Tag: lambung

  • Solusi Menurunkan Berat Badan dengan Bedah Bariatrik, Amankah?

    Solusi Menurunkan Berat Badan dengan Bedah Bariatrik, Amankah?

    7cloud.asia – Memiliki berat badan yang ideal pasti menjadi dambaan setiap perempuan. Berbagai usaha dilakukan agar bisa mendapatkan berat badan ideal. Salah satunya dengan bedah bariatrik atau bedah pemotongan bagian lambung.

    Operasi ini pula yang pernah dijalani oleh artis Melly Goeslaw tahun lalu. Putri dari musisi Melky Goeslaw ini berhasil menurunkan berat badannya hingga 21 kilogram dalam waktu beberapa bulan saja.

    Penurunan berat badan secara drastis ini membuat pangling orang-orang hingga banyak yang mencari tahu tentang bedah bariatrik.

    Di Indonesia metode bedah bariatrik untuk menurunkan berat badan memang belum belum banyak dilakukan.

    Seorang ahli bedah invasif minimal dan laparoskopik lanjutan di St. Luke’s Medical Center, Filipina, Dr. Jonathan D. Adora, M.D., menjelaskan bedah bariatrik pertama kali dilakukan di St. Luke’s Medical Center untuk pasien dengan indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 50.

    Dr. Jonathan yang menganggap obesitas itu penyakit karena banyak sekali penyakit lain yang meliputinya.

    Saat itu, metode pembedahan yang dilakukan melalui metode pembedahan terbuka gastric bypass.

    Tetapi seiring dengan berjalanannya waktu, saat ini dengan metode pembedahan metode pembedahan laparoskopik minimal invasif semakin aman dan tidak terlalu sulit lagi.

    Ahli bedah saluran cerna di Mayapada Hospital Lebak Bulus, Dr. Errawan Wiradisuria, SpB-KBD, M.Kes menjelaskan di Indonesia ada beberapa syarat untuk pembedahan bariatik.

    Salah satunya IMT orang tersebut harus diatas 30 untuk menjalani bedah bariatik. Tetapi IMT tidak selalu menjadi acuan untuk melakukan bedah bariatik.

    Presiden Perhimpunan Bedah Endolaparoskopik Indonesia (PBEI) ini memaparkan ada beberapa pertimbangan lain terhadap aktivitas dan keluhan.

    “Terutama kalau pasien yang hanya kelebihan berat badan, tetapi ingin menjalani operasi bedah bariatik,” kata Errawan.

    Sekjen Ikatan Ahli Bedah Digestif Indonesia ini mencontohkan IMT pasien belum mencapai 30, tetapi ia ingin melakukan bedah bariatik.

    Alasannya pasien tersebut memiliki sejumlah penyakit-penyakit penyerta seperti diabetes, jantung, hiperlipidemia (kelebihan lemak dalam darah), asma, dan hiperkolesterolemia (kelebihan kolesterol dalam darah), dll.

    Dr. Errawan menjelaskan ada dua jenis bedah bariatrik, yaitu yang sifatnya reversible (bisa dikembalikan ke keadaan semula) dan sebaliknya yang sifatnya irreversible (kondisinya tetap).

    Golongan reversible adalah metode gastric banding, di mana leher lambung akan diikat memakai band atau pita atau selang kecil yang terhubung ke sebuah pompa kecil yang ditanam bawah kulit.

    Kemudian pompa tersebut akan disuntikkan cairan steril menuju pita, dan pita bakal mengembang sehingga ‘mencekik’ leher lambung.

    Akibatnya, pasien akan menjadi cepat kenyang karena terbentuk lambung baru yang ukurannya lebih kecil.

    Sementara pembedahan tetap atau irreversible dilakukan dengan cara memotongan lambung dan rekonstruksi saluran pencernaan (laparoscopic sleeve gastrectomy).

    Dr. Errawan memaparkan rekonstruksi saluran pencernaan sangat perlu dilakukan.

    Hal ini membuat lambung beradaptasi yang mengakibatkan berat badan kembali naik di kemudian hari bisa dicegah.

    Bedah bariatik juga harus diikuti dengan mengubah gaya hidup, pola makan yang disiplin agar hasil pembedahan maksimal.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Mengandung Antioksidan, Konsumsi Madu Dapat Meredakan Gangguan Lambung

    Mengandung Antioksidan, Konsumsi Madu Dapat Meredakan Gangguan Lambung

    7cloud.asia – Sudah sejak lama herbal digunakan sebagai pengobatan alternatif di Indonesia. Salah satunya madu yang berkhasiat membantu meredakan gangguan lambung.

    Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI),  Dr. (Cand) dr. Inggrid Tania, M. Si menjelaskan madu dan kunyit merupakan antioksidan yang dapat membantu gangguan lambung.

    “Madu itu baik untuk pencernaan karena sifatnya antioksidan. Kalau antioksidan, apalagi juga dengan konsistensi tekstur seperti madu itu sifatnya melindungi mukosa lambung dan melindungi mukosa saluran pencernaan lain,” jelas Inggrid seperti yang dilansir Antaranews.

    Baca: Ini sejumlah manfaat kulit jahe

    Dalam talkshow bertepatan dengan Hari Jamu Nasional 2025 Minggu (25/05/2025) tersebut, Inggrid memaparkan madu mempunyai sifat anti peradangan. Sehingga sangat disarankan untuk penderita GERD (asam lambung naik ke kerongkongan).

    GERD atau gastroesophageal reflux merupakan gangguan pada sistem pencernaan manusia, yakni asam lambung dan isi perut mengalir kembali ke kerongkongan (esofagus).

    Aliran balik atau refluks inilah yang menyebabkan adanya sensasi perih dan panas seperti terbakar di bawah tulang dada atau dikenal dengan istilah heartburn.

    Ada beberapa gejala GERD yaitu rasa terbakar di dada, mual, rasa pahit di mulut, karies pada gigi, nyeri menelan atau kesulitan menelan, batuk kronis, sakit tenggorokan dan suara serak dan bau mulut.

    Baca: Manfaat minum susu sebelum tidur

    Selanjutnya Inggrid menjelaskan madu dapat pula bisa dikombinasikan dengan kunyit. Sebab kunyit memiliki sifat memperbaiki pencernaan.

    Selain itu, kunyit juga dapat mengatasi keluhan-keluhan dispepsia (rasa tidak nyaman pada perut bagian atas), membantu penyembuhan ulkus lambung dan mengurangi nyeri.

    “Madu dikombinasi dengan kunyit itu sangat baik, sangat cocok dan bisa diterima oleh biasanya semua orang, oleh tubuh semua orang. Karena sifatnya saling sinergi dan kalau biasanya dibuat menjadi suatu produk yang modern, berizin edar BPOM, akan lebih terstandar,” terangnya.

    Baca: Ini 5 kombinasi makanan agar tubuh merasakan manfaatnya

    Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) tahun 2018, GERD dan gastritis menjadi dua jenis penyakit lambung yang cukup umum di Indonesia. GERD memiliki prevalensi sebesar 40,8 persen, sementara gastritis sebesar 4,9 persen.

    Gastritis biasanya ditandai dengan keluhan nyeri ulu hati. Apabila penyakit ini dibiarkan terus menerus akan merusak fungsi Iambung dan akan meningkatkan risiko terkena kanker lambung hingga menyebabkan kematian.

     

     

  • Waspadai Gangguan Pencernaan Akibat Pengolahan Makanan yang Tidak Higienis

    Waspadai Gangguan Pencernaan Akibat Pengolahan Makanan yang Tidak Higienis

    7cloud.asia – Dear pembaca, mulai sekarang hati-hatilah saat jajan makanan. Pasalnya, pengolahan makanan yang tidak higienis serta sanitasi buruk bisa berdampak pada kesehatan lambung dan bahkan dapat memicu kematian.

    “Penanganan makanan yang tidak higienis, sanitasi yang buruk, dan air yang terkontaminasi menciptakan tempat berkembang biak bagi mikroba berbahaya,“ ujar Konsultan Bedah Umum dan Gastroenterologi Rumah Sakit Apollo Spectra, Kanpur, India dr. Saad Anwar dikutip dari Hindustan Times, Sabtu (13/9/2025).

    Adapun dampak dari pengolahan makanan yang tidak higienis, berkisar dari ketidaknyamanan lambung ringan hingga kondisi yang mengancam jiwa jika tidak ditangani atau diabaikan.

    Spesialis gastroenterologi itu mengatakan bahwa makanan dan air yang terkontaminasi bakteri, virus dan parasit bisa memicu infeksi, terutama pada anak dengan imunitas lemah.

    Baca: Sama-sama menyerang lambung, ini perbedaan GERD dan maag

    Ia menambahkan, makanan dan air yang terkontaminasi dapat menyebabkan infeksi dan diare parah. Berikut sejumlah gangguan yang disebabkan makanan yang terkontaminasi.

    Makanan dan air yang terkontaminasi bakteri seperti E.coli, salmonella, shigela dapat menyebabkan diare parah, muntah, kram perut dan demam bahkan beberapa kasus infeksi dapat menyebar ke aliran darah dan menyebabkan komplikasi serius.

    Gastroenteritis virus atau kerap disebut flu perut, virus norovirus dan rotavirus menyebar lewat makanan dan air yang tidak bersih, menyebabkan mual, diare encer, dehidrasi yang berbahaya bagi anak-anak.

    Infeksi parasit seperti Guardian dan entamoeba histolyca menyebabkan diare jangka panjang, kembung, kelelahan hingga malnutrisi jika tidak segera ditangani.

    Baca: Konsumsi madu dapat meredakan gangguan lambung

    Keracunan makanan yang disebabkan mikroba yang melepaskan racun karena makanan tidak disimpan dengan benar atau rusak menyebabkan diare, kembung, kelelahan dan malnutrisi.

    Saad menambahkan, terpapar secara berulang makanan dan air yang terkontaminasi virus dan bakteri tak hanya menyebabkan infeksi akut namun juga melemahkan lapisan usus.

    Pada gilirannya, kondisi ini akan mengganggu penyerapan nutrisi sehingga meningkatkan risiko sindrom iritasi usus besar atau masalah pencernaan kronis.

    Karena itu, Saan menyarankan para orang tua untuk selalu memperhatikan dengan baik higienitas makanan dan sanitasi lingkungan di tempat tinggalnya.