7cloud.asia – Menyikapi kematian yang dipicu Leptospirosis Pemerintah Kota Yogyakarta telah menerbitkan Surat Edaran Wali Kota Nomor 100.3.4 / 2407 Tahun 2025 Tentang Kewaspadaan Kejadian Leptospirosis dan Hantavirus.
Kebijakan ini sebagai bentuk penguatan kewaspadaan dan pengendalian penyakit Leptospirosis yang penularannya dipicu tikus tersebut.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, hingga 9 Juli 2025 telah tercatat 19 kasus leptospirosis, dengan enam di antaranya meninggal dunia.
Angka tersebut menunjukkan case fatality rate (CFR) sebesar 31 persen, atau meningkat jika dibandingkan tahun 2024, yang mencatatkan 10 kasus dengan 2 kematian, CFR nya sebesar 20 persen.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah mengatakan, salah satu upaya kami adalah akan melakukan sinergi antar OPD agar kasus tidak terus bertambah.
“Kita nantinya juga melibatkan Dinas Perdagangan karena bahkan di pasar-pasar banyak barang-barang bertumpuk yang berpotensi menjadi sarang tikus,” ujar dalam jumpa pers di Kantor Diskominfosan, Kamis (10/7/2025).
Baca: Mengenal apa itu Leptospirosis
Ia menambahkan, kasus terakhir yang meninggal di Kota Yogyakarta merupakan seorang pekerja bengkel mengalami gejala demam pada tanggal 30 Juni 2025, kemudian meninggal dunia pada 8 Juli 2025 setelah sempat dirawat di rumah sakit.
Namun aktivitas lain yang menyebabkan pasien menderita Leptospirosis sedang dalam proses penyelidikan lanjutan oleh pakar epidemiologi.
Lana mengimbau masyarakat, jika mengalami gejala seperti demam lebih dari 38 derajat Celcius, disertai sakit kepala, nyeri otot nafas dan tubuh terasa lesu/lemas, maka segera ke fasilitas kesehatan terdekat.
Selain Leptospirosis warga kota Yogyakarta juga diminta waspada terhadap kasus hantavirus. Walaupun masih jarang ditemukan, Pemkot Yogyakarta tetap meningkatkan kewaspadaan.
“Gejalanya mirip dengan Leptospirosis seperti demam dan gangguan pernapasan. Hantavirus ditularkan melalui debu atau kontak dengan kotoran hewan terinfeksi. Penggunaan masker dan menjaga kebersihan menjadi langkah pencegahan utama,” imbuh Lana.
Menurutnya, program Rumah Tidak Layak Huni yang digaungkan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo juga sebagai salah satu upaya mencegah penyebaran bakteri Leptospirosis.
Baca: Sejumlah penyakit yang sering muncul pascabanjir
Pemerintah Kota Yogyakarta juga menggandeng lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk melakukan langkah cepat dalam memutus mata rantai penyakit Leptospirosis di Kota Yogyakarta.
Dinas Kesehatan telah melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) pada kasus yang menyebabkan kematian serta melakukan desinfeksi lingkungan bersama Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta.
Banyak kasus terjadi disebabkan lingkungan rumah yang masih ada sampah terbuka serta kondisi rumah yang kurang layak.
Untuk itu, Dinas Kesehatan akan menggandeng Dinas Lingkungan Hidup dan dinas terkait lainnya agar penyakit yang ditularkan oleh tikus ini bisa ditekan.
“Memang ada kenaikan yang cukup memprihatinkan. Kasus kematian cukup tinggi. Leptospirosis ini ditularkan dari hewan, terutama tikus, ke manusia melalui luka terbuka,” jelas
Selain itu, Dinkes juga akan melakukan peningkatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, terutama kepada kelompok berisiko seperti petani, dan pekerja perkebunan, petugas kebersihan, aktivitas lain yang berhubungan dengan genangan air dan rekreasi air.

Leave a Reply