Tag: medan

  • Pernyataan Tembak Mati Begal di Medan Tuai Kontroversi, Ini Penjelasan Bobby Nasution

    Pernyataan Tembak Mati Begal di Medan Tuai Kontroversi, Ini Penjelasan Bobby Nasution

    7cloud.asia – Maraknya kejahatan begal dan semakin sadisnya perilaku para pelaku kejahatan begal di Medan makin meresahkan masyarakat.

    Walikota Medan Bobby Nasution pun meminta aparat penegak hukum untuk menindak tegas pelaku begal termasuk dengan tembak mati.

    Pernyataan ekstrim Bobby Nasution atas kejahatan begal ini menuai pro kontra. Sejumlah lembaga mengkitik perintah tembak mati ini, karena dinilai dapat melanggar HAM dan dikhawatirkan menyalahi prosedur penegakan hukum.

    Namun ‘perintah’ tembak mati begal dari Bobby Nasution ini mendapat dukungan dari masyarakat Medan yang sudah resah dengan perilaku para begal.

    Baca: Anak penyandang disabilitas jadi korban kejahatan

    Menanggapi hal itu, Pakar Hukum Pidana Universitas Sumatera Utara, Mahmud Mulyadi menilai pernyataan tembak mati pada begal yang dilontarkan Bobby Nasution menyiratkan adanya kegusaran masyarakat di tengah maraknya aksi begal di Kota Medan.

    “Saya melihat ada kegusaran dari Pak Walikota atas kejadian begal di Kota Medan tentunya masih banyak dan marak terjadi,” ujar Mahmud pada Senin (17/7/23) sebagaimana dikutip auroranews.id

    Mahmud menambahkan munculnya pernyataan tembak mati begal dimungkinkan dipengaruhi tidak maksimalnya penegakan hukum di Kota Medan.

    “Penegakan hukum terhadap para begal yang mungkin disoroti Pak Walikota belum maksimal di Kepolisian. Lalu ini bentuk satu tanggung jawab beliau (Bobby) selaku pemimpin Kota Medan,” tambahnya.

    Baca: Pelaku kekerasan sebabkan disabilitas pada PRT hanya dituntut 4 tahun

    Aksi begal di Kota Medan memang sudah meresahkan, Dalam kurun waktu sepekan terakhir, tercatat ada 2 kasus pembegalan, di mana pelaku tidak segan untuk melukai para korbannya.

    Pertama, kasus begal yang dialami seorang PNS wanita Kodam I Bukit Barisan di Kecamatan Medan Sunggal, pada Rabu 12 Juli 2023. Akibat kejadian itu, korban harus dirawat intensif karena terjatuh dari sepeda motornya.

    Kasus kedua, adalah kejahatan begal yang dialami ibu dan anak di Kecamatan Medan Denai, pada Kamis 13 Juli 2023.

    Korban juga harus dirawat karena mengalami luka yang cukup serius. Maraknya aksi begal di Kota Medan membuat masyarakat resah dan takut untuk beraktivitas di luar rumah.

    Baca: Harga ruma terus naik, milenial kesulitan miliki hunian

    Menanggapi pro kontra ini Bobby Nasution mengatakan pernyataan itu untuk unsur pihak Polrestabes Medan dan Polres Pelabuhan Belawan.

    Bukan kepada masyarakat namun apabila diperlukan tembak mati dirinya pun setuju.

    Untuk itu Bobby Nasution meminta agar masyarakat Medan tidak lagi berpolemik dan menyerahkan penanganan begal ini kepada aparat yang berwenang.

    Bobby Nasution juga menegaskan jika begalnya sudah kejam sekali, dia tetap dukung tindakan tegas tembak mati kepada pelaku begal apalagi sampai mengancam nyawa petugas.

    Hal itu pun disampaikannya usai melaksanakan apel pelepasan tim anti begal yang dilakukan petugas gabungan Polrestabes Medan, Kodim dan Pemko Medan pada Minggu  (16/7/2023) di halaman Stadion Teladan Medan.

    Baca: LRT Jabodebek siap dioperasikan, segini kisaran tarifnya

    Ratusan personil gabungan, diantaranya tim Gegana bersenjatakan lengkap, turut dikerahkan dalam menindak para pelaku begal yang kini meresahkan masyarakat kota Medan.

    Usai apel, ratusan personil anti begal ini bergerak dengan menggunakan kendaraan sepeda motor dan mobil. Selanjutnya mereka akan patroli hingga menyisir kawasan rawan aksi pembegalan.

     

  • Tata Ruang Buruk Memperparah Banjir Tahunan di Kota Medan

    Tata Ruang Buruk Memperparah Banjir Tahunan di Kota Medan

    7cloud.asia – Banjir menjadi masalah serius dan terus berulang di Kota Medan, Sumatera Utara. Banjir bandang setinggi dua meter menghantam Medan selama dua tahun berturut-turut di bulan November 2024 dan November 2025.

    Data pemerintah kota Medan menunjukkan, skala kerusakan yang masif akibat banjir pada November 2025, yakni 19 dari 21 kecamatan lumpuh terendam air, dengan 20 korban meninggal, 26.188 warga mengungsi

    Adapun kerusakan properti tercatat 19.014 rumah terdampak, dengan ratusan unit mengalami kerusakan kategori berat hingga ringan.

    Salah satu penyebab utama banjir di Kota Medan adalah pendangkalan sungai yang sudah berlangsung puluhan tahun tanpa normalisasi.

    Buruknya sistem drainase kota menambah runyam banjir di Medan. Sistem drainase kota dinilai tidak berfungsi optimal, banyak saluran air tertutup bangunan permanen, sehingga aliran air terhambat saat curah hujan tinggi.

    Baca: Banjir Sumatera mengingatkan pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan dan investasi berdampak buruk pada lingkungan

    Permukiman banyak bermunculan di bantaran sungai, yang tidak hanya mempersempit alur sungai, tetapi juga meningkatkan risiko korban saat banjir terjadi. Hampir di seluruh sisi sungai di Medan sudah dijadikan pemukiman.

    Di hadapan rombongan Komisi VIII DPR yang melakukan pengawasan penanganan pascabencana serta kesiapsiagaan menghadapi bencana, Jumat, (30/1/2026), Walikota Medan Zakiyuddin Harahap menegaskan bahwa pemerintah kota kerap kali “mati kutu” mengatasi bencana banjir ini.

    Pasalnya kewenangan pengerukan sungai berada di tangan Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) dan melibatkan lintas wilayah kabupaten.

    “Sungai kita menyempit dan dangkal karena sudah 20 tahun tidak dinormalisasi. Dampaknya fatal. Kami tidak bisa bekerja sendiri karena ini menyangkut kewenangan pusat dan koordinasi antarwilayah,” tegas Zakiyuddin dengan nada getir.​

    Dalam kesempatan itu, Ketua Komisi VIII DPR, Singgih Januratmoko menyoroti tata ruang kota yang tidak ramah bencana. Permukiman bermunculan di sepanjang bantaran sungai.

    Baca: Banjir berulang di Pulau Jawa membuktikan kelalaian Negara

    Hal ini tidak hanya mempersempit alur sungai, tetapi juga meningkatkan risiko korban saat banjir terjadi.

    “Hampir di seluruh sisi sungai di Medan sudah ditempati warga. Ini menjadi dilema besar karena alat berat pun sulit masuk untuk normalisasi,” kata Singgih dikutip Parlementaria.

    “Kami mendapat laporan bahwa ada sungai di Medan yang seharusnya memiliki lebar enam meter, namun kini tinggal dua hingga tiga meter akibat sedimentasi dan penyempitan,” jelasnya.

    Singgih menegaskan, banjir di Kota Medan menandakan ada persoalan mendasar, mulai dari kondisi sungai yang dangkal, drainase yang tidak optimal, hingga tata ruang kota yang tidak ramah bencana.

    Dia mendorong Pemerintah Kota Medan untuk segera mengajukan proposal normalisasi sungai ke Kementerian PU, serta memperkuat koordinasi lintas kabupaten karena wilayah sungai melintasi lebih dari satu daerah administratif.

    “Tanpa sinergi pusat dan daerah, Medan akan terus berada dalam ancaman banjir yang sama setiap tahun,” tegas Singgih.

    Foto: Diskominfo Sumur