Tag: lamun

  • Ekosistem Lamun Punya Peran Penting Jernihkan Kawasan Pesisir, Tapi Sering Diabaikan

    Ekosistem Lamun Punya Peran Penting Jernihkan Kawasan Pesisir, Tapi Sering Diabaikan

    Pelatihan pemantauan lamun berbasis warga di pesisir Pante Deere, Alor, NTT Foto: Dugong Seagrass/Flickr)

    7cloud.asia – Padang lamun merupakan suatu ekosistem perairan dangkal yang menjadi tempat hidup bagi berbagai jenis tumbuhan laut berbunga serta beragam jenis ikan, kerang, penyu, kuda laut dan dugong.

    Ekosistem Lamun ini terbukti secara saintifik mampu memberikan banyak manfaat yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia dan berbagai makhluk laut.

    Ekosistem lamun ini antara lain berfungsi untuk menjernihkan perairan, mencegah sedimentasi, melindungi pantai dari gelombang ekstrem, hingga menjadi sarana rekreasi.

    Sayangnya, meskipun menyediakan banyak manfaat, ekosistem lamun masih kalah populer dibandingkan ekosistem pesisir lainnya seperti hutan mangrove dan terumbu karang.

    Ekosistem lamun juga masih menjadi “anak tiri” dalam penelitian dan strategi perlindungan ekosistem di tingkat global.

    Baca Juga: Pentingnya Tindakan Kolektif Tuk Atasi Sampah Plastik yang Mencemari Lingkungan

    Di Indonesia, masih belum ada program tingkat nasional yang khusus melindungi ekosistem lamun. Kenyataan ini sangat menyedihkan mengingat Indonesia adalah rumah terbesar ekosistem lamun dunia.

    Padahal, sejak 1960-an, luas tutupan lamun di Indonesia diperkirakan sudah berkurang hingga 30-40% akibat ekspansi budi daya perikanan dan pembangunan pesisir.

    Untuk mengetahui bagaimana seharusnya ekosistem lamun ini ditangani, berikut hasil kajian , Research associate, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN dan  Marine Ecologist, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    Laporan kajian merek atentang keberadaan ekosistem lamun ini telah diterbitkan di The Conversation, Selasa (18/7/2023).

    Pemerintah semestinya memasukkan program restorasi lamun sebagai prioritas nasional.

    Baca Juga: Kebijakan Ekspor Pasir Laut Mengancam Kehidupan Nelayan dan Ekosistem Pesisir

    Melalui riset terbaru yang terbit di jurnal Ambio: A Journal of Environment and Society, saya bersama kolega dari dalam dan luar negeri memaparkan lima alasan mengapa pemulihan ekosistem lamun di Indonesia layak menjadi solusi berbasis alam untuk mengatasi dampak perubahan iklim dan persoalan lingkungan lainnya.

    Berikut alasannya: 

    1. Memberdayakan dan menyadarkan warga sekitar

    Pelaksanaan program restorasi lamun di tingkat nasional dapat memicu peningkatan kesadaran masyarakat, terutama warga setempat seputar pentingnya ekosistem lamun bagi kehidupan manusia.

    Kesadaran masyarakat adalah faktor yang vital bagi keberhasilan perlindungan dan restorasi lamun. Riset terbaru saya menggarisbawahi kurangnya kesadaran masyarakat terhadap manfaat lamun sebagai salah satu ancaman terbesar konservasi ekosistem ini.

    Di Kepulauan Karimunjawa, misalnya, riset kami menemukan warga setempat masih kurang mengetahui peran lamun dalam menjaga kualitas perairan, penyerap karbon, penjaga abrasi, dan habitat bagi makhluk pesisir.

    Akhirnya, lamun dianggap sebagai ekosistem yang ‘boleh’’ dirambah ataupun dicemari. Per 2019, ada sekitar 30-59% dari total ekosistem lamun 30-59% yang berstatus rusak atau kurang sehat .

    Baca Juga: Ribuan Desa Pesisir di Indonesia Timur Terancam Krisis Akibat Perubahan Iklim

    Implementasi program restorasi yang melibatkan masyarakat lokal kami yakini dapat merubah keadaan ini.

    Warga yang telah mendapat sosialisasi dan menyadari pentingnya jasa ekosistem lamun akan termotivasi untuk bahu-membahu melindungi lamun dan berpartisipasi memulihkannya sehingga mereka berpeluang mendapatkan manfaat lingkungan maupun ekonomi dari aktivitas ini.

    Kebijakan restorasi di tingkat nasional juga dapat memantik perhatian global terhadap lamun Indonesia. Hal ini terjadi pada kebijakan pemulihan mangrove nasional yang dimulai sejak 2019. Pada akhirnya, perhatian ini dapat membuahkan strategi perlindungan yang lebih kuat serta anggaran yang lebih besar.

    2. Meredam dan mengatasi dampak perubahan iklim

    Para peneliti memperkirakan kawasan lamun Indonesia mencapai 875 ribu ha, tapi hanya 294 ribu ha yang sejauh ini sudah divalidasi.

    Berdasarkan studi terbaru dari peneliti berbagai negara, padang lamun di Indonesia ditaksir menyimpan 368.5 Tera gram Karbon atau 2% simpanan karbon di lingkungan pesisir dan laut global.

    Baca Juga: Menengok Pemberdayaan Masyarakat Pesisir sebagai Kampung Bahari Nusantara

    Hasil studi tersebut membuat padang lamun kita sangat penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus memperlambat laju perubahan iklim.

    Indonesia memiliki target pengurangan emisi nasional sebesar 31,8-43,2% pada 2030. Target ini masih bisa ditingkatkan apabila pemerintah memasukkan aksi pelestarian dan pemulihan ekosistem lamun dalam target iklim Indonesia.

    Sebaliknya, jika tidak ada aksi pelestarian dan pemulihan yang masif, penurunan luasan habitat lamun sebesar 2-5% per tahun bisa terjadi di Indonesia.

    3. Program berskala luas dan libatkan banyak lembaga

    Seperti halnya program restorasi gambut yang diterbitkan Presiden Joko Widodo sejak 2016,] program restorasi lamun seyogianya memungkinkan anggaran khusus perlindungan lamun, dilaksanakannya kebijakan pengelolaan lamun di tingkat pusat maupun daerah, dan peningkatan sumber daya manusia serta penelitian terkait.

    Program restorasi padang lamun juga dapat dilakukan dengan skala yang lebih luas dengan dukungan anggaran dari pemerintah.

    Program restorasi ekosistem padang lamun dapat mendorong koordinasi yang lebih baik antarlembaga.

    Di Indonesia, sejak 36 tahun silam baru ada 22 proyek restorasi lamun. Pelaksanaannya tersebar di banyak lembaga, tapi terbatas di suatu area. Efektivitasnya pun tidak terpantau.

    Baca Juga: Koalisi Keadilan Iklim: Kelompok Rentan Justru Ditinggalkan dalam Perumusan Kebijakan soal Perubahan Iklim

    Di sisi lain, koordinasi dari berbagai pemangku kepentingan sangat dibutuhkan karena restorasi padang lamun membutuhkan kerjasama dari berbagai bidang ilmu keahlian dan dukungan dari berbagai lembaga pemerintah agar tercipta suatu program konservasi lingkungan yang berkelanjutan.

    Indonesia dapat belajar dari Australia. Melalui koordinasi yang apik, Negeri Kangguru ini sukses memulihkan lamun tak hanya dengan menanam kembali, tapi juga memfokuskan interaksi antarspesies penghuni kawasan lamun dan hubungannya dengan ekosistem lainnya seperti mangrove.

    Koordinasi antarlembaga, selain untuk menyukseskan pemulihan lamun, juga bisa diselaraskan untuk memenuhi program lainnya seperti pencegahan bencana.

    Lamun dapat menjadi sistem pendukung yang membantu infrastruktur fisik seperti tanggul untuk mencegah abrasi ataupun erosi.

    Baca Juga: Bumi Butuh Aksi Nyatamu, Sudahkah Kamu Terlibat dalam Gerakan Iklim?

    4. Program ekonomis tapi berdampak

    Pemulihan lamun yang mencakup perencanaan, penanaman, pemantauan, dan sebagainya diperkirakan memakan biaya sekitar 700 ribu dolar AS (Rp10,4 miliar ) per ha.

    Angka ini jauh lebih murah dibandingkan ongkos restorasi karang sekitar 3 juta dolar AS atau sekitar Rp44,9 miliar per ha.

    Biaya tersebut juga masih bisa dikurangi jika restorasi lamun ini dilaksanakan di negara-negara berkembang yang memiliki ongkos tenaga kerja yang jauh lebih murah dibandingkan negara maju.

    Selain itu, aksi restorasi lamun yang memberdayakan masyarakat dan para relawan juga berpotensi menurunkan ongkos pemulihan lamun sekaligus memperkuat pemantauannya.

    Di Kepulauan Sangkarang, Sulawesi Selatan, restorasi lamun seluas 600 m2 menelan biaya sekitar USD 100 ribu(Rp1,5 miliar) untuk perencanaan, penanaman, dan pemantauan selama 3 tahun.

    Program yang dimulai sejak 2016 ini menggunakan metode transplantasi, yakni pengambilan tanaman lamun yang sehat untuk ditanam di lokasi tujuan.

    Setelah 7 tahun dilaksanakan, usaha restorasi menuai hasil positif. Padang lamun yang pulih memancing satwa perairan untuk hidup di dalamnya, melindungi pantai dari erosi.

    Baca Juga: Serunya Pandawara dan Warga Bandar Lampung Bersihkan Salah Satu Pantai Terkotor di Indonesia

    5. Mengembalikan keberagaman makhluk perairan

    Sebagaimana saya jelaskan di atas, lamun yang pulih akan memicu kehidupan satwa perairan dan mengembalikan fungsi lamun terhadap lingkungan sekitarnya.

    Pada akhirnya, keanekaragaman hayati di ekosistem lamun turut menopang target Indonesia untuk menjaga biodiversitas laut.

    Beberapa kegiatan restorasi di negara lain turut merekam dampak restorasi lamun bagi kehidupan sekitar.

    Misalnya, kesuksesan restorasi lamun sejak 2001 di pesisir timur Virginia, Amerika Serikat, memancing hewan laut bernilai ekonomis penting seperti ikan, kerang, dan kepiting untuk tinggal di dalamnya.

    Selain itu Kemampuan lamun untuk menyimpan karbon dan nitrogen juga semakin meningkat.

    Baca Juga: Gree Energy Bantu FIELD Atasi Polusi Udara dan Dukung Pertanian Regeneratif di Indonesia

    Di Wakatobi, penanaman sekitar 4 ribu pohon oleh masyarakat di sepanjang sungai sejak 2017 berhasil menjaga kelestarian ekosistem lamun sehingga meningkatkan keberagaman organisme perairan di pesisir setempat.

    Itulah lima alasan mengapa pemulihan padang lamun layak menjadi prioritas. Pemerintah seyogyanya memulai program restorasi seperti yang sudah dilakukan terhadap ekosistem gambut, mangrove, ataupun karang..

    Kami meyakini, kelestarian ekosistem lamun di Indonesia akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan biodiversitas makhluk laut.

  • Restorasi Padang Lamun di Kawasan Ekowisata Cuku NyiNyi, Lampung

    Restorasi Padang Lamun di Kawasan Ekowisata Cuku NyiNyi, Lampung

    7cloud.asia – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Unit Pelabuhan Tarahan bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Bina Jaya Lestari melakukan penanaman bibit lamun di Kawasan Ekowisata Cuku NyiNyi, Lampung sekaligus edukasi peran penting padang lamun kepada masyarakat.

    General Manager PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Unit Pelabuhan Tarahan, Hengki Burmana
    mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk berkontribusi dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sekitar.

    “Kami menargetkan penanaman sebanyak 10.000 bibit lamun di area seluas 1 hektare di Cuku NyiNyi,” kata Hengki dalam keterangan tertulis yang dilansir Antaranews.com Selasa (8/10/2024)

    Baca: Peran padang lamun bagi ekosistem pesisir

    Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Desa Sidodadi, Lampung pada 23 September 2024 itu, dia menjelaskan bahwa PTBA Unit Pelabuhan Tarahan dan KTH Bina Jaya Lestari juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut, khususnya padang lamun.

    Padang lamun sendiri merupakan ekosistem bawah laut yang dibentuk oleh lamun dan memiliki peran penting bagi kehidupan laut dan masyarakat pesisir.

    Padang lamun merupakan habitat bagi berbagai biota laut seperti ikan-ikan kecil, kerang, dan sebagainya serta memiliki kemampuan menyerap karbon dan melindungi pantai dari abrasi.

    Selama ini, banyak masyarakat yang belum menyadari betapa pentingnya peran padang lamun. Lamun sering dianggap sebagai tanaman laut yang mengganggu pemandangan dan menghambat aktivitas nelayan.

    Baca: Kebijakan ekspor pasir laut mengancam kehidupan nelayan dan ekosistem pesisir

    “Padahal, padang lamun memiliki sejumlah manfaat,” ujar Andi Sofiyan, Ketua KTH Bina Jaya Lestari.

    Andi mengatakan restorasi padang lamun dapat meningkatkan keanekaragaman hayati, sehingga hasil tangkapan nelayan juga meningkat. Tidak hanya melestarikan lingkungan, restorasi padang lamun juga membawa manfaat untuk kesejahteraan masyarakat.

    Dia menyampaikan harapan bahwa padang lamun yang telah pulih akan menjadi tempat hidup nyaman bagi berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya. Diharapkan ekosistem pesisir Desa Sidodadi akan semakin sehat dan produktif.

  • Hari Lamun Sedunia: Pelindung Kawasan Pesisir yang Kini dalam Bahaya

    Hari Lamun Sedunia: Pelindung Kawasan Pesisir yang Kini dalam Bahaya

    7cloud.asia – Padang lamun merupakan salah satu ekosistem laut yang paling banyak ditemukan di muka Bumi.

    Lamun adalah kelompok tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang hidup terbenam di perairan laut dangkal, terdiri dari berbagai spesies di bawah famili Hydrocharitaceae dan Cymodoceaceae. 

    Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP) memperkirakan luasan padang lamun meliputi sekitar 300.000 kilometer persegi dasar laut yang tersebar di 159 negara.

    Padang lamun yang monokromatik mungkin tidak seindah terumbu karang penuh warna atau semisterius hutan bakau, namun dia menyediakan tempat perlindungan bagi ikan dan satwa laut lainnya.

    Padang lamun juga melindungi pantai dari badai, dan merupakan penyimpan karbon utama, menjadikannya salah satu ruang alam yang paling berharga di dunia.

    Dilansir di laman resmi UNEP, unep.org, meski punya peran penting, ekosistem lamun saat ini berada dalam bahaya.

    Baca: Kolaborasi petakan padang lamun di Indonesia

    Setiap setengah jam, setidaknya seluas lapangan sepak bola padang lamun hilang karena berbagai sebab. Dan, diperkirakan 7 persen padang lamun hilang di seluruh dunia setiap tahunnya.

    Pengasaman laut, pembangunan kawasan pesisir, dan peningkatan suhu laut akibat perubahan iklim adalah pendorong utama hilangnya padang lamun.

    Untuk meningkatkan kesadaran tentang ancaman terhadap ekosistem ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menetapkan tanggal 1 Maret sebagai Hari Lamun Sedunia.

    “Ekosistem lamun adalah contoh sempurna dari alam yang beraksi, di mana habitat dan jaring kehidupan yang rapuh terjalin dalam harmoni yang sempurna,” kata Leticia Carvalho, yang sebelumnya memimpin Cabang Kelautan dan Air Tawar dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

    “Pada Hari Lamun Sedunia, mari kita soroti keajaiban padang lamun dan spesies, baik manusia maupun non-manusia, yang bergantung padanya,” tambahnya.

    Carvalho mengatakan dunia harus memprioritaskan tindakan yang tepat waktu, ambisius, dan terkoordinasi yang melestarikan, memulihkan, dan mengelola lamun secara berkelanjutan.

    Baca: Peran penting padang lamun dalam menyerap karbon

     

    Dalam hal ini, negara-negara di dunia perlu memastikan bahwa masyarakat lokal, yang telah hidup harmonis dengan alam selama ribuan tahun, mendapatkan manfaatnya.

    Meningkatkan upaya ini sangat penting untuk mencapai penurunan emisi global sebagaimana digariskan di Perjanjian Paris dan banyak Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa, kata Carvalho.

    Pelestarian padang lamun juga dianggap penting untuk membantu negara-negara memenuhi tujuan Konvensi Rio, yang merupakan tiga perjanjian global utama yang menangani perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi lahan.

    Untuk mencapai target masing-masing dan mengamankan masa depan padang lamun yang berkelanjutan secara lingkungan, laporan State of Finance for Nature terbaru dari UNEP memperkirakan kebutuhan investasi tahunan sebesar 29 miliar dolar.

    Pemulihan lamun yang mencakup perencanaan, penanaman, pemantauan, dan sebagainya diperkirakan memakan biaya sekitar 700 ribu dolar AS (Rp10,4 miliar ) per hektare.

    Angka ini jauh lebih murah dibandingkan ongkos restorasi karang sekitar 3 juta dolar AS atau sekitar Rp44,9 miliar per hektare.

  • Hari Lamun Sedunia: Lima Cara Ekosistem Lamun Menjaga Keanekaragaman Hayati

    Hari Lamun Sedunia: Lima Cara Ekosistem Lamun Menjaga Keanekaragaman Hayati

    7cloud.asia – Memperingati Hari Lamun Sedunia yang jatuh pada 1 Maret, mari kita sejenak mengenal ekosistem lamun yang merupakan salah satu ekosistem laut yang  ditemukan di muka Bumi.

    Lamun adalah kelompok tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang hidup terbenam di perairan laut dangkal atau pesisir. Lamun terdiri dari berbagai spesies di bawah famili Hydrocharitaceae dan Cymodoceaceae.

    Lamun memang kurang dikenal jika dibanding ekosistem laut lainnya seperti terumbu karang ataupun mangrove. Namun, manfaat lamun bagi lingkungan sangat luar biasa.

    Berdasarkan studi terbaru dari peneliti berbagai negara yang dilansir di The Conversation, padang lamun di Indonesia ditaksir menyimpan 368.5 tera gram Karbon atau 2 persen simpanan karbon di lingkungan pesisir dan laut global.

    Berikut lima cara mengejutkan lamun dalam melindungi satwa liar dan memberi manfaat bagi manusia sebagaimana kami kutip dari laman resmi Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP):

    1. Lamun adalah surga bagi spesies laut
    Padang lamun merupakan tempat pembibitan bagi 20 persen perikanan terbesar di dunia, menurut laporan tahun 2020 dari UNEP dan mitranya yang berjudul Out of the Blue: The Value of Seagrass to the Environment and to People.

    Kelangsungan hidup banyak spesies, seperti penyu, kuda laut, manatee, dan dugong, bergantung pada padang lamun ini.

    Berkat kanopi bawah airnya yang rimbun, lamun juga menyediakan tempat berlindung bagi banyak invertebrata kecil, seperti kepiting dan udang, serta banyak spesies alga dan bakteri.

    Baca: Ekosistem lamun berperan penting jernihkan air di kawasan pesisir

    2. Lamun menyaring air untuk terumbu karang
    Sering disebut sebagai ‘penyaring air alami’, padang lamun digambarkan sebagai ekosistem super dalam laporan Out of the Blue.

    Lamun membantu membersihkan air dengan menjebak sedimen kaya karbon dan menyerap nutrisi serta patogen.

    Sistem yang didominasi lamun mengoksigenasi air melalui fotosintesis, meningkatkan kualitas air dan mendorong pertumbuhan karang, yang menjadi pusat keanekaragaman hayati

    Padang lamun menciptakan pusat keanekaragaman hayati dengan menyediakan habitat dan nutrisi bagi spesies yang tak terhitung jumlahnya.

    Karena sensitivitasnya terhadap berbagai stresor dan kontaminan, lamun merupakan indikator awal kesehatan ekologis daerah pesisir. Ketika lamun menderita, keanekaragaman hayati pun ikut terpengaruh.

    3. Lamun mendukung perikanan dan mata pencaharian di seluruh dunia.
    Lamun mirip dengan tumbuhan darat karena memiliki daun, bunga, biji, akar, dan jaringan ikat.

    Dengan demikian, lamun merupakan sumber makanan penting bagi ikan, gurita, udang, tiram, kerang, dan cumi-cumi, yang menopang perikanan yang menghidupi ratusan juta orang di seluruh dunia, menurut laporan Out of the Blue.

    Di Tanzania, misalnya, penurunan lamun ditemukan berdampak negatif pada mata pencaharian perempuan yang mengumpulkan invertebrata, seperti kerang, siput laut, dan landak laut.

    Baca: Ancaman ekowisata terhadap kelestarian padang lamun

    4. Padang lamun juga penting bagi spesies non-laut.
    Selama migrasi musim gugur mereka, beberapa angsa dan bebek memakan lamun yang mencuat dari sedimen pantai. Burung-burung lain mencari invertebrata di perairan yang seringkali dangkal di sekitar tumbuhan tersebut.

    Pada Desember 2022, para pemimpin dunia menyetujui Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Montreal-Kunming, sebuah pakta yang dirancang untuk melindungi keanekaragaman kehidupan di Bumi dan mencegah krisis kepunahan yang mengancam.

    Carvalho mengatakan bahwa ketika negara-negara mengembangkan target nasional mereka di bawah perjanjian tersebut, mereka harus memasukkan perlindungan untuk padang lamun.

    “Padang lamun mendukung beragam kehidupan yang menakjubkan dan melindunginya sangat penting jika kita ingin mencapai tujuan global kita tentang keanekaragaman hayati – dan kita harus melakukannya,” katanya.

    5. Lamun menahan laju perubahan iklim.
    Sering disebut sebagai jenis hutan biru, padang lamun, seperti halnya padang lamun di darat, membantu melawan perubahan iklim.

    Meskipun padang lamun ini hanya menutupi 0,1 persen dasar laut, namun merupakan penyerap karbon yang sangat efisien, menyimpan hingga 18 persen karbon laut dunia, demikian temuan laporan Out of the Blue.

    Lamun juga bertindak sebagai garis pertahanan pertama di sepanjang pantai dengan mengurangi energi gelombang, melindungi masyarakat dari meningkatnya risiko banjir dan badai.

  • Hari Lamun Sedunia: Ekosistem Lamun Indonesia Mampu Serap Sepersepuluh Emisi Karbon Nasional

    Hari Lamun Sedunia: Ekosistem Lamun Indonesia Mampu Serap Sepersepuluh Emisi Karbon Nasional

    7cloud.asia – Ekosistem lamun Indonesia memiliki potensi besar dalam menyerap dan menyimpan karbon sehingga berperan penting dalam penanganan perubahan iklim.

    Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yusmiana Rahayu mengatakan, data pada 2018 luas padang lamun di tanah air berkisar 875.967 hingga 1.847.341 hektare,

    Adapun total karbon yang diserap mencapai 0,26 sampai dengan 0,55 gigaton karbon dioksida ekuivalen (Gt CO2e). Penghitungan tersebut, sebagai gabungan dari kemampuan penyimpanan karbon biomassa dan sedimen dari ekosistem lamun.

    “Kemudian totalnya saya gabungkan setelah dikaitkan luas, mendapatkan 0,26 sampai 0,55 gigaton CO2 ekuivalen,” katanya dalam diskusi yang diikuti daring dari Jakarta, Senin (2/3/2026).

    Dia menyoroti potensi besar ekosistem padang lamun jika dibandingkan dengan total emisi gas rumah kaca di Indonesia, yaitu 1,84 Gt CO2e yang dilaporkan pada 2019 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

    “Jadi ini untuk memberikan perbandingan seberapa besar potensi karbon di ekosistem lamun yang kita punya dibandingkan dengan emisi yang terjadi di Indonesia,” katanya mengacu pada hasil riset yang dilakukan pada 2024.

    Baca: Cara ekosistem lamun menjaga keanekaragaman hayati

    Jumlah itu kemungkinan dapat berubah mengingat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) baru merilis Peta Karang dan Padang Lamun Nasional 2025 pada akhir tahun lalu.

    Di mana luasan karang keras secara nasional adalah 838 ribu hektare dan 660 ribu hektare untuk ekosistem padang lamun.

    Yusmiana menyoroti bahwa peran karbon biru kini juga semakin penting dalam upaya mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca nasional, yang tertuang dalam dokumen iklim National Determined Contribution (NDC).

    Dengan sektor kelautan dan perikanan, kini sudah diperhitungkan dalam penyelenggaraan nilai ekonomi karbon.

    “Artinya kita perlu data yang lebih siap, karena masih banyak data-data khususnya ekosistem lamun yang dibutuhkan untuk kita bisa menghitung inventarisasi dengan lebih detail,” demikian Yusmiana Rahayu.

    Terancam
    Sementara Kepala Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Asep Hidayat menyoroti ancaman terhadap ekosistem lamun dari reklamasi dan pencemaran lingkungan.

    Baca: Ekosistem lamun berperan penting jernihkan kawasan pesisir

    Asep mengatakan karbon biru memiliki potensi besar untuk menyimpan karbon, termasuk padang lamun dan mangrove, yang semuanya bisa ditemukan di Indonesia meski terdapat ancaman yang dihadapi ekosistem tersebut.

    “Di Indonesia potensi karbon biru di padang lamun diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan juta karbon. Menjadikan aset penting bagi strategi mitigasi dan perubahan iklim nasional dan sumber ekonomi ke depan,” tuturnya.

    Tekanan pembangunan di pesisir, sedimentasi yang terus terjadi, ujarnya, terjadi bukan hanya karena begitu saja, tetapi ada konversi di daerah hulu dan lain-lain sehingga ini mengalir ke daerah pesisir.

    Selain itu terdapat pula ancaman dari pencemaran lingkungan dan penangkapan yang tidak ramah lingkungan, selain juga dampak perubahan iklim seperti suhu permukaan laut yang meningkat.

    Dalam diskusi yang sama, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN Nurul Dhewani menyebut ekosistem lamun memiliki sejumlah jasa lingkungan, seperti habitat bagi satwa terancam punah dan lokasi pemijahan serta sumber pangan untuk ikan serta spesies lain, termasuk dugong dan kuda laut.

    Dari sisi perikanan, kata dia, ekosistem padang lamun menjadi sumber pendapatan untuk masyarakat pesisir, termasuk menangkap ikan, kepiting, dan kerang.

    Untuk itu ancaman dari aktivitas manusia seperti reklamasi, polusi, penangkapan berlebihan dan dengan cara destruktif, selain juga faktor eksternal termasuk perubahan iklim.

    Dia mendorong peningkatan upaya pengelolaan, termasuk pembentukan kawasan konservasi lamun, restorasi habitat, dan penyadartahuan tentang peran penting lamun kepada masyarakat.