Ilustrasi masker kesehatan Foto: ANTARA/Wuryanti Puspitasari
“Mengenakan masker dalam interaksi antara pasien dan petugas kesehatan harus terus mendapat pertimbangan serius sebagai langkah keselamatan pasien,” kata peneliti.

Ilustrasi masker kesehatan Foto: ANTARA/Wuryanti Puspitasari
“Mengenakan masker dalam interaksi antara pasien dan petugas kesehatan harus terus mendapat pertimbangan serius sebagai langkah keselamatan pasien,” kata peneliti.

7cloud.asia – Polusi udara telah megakibatkan kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya tak lagi aman untuk kesehatan.
Lantas, adakah cara untuk mengatasi kondisi yang diakibatkan polusi udara di Jakarta ini? Haruskah kita membatasi aktivitas kita karena polusi udara yang tinggi ini?
Sejumlah pakar memang menyarankan warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat polusi udara sedang tinggi seperti sekarang. Kalaupun harus melakukan kegiatan di luar ruangan, disarankan untuk mengenakan masker.
Pakar imunologi dari Universitas Indonesia Prof Dr dr Bambang Supriyanto, SpA (K) mengatakan, mengenakan masker bisa menjadi solusi mengurangi dampak buruk polusi udara pada kesehatan.
Baca: Kualitas udara Jakarta tidak bagus untuk kesehatan, warga disarankan kenakan masker
Selain masker, dia juga menyarankan masyarakat tidak merokok, menghindari bepergian ke daerah polusi tinggi, banyak minum air, tidak membakar sampah, tidak melakukan aktivitas fisik berlebihan dan konsumsi makanan sehat bergizi seimbang.
Berbicara dampak polusi, Bambang menyebutkan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atas karena merusak mukosa saluran nafas sehingga memudahkan virus dan bakteri masuk,
Polusi udara yang berlebihan juga bisa memicu ISPA bawah atau pneumonia, TBC, asma, dan pada jangka panjang bisa menurunkan fungsi paru.
“Untuk jangka panjang, fungsi paru bisa menurun sehingga tidak bisa maksimal menghirup oksigen, siap-siap penyakit kronis bisa timbul. Pada anak yang asma menjadi lebih berat. Pada bayi, akan kurus atau kecil berat lahir, bisa prematur,” demikian ujar dia seperti dikutip Antaranews.com.
Baca: Dampak polusi udara pada kesehatan, dari ISPA hingga potensi serangan jantung
Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, Sp. P(K), FISR, FAPSR mengatakan masker bedah masih bisa digunakan saat kualitas udara berada pada kategori tak sehat atau masuk zona kuning.
“Tetapi kalau sudah oranye, merah, misalnya kalau bisa lebih tinggi maskernya (tingkat penyaring), karena lebih pekat kadar PM 2.5-nya,” kata dia di Jakarta, Kamis (24/8/2023) seperti dikutip Antaranews.com.
Apabila merujuk pada indeks standar pencemar udara (ISPU), kategori kualitas udara tak sehat memiliki rentang nilai 1 – 50.
Sementara bila tak mengandalkan alat melainkan pandangan mata, kualitas udara di lokasi dikatakan tidak sehat jika jarak pandang hanya sejauh 2,5 kilometer.
Baca: Dampak polusi pada ibu hamil
Menurut Agus, idealnya saat menghadapi polusi udara, orang-orang perlu mengenakan masker dengan kemampuan filtrasi atau penyaring particulate matter (PM) 2.5, yakni indikator dalam polusi udara, seperti N95, KN95, KF94.
Hanya saja, sambung dia, masker jenis ini tidak diizinkan pada populasi sensitif, seperti wanita hamil, anak-anak, orang tua dan mereka dengan penyakit tertentu karena membuat lebih pengap akibat masker sangat ketat.
“Oleh karena itu pada kelompok sensitif disarankan masker lain yang bisa mem-filtrasi PM 2.5. Kalau tidak terdapat itu maka minimal pakai masker bedah biasa karena bisa memfiltrasi PM 2.5 sekitar 50 persen,” ujar Agus.
Dia menambahkan, orang-orang tetap harus menggunakan masker minimal masker bedah saat berada di luar ruangan.
Atau sebisa mungkin mengenakan masker yang lebih tinggi level filtrasinya terutama saat polutan berada pada level lebih tinggi.
Baca: Polusi udara bisa engaruhi kesuburan laki-laki

7cloud.asia – Kabut asap menyelimuti Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) sejak beberapa hari terakhir membuat kualitas udara menjadi tidak sehat. Masyarakat diimbau menggunakan masker saat diluar ruangan.
“Kualitas udara sudah menurun sejak beberapa hari terakhir. Namun statusnya masih sedang. Hari ini kembali menurun kembali menjadi tidak sehat,” urai Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar, Asben Hendri.
Melansir Antaranews, pada Rabu (18/10/2023) siang kualitas udara di Kota Padang menurun dengan nilai PM2.5 berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 105, akibat kabut asap.
ISPU yang mencapai 105 masuk kategori tidak sehat. Kualitas udara tersebut dinilai merugikan bagi kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan.
Selanjutnya Asben menerangkan kabut asap di Kota Padang diduga berasal dari provinsi tetangga yang terbawa angin hingga ke Sumbar.
Sebab menurut BMKG, prakiraan angin secara umum bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan 10 – 20 km/jam.
Asben juga mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah atau jerami di sawah agar kabut asap tidak semakin pekat serta memperburuk kondisi udara.
Sementara itu, Dinas Kehutanan Sumbar hari ini terpantau sejumlah titik panas dan titik api pada beberapa daerah di Sumbar.
Kepala Dinas Kehutanan Sumbar Yozarwardi menyebut berdasarkan aplikasi SiPongi milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, terpantau belasan titik panas (hotspot) di Sumbar.
Belasan titik panas tersebut berada di Pesisir Selatan, Sijunjung, dan Solok Selatan. Sedangkan titik api (fire spot) terpantau di perbatasan Kabupaten Pesisir Selatan dengan Provinsi Bengkulu.
Ia menyebut petugas telah turun ke lapangan untuk memastikan titik panas tersebut berupa kebakaran lahan/hutan atau tidak.
Seperti yang diwartakan sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan terjadi di beberapa wilayah di Sumatera Selatan, yaitu Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Kabupaten Musi Banyuasin.
Selain itu, kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di sekitar lokasi pemegang izin berbasis lahan lainnya seperti di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Muara Enim, Lahat, dan Musirawas.
Akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut, asap mengepung wilayah tersebut hingga ke provinsi lainnya.
Reporter: Nurakhmayani

7cloud.asia – Jelang libur Natal dan Tahun Baru, kasus Covid-19 di Indonesia mulai meningkat. Namun, pemerintah belum mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk menggunakan masker.
Hal ini diungkapkan oleh Presiden Jokowi usai meninjau proyek pembangunan MRT Fase 2A di kawasan Monas pada Jumat (15/12/2023).
“Belum sampai ke sana. (Tapi) selalu diikuti dan diamati oleh Menteri Kesehatan dan jajaran,” ucapnya seperti yang dikutip Antaranews.
Selanjutnya Jokowi menjelaskan berdasarkan laporan dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, saat ini situasi masih dalam kondisi baik.
Baca: Peningkatan penyebaran Covid-19 di 21 propinsi
Meski demikian, Jokowi telah memerintahkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk mengikuti dan mengamati secara detail perkembangan COVID-19 kali ini.
“Iya saya sudah memerintahkan kepada Menteri Kesehatan untuk diikuti dan diamati betul secara detail perkembangannya seperti apa,” ujarnya.
Sebelumnya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan situasi Covid-19 di Indonesia mengalami tren peningkatan terutama pada 21 provinsi dalam kurun beberapa pekan terakhir.
“Kemenkes telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Lonjakan Kasus Covid-19,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (14/12/2023).
Dilansir melalui laman Infeksi Emerging Kemenkes, provinsi yang mengalami tren peningkatan kasus Covid-19 yakni Banten, Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur.
Di luar Jawa, lonjakan kasus Covid-19 terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Baca: Dinkes DKI Jakarta temukan 2 Kasus kematian akibat Covid-19
Situasi yang sama juga dilaporkan peningkatan kasus Covid-19 dari Kepulauan Riau, Lampung, NTT, Papua Barat, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.
Tren kenaikan kasus mingguan Covid-19 nasional per 9 Desember 2023 dilaporkan menyentuh angka 554 kasus positif.
Sejak grafiknya dilaporkan menanjak mulai pekan ke-41 atau periode 8-14 Oktober 2023, kasus konfirmasi mingguan meningkat 134 persen per pekan.
Sedangkan kasus konfirmasi Covid-19 pada Kamis (14/12/2023) hari ini dilaporkan mencapai 359 kasus, sebanyak 79 diantaranya dilaporkan sembuh dan total kasus aktif mencapai 1.449 kasus.
Nadia memastikan peningkatan tren kasus itu tidak diikuti dengan peningkatan rawat inap dan kematian. Namun demikian Kemenkes menyatakan perlu ada upaya pencegahan penularan serentak oleh seluruh elemen masyarakat.
Baca: Gegara pandemi Covid-19 skorliterasi belajar anjlok
“Kasus Covid-19 kali ini didominasi oleh sub-varian EG.5 yang merupakan turunan dari varian Omicron dan masuk dalam kategori Variants of Interest (VoI) atau varian yang memiliki mutasi genetik yang diprediksi dapat mempengaruhi karakteristik klinis virus,” katanya.
Karakteristik dari sub-varian ini, kata dia, dapat menyebabkan peningkatan kasus dan menghindari kekebalan sehingga lebih mudah menginfeksi tetapi tidak ada perubahan tingkat keparahan.
“Namun adanya mobilisasi masyarakat saat libur Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 dapat berpotensi terhadap lonjakan kasus Covid-19,” katanya.
Menyikapi hal itu, Kemenkes menyebar SE terkait kewaspadaan penularan Covid-19 yang ditujukan kepada kepala Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten/kota, kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).
Reporter: Nurakhmayani

7cloud.asia – Kasus Covid-19 di Indonesia kembali naik beberapa pekan terakhir ini. Masyarakat perlu mengenakan masker saat berada di kerumunan, terutama saat liburan.
Imbauan ini disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, Dr. dr. Sally A. Nasution, SpPD, KKV, FINASIM, FACP pada Senin (18/12/2023).
“Masker, ini yang beberapa bulan ini enak tanpa masker, tetapi, kalau di tempat-tempat tertutup, berkumpul banyak, saya kira paling baik kita menjaga diri kembali, apalagi kelompok-kelompok komorbid,” jelas Sally sepeerti yang dikutip Antaranews.com.
Sama seperti masa pandemi Covid-19 dahulu, masyarakat juga diimbau menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta berusaha menghindari berkumpul.
Baca: Tiga faktor yang menyebabkan Covid naik
Meski demikian, menurut Sally kondisi saat ini berbeda dengan masa pandemi COVID-19. Angka kesakitan apabila terkena penyakit ini diharapkan tak seberat dulu.
“Saat ini kalau kita lihat data minimal vaksin satu dan dua minimal sudah lebih dari 50 persen dan kalau dilihat memang akan naik, tapi, beratnya penyakit Insya Allah tidak seperti dulu,” paparnya.
Tak hanya Covid-19, Sally mengatakan masyarakat juga harus waspada dengan penyakit-penyakit lainnya yang di musim pancaroba ini adalah influenza, pneumonia dan dengue.
Saat ini tersedia vaksin demi memberikan proteksi terhadap ketiga penyakit tersebut.
Sally menyarankan agar masyarakat melakukan vaksinasi terlebih dahulu sebelum bepergian minimal dua pekan sebelum keberangkatan.
Baca: Kasus Covid-19 naik tapi belum ada imbauan mengenakan masker
Sebab hal ini dapat meningkatkan kekebalan spesifik sehingga dapat mengurangi angka kesakitan, mengurangi beratnya penyakit, perawatan di rumah sakit, komplikasi akibat penyakit, dan menurunkan angka kematian.
“Vaksin itu paling baik dua minggu sebelum hari H, misal mau berangkat. Jarak antara vaksin dan kekebalan tubuh itu dua minggu. Jadi, kalau mau umroh atau haji, enggak bisa hari ini vaksin besok berangkat, proteksi tidak optimal,” urainya.
Meski demikian, tidak ada kata terlambat bagi orang-orang untuk divaksin terutama kelompok tertentu.
“Orang-orang sudah mengatur liburan dan sebagainya, kami rasa silahkan. Tetapi, hindari kerumunan, masker itu penting sekali. Lalu untuk komorbid kalau memang ada vaksinasi yang belum dilaksanakan, saya perlu dilakukan,” pesannya.
Reporter: Nurakhmayani