Tag: lampung

  • Kawanan Gajah Liar Rusak Kebun Kopi Milik Warga di Lampung Barat

    Kawanan Gajah Liar Rusak Kebun Kopi Milik Warga di Lampung Barat

    7cloud.asia – Kawanan gajah liar kembali masuk ke pemukiman dan merusak kebun kopi milik warga di Pemangku Rowo Agung, Pekon (Desa) Rowo Rejo, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat.

    Serangan gajah liar terjadi pada Minggu (7/7/2024) sore di Rawa Agung bawah sudah mendekati ke Simpang Mada dan berjarak sekitar 50 meter dari pemukiman.

    Pembina Satgas Konflik Gajah Suoh dan Bandar Negeri Suoh (BNS), Sugeng Hari Kinaryo Adi, mengatakan gajah-gajah itu merusak kebon coklat dan kebon kopi posisi sekarang di Pemangku Rowo Agung, Desa Rowo Rejo, Kecamatan Suoh.

    Ia mengatakan, posisi gajah liar tersebut saat ini masih berpencar menjadi dua kelompok. Oleh karena itu pihaknya saat ini terus melakukan pemantauan terhadap galah-gajah yang merusak kebun milik warga itu.

    “Posisi gajah tadi malam itu menyebar ada yang sudah masuk di persawahan ada yang masih ada di atas pemukiman, dan siang ini gajah ini juga berpencar.

    Baca Juga: Konflik Gajah Liar Versus Manusia di Bener Meriah Aceh, Karena Habitat Rusak?

    “Tadi masyarakat memantau ada 6 ekor, di atas kurang lebih 100 meter dari jalan, dan dekat kebon ini ada 6 ekor dan selebihnya ada didekat sawitan,” katanya dikutip Antaranews.com.

    Ia menjelaskan, hingga saat ini pihaknya bersama masyarakat setempat masih melakukan pemantauan terhadap kawanan gajah liar yang masuk pemukiman warga tersebut.

    Menurutnya, Satgas Lembah Suoh saat ini sudah melaksanakan penghadangan dan penghalauan kepada kawanan gajah liar tersebut.

    Sebelumnya diberitakan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) bersama Balai KSDA Bengkulu serta mitra (Repong Indonesia, YKWS, PILI, WCS dan YABI), telah berhasil memasang GPS Collar pada gajah liar yang ada di Lampung Barat, guna memantau posisi satwa dilindungi tersebut.

    Baca Juga: Kawanan Gajah Liar Rusak Rumah dan Kebun Warga Aceh Barat dan Aceh Timur

    Alat pelacak posisi kawanan gajah liar tersebut berupa sebuah kalung yang dipasang pada salah satu gajah yang ada pada kelompok gajah liar itu.

    “Pada 29 Maret 2023 telah terpasang GPS Collar pada kelompok gajah bernama kelompok “Jambul” yang berjumlah 6 ekor yang sedang berada di Pekon (Desa) Suka Marga, Kecamatan Suoh , Kabupaten Lampung Barat,” ujarnya.

    Serangan kawanan gajah liar ke perkebunan warga di Suoh, Lampung Barat ini sudah sering terjadi.

    Sebelumnya serangan kawanan gajah liar juga merusak lahan perkebunan milik warga di Talang Daiyah, Pekon (Desa) Sidorejo, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat.

    Baca Juga: SOS! Gajah Kalimantan Terancam Punah Masuk Daftar Merah IUCN Akibat Alih Fungsi Hutan

    Satgas Konflik Gajah Suoh dan Bandar Negeri Suoh bersama masyarakat setempat masih melakukan pemantauan terhadap kawanan gajah liar yang masuk pemukiman warga tersebut.

    Blokade dilakukan oleh warga bersama satgas untuk memastikan situasi di lokasi aman sehingga warga setempat tidak perlu mengungsi.

    Ia juga menjelaskan Satgas Lembah Suoh saat ini sudah melaksanakan penghadangan dan penghalauan kepada kawanan gajah liar tersebut.

    Menurutnya, kawanan gajah liar tersebut berjumlah 18 ekor dan diperkirakan sudah masuk ke dalam hutan kembali, namun pada malam hari mereka kembali ke pemukiman dan merusak rumah warga.

    Sumber: Antaranews.com

  • Lampung Kembangkan Wisata Hutan dengan Minat Khusus

    Lampung Kembangkan Wisata Hutan dengan Minat Khusus

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung tengah mengembangkan kawasan hutan di daerahnya menjadi tempat wisata untuk menarik wisatawan atau wisata hutan dengan minat khusus.

    Pengembangan wisata hutan dengan minat khusus ini akan memanfaatkan perhutanan sosial yang ada di Provinsi Lampung.

    “Sesuai arahan Penjabat Gubernur Lampung disini nanti, akan ada pengembangan potensi kawasan hutan yang tergabung dalam perhutanan sosial selain dengan pemanfaatan komoditi saja,” ujar Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung Yanyan Ruchyansyah di Bandarlampung, Rabu (9/10/2024)

    Ia mengatakan pengembangan potensi hutan itu dilakukan dengan memanfaatkan wisata dalam kawasan hutan yang tetap menjaga kelestarian kawasan hutan sebagai kawasan konservasi flora dan fauna.

    Baca: Mengenal hutan tropis terluas di dunia bernama Amazon

    Yanyan mengatakan, wisata dalam kawasan hutan sangat menarik dan menantang untuk dikembangkan maka pihaknya akan memanfaatkan potensi itu secara optimal.

    “Walaupun nantinya bertujuan bukan menjadi wisata massal. Tapi wisata dengan minat khusus yang harganya, seharusnya lebih baik nilainya dari pada wisata massal,” katanya.

    Dia menjelaskan di Provinsi Lampung saat ini sudah beroperasi beberapa tujuan wisata hutan yang dikelola oleh masyarakat, akan tetapi masih bersifat massal.

    “Walaupun skalanya memang masih massal, tapi kami akan mengarahkan supaya masyarakat di pinggir kawasan hutan bisa meningkatkan kualitas destinasi wisata hutan yang dikelola serta meningkatkan pelayanannya,” ucap dia.

    Baca: Indonesia punya dua hutan tropis terluas di dunia

    Ia melanjutkan dengan adanya peningkatan kualitas dan pelayanan di destinasi wisata hutan itu akan meningkatkan pula nilai jual destinasi.

    Walaupun jumlah wisatawan yang dilayani akan terbatas karena eksklusif bagi wisatawan yang gemar menjelajah, meneliti sekaligus menikmati keindahan hutan tanpa merusak.

    “Kami berharap dengan pengelolaan objek-objek wisata hutan dan masyarakat pinggir kawasan hutan bisa merasakan manfaat ekonomi dari situ serta akan mempertahankan bahkan meningkatkan kegiatan rehabilitasi hutan, agar kawasan hutan tidak rusak lagi,” katanya.

    Menurut dia, kawasan hutan tidak hanya dimanfaatkan dari hasil pengelolaan lahan aja, akan tetapi juga bisa dari bentang alam, keindahan dari sumber daya alam yang ada.

    Baca: Nilai ekonomi hutan mangrove

    Kegiatan ini, lanjut Yanyan, merupakan lanjutan implementasi dari pelaksanaan Festival Hutan Lampung yang dilakukan tahun lalu sebagai bagian upaya pemerintah meningkatkan kinerja untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

    “Jadi wisata hutan ini setidaknya bisa membantu mengedukasi wisatawan agar ikut serta menjaga hutan dengan merasakan langsung melimpahnya oksigen dan nyamannya suasana kalau hutan terjaga,” ujar dia.

    Sumber:Antaranews.com

  • Petani Kopi di Lampung Barat Merintis Pengolahan Kopi yang Tahan Perubahan Iklim

    Petani Kopi di Lampung Barat Merintis Pengolahan Kopi yang Tahan Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Indonesia merupakan salah satu negara produsen kopi terbesar dunia. Sayangnya, mayoritas produksi kopi masih menggunakan cara tradisional yang mengandalkan alam.

    Kondisi ini juga terjadi di Lampung Barat, kawasan penyumbang ekspor kopi robusta terbesar kedua di Indonesia.

    Karena bergantung dengan alam, petani kopi di daerah ini harus menghadapi tantangan mendasar, yakni dalam pengeringan biji kopi.

    Dalam cara tradisional, pengeringan mengandalkan sinar matahari yang dapat memakan waktu berminggu-minggu, bahkan hingga sebulan penuh apabila cuaca tidak menentu.

    Akibatnya, selain ancaman gagal panen, petani selalu dihantui risiko kualitas biji kopi menurun karena terlalu lembab dan kontaminasi mikroorganisme.

    Risiko tersebut tidak hanya membuat harga kopi di tingkat petani berfluktuasi liar. Jika anomali cuaca meluas di Lampung Barat, maka ekspor komoditas ini juga akan terganggu.

    Adaptasi teknologi pengering untuk menjamin produktivitas
    Untuk menjawab isu ini, tim dari Institut Teknologi Sumatra (Itera) berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) merintis pengembangan mesin pengering kopi berbasis polymer super absorbent (PSA).

    Program ini berjalan dengan dukungan pendanaan yang telah diberikan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program Skema Kosabangsa tahun anggaran 2025.

    Baca: Dampak perubahan iklim pada produksi kopi dunia

    Uji teknis alat ini melibatkan Gabungan Kelompok Tani Kopi Mukti Tani yang diketuai Kendro Haryanto di Pagar Dewa, Lampung Barat yang beranggotakan sekitar 30 petani untuk melihat proses uji coba pengeringan biji kopi menggunakan mesin ini.

    Sederhananya, mesin pengering bisa menjamin suhu ideal (60°C) yang dibutuhkan untuk proses pengeringan kopi. Alhasil, proses pengeringan yang biasanya menghabiskan waktu berhari-hari bisa tuntas dalam waktu 16-18 jam saja.

    Selain itu, alat ini juga sukses mempertahankan kadar air di bawah 12 persen. Batas tersebut memenuhi standar komoditas kopi ekspor seperti Cina yang menerima kopi dengan batas kadar air 8-12 persen.

    Karena pasokan gas dan bahan bakar minyak yang tergolong langka di Lampung Barat, mesin ini bisa dimodifikasi untuk menggunakan gas hasil pembakaran sekam padi. Penggunaan sekam padi juga bermanfaat untuk mengurangi limbah sekam padi yang menumpuk di halaman rumah.

    Sistem monitoring komoditas
    Melalui wawancara dengan tim, untuk lebih memudahkan petani kopi melakukan monitoring suhu dan kelembaban, mesin PSA yang dirancang ditambahkan sistem monitoring.

    Oleh karena itu, tim juga mengembangkan sistem monitoring berbasis internet of things (IoT) untuk memantau proses pengeringan secara real-time dari jarak jauh.

    Sistem yang dinamakan SIMOKO (Sistem Monitoring Pengering Biji Kopi), berfungsi sebagai mata dan otak alat pengering bagi petani. Sistem ini bisa mengukur dan memantau suhu serta kelembaban biji kopi dan alat pengering real-time dari jarak jauh.

    Data yang terekam selama sistem aktif bisa memudahkan petani dalam pengambilan keputusan berbasis data yang akurat. Alhasil, petani bisa memastikan biji kopi dikeringkan pada kondisi ideal, yang secara langsung meningkatkan kualitas dan konsistensi produk.

    Baca: Perubahan iklim dan anomali cuaca turunkan produksi kopi Indonesia

    Pengembangan selanjutnya
    Pengembangan mesin pengering kopi dan sistem monitoring ini memang masih perlu pengembangan lanjutan. Sistem monitoring misalnya, masih terkendala kestabilan jaringan internet di kawasan Lampung Barat.

    Yang paling mendasar ada pada permohonan paten yang masih dalam tahap proses penyelesaian atas teknologi yang diciptakan oleh Akhmad Zainal Abidin dari ITB. Paten berguna untuk memastikan teknologi ini tidak diklaim pihak lain.

    Kapasitas pengeringan juga perlu diuji coba dalam skala yang lebih besar, yaitu tonase (ton). Meskipun dalam uji coba terakhir tidak ada masalah, kapasitas pengeringan yang dilakukan hanya sebanyak 80 kilogram.

    Untuk memastikan proses pengeringan kopi makin optimal, rancangan sistem juga akan ditingkatkan kompleksitasnya. Nantinya mesin pengering akan diletakan di fasilitas green house atau rumah kaca.

    Meletakkan mesin pengering di dalam green house bisa meningkatkan utilitas mesin karena manajemen pembuangan hawa panas yang dihasilkan bisa disirkulasikan langsung kembali ke mesin menggunakan metode sirkulasi pembuangan internal.

    Setidaknya dampak strategis program ini sudah bisa memastikan kualitas produksi kopi yang lebih baik. Pun, para petani setempat juga bisa menerima adanya inovasi produksi seperti ini.

    Yang tidak kalah penting, edukasi juga akan terus ditingkatkan untuk meningkatkan literasi penerapan teknologi produksi para petani kopi di Pagar Dewa.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Hendry Wijayanti, Dosen Biologi, Institut Teknologi Sumatera. Hendry Wijayanti menerima dana dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi.