Tag: lari

  • Lari Bisa Jadi Terapi untuk Mengusir Kecemasan dan Depresi

    Lari Bisa Jadi Terapi untuk Mengusir Kecemasan dan Depresi

    7cloud.asia – Aktivitas fisik secara teratur diketahui dapat meningkatkan kesehatan mental, dan mengatasi depresi atau kecemasan.

    Hasil studi yang dimuat di Journal of Affective Disorders Selasa (10/10/2023), menunjukkan bahwa lari bisa bermanfaat dalam pengobatan kecemasan dan depresi.

    Baca: Jalan kaki bagus untuk kesehatan fisik dan mental

    Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, peneliti melakukan uji coba terapi lari kepada sebagian dari 141 pasien dengan depresi dan/atau kecemasan.

    Pasien dengan depresi diberi pilihan pengobatan yakni antidepresan SSRI (inhibitor reuptake serotonin selektif) atau terapi lari berbasis kelompok selama 16 minggu.

    Baca: Mmebuat jurnal untuk lepaskankecemasan

    Penelitian ini memberi orang-orang yang dilanda kecemasan dan depresi dalam kehidupan nyata, untuk memilih pengobatan atau olahraga.

    “Menariknya, mayoritas memilih untuk berolahraga,” kata Profesor Brenda Penninx, dari Vrije University di Amsterdam.

    Baca: Lawan kecemasan dan sres dengan meditasi

    Namun, peneliti juga menemukan terdapat angka ‘berhenti’ yang lebih tinggi pada kelompok yang awalnya memilih olahraga dibandingkan antidepresan.

    Hanya 52 persen pada kelompok lari yang patuh menjalani terapi, sedangkan tingkat kepatuhan pada kelompok antidepresan mencapai 82 persen atau jauh lebih tinggi.

    Baca: Gaya hidup minimalis bagus untuk kesehatan jiwa kamu

    Pada akhir uji coba, sekitar 44 persen pada kedua kelompok menunjukkan perbaikan dalam depresi dan kecemasan.

    Jadi buat kamu yang sedang mengalami kecemasan atau depresi bisa mencoba alternatif ini.

    Jika berlari dinilai terllau berat, kamu bisa menggantinya dengan berjalan kaki. Dan hasilnya akan lebih maksimal jika kamu menggunakan bantuan dari konsultan atau pakar.

     

  • Cara Atikoh Ganjar Membahagiakan Diri: Ikut Lomba Lari Borobudur Marathon

    Cara Atikoh Ganjar Membahagiakan Diri: Ikut Lomba Lari Borobudur Marathon

    7cloud.asia – Lari, adalah cara Siti Atikoh Supriyanti yang juga istri capres Ganjar Pranowo atau Atikoh Ganjar Pranowo untuk membahagiakan diri. 

    Membahagiakan diri ini juga yang dilakukan Atikoh Ganjar Pranowo saat mengikuti lomba lari Borobudur Marathon Minggu (19/11/2023) pagi.

    Ya, Atikoh Ganjar memang dikenal sebagai perempuan pegiat olahraga cardio. Event Borobudur Marathon, menjadi gelaran rutin yang selalu diikuti perempuan yang hobi lari sejak muda ini. 

    Atikoh Ganjar Pranowo meramaikan event Borobudur Marathon bersama 4 orang temannya, dari komunitas lari Playon yang artinya lari.

    Mereka mengenakan jersey berwarna ungu muda dengan tulisan Playon Gayeng di bagian dadanya.

    Baca: Alam ganjar yang sedang digandrungi Gen Z karena pemikirannya

    Atikoh Ganjar Pranowo sempat bertemu dan menyapa para petinggi Yayasan Borobudur Marathon. Ia juga dengan sabar meladeni permintaan foto dari peserta yang enggan melewatkan kesempatan itu.

    “Ibu Atikoh, boleh foto bareng? Mumpung ketemu Bu, semoga finish strong ya Ibu,” ujar seorang pelari yang mengaku berasal dari Bandung.

    Pukul 05.00 WIB tepat, rombongan peserta sebanyak 1.463 pelari marathon termasuk Atikoh Ganjar dilepas oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo.

    Atikoh Ganjar Pranowo pun berlari sepanjang 42 kilometer. Sepanjang rute larinya, senyum tak pernah lepas dari wajah ibunda  Muhammad Zinedine Alam Ganjar itu. 

    Dengan ramah ia menyapa setiap warga yang memberikan aksi dukungan dengan berbagai cara.

    “Ibu Atikoh, semangat ibu. Hebat banget kuat lari marathon,” teriak seorang ibu di Kecamatan Mungkid saat melihat Atikoh.

    Baca: Nicholas Saputra dan kepeduliannya pada lingkungan

    Full marathon di Borobudur Marathon 2023 ini bukan kali pertama bagi Atikoh. Sebelumnya, ia juga meraih Virgin Marathon di event Pocari Run Bandung tahun 2022.

    Sementara di ajang world marathon major pertama, Atikoh menyelesaikan FM di Tokyo Marathon awal tahun 2023.

    Meski rutin berlari, calon ibu negara ini mengatakan FM di gelaran BorMar 2023 menjadi pengalamannya yang berat. Terutama karena faktor cuaca dan kurangnya latihan.

    “Ini full marathon paling berat menurut saya, tanjakan dan panasnya ya luarbiasa, mungkin juga karena kurang latihan,” tegasnya.

    Kendati begitu, Atikoh menegaskan jika Full Marathon tak mungkin dicapai tanpa proses. Apalagi di usianya yang segera 52 tahun, latihan menjadi kuncinya mampu finish 42 KM.

    “Ya harus latihan, nggak bisa sesuatu itu instan, tetap proses itu akan mempengaruhi hasil,” tandasnya.

    Baca: Mengintip kehidupan Britney Spears

    Borobudur Marathon 2023 diikuti lebih dari 10.000 pelari. Terbagi dalam tiga kategori jarak yakni 10K, Half Marathon dan Marathon.

    Dalam event tersebut turut serta 70 pelari dari berbagai negara asing. Selain itu, belasan pelari elite nasional juga turut serta.

    Borobudur Marathon juga konsisten menjadi ajang kaderisasi atlet muda.

    Yakni lewst Bootcamp Bank Jateng Young Talent, ajang pengembangan para atlet-atlet muda untuk berkompetisi dan mengembangkan potensinya di event lari bertaraf internasional.

  • Ini Risikonya Ketika Olahraga Lari Dilakukan Sekadar Ikuti Tren atau FoMO

    Ini Risikonya Ketika Olahraga Lari Dilakukan Sekadar Ikuti Tren atau FoMO

    7cloud.asia – Olahraga lari kini menjadi salah satu aktivitas fisik yang paling banyak digemari, baik dari kalangan artis maupun warga biasa.

    Di media sosial, terutama, kita bisa melihat banyak informasi dibagikan terkait olahraga lari yang disebut sebagai induknya semua olahraga ini.

    Dokter sekaligus selebgram bernama Tirta, misalnya, sering membagikan tips terkait aktivitas lari, misalnya soal bagaimana cara mencegah serangan jantung ketika lari.

    Ada pula Ibnu Jamil, pembawa acara olahraga, selebritas, dan pemain film, yang selalu menjaga kebugaran tubuhnya dengan berolahraga lari.

    Komunitas lari juga semakin banyak bermunculan. Sebut saja model runners.id, komunitas lari para model atau Indorunners yang sudah rutin berlari sejak 2009 namun semakin dikenal masyarakat sejak menjamurnya olahraga lari.

    Tak ketinggalan event lari internasional seperti Jakarta International Marathon, London Marathon, dan Bali Marathon yang selalu mendapatkan antusiasme tinggi dari masyarakat.

    Baca Juga: Lari Bisa Jadi Terapi untuk Mengusir Kecemasan dan Depresi

    Tren olahraga lari ini membuat banyak orang tergoda untuk ikut serta, sehingga menciptakan suatu kondisi yang disebut dengan Fear of Missing Out (FoMO) atau perasaan khawatir untuk tidak mengikuti tren yang ada.

    Pasalnya, di dalam tren tersebut diyakini terdapat pengalaman yang menarik untuk dialami secara personal.

    Dorongan FoMO
    Ketika melihat teman atau tokoh inspiratif di media sosial mengikuti ajang maraton untuk mencapai jarak lari tertentu, kita sering kali merasa terdorong untuk ikut serta dengan berbagai motivasi.

    Motivasi tersebut dapat berupa keinginan untuk pamer konten di media sosial, menambah teman yang memiliki hobi serupa, ataupun sungguh-sungguh ingin melihat kemampuan diri dalam berlari.

    Apapun alasannya, ketika seseorang mengalami FoMO untuk berolahraga lari maka efek yang ditimbulkan sekurang-kurangnya akan membuat tubuh menjadi sehat dan bugar.

    Artinya, ketika seseorang terdorong oleh rasa ingin tahu untuk mencoba hal baru, khususnya dalam hal olahraga lari, maka ini akan berdampak pada kesehatan fisik yang lebih baik.

    Baca Juga: Cara Atikoh Ganjar Membahagiakan Diri: Ikut Lomba Lari Borobudur Marathon

    Bahkan jika dorongan FoMO dapat membuat seseorang konsisten berlari, bukan tidak mungkin ia akan meraih pencapaian-pencapaian pribadi yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

    Apalagi saat ini, mudah untuk berjejaring dengan orang yang memiliki hobi yang sama dari komunitas maya. Ini membuat banyak orang merasa lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam acara lari atau meningkatkan performa lari mereka.

    Misalnya, banyak peserta yang terinspirasi untuk mengikuti maraton setelah melihat cerita sukses dari pelari-pelari yang mereka ikuti di media sosial.

    Ada risiko tetapi bisa dimitigasi
    Namun, di sisi lain, berolahraga lari karena FoMO bukan tanpa risiko. Tekanan untuk selalu mengikuti tren atau mencapai pencapaian tertentu bisa membuat seseorang merasa cemas berlebihan.

    Penelitian menunjukkan bahwa pelari yang sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial cenderung mengalami penurunan rasa percaya diri dan kepuasan terhadap performa mereka.

    Baca Juga: JAKIM 2024 Sukses Diikuti 15.000 Peserta, Heru Budi Ucapkan Terimakasih pada Warga Jakarta

    Bahkan di titik tertentu, kondisi ini dapat mengakibatkan seseorang mengalami gangguan kesehatan mental.

    Selain itu, tekanan untuk tampil sempurna di media sosial bisa menyebabkan stres berlebihan dan bahkan risiko cedera fisik akibat latihan berlebihan.

    Bahkan akhir-akhir ini muncul fenomena joki Strava. Jasa “joki Strava” mengacu pada layanan berbayar untuk melakukan aktivitas lari menggantikan orang lain, tetapi menggunakan akun Strava milik pemesan.

    Fenomena ini menjadi topik perbincangan hangat di kalangan warganet karena sebagian orang merasa bahwa layanan semacam ini mendukung keinginan berlebihan seseorang untuk mendapatkan validasi dan pujian.

    Mereka beranggapan bahwa menggunakan jasa joki untuk aktivitas lari menipu dan tidak jujur, karena pencapaian yang ditampilkan di akun Strava sebenarnya bukan milik orang yang tercatat di akun tersebut, melainkan hasil dari usaha orang lain yang dibayar.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Yogie Pranowo, Adjunct Associate Lecturer, Universitas Multimedia Nusantara

  • Kiat Mengendalikan FoMO Saat Olahraga Lari

    Kiat Mengendalikan FoMO Saat Olahraga Lari

    7cloud.asia – Tren olahraga lari yang berkembang saat ini membuat banyak orang tergoda untuk ikut serta, sehingga menciptakan suatu kondisi yang disebut dengan Fear of Missing Out (FoMO).

    Ada perasaan khawatir yang dirasakan sebagian orang, jika mereka tidak mengikuti tren yang ada maka akan disebut ketinggalan.

    Pasalnya, di dalam tren tersebut diyakini terdapat pengalaman yang menarik untuk dialami secara personal.

    Ketika melihat teman atau tokoh inspiratif di media sosial mengikuti ajang maraton untuk mencapai jarak lari tertentu, kita sering kali merasa terdorong untuk ikut serta dengan berbagai motivasi.

    Motivasi tersebut dapat berupa keinginan untuk pamer konten di media sosial, menambah teman yang memiliki hobi serupa, ataupun sungguh-sungguh ingin melihat kemampuan diri dalam berlari.

    Baca: Ini risikonya ketika olahraga lari dilakukan karena FoMO

    Untuk mengatasi FoMO, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan, seperti yang dianjurkan oleh Yogie Pranowo, Adjunct Associate Lecturer Universitas Multimedia Nusantara dalam tulisannya di The Conversation:

    1. Pendekatan mindfulness
    Teknik mindfulness dalam berolahraga yang juga dapat berarti sebagai kondisi sadar untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam diri kita dan lingkungan sekitar –tanpa menghakimi atau menilai dengan penuh kasih.

    Mindfulness ini dapat membantu pelari fokus pada pengalaman pribadi mereka saat berlari dan menikmati setiap langkah tanpa terbebani oleh ekspektasi sosial.

    Dengan mindfulness, pelari bisa lebih menikmati proses berlari itu sendiri tanpa harus terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

    Baca: Olahraga lari bisa jadi terapi untuk usir depresi

    2. Mengatur waktu penggunaan media sosial
    Membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial dan memilih konten yang inspiratif serta positif dapat menjaga keseimbangan mental dan emosional.

    Dengan membatasi paparan terhadap konten yang memicu FoMO, kita dapat menghindari tekanan yang tidak perlu.

    Misalkan saja, menurut klikdokter.com cukup dua jam sehari untuk menggunakan media sosial, agar tidak terjebak pada jebakan impulsif psikologis yang berlebihan.

    3. Membangun komunitas lari offline
    Bergabung dengan klub lari lokal atau mengadakan acara lari bersama tanpa harus membagikannya di media sosial bisa membantu kita merasakan dukungan sosial yang nyata.

    Dalam lingkungan ini, kita bisa menikmati olahraga dengan cara yang lebih alami dan merasa lebih terhubung dengan orang lain.

    Baca: Jalan kaki bagus untuk kesehatan mental

    Contohnya adalah komunitas lari CEO Runners, yang telah berdiri sejak 2014, yang bukan hanya aktif di kegiatan lari, tetapi aktif juga pada kegiatan donor darah sebagai bagian dari aktivitas kebersamaan antar anggotanya.

    Dengan memahami dan mengelola pengaruh media sosial dalam fenomena FoMO, kita dapat menjadikan olahraga lari sebagai aktivitas yang lebih menyenangkan.

    Olahraga lari yang kita lakukan juga akan lebih bermanfaat tanpa terjebak dalam tekanan sosial yang berlebihan.

    Selain itu, kita dapat lebih menikmati proses dan prestasi diri sendiri tanpa harus selalu membandingkannya dengan pencapaian orang lain di media sosial.

  • Perubahan Iklim dan Pengaruh ‘Runfluencer’ Mengancam Hobi Lari

    Perubahan Iklim dan Pengaruh ‘Runfluencer’ Mengancam Hobi Lari

     

    7cloud.asia – Kamu tidak salah jika merasa belakangan makin banyak orang menggandrungi olahraga lari (secara fisik maupun digital). Selama 20232025, lari jadi aktivitas yang paling banyak diunggah di aplikasi olahraga Strava.

    Lari merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik yang paling mudah dilakukan, secara mandiri maupun bersama teman. Selain cuma butuh perlengkapan minimal, lari tidak bergantung pada fasilitas pelatihan khusus. Kita hanya perlu mengikat tali sepatu dan mulai berlari.

    Namun, praktik lari yang tampak sederhana ini ternyata berkaitan erat dengan dinamika lingkungan yang kompleks. Peningkatan suhu global dan polusi udara membuat aktivitas lari memberatkan fisik sekaligus membahayakan.

    Belum lagi, sebagian perangkat digital yang diandalkan banyak pelari juga membawa dampak lingkungan tersendiri.

    Laporan Tren Strava tahun 2023 mengungkap sebanyak 75 persen pelari menyatakan panas ekstrem memengaruhi rencana mereka berolahraga.

    Sementara itu, kualitas udara yang buruk berdampak pada 27 persen atlet lainnya. Saat ini kita menghadapi kenyataan bahwa peningkatan suhu bumi membuat aktivitas lari kian sulit diakses dan kurang aman untuk dilakukan.

    Tantangan lainnya adalah pengaruh para runfluencer (influencer di bidang lari), tren fesyen lari, hingga kemunculan berbagai produk yang diklaim dapat membantu pelari menghadapi cuaca panas. Semua ini menunjukkan ironi yang rumit antara budaya lari, perubahan iklim, dan budaya konsumsi kita.


     

    Hobi dapat menghadirkan kegembiraan, kesejahteraan, sekaligus ketenangan di tengah hiruk-pikuk keseharian kita. Namun sayangnya masih banyak dari kita yang belum memilikinya. Jika kamu sudah siap mengganti kebiasaan menatap layar dengan menyulam, atau meninggalkan budaya kerja berlebih demi berkebun, The Hobby Starter Kit (sebuah seri terbaru dari Quarter Life) hadir untuk membantumu memulainya.


    Bahaya cuaca panas

    Berlari di tengah cuaca panas dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas berlebih, termasuk heat stroke dan gagal ginjal akut. Hal ini terjadi karena kegagalan sistem pendinginan tubuh dan dehidrasi akibat stres panas selama berolahraga.

    Bagi mereka yang berambisi memecahkan rekor pribadi, suhu panas justru menurunkan performa lari. Analisis data balapan Strava menunjukkan rata-rata waktu finis di New York City Marathon tahun 2022 melambat 12 menit. Pada tahun 2022, suhu mencapai 23°C dengan kelembapan tinggi, dibandingkan tahun 2021 ketika suhu berada di kisaran 13°C.

    Ini baru sebagian kecil dari risiko berlari di musim panas. Selain paparan panas ekstrem, keamanan berlari di musim panas juga terancam oleh kabut asap dan buruknya kualitas udara

    Pengaruh runfluencer

    Tidak hanya krisis iklim yang memengaruhi rutinitas lari harian kita. Pergeseran tren budaya lari juga mengubah bagaimana cara kita berlari.

    Saat para pelari mencoba beradaptasi dengan suhu yang kian panas, buruknya kualitas udara, serta musim panas yang dipenuhi kabut asap, tekanan untuk membeli produk baru, melacak data, dan melakukan optimasi justru semakin meningkat.

    Tak sedikit dari kita mungkin telah menyadari munculnya iklan tertarget dan konten bersponsor dari para runfluencer. Mereka kerap mempromosikan produk serta aplikasi lari terbaru, salah satunya adalah Runna. Aplikasi olahraga asal Inggris ini dikenal lewat program latihan personal dan fitur pengatur kecepatan berbasis kecerdasan buatan (AI).

    Sejak tahun 2022, keberadaan Runna di dunia digital melonjak secara signifikan hingga akhirnya diakuisisi Strava April tahun lalu.

    Aplikasi seperti ini memang dapat membantu memberikan struktur latihan dan persiapan kompetisi. Namun, teknologi tersebut juga menuai kritik dari para ahli yang menaruh perhatian pada intensitas program latihan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang tak jarang menyebabkan cedera karena memforsir beban latihan.

    Pihak Runna berkilah mereka tidak menggunakan AI untuk membuat rencana latihan, melainkan untuk memantau kemajuan pelari sepanjang program tersebut berlangsung.

    Meski efisien dan personal, aplikasi seperti ini merupakan bagian dari infrastruktur digital yang memiliki dampak lingkungan tersendiri.

    Penggunaan pelacak GPS, pengunggahan data secara terus-menerus, penyimpanan berbasis cloud, hingga analisis berbasis AI, semuanya bergantung pada pusat data yang sangat boros energi.

    Di luar penggunaan aplikasi, para runfluencer juga memanfaatkan platform digital untuk membagikan standar estetika lari, mulai dari sepatu, tren mode lari terkini, hingga pakaian.

    Hal tersebut pada akhirnya mendorong budaya yang menormalkan konsumsi berlebihan. Fenomena ini juga meningkatkan dampak lingkungan secara drastis—yang membuat lari jadi terasa kurang menarik dan semakin tak terjangkau. 

    Menjaga keselamatan saat berlari

    Jika bisa memilih, pilihlah jadwal latihan dan event lari saat udara tidak terlalu panas bersuhu 2-13°C. Langkah ini bijaksana ketimbang memaksakan diri yang penuh risiko.

    Sebagai contoh, bulan Mei ini Indonesia diperkirakan akan memasuki musim kemarau dan beberapa wilayah akan menghadapi cuaca panas ekstrem. Kamu bisa memantau perkembangan perkiraan cuaca untuk rencana berlatih dan race yang lebih aman bagi tubuh.

    Selain itu, dengarkan sinyal dari tubuh sendiri, cari saran dari pelatih manusia, serta pilih perlengkapan yang tahan lama daripada sekadar mengikuti tren mode terbaru.

    Hindari pula konsumsi berlebihan terhadap produk maupun program yang sebenarnya tidak diperlukan. Karena sejatinya kita tidak memerlukan banyak perlengkapan maupun aplikasi untuk berlari.

    Wawasan ini penting sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya lari toksik yang menganggap bahwa hidup sehat berarti harus mencetak target baru, terus-menerus beli perlengkapan baru, dan pamer pencapaian di aplikasi olahraga. Ini sangat krusial di tengah kondisi perubahan iklim yang membuat olahraga ini semakin rentan.

    Adinda Ghinashalsabilla Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris

    Madeleine Orr, Assistant Professor, Sport Ecology, University of Toronto dan Caitlin Felteau-McInnis, PhD Student, Faculty of Kinesiology, University of Toronto

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.