Tag: leptospirosis

  • Mengenal Leptospirosis, Penyakit yang Sering Menjangkiti Warga Korban Banjir

    Mengenal Leptospirosis, Penyakit yang Sering Menjangkiti Warga Korban Banjir

     

    7cloud.asia – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur beberapa wilayah di Indonesia mengakibatkan banjir. Berbagai penyakit mulai menjangkiti warga yang terkena banjir, salah satunya adalah leptospirosis.

    Melansir dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, leptospirosis disebabkan oleh bakteri leptospira interrogans yang dibawa oleh hewan.

    Bakteri Leptospira dapat hidup selama beberapa tahun di ginjal hewan tersebut tanpa menimbulkan gejala. Bakteri ini dapat menyebar melalui urin atau darah hewan yang terinfeksi.

    Baca: Kenali gejala Flu Singapura

    Beberapa hewan yang bisa menjadi perantara penyebaran leptospirosis adalah tikus, sapi, anjing, kuda dan babi.

    Umumnya penderita leptospirosis mengalami gejala setelah 2 hari sampai 4 minggu terinfeksi bakteri leptospira. Gejala yang muncul adalah demam, sakit kepala, mual, muntah, dan tidak nafsu makan.

    Selain itu, penderita leptospirosis juga mengalami diare, mata merah, nyeri otot, sakit perut, bintik-bintik merah pada kulit yang tidak hilang saat ditekan.

    Leptospirosis bisa ditularkan dengan cara berikut ini:

    Pertama, kontak langsung antara kulit dengan urin hewan pembawa bakteri Leptospira.

    Kedua, kontak antara kulit dengan air dan tanah yang terkontaminasi urin hewan pembawa bakteri Leptospira.

    Ketiga, mengonsumsi makanan yang terkontaminasi urin hewan pembawa bakteri penyebab Leptospirosis.

    Baca: Waspada 11 penyakit saat banjir mengepung

    Bakteri Leptospira dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka, baik luka kecil seperti luka lecet, maupun luka besar seperti luka robek.

    Selain itu, bakteri ini bisa juga masuk melalui mata, hidung, mulut, dan saluran pencernaan.

    Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terjangkit infeksi leptospirosis, yaitu:

    1. Menghabiskan sebagian besar waktunya di luar ruangan, seperti pekerja tambang, petani, dan nelayan.
    2. Sering berinteraksi dengan hewan, seperti peternak atau pemilik hewan peliharaan.
    3. Memiliki pekerjaan yang berkaitan dengan saluran pembuangan atau selokan.
    4. Tinggal di daerah rawan banjir.
    5. Sering melakukan olahraga atau rekreasi air di alam bebas.
    6. Minum dari sumber air yang berpotensi terkontaminasi bakteri, seperti air banjir, air sungai, atau air ledeng yang tidak bersih
    7. Mengonsumsi makanan yang telah terkena air yang terkontaminasi
    8. Mandi atau berendam dalam air banjir atau air tawar yang terkontaminasi, terutama ketika menyelam atau jika memiliki luka terbuka saat kontak dengan air

    Baca: Musim hujan, kasus DBD naik hingga 100 persen lebih

    Jika mengalami gejala-gejala tadi, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter agar bisa segera ditangani. Sebab jika terlambat bisa mengalami beberapa komplikasi seperti:

    • Cedera ginjal akut.
    • Trombositopenia
    • Perdarahan saluran cerna
    • Perdarahan paru
    • Gagal hati
    • Rhabdomyolysisatau kerusakan otot rangka.
    • Penggumpalan darah yang tersebar di seluruh tubuh.
    • Keguguran pada ibu hamil
    • Gagal jantung hingga mengakibatkan kematian

    Baca: Musim hujan, waspada penyakit kulit

    Komplikasi yang terjadi akibat leptospirosis cukup serius dan dapat mengakibatkan kematian. Karena itu, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi risiko penyebaran infeksi leptospirosis yaitu :

    1. Mengenakan pakaian pelindung, sarung tangan, sepatu bot, dan pelindung mata saat anda bekerja di area yang berisiko menularkan bakteri Leptospira.
    2. Menutup luka dengan plester tahan air, terutama sebelum kontak dengan air di alam bebas.
    3. Menghindari kontak langsung dengan air yang terkontaminasi, seperti berenang atau berendam.
    4. Mengonsumsi air minum yang sudah terjamin kebersihannya.
    5. Mencuci tangan setiap sebelum makan dan setelah melakukan kontak dengan hewan.
    6. Menjaga kebersihan lingkungan.
    7. Melakukan vaksinasi hewan peliharaan atau ternak.

     

     

  • Angka Kematian Akibat Penyakit Leptospirosis Meningkat, Pemerintah Kota Yogyakarta Galakkan Pembersihan Lingkungan

    Angka Kematian Akibat Penyakit Leptospirosis Meningkat, Pemerintah Kota Yogyakarta Galakkan Pembersihan Lingkungan

    7cloud.asia – Menyikapi kematian yang dipicu Leptospirosis Pemerintah Kota Yogyakarta telah menerbitkan Surat Edaran Wali Kota Nomor 100.3.4 / 2407 Tahun 2025 Tentang Kewaspadaan Kejadian Leptospirosis dan Hantavirus.

    Kebijakan ini sebagai bentuk penguatan kewaspadaan dan pengendalian penyakit Leptospirosis yang penularannya dipicu tikus tersebut.

    Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, hingga 9 Juli 2025 telah tercatat 19 kasus leptospirosis, dengan enam di antaranya meninggal dunia.

    Angka tersebut menunjukkan case fatality rate (CFR) sebesar 31 persen, atau meningkat jika dibandingkan tahun 2024, yang mencatatkan 10 kasus dengan 2 kematian, CFR nya sebesar 20 persen.

    Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah mengatakan, salah satu upaya kami adalah akan melakukan sinergi antar OPD agar kasus tidak terus bertambah.

    “Kita nantinya juga melibatkan Dinas Perdagangan karena bahkan di pasar-pasar banyak barang-barang bertumpuk yang berpotensi menjadi sarang tikus,” ujar dalam jumpa pers di Kantor Diskominfosan, Kamis (10/7/2025).

    Baca: Mengenal apa itu Leptospirosis

    Ia menambahkan, kasus terakhir yang meninggal di Kota Yogyakarta merupakan seorang pekerja bengkel mengalami gejala demam pada tanggal 30 Juni 2025, kemudian meninggal dunia pada 8 Juli 2025 setelah sempat dirawat di rumah sakit.

    Namun aktivitas lain yang menyebabkan pasien menderita Leptospirosis sedang dalam proses penyelidikan lanjutan oleh pakar epidemiologi.

    Lana mengimbau masyarakat, jika mengalami gejala seperti demam lebih dari 38 derajat Celcius, disertai sakit kepala, nyeri otot nafas dan tubuh terasa lesu/lemas, maka segera ke fasilitas kesehatan terdekat.

    Selain Leptospirosis warga kota Yogyakarta juga diminta waspada terhadap kasus hantavirus. Walaupun masih jarang ditemukan, Pemkot Yogyakarta tetap meningkatkan kewaspadaan.

    “Gejalanya mirip dengan Leptospirosis seperti demam dan gangguan pernapasan. Hantavirus ditularkan melalui debu atau kontak dengan kotoran hewan terinfeksi. Penggunaan masker dan menjaga kebersihan menjadi langkah pencegahan utama,” imbuh Lana.

    Menurutnya, program Rumah Tidak Layak Huni yang digaungkan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo juga sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran bakteri Leptospirosis.

    Baca: Sejumlah penyakit yang sering muncul pascabanjir

    Pemerintah Kota Yogyakarta juga menggandeng lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk melakukan langkah cepat dalam memutus mata rantai penyakit Leptospirosis di Kota Yogyakarta.

    Dinas Kesehatan telah melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) pada kasus yang menyebabkan kematian serta melakukan desinfeksi lingkungan bersama Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta.

    Banyak kasus terjadi disebabkan lingkungan rumah yang masih ada sampah terbuka serta kondisi rumah yang kurang layak.

    Untuk itu, Dinas Kesehatan akan menggandeng Dinas Lingkungan Hidup dan dinas terkait lainnya agar penyakit yang ditularkan oleh tikus ini bisa ditekan.

    “Memang ada kenaikan yang cukup memprihatinkan. Kasus kematian cukup tinggi. Leptospirosis ini ditularkan dari hewan, terutama tikus, ke manusia melalui luka terbuka,” jelas

    Selain itu, Dinkes juga akan melakukan peningkatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, terutama kepada kelompok berisiko seperti petani, dan pekerja perkebunan, petugas kebersihan, aktivitas lain yang berhubungan dengan genangan air dan rekreasi air.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

  • Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    7cloud.asia – Penyakit yang ditularkan tikus kini menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap hantavirus. Selain hantavirus, ada dua penyakit lain yang juga berbahaya dan kerap menyerang manusia melalui paparan tikus, yaitu pes dan leptospirosis.

    Ketiga penyakit ini sama-sama berasal dari hewan pengerat, tetapi memiliki penyebab, gejala, hingga tingkat fatalitas yang berbeda. Berikut perbedaan ketiganya.

    1. Penyakit pes

    Pes atau plague merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang hidup pada hewan pengerat, termasuk tikus.

    Dalam sejarah dunia, pes pernah menjadi wabah besar yang menewaskan jutaan orang di Eropa pada pertengahan abad pertengahan.

    Kasus pes lebih banyak ditemukan di daerah pedesaan, kawasan perkebunan, atau wilayah dekat hutan yang menjadi habitat tikus liar.

    Baca: Hantavirus Mengancam, Gejala Mirip Flu Biasa

    Gejala penyakit ini biasanya muncul dalam waktu 2 hingga 6 hari setelah terinfeksi. Penderitanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, menggigil, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

    Meski dapat diobati dengan antibiotik, keterlambatan penanganan bisa memicu komplikasi serius seperti sepsis atau keracunan darah.

    Kondisi tersebut dapat menyebabkan perdarahan hebat pada organ vital hingga berujung kematian.

    1. Leptospirosis

    Selain pes, penyakit lain yang juga sering ditularkan tikus adalah leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang bersarang di tubuh tikus.

    Penularan terjadi melalui makanan, minuman, tanah, atau air yang telah terkontaminasi urine tikus. Risiko penularan meningkat saat banjir atau lingkungan yang sanitasi buruk.

    Baca: Angka Kematian Akibat Leptospirosis Meningkat

    Gejala leptospirosis kerap menyerupai flu berat, seperti demam, sakit kepala, muntah, diare, dan nyeri tubuh. Karena gejalanya mirip penyakit ringan, banyak penderita terlambat menyadari infeksi tersebut.

    Padahal, jika tidak segera ditangani, leptospirosis dapat menyebabkan komplikasi serius pada ginjal, hati, hingga gangguan pernapasan. Antibiotik dapat membantu penyembuhan, terutama bila diberikan pada fase awal infeksi.

    1. Hantavirus

    Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus dan mencit yang membawa virus dalam air liur, urine, atau kotorannya.

    Di Indonesia, infeksi hantavirus diketahui dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yakni sindrom demam berdarah yang disertai gangguan fungsi ginjal.

    Reservoir utama hantavirus di Indonesia antara lain tikus got (Rattus norvegicus), mencit rumah, dan tikus ladang. Virus hidup secara persisten di tubuh hewan tersebut tanpa menimbulkan gejala.

    Penularan ke manusia terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang telah mengering dan bercampur dengan debu di udara. Virus juga dapat masuk melalui luka terbuka atau kontak langsung dengan ekskresi tikus.

    Baca: Hantavirus Masuk Indonesia, Tiga Orang Meninggal

    Infeksi hantavirus terbagi dalam dua sindrom utama:

    1. HFRS (Ginjal & Demam Berdarah)
    • Inkubasi: 1–2 minggu (dapat sampai 8 minggu).
    • Gejala awal: demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan kulit kuning (jaundice) .
    • Gejala lanjut: gangguan fungsi ginjal seperti penurunan produksi urin dan tekanan darah rendah.
    1. HPS (Paru-paru/Cariopulmonal)
    • Lebih umum di Amerika, namun gejala mirip flu: demam, nyeri otot, mual, muntah, diare.
    • Pada 4–10 hari berikutnya, muncul batuk, sesak napas, dan cairan di paru hingga gagal napas.

    Tingkat kematian

    • HPS: sekitar 38 persen.
    • HFRS (Hantaan virus): tingkat fatalitas sampai 6 persen.