel-sel tertentu dalam tubuh mereka mulai kehilangan kromosom Y.

    Di antara laki-laki berusia 70 tahun, sekitar 40 persen menunjukkan kehilangan Y dalam sel darah mereka, dan di antara laki-laki berusia 93 tahun, angka itu meningkat menjadi 57 persen.

    Baca: Polusi dan Perubahan Iklim Picu Infertilitas pada Laki-laki

    Dahulu, kehilangan kromosam Y ini dianggap sebagai penanda penuaan yang ‘jinak’.
    Namun baru-baru ini, bukti genetik yang muncul menunjukkan bahwa kurangnya kromosom Y di beberapa sel mungkin secara aktif berkontribusi pada kematian dan penyakit.

    Kromosom Y dikenal sangat penting untuk penentuan jenis kelamin dan fungsi sperma, tetapi secara historis, kromosom ini tidak dianggap memiliki fungsi lain yang signifikan.

    Meskipun terdapat di sebagian besar sel tubuh, kromosom kecil yang aneh ini tampaknya hanya diam saja. Kromosom ini merupakan unit yang rapuh dan rewel yang sering menyebabkan mutasi selama replikasi.

    Dari 46 kromosom yang terdapat di sebagian besar sel manusia, kromosom Y adalah satu-satunya yang dapat hilang tanpa menyebabkan kematian sel. Namun, bukan berarti kromosom ini dapat hilang tanpa masalah.

    Pada tahun 2022, sebuah penelitian menemukan bahwa ketika sel imun khusus di jantung tikus kekurangan kromosom Y, hal itu menyebabkan disfungsi kardiovaskular dan kematian.

    Studi klinis lebih lanjut menunjukkan bahwa di antara pria lanjut usia, mereka yang mengalami kehilangan kromosom Y lebih mungkin meninggal lebih awal atau mengembangkan kanker.

    Baca: Polusi dan Gaya Hidup Turunkan Kesuburan Laki-laki

    Meskipun kehilangan ini jarang terjadi pada individu yang lebih muda, hal ini juga dapat dikaitkan dengan infertilitas dan cacat perkembangan.

    Pada tahun 2023, para peneliti menemukan bahwa hingga 40 persen laki-laki lanjut usia dengan kanker kandung kemih kekurangan kromosom Y dalam tumor mereka.

    Karena laki-laki memiliki kemungkinan hingga lima kali lebih besar untuk mengembangkan kanker kandung kemih daripada perempuan, hal ini membuat beberapa ilmuwan menduga bahwa kromosom Y berperan dalam penyakit tersebut.

    Bukti awal mendukung gagasan tersebut. Pada tahun 2025, sebuah studi menemukan bahwa sel imun yang kekurangan kromosom Y kurang efektif dalam menyerang sel kanker.

    Pada tahun yang sama, sebuah tinjauan menyimpulkan bahwa hilangnya kromosom Y kemungkinan penting dalam membentuk aktivitas sistem imun laki-laki.

    Meskipun kromosom Y mengandung sekitar 0,9 persen dari total DNA dalam sel laki-laki, kromosom ini baru sepenuhnya diurutkan beberapa tahun yang lalu.

    Baca: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini di Seluruh Dunia

    Sejak saat itu, kemajuan dalam pengurutan genom telah mengantarkan era baru untuk penelitian kromosom Y.

    Studi baru saja dimulai, tetapi temuan awal ini menunjukkan bahwa kromosom Y mungkin terlibat dalam lebih banyak fungsi seluler daripada yang diasumsikan para ilmuwan sebelumnya.

    Dalam beberapa hal, itulah mengapa ahli biologi evolusi Jennifer Hughes berpikir bahwa kromosom Y tidak ditakdirkan untuk lenyap dari spesies kita.

    “Gen yang dipertahankan pada kromosom Y memiliki fungsi penting di seluruh tubuh, sehingga tekanan selektif untuk mempertahankan gen-gen tersebut terlalu besar untuk hilang,” jelas Hughes kepada ScienceAlert pada tahun 2025.

    Namun, tidak semua orang yakin dengan logika tersebut.

     

    Ahli biologi evolusi Jenny Graves setuju dengan Hughes bahwa gen pada kromosom Y penting dan mungkin terkait dengan kesehatan dan penyakit. Namun, ia berpendapat bahwa gen-gen penting seperti ini selalu dapat ‘diambil alih’ oleh kromosom lain.

    “Ya, ada gen inti yang sangat terkonservasi. Tetapi tikus berduri dan tikus tanah tidak kesulitan memindahkan atau menggantinya,” katanya kepada ScienceAlert pada tahun 2025.

    Mamalia ini tidak lagi memiliki kromosom Y; kromosom lain telah mengambil alih peran penentuan jenis kelamin.

    Ini adalah pengingat yang baik bahwa gen tidak memiliki masalah untuk ‘melompat kapal’. Kromosom Y mungkin sedang mengalami penurunan, suka atau tidak suka. Saat ini, kromosom Y manusia hanya mempertahankan 3 persen gen leluhurnya.

    Apa yang tersisa mungkin menyimpan petunjuk bukan hanya tentang kesehatan kaum laki-laki saat ini, tetapi juga tentang sejarah evolusi spesies manusia dan masa depannya.