Tag: literasi

  • Cara Pemkab Boyolali Tingkatkan Literasi Jadi Best Practice Nasional

    Cara Pemkab Boyolali Tingkatkan Literasi Jadi Best Practice Nasional

     

    7cloud.asia –  Pemerintah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah punya kiat tersendiri dalam meningkatkan literasi atau minat baca warganya. Pemkab Boyolali selalu mengedepankan komunikasi dan sosialisasi, terutama kepada ruang-ruang lingkup Pendidikan.

    “Kita dorong, kita bangun kesadaran, kata kuncinya adalah membangun kesadaran, kita bangunkan perpustakaan yang baik,” ujar Bupati Boyolali Said Hidayat saat menerima kunjungan kerja Anggota Komisi X DPR, Jumat (14/4/2023) lalu.

    Pemkab Boyolali juga menggalakkan program Boyolali Kaya Cerita. Menurut Hidayat, langkah ini mulai dilakukan tahun 2022 yang lalu dengan menghasilkan 22 buku tentang kearifan lokal Boyolali.

    “Sedangkan di tahun 2023 ini adalah sekitar 39 buku yang dapat kita hadirkan sehingga secara keseluruhan sudah ada 61 buku dalam konsep Boyolali Kaya Cerita,” papar Hidayat

    Apa yang dilakukan Pemkab Boyolali ini berhasil mendongkrak minat baca warga sehingga tingkat literasi kabupaten yang berada kaki gunung Merapi ini berada di peringkat 7 terbaik di tingkat nasional. 

    “Ini bagian juga yang memberikan dorongan anak-anak, karena ini secara rutin dari sekolah-sekolah hadir langsung ke perpustakaan diantar para guru-gurunya juga hadir di perpustakaan untuk apa membaca secara langsung buku-bukunya,” imbuh Hidayat.

    Baca: Menggali pemikiran Kartini lewat buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”

    Dalam kesempatan itu Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menyampaikan bahwa Komisi X DPR memiliki perhatian serius terkait tingkat literasidi Indonesia yang masih sangat rendah.

    “Kita baru saja membentuk Panja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP). Kita sedang menggali kenapa kita selalu tertinggal, apakah dari pemerintah, pemerintah itu dari desa kabupaten, kota atau provinsi atau dari pemerintah pusat atau dari masyarakat,” ungkapnya dalam kunjungan ke Boyolali tersebut. 

    Tingkat literasi di Indonesia memang masih memprihatinkan dan butuh perhatian serius oleh pihak-pihak terkait. 

    Merujuk pada data Program for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), Indonesia menjadi bagian dari 10 negara yang memiliki tingkat literasi rendah di tahun 2019. Tingkat literasi Indonesia berada di peringkat 62 dari 70 negara. 

    Sementara dalam penilain PISA, hasilnya juga tidak jauh berbeda. Di mana, indeks literasi Indonesia berada di posisi 62 dari 68 negara yang dinilai. Rendahnya literasi mengakibatkan rendahnya daya saing tenaga kerja Indonesia di tataran global. 

    Baca: Mengenal sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Menurut Fikri, untuk mengatasi kondisi ini, diperlukan kerjasama lintas sektor. Selain Kemendikbudristek, DPR dan pemerintah daerah juga punya peran sentral dalam meningkatkan minat baca atau literasi masyarakat.  

    “Kita akan terus menggali, sebabnya apa sehingga tingkat literasi ini sangat rendah. Faktanya kan banyak taman bacaan masyarakat, perpustakaan sekolah, nah ini seperti apa. Pada masa sidang nanti akan kita gali. Temuan di Kabupaten Boyolali ternyata tingkat literasinya peringkat 7 terbaik di Indonesia, saya kira best practice nampaknya kalau perlu nanti kita undang juga,” ungkap Fikri.

    Lebih lanjut, Fikri menegaskan harus ada terobosan-terobosan di era digital ini, karena sekarang ini eranya anak-anak pakai gadget, dan hampir semua aspek kehidupan bisa diakses secara daring. 

    “Kita tentu targetnya dalam meningkatkan literasi enggak peduli apakah ini pakai buku secara langsung atau mungkin pakai gawai atau apa saja karena memang eranya berubah, yang terpenting nantinya tingkat literasi bisa meningkat,” ujar Fikri.

     

     

  • Minat Baca dan Literasi Masyarakat Indonesia Rendah, Ini Sebabnya

    Minat Baca dan Literasi Masyarakat Indonesia Rendah, Ini Sebabnya

    7cloud.asia – Data Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mencatat bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001 persen.

    Dengan angka minat baca sebesar itu artinya hanya satu dari 1.000 orang yang gemar membaca di Indonesia.

    Survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) juga menunjukkan rendahnya minat baca masyarakat Indoensia.

    Survei yang dirilis pada tahun 2019 itu menyebut, Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara dalam hal literasi.

    Baca: Cara Pemkab Boyolali tumbuhkan minat baca jadi contoh nasional

    Menurut Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqii, hal tersebut menunjukan bahwa Indonesia termasuk dalam 10 negara dengan tingkat literasi terendah.

    Dengan kondisi ini, Komisi X DPR bersama dengan sejumlah mitra mengusulkan sejumlah masukan kepada pemerintah untuk meningkatkan minat baca dan budaya literasi masyarakat Indonesia.

    “Saya prihatin dengan persoalan literasi di Indonesia saat ini, yang berada pada kondisi darurat. Kondisi tersebut disebabkan karena abainya Pemerintah dalam membangun budaya membaca,” ujar Fikri.

    Hal itu diungkapkan Fikri usai memimpin Konsinyasi FGD Komisi X DPR dengan Kemendikbud-Ristek yang bertajuk ‘Darurat Literasi Indonesia: Urgensi Reformulasi dan Sinergi dan Kolaborasi’ di Jakarta, Sabtu (30/08/2023).  

    Baca: Cara mudah menanamkan minat baca sejak dini

    Fikri menambahkan, melalui Panja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP), Komisi X mencatat sejumlah penyebab rendahnya literasi.

    Seperti rendahnya alokasi anggaran, kondisi perpustakaan sekolah yang tidak memadak, bahkan secara umum tidak semua sekolah memiliki perpustakaan.

    Termasuk, jumlah tenaga pustakawan yang tidak sebanding dengan jumlah perpustakaan. 

    Karena itu, tambahnya, Komisi X berharap dengan terselenggaranya FGD dengan sejumlah mitra kerja menghasilkan sejumlah masukan-masukan serta usulan yang dapat meningkatkan kembali budaya literasi di Indonesia.

    Baca: Alasan mengapa tes calistung dihapus dari seleksi masuk SD

    Politisi Fraksi PKS ini mengatakan pihaknya akan mendorong enam kementerian dan lembaga yang mengampu program literasi agar dapat bekerja sama dalam melaksanakan peta jalan pembudayaan literasi yang sungguh-sungguh.

    Ia pun mengharapkan adanya koordinasi antar K/L tersebut, kemudian, Presiden atau pemerintah pusat menunjuk satu di antara K/L tersebut untuk menjadi leading sector.

    Selain itu, Komisi X juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) untuk merespons kondisi darurat literasi dengan membuat program nasional.

    Komisi X juga mendesak pemerintah mengalokasikan anggaran yang memadai untuk Kementerian/Lembaga yang memiliki tugas pokok dan fungsi di bidang pendidikan dan literasi.

    Baca: Cara mudah menumbuhkan motivasi belajar pada anak

    Hal tersebut, menurutnya, penting dilakukan mengingat minimnya alokasi anggaran literasi yang diperoleh oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) RI.

    Diketahui anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI tahun 2024 hanya Rp725 miliar.

    “Adapun anggaran Badan Bahasa yang mengampu program literasi di Kemendikbud Ristek hanya 0,72 persen dari keseluruhan anggaran,” kata Fikri yang juga Ketua Panitia Kerja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan DPR.

    Dia menabahkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait dalam membuat perencanaan kebutuhan tenaga perpustakaan dan alokasi dalam formasi rekrutmen Aparatur Sipil Negara (ASN) pada tahun 2024.

    Baca: Belajar berempati bisa ditanamkan sejak anak berusia 3 tahun

    “Jumlah tenaga perpustakaan tidak sebanding dengan jumlah perpustakaan. Belum ada skema alokasi kebutuhan tenaga perpustakaan di KemenPAN-RB (Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) dan BKN (Badan Kepegawaian Negara),” ucapnya

    Di kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpusnas RI Adin Bondar mengatakan sesungguhnya budaya membaca perlu dikuatkan sejak di level dini.

    Minat baca, ujarnya, bisa ditumbuhkan dari keluarga yaitu adanya kontribusi dari masing-masing keluarga.

    Hal itu karena budaya baca di masyarakat perlu ditanamkan, dikembangkan, serta dikuatkan mulai dari satuan pranata sosial terkecil bernama keluarga.

    Menurutnya, banyak keluarga yang kurang menanamkan budaya baca di dalam keluarganya sendiri. Bahkan, seolah menyerahkan sepenuhnya pengembangan pendidikan motorik emosional anak ke satuan pendidikan.

    Baca: Pendidikan montessori makin diminati

  • Gegara Pandemi Covid-19, Skor Literasi Membaca (PISA) Indonesia Turun

    Gegara Pandemi Covid-19, Skor Literasi Membaca (PISA) Indonesia Turun

    7cloud.asia – Skor literasi membaca Indonesia (PISA) pada 2022 mengalami penurunan 12 poin bila dibandingkan 2018.

    Penilaian tersebut dilakukan oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2022.

    PISA merupakan asesmen dari OECD yang dilakukan setiap tiga tahun sekali untuk menilai kemampuan belajar pelajar internasional.

    Pada 2022, skor literasi membaca Indonesia dalam PISA mencapai 359 poin. Nilai ini lebih rendah 12 poin dibandingkan 2018 di mana Indonesia mendapat skor 371.

    Bahkan, skor literasi membaca (PISA) Indonesia pada 2022 sama rendah dengan skor PISA tahun 2000 yakni 371.

    Dalam PISA terbaru, skor literasi membaca Indonesia pada 2022 mencatatkan nilai terendahnya sejak 2000.

    Baca: Jumlah sarjana yang menganggur terus bertambah

    Berikut skor literasi membaca Indonesia (PISA) pada 2022 menurut OECD:

    Skor tahun 2000: 371

    Skor tahun 2003: 382

    Skor tahun 2006: 393

    Skor tahun 2009: 402

    Skor tahun 2012: 396

    Skor tahun 2015: 397

    Skor tahun 2018: 371

    Skor tahun 2022: 359

    Baca: Separuh bahasa lokal di dunia terancam punah

    Selain literasi membaca, skor literasi matematika dan literasi sains Indonesia pada 2022 juga mengalami penurunan.

    Skor literasi matematika pada 2022 adalah 366. Padahal pada 2018, skornya 379.

    Sedangkan skor literasi sains dari 379 pada 2018, turun menjadi 366 pada 2022.

    Di sisi lain, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menegaskan, skor PISA 2022 tidak mencerminkan kondisi kualitas pendidikan saat ini.

    “Hasil PISA 2022 bukan cermin pendidikan saat ini, tapi itu dua tahun lalu saat kita menutup sekolah,” kata Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Anindito Aditomo, sebagaimana dilansir Antara.

    Baca: Learning loss massal karena pandemi Covid-19

    Anindito mengatakan, penurunan skor PISA 2022 diakibatkan penutupan sekolah di Indonesia selama hampir 24 bulan karena pandemi Covid-19.

    Pembelanjaran jarak jauh akibat pandemi Covid-19 ini menyebabkan learning loss secara massal.

    Dia menjelaskan, survei PISA dilakukan tepat setelah masa pandemi berakhir, yaitu sekitar Mei sampai Juni 2022.

    Sehingga, kata Anindito, hasil dari survei tersebut tidak bisa menjadi cerminan kondisi kualitas pendidikan Indonesia saat ini.

    “Itu usang tapi karena baru diumumkan kemarin jadi seolah-seolah itu potret pendidikan saat ini,” tutur Anindito.

    Dia menuturkan, apabila ingin mengetahui kondisi kualitas pendidikan Indonesia saat ini, data yang paling cocok untuk digunakan adalah hasil dari Asesmen Nasional (AN) 2023 yang akan dirilis awal tahun depan.

     

     

  • Gegara Pandemi Covid-19 Skor Literasi Belajar atau PISA Global Anjlok, Indonesia Naik 6 Tingkat

    Gegara Pandemi Covid-19 Skor Literasi Belajar atau PISA Global Anjlok, Indonesia Naik 6 Tingkat

    7cloud.asia – Peringkat hasil belajar literasi (Programme for International Student Assessment atau Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) Indonesia naik 5 sampai 6 posisi dibanding PISA 2018.

    Namun demikian, skor hasil belajar dan literasi (PISA) Indonesia  2022 turun dan menyamai poin tahun 2000

    Peningkatan posisi skor hasil belajar dan literasi (PISA) Indonesia ini merupakan capaian paling tinggi secara peringkat (persentil) sepanjang sejarah Indonesia mengikuti PISA.

    Untuk literasi membaca, peringkat Indonesia di PISA 2022 naik 5 posisi dibanding sebelumnya. Untuk literasi matematika, peringkat Indonesia di PISA 2022 juga naik 5 posisi, sedangkan untuk literasi sains naik 6 posisi.

    Peningkatan posisi Indonesia pada PISA 2022 mengindikasikan resiliensi yang baik dalam menghadapi pandemi Covid-19.

    Baca: Gegara pandemi Covid-19, skor PISA Indonesia turun ke titik terendah pada 2000

    Skor literasi membaca internasional di PISA 2022 rata-rata turun 18 poin. Sedangkan skor PISA Indonesia mengalami penurunan sebesar 12 poin.

    Angka ini merupakan penurunan dengan kategori rendah dibandingkan negara-negara lain.

    Dilansir dari Kompas.com, secara global, skor PISA 2022 yang diikuti 81 negara menurun. Skor PISA Indonesia 2022 pun menurun meskipun secara peringkat mengalami kenaikan.

    Penurunan skor PISA Indonesia diduga lantaran ketertinggalan pembelajaran atau learning loss selama pandemi Covid-19.

    Baca: Cara cerdas menumbuhkan motivasi belajar pada anak

    Mengutip laman oecd.org, Kompas.com merinci skor PISA 2022 di Indonesia dibandingkan dengan 2018:

    1. Kemampuan matematika Indonesia

    Skor pada 2022: 366 Skor pada 2018: 379. Peringkat kemampuan matematika Indonesia saat ini berada di urutan ke-70.

    2. Kemampuan membaca Indonesia

    Skor pada 2022: 359 Skor pada 2018: 371. Kemampuan membaca pelajar Indonesia berada di peringkat ke-71.

    3. Kemampuan sains Indonesia

    Skor pada 2022: 383 Skor pada 2018: 389. Peringkat kemampuan sains Indonesia berada di urutan ke-67.

    Baca: Cara mudah menumbuhkan minat membaca pada anak

    Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim mengatakan, peningkatan peringkat PISA ini menunjukkan ketangguhan sistem pendidikan Indonesia dalam mengatasi hilangnya pembelajaran (learning loss) akibat pandemi.

    Peringkat PISA Indonesia 2022 bisa naik karena relatif kecilnya learning loss yang mencerminkan ketangguhan para guru didukung berbagai program penanganan pandemi dari Kemendikbud Ritek.

    Berikut beberapa hal yang dilakukan Kemendikbud Ristek selama pandemi dan setelah pandemi untuk menekan learning loss di kalangan para siswa.

    1. Akses daring. Pemerintah memberikan bantuan kuota internet yang diberikan pada lebih dari 25 juta murid dan 1,7 juta guru agar dapat mengakses materi dan melaksanakan pembelajaran secara daring.

    2. Langkah berikutnya yang dilakukan Kemendikbud Ristek untuk menekan learning loss dengan melakukan pelatihan guru.

    Baca: Mengapa tes calistung dihapus dari seleksi masuk SD

    Melalui laman gurubelajardanberbagi.kemdikbud.go.id yang menyediakan berbagai pelatihan yang telah diikuti oleh hampir 800 ribu guru se-Indonesia.

    Laman ini sangat membantu untuk bertransisi dan mengetahui bagaimana caranya mengajarkan saat PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dan bagaimana perubahan pelajaran yang harus dilakukan saat PJJ.

    3. Materi pembelajaran menjadi langkah berikutnya yang dilakukan Kemendikbud Ristek untuk menekan learning loss. Berbagai materi pembelajaran dibuat untuk membantu guru melaksanakan pembelajaran daring dan hybrid.

    “Kita juga melakukan pendidikan lewat TVRI melalui program Belajar dari Rumah, modul asesmen diagnostik, modul pembelajaran literasi dan numerasi,” beber Nadiem Makarim.

    4. Opsi Kurikulum Darurat. Salah satu inisiatif yang terbesar yakni dengan memberikan opsi bagi sekolah untuk melaksanakan Kurikulum Darurat.

    Baca: Sekolah ini ajak siswanya gemar membaca dan menulis

    Materi kurikulum disederhanakan agar guru dapat fokus pada pembelajaran yang lebih mendalam. Terutama untuk literasi dan numerasi murid.

    “Penyederhanaan materi kurikulum efektif memitigasi learning loss. Sekolah yang menggunakan Kurikulum Darurat mengalami 1 bulan learning loss dibanding sekolah yang tidak menerapkan Kurikulum Darurat mengalami 5 bulan learning loss,” beber Nadiem.

    Dilansir dari laman Direktorat GTK Kemendikbud Ristek, Direktur untuk Pendidikan dan Keterampilan, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Cooperation and Development, OECD), Andreas Schleicher memuji ketangguhan sistem pendidikan Indonesia, terutama di saat pandemi Covid-19.

    Beberapa tahun terakhir ini menurutnya merupakan masa yang sangat sulit. Namun, peserta didik Indonesia secara umum berhasil mempertahankan kualitas hasil pembelajaran dalam nilai PISA mereka.

    “Kami sampaikan selamat kepada Indonesia yang telah berhasil menjaga kualitas hasil pembelajaran. Hasil PISA ini juga menunjukkan bahwa para guru di Indonesia memberi dukungan yang baik para murid selama pandemi,” urai Andreas.

     

  • Skor PISA Indonesia Turun Drastis, Ini Respon DPR

    Skor PISA Indonesia Turun Drastis, Ini Respon DPR

    7cloud.asia – Meski peringkat naik, skor pada Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia tahun 2022 menurun dan mendekati angka terendah sejak 2009.

    Secara Internasional, skor literasi membaca (PISA) Indonesia mengalami penurunan hingga 12 poin. Kemudian, skor matematika Indonesia turun hingga 13 poin.

    Selain itu, skor sains mengalami sedikit penurunan hingga di atas rata-rata dari 13 poin.

    Pandemi Covid-19 yang memaksa siswa belajar dari rumah dituding sebagai penyebab turunnya skor PISA Indonesia ini.

    Baca: Gegara pandemi skor PISA global anjlok

    Atas dasar laporan itu, Anggota Komisi X DPR RI Mustafa Kamal menegaskan pemerintah perlu melakukan pembenahan sistem pendidikan Indonesia secara menyeluruh. 

    “Skor yang turun ini tentu menjadi suatu pembelajaran bagi kita semua agar kedepannya dapat meningkatkan kualitas kemampuan siswa dalam literasi, terutama dalam matematika dan sains siswa,” tanggap Mustafa, Sabtu (30/12/2023) seperti dikutip Parlementaria.

    Lebih lanjut, Politisi Fraksi PKS itu berharap pemerintah lebih tanggap untuk menyelesaikan isu tersebut dengan solusi yang efektif.

    Apalagi, menurutnya, penurunan skor ini juga disebabkan oleh Pandemi Covid-19, sehingga memberikan dampak besar terhadap kualitas literasi siswa Indonesia.

    Baca: Skor PISA Indonesia turun ke titik pada tahun 2000  

    Menurut Kamal, guru harus mampu menghadirkan kontekstual masalah dalam kehidupan sehari-hari yang nantinya dicurahkan dalam bentuk soal.

    “Namun, guru dan pemerintah tentu sudah berusaha dalam meningkatkan kualitas pendidikan siswa di Indonesia.” tandasnya.

    Sebagai informasi, Survey Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 ini mengukur kualitas literasi, matematika, dan sains siswa yang terlibat dalam survei di negara OECD, termasuk di dalamnya Indonesia.

    Kegiatan ini melibatkan kurang lebih 14.000 siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP), kelas X Sekolah Menengah Atas (SMA) / Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

  • Butuh Lembaga Khusus untuk Dongkrak Literasi Siswa Didik di Indonesia

    Butuh Lembaga Khusus untuk Dongkrak Literasi Siswa Didik di Indonesia

    7cloud.asia –  Berdasarkan data dari Tes Programme for International Student Assessment (PISA) yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), skor PISA Indonesia menurun pada 2022. 

    Gegara pandemi Covid-19 skor hasil belajar dan literasi (PISA) Indonesia  2022 turun dan menyamai poin tahun 2000..

    Skor PISA Indonesia mengalami penurunan sebesar 12 poin yakni dari 371 ke 359. Sedangkan skor literasi membaca internasional di PISA 2022 rata-rata turun 18 poin.

    Namun, Peringkat hasil belajar literasi (Programme for International Student Assessment atau Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) Indonesia naik 5 sampai 6 posisi dibanding PISA 2018.

    Indonesia berada pada urutan ke-74 untuk tes literasi, urutan ke-73 untuk matematika, dan urutan ke-71 untuk sains dari 79 negara partisipan pada tahun 2018.

    Baca: Mengungkap fakta turunnya skor PISA Indonesia

    Menanggapi kondisi ini, anggota Komisi X DPR Andreas Hugo Pareira mengatakan  butuh lembaga khusus yang bertanggung jawab mendongkrak tingkat literasi di Indonesia.

    Hal itu disampaikan Andreas saat pertemuan dengan Bupati Sleman dan jajarannya di Sleman, DIY, Selasa (27/2/2024).

    Tes PISA sendiri adalah suatu studi untuk mengevaluasi sistem pendidikan yang diikuti oleh lebih dari 70 negara di seluruh dunia.

    “Tes Perolehan skor PISA tersebut mencerminkan bahwa pendidikan Indonesia secara umum belum berhasil membentuk peserta didik yang memiliki daya nalar, literasi, dan numerik yang baik,” jelas Andreas dikutip Parlementaria.

    Oleh sebab itu, Andreas menegaskan dibutuhkan lembaga khusus setingkat kementerian yang khusus mengurusi literasi ini karena dianggap penting sebagai respons atas rendahnya nilai tes PISA negara Indonesia.

    Baca: Peringkat PISA indonesia naik

    Bahkan pada tingkat ASEAN, skor PISA Indonesia berada di bawah Malaysia, dan Brunei Darussalam.

    Secara konsisten, Panja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP) Komisi X DPR menyerap aspirasi yang berasal dari berbagai jenis stakeholder termasuk di Kabupaten Sleman ini.

    Sebagai informasi, Panja Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan (PLTP) dibentuk sebagai upaya DPR mendukung Pemerintah Indonesia untuk memperbaiki kuantitas dan kualitas literasi baca di Indonesia.

    Salah satu kebijakan yang dilakukan adalah dengan melalui pemberdayaan peran perpustakaan. 

    “Ke depan penting bagi negara untuk memperhatikan aspek literasi ini karena menyangkut kualitas sumber daya manusia dan tumbuh berkembangnya suatu peradaban masyarakat,” tukas politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini.

    Baca: Skor PISA Indonesia 2022 anjlok  

    Legislator asal Dapil Nusa Tenggara Timur I ini menambahkan bahwa sebenarnya dalam pemerintahan Presiden Jokowi dan Ma’ruf Amin salah satu program prioritasnya dalam membangun kualitas sumber daya manusia. 

     

    “Salah satu aspek yang berkaitan adalah peningkatan literasi. Sementara kondisi saat ini tingkat literasi di kalangan mahasiswa kita masih tergolong rendah,” pungkasnya. 

  • Benarkah Masyarakat Terjebak Pinjol dan Judi ‘Online’ karena Tak Paham Literasi Keuangan?

    Benarkah Masyarakat Terjebak Pinjol dan Judi ‘Online’ karena Tak Paham Literasi Keuangan?

    7cloud.asia – Dalam debat capres beberapa waktu lalu, Ganjar Pranowo menyebut literasi masyarakat Indonesia soal keuangan masih rendah sehingga membuat masyarakat kerap bermasalah dengan pinjaman online (pinjol) dan judi online.

    Untuk menguji pernyataan Ganjar tersebut, The Conversation Indonesia menghubungi Imam Salehudin, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dan Alexander Michael Tjahjadi, peneliti dari Think Policy untuk memeriksa kebenaran pernyataan Ganjar tersebut.

    Analisis 1: inklusi keuangan tinggi, literasinya rendah
    Berdasarkan hasil Survey Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2022 Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 49,68%.

    Meskipun naik dibanding tahun 2019 yang hanya 38,03%, angka ini tergolong rendah. Sementara, tingkat inklusi keuangan sudah mencapai 85,10% pada 2022, naik dari 76,19% pada 2019.

    Indeks literasi keuangan terdiri dari parameter pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku seputar keuangan. Sedangkan, indeks inklusi keuangan berpaku pada akses masyarakat terhadap produk keuangan yang ada.

    Sementara, Data Statistik Fintech OJK menunjukkan bahwa transaksi tahunan bisnis pinjol naik menjadi Rp50,3 triliun per November 2022, atau meningkat sebesar 72,7% dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.

    Baca: Klinik investasi

    Meski demikian, tingkat wanprestasi (gagal bayar) secara agregat pada kurun tersebut tercatat menurun menjadi 2,83%, walaupun terdapat 23 perusahaan yang berada di atas ambang 5%.

    Di sisi lain, data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) melaporkan bahwa total transaksi judi online di Indonesia pada 2017 – 2022 diperkirakan mencapai Rp190 triliun.

    Total 2,76 juta pemain terlibat–2,19 juta di antaranya disinyalir berpenghasilan rendah dengan nilai transaksi di bawah Rp100 Ribu.

    Hasil analisis 1
    Pada dasarnya, pernyataan bahwa literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah memang benar. Terlebih lagi, tingkat literasi tersebut tidak sebanding dengan tingkat partisipasi masyarakat pada layanan keuangan seperti pinjol.

    Pada waktu yang bersamaan, terdapat pertumbuhan pesat dari permainan judi online di Indonesia.

    Rendahnya literasi keuangan menjadi salah satu faktor kerentanan terhadap perilaku keuangan yang tidak bertanggung jawab.

    Baca: Biaya kuliah tinggi apakah pinjol memberi solusi?

    Namun, ada banyak faktor yang juga menentukan pemakaian pinjol dan judi online. Kedua permasalahan tersebut tidak dapat dipecahkan hanya dengan pendidikan literasi keuangan.

    Analisis 2: ada tekanan sosial
    SNLIK OJK tahun 2022 menunjukkan bahwa literasi keuangan meningkat pesat selama 10 tahun terakhir, dari 21,8% pada 2013 menjadi 49,68% pada tahun 2022.

    Sementara, inklusi keuangan meningkat dari 59,4% menjadi 85,10% selama periode yang sama.

    Hasil riset dan ekonometri Asian Development Bank tahun 2020 menunjukkan bahwa pengaruh pendidikan penting dalam literasi keuangan, dan pada gilirannya memengaruhi kemiskinan.

    Dalam mengejar literasi keuangan, terdapat empat hambatan yaitu bervariasinya pendidikan yang ada, keinginan untuk mempelajari finansial, paradigma legalitas produk keuangan, dan infrastruktur yang tidak merata.

    Sementara itu, menurut OJK, terdapat 101 pinjol terdaftar. Modul literasi keuangan juga telah tersedia.

    Baca: Jangan pernah mencoba judi online atau merasakan akibat ini 

    Dari sisi konsumsi, pengeluaran juga terpengaruh tekanan sosial masyarakat. Survei dari UOB Indonesia menunjukkan pengeluaran generasi milenial berpusat pada makanan, kecantikan, perjalanan, dan aktivitas digital.

    Sementara, data lain menunjukkan laki-laki urban memiliki pengeluaran yang lebih besar, tergantung jumlah anggota keluarganya.

    Hasil analisis 2:
    Pernyataan Ganjar tentang literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah patut untuk dicermati. Sebab, pada 2022, 1 dari 2 orang Indonesia sudah memiliki pengetahuan tentang produk keuangan.

    Fenomena pinjol dan judi online bukan sekadar masalah literasi tetapi juga konsumsi yang berlebih. Keengganan untuk mempelajari produk keuangan serta ketidaktahuan apakah produk keuangan legal atau tidak juga patut untuk dilihat.

    Tekanan sosial memengaruhi bagaimana orang mengkonsumsi produk finansial yang ada. Karakteristik jumlah keluarga–apakah dia single atau sudah menikah–juga memberi dampak.

    Yang terpenting adalah pengetahuan soal manajemen keuangan agar masyarakat tidak melakukan pengeluaran berlebih.

    Artikel ini merupakan hasil kolaborasi program Panel Ahli Cek Fakta The Conversation Indonesia bersama Kompas.com dan Tempo.co, didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

  • Riset: Budaya Baca di Indonesia Juga Berkaitan dengan Norma Sosial

    Riset: Budaya Baca di Indonesia Juga Berkaitan dengan Norma Sosial

    7cloud.asia – Sejak keikutsertaannya pada tahun 2000 dalam Program for International Student Assessment (PISA) dari OECD, organisasi inter-governmental yang bermisi untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik melalui pembangunan kebijakan, Indonesia masih betah berada di klasemen bawah.

    Data PISA terbaru tahun 2022 menunjukkan, Indonesia menduduki peringkat 69 dari 81 Negara yang ikut serta.

    Dari segi literasi saja, skor PISA Indonesia di tahun 2022 khusus untuk kategori kemampuan membaca berada di peringkat ke 71 dari 81 negara dengan skor 371, di bawah rata-rata skor membaca global yakni 476.

    Sementara itu, survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan hanya terdapat 13,11 persen orang Indonesia yang membaca buku dalam sebulan terakhir selama periode survei tersebut. Ini mengindikasikan bahwa budaya membaca di Indonesia masih lemah.

    Sebenarnya, pemerintah telah berupaya membenahi persoalan ini dengan berbagai program. Sebut saja program Satu Desa Satu Perpustakaan, Gerakan Literasi Sekolah, atau Sastra Masuk Kurikulum.

    Baca Juga: Gegara Pandemi Covid-19, Skor Literasi Membaca (PISA) Indonesia Turun

    Namun, upaya-upaya intervensi tersebut tampaknya tidak cukup untuk membangun budaya membaca di Indonesia. Sebab, menurut kami, ada perspektif yang tidak utuh dari cara pandang pemangku kepentingan dalam melihat budaya membaca di Indonesia.

    Selama ini, segala intervensi yang dilakukan masih terlalu berfokus pada pembangunan akses terhadap buku-buku bacaan. Padahal, selain akses, ada faktor lain yang juga berperan dalam menciptakan budaya baca, yaitu norma sosial.

    Norma sosial dan budaya baca
    Norma sosial merupakan seperangkat hal yang diterima atau dianggap normal (pantas) oleh orang-orang dalam suatu kelompok secara kolektif.

    Norma sosial dapat berfungsi sebagai navigator bagi seseorang untuk menentukan apakah perbuatan yang ia lakukan dapat diterima atau tidak oleh masyarakat sekaligus memprediksi bagaimana orang lain akan menanggapi perilakunya secara sosial.

    Icek Ajzen, seorang psikolog sosial dan profesor emeritus di Universitas Massachusetts Amherst, Amerika Serikat (AS) dalam teorinya, Theory of Planned Behaviour (teori perilaku yang direncanakan,) menjelaskan bahwa persepsi terhadap norma sosial adalah salah satu variabel yang menentukan munculnya intensi seseorang untuk melakukan sesuatu.

    Baca Juga: Tak Hanya Membaca, Homeschool Tunas Bangsa Juga Ajak Siswanya Membuat Buku

    Artinya, sebelum melakukan sesuatu, seseorang biasanya akan memeriksa dulu apakah lingkungan sekitarnya bisa menerima perilaku yang akan ia lakukan.

    Jika seseorang meyakini bahwa lingkungannya tidak akan mendukung perilakunya, maka ia akan cenderung mengurungkan niat untuk melakukan sesuatu tersebut.

    Dalam konteks budaya membaca, norma sosial terhadap perilaku membaca merupakan seperangkat keyakinan kolektif yang memungkinkan masyarakat memandang perilaku membaca buku sebagai perilaku yang normal dan wajar untuk dilakukan.

    Jika akses memberi seseorang kesempatan untuk membaca dengan menyediakan buku bacaan, norma sosial berperan untuk memelihara perilaku membaca buku sebagai sebuah perilaku yang dianggap normal, atau bahkan dirayakan, dalam masyarakat.

    Di Indonesia, norma sosial yang mendukung perilaku membaca tampaknya belum terbentuk.

    Baca Juga: Literasi Bintaro, Membangun Minat Membaca Anak dengan Mendongeng dan Mewarnai

    Berdasarkan survei perilaku membaca yang kami lakukan pada 503 orang responden pada tahun 2023 di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sebagian besar responden masih beranggapan bahwa lingkungan sosialnya tidak begitu mendukung perilaku membaca buku.

    Saat ditanya apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya ketika membaca buku di tempat umum? Sebagian besar responden meyakini bahwa mereka akan dicap negatif oleh masyarakat.

    Terdapat 30 persen responden (porsi terbesar) yang berpikir bahwa mereka akan dicap terlalu serius dan 23 persen responden (terbesar ketiga) yang berpikir bahwa mereka akan dicap sok intelek.

    Temuan ini menunjukkan bahwa orang Indonesia masih menganggap perilaku membaca sebagai perilaku yang dicap negatif oleh lingkungan.

    Argumen tersebut diperkuat dengan data yang menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 50 persen dari total responden yang beranggapan bahwa circle (lingkaran pertemanan) mereka sendiri tidak mendukung perilaku membaca.

    Baca Juga: Membaca Pemikiran Kartini Lewat Habis Gelap Terbitlah Terang

    Selain itu, keluarga yang seringkali menjadi faktor penting terbentuknya perilaku juga tidak cukup dominan mendukung perilaku membaca.

    Sekalipun sebagian besar (54,8%) merasa didorong oleh keluarga untuk membaca buku, 45,2 persen responden masih merasa perilaku membacanya tidak didukung.

    Data di atas juga didukung oleh studi tahun 2021 yang menunjukkan bahwa ketika perilaku membaca dianggap sebagai kegiatan yang dihargai dan didukung oleh orang tua, orang-orang cenderung mengembangkan kebiasaan membaca yang kuat.

    Lantas adakah upaya intervensi yang bisa dilakukan untuk meningkatkan budaya membaca di Indonesia, jawabannya akan kita ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, penulis:

    1. Anhar Dana Putra, Associate professor, Politeknik STIA LAN Makassar

    2. Andika, Lecturer in Geophysics, Universitas Hasanuddin

    3. Andi Riswan Mohamad, Lecturer in Linguistics and Literary Studies, Universitas Negeri Makassar

  • Di Tengah Era Informasi Literasi Masyarakat Indonesia Masih Sangat Rendah: Perlu Penguatan Segera

    Di Tengah Era Informasi Literasi Masyarakat Indonesia Masih Sangat Rendah: Perlu Penguatan Segera

    7cloud.asia – Data Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang dirilis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan capaian literasi peserta didik Indonesia tergolong rendah dan perlu ditingkatkan.

    Data tersebut mengungkap pemahaman tekstual tercatat sebesar 49,21 persen, pemahaman inferensial 43,21 persen, serta kemampuan evaluatif dan apresiatif terhadap teks sebesar 45,32 persen.

    Menyikapi kondisi ini, Anggota Komisi X DPR, Lestari Moerdijat menilai capaian tersebut mengindikasikan bahwa lebih dari separuh peserta didik belum memiliki fondasi literasi yang kuat.

    “Ini bukan sekadar persoalan angka, tetapi ancaman nyata bagi daya saing dan kedaulatan bangsa,” tegas Wakil Ketua MPR ini seperti dikutip Parlementaria, Kamis (26/3/2026).

    Baca: Pandemi Covid-19 mengakibatkan skor literasi Indonesia turun

    Ia mengungkapkan sejumlah tantangan dalam peningkatan literasi nasional, antara lain kesenjangan literasi antarwilayah, dominasi budaya lisan dibandingkan budaya tulis, harga buku yang relatif mahal, serta kurangnya dukungan dari lingkungan keluarga.

    Sebagai langkah konkret, Lestari mendorong peningkatan akses masyarakat terhadap buku berkualitas melalui penguatan perpustakaan serta penghapusan pajak buku, termasuk PPN dan pajak bahan baku kertas.

    Ia menyampaikan bahwa DPR tengah mendorong revisi regulasi terkait perbukuan untuk mendukung upaya tersebut. Lestari juga menekankan pentingnya pemerataan distribusi guru berkualitas di seluruh daerah.

    “Guru adalah panglima literasi di lapangan. Tidak cukup hanya menempatkan guru, tetapi juga harus memastikan dukungan dan insentif yang layak,” imbuhnya.

    Baca: Harga buku mahal jadi pemicu rendahnya literasi masyarakat Indonesia

    Lebih lanjut, Lestari mendorong agar peningkatan literasi dijadikan sebagai gerakan nasional yang terukur melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.

    “Literasi adalah fondasi kedaulatan bangsa. Jika generasi penerus tidak mampu menelaah informasi dengan baik, hal itu berpotensi menggerus kedaulatan Ibu Pertiwi,” tandasnya

    Lestari menegaskan pentingnya penguatan literasi masyarakat sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan kehidupan berbangsa, di tengah derasnya arus informasi saat ini.

    Menurut politisi Partai NasDem tersebut, literasi di era digital tidak lagi sekadar kemampuan membaca, tetapi juga menuntut kemampuan berpikir kritis dalam memahami dan menyaring informasi.

    “Tantangan literasi saat ini sangat berat. Masyarakat harus mampu berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi,” ujarnya.