Tag: menanam pohon

  • Kolaborasi Amartha dan Jejakin Luncurkan Program Menanam Pohon

    Kolaborasi Amartha dan Jejakin Luncurkan Program Menanam Pohon

     

    7cloud.asia –  Pohon dan menanam pohon memainkan peran penting dalam strategi mengurangi emisi karbon.  Dan, mengelola emisi karbon secara berkelanjutan menjadi salah satu langkah kunci menahan laju perubahan iklim. 

    Pohon berfungsi sebagai penyerap emisi karbon secara alami yang efektif dengan menyimpannya dalam bentuk biomassa. Karena itu menanam pohon perlu terus digiatkan.

    Jenis pohon kayu keras khususnya, dapat menyerap emisi karbon hingga 1,5 ton setiap tahun. Menanam pohon secara berkelanjutan juga berfungsi efektif menyimpan cadangan air tanah.

    Berangkat dari kesadaran bersama untuk bergerak secara kolektif, Katadata Indonesia bersama sejumlah perusahaan mitra menggalang program menanam pohon berkelanjutan dengan tajuk Sabuk Hijau Nusantara (SHN).

    Baca: Pemkab Jember ganti sampah dengan bibit pohon

    Sejumlah perusahaan mitra itu antara lain adalah Amartha, Jejakin dan Benih Baik dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal dan Perusahaan mitra.

    Amartha menjadi salah satu Perusahaan mitra yang terlibat aktif di program SHN. Sebagai langkah awal, gerakan SHN dilaksanakan di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai bagian dari misi menjadikan IKN sebagai smart forest city.

    Melalui riset, para pihak bersepakat agar jenis pohon yang ditanam adalah kayu keras endemik Kalimantan serta pohon buah-buahan produktif. Tujuannya agar hasil akhir dapat dinikmati masyarakat di sekitar area tanam.

    Aria Widyanto, Chief Risk and Sustainability Officer Amartha menyampaikan pengelolaan emisi karbon secara berkelanjutan membutuhkan gerakan kolektif.

    ”Amartha terpanggil berpartisipasi dalam Sabuk Hijau Nusantara karena sejalan dengan misi keberlanjutan kami yang tertuang di Amartha Lestari yaitu mengurangi emisi karbon sebesar 30 persen di 2030”, ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia beberapa waktu lalu.

    Baca: Tanaman kayu putih jadi pilihan untuk hijaukan kembali wilayah Kalsel

    Salah satu aktivitas kunci dari kegiatan ini, terang Aria, adalah tanam pohon bersama masyarakat lokal di setiap tahapan: penanaman, perawatan pohon, hingga pengelolaan hasil panen.

    ”Dengan dukungan teknologi digital Jejakin, kondisi dan perkembangan pohon yang ditanam pun akan dimonitor dan dikalkulasi jumlah penyerapan emisi karbonnya,” lanjut Aria.

    Dengan platform berbasis artificial intelligence (AI) dan internet of things (IoT), sistem yang dikembangkan Jejakin tak hanya dapat memantau kondisi pohon.

    Tapi juga mencatat dampak lingkungan dari aspek-aspek lain yang berkaitan dengan penanaman.

    “Harapannya, kolaborasi kami bersama Katadata Indonesia dan Benih Baik dapat memberikan dampak positif yang lebih luas di IKN, baik dalam lingkup lingkungan maupun sosial di sekitarnya,” ujar Chief Growth Officer Jejakin, Sudono Salim.

    Baca: Hari Menanam Pohon Sedunia

    “Pelibatan masyarakat lokal dalam mengelola hasil akhir akan memberikan manfaat untuk komunitas itu sendiri. Masyarakat dapat membangun kemandirian dalam hal ketahanan pangan lokal”, ujar Aria.

    Semenjak 2010, Amartha konsisten melaksanakan inisiatif berkelanjutan untuk mendorong terciptanya lingkungan yang hijau dan berkesejahteraan merata.

    Hingga 2022, Amartha telah mengurangi 5,93 ton emisi dari penggunaan listrik, mendaur ulang 939,3 kilogram sampah lewat kerja sama pihak swasta.

    Amartha juga menanam ribuan bibit mangrove di Pulau Tanakeke, Sulawesi Selatan dan pesisir pantai Morodemak, Jawa Tengah.

    “Kami berharap Gerakan Sabuk Hijau Nusantara tidak berhenti di IKN dan dapat menjangkau wilayah lain di Indonesia. Pemilihan Ibu Kota Nusantara merupakan titik awal yang diharapkan dapat menciptakan dampak berkelanjutan yang lebih luas lagi”, tutup Aria.

     

  • Simak Kiat Menanam Pohon di Wilayah Perkotaan dengan Lahan Terbatas

    Simak Kiat Menanam Pohon di Wilayah Perkotaan dengan Lahan Terbatas

    7cloud.asia – Menanam pohon menjadi tren saat pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat di masa pandemi Covid-19 dulu.

    Hobi menanam pohon ini ternyata masih ditekuni sebagian anggota masyarakat, meski pandemi berlalu dan pembatasan tak lagi diberlakukan.

    Nah, buat Anda yang ingin memulai hobi menanam pohon, pelaku bisnis pertanian Habib Thabrani membagikan kiat-kiatnya.

    Habib mengatakan, ada dua pilihan bagi orang-orang yang ingin memulai hobi menanam pohon di wilayah perkotaan di mana lahan bebas tanam biasanya terbatas.

    “Kalau perkotaan ada dua tipe orang yang suka kotor-kotor pasti akan memilih tanah dan yang suka bersih dia akan memilih hidroponik,” kata Habib dilansir Antaranews.com Selasa (4/6/2024).

    Baca: Tanaman yang bagus untuk kualitas udara

    Dari dua metode tersebut, menurut Habib yang paling cocok diterapkan di perkotaan terutama yang memiliki ruang sempit adalah metode menanam hidroponik.

    Metode hidroponik cocok dan mudah dilakukan karena tidak membutuhkan tempat yang luas dan tanaman bisa ditanam di beberapa sudut rumah selama masih terkena sinar matahari.

    “Mau taruh di mana aja bisa, di balkon boleh, di rooftop boleh, di depan rumah cari yang kena cahaya setidaknya itu 4 jam 5 jam kena sinar matahari langsung,” ujar Habib yang mendirikan bisnis alat perkebunan Tanduria.

    Lama waktu yang dianjurkan bagi tanaman untuk terpapar sinar matahari, kata Habib, berbeda-beda tergantung dari jenis tanaman yang dipelihara.

    Baca: Tanaman yang bagus untuk lingkungan

    Habib memaparkan, jenis-jenis tanaman hias bisa ditanam di tempat yang minim paparan cahaya matahari.

    Sementara, tanaman herbal bersifat tertutup sebagian atau hanya butuh paparan sinar matahari di waktu tertentu misalnya pagi atau sore.

    Sedangkan tanaman buah dan sayur harus selalu terkena sinar matahari agar bisa tumbuh dengan baik.

    “Tingkat paparan mataharinya harus diperhatikan kalau menanam di urban, di daerah perkotaan,” tuturnya.

    Baca: Jenis tanaman yang bagus untuk serap polusi udara

    Bagi pemula, Habib menyarankan tanaman yang cepat panen misalnya kangkung yang bisa dipanen di usia 2 minggu.

    Atau bisa juga menanam bayam yang bisa dipanen setelah 3 minggu, dan caisim yang bisa dipanen saat berusia 1 bulan.

    Opsi tanaman lainnya yang lebih mudah dibudidaya dan cepat panen adalah microgreen atau jenis tanaman sayuran yang sudah bisa dipanen 1 minggu setelah disemai.

    “Microgreen itu tinggal ditebar aja di satu tempat. Selada misalnya, kita ambil benihnya banyak, kita tanam di suatu tempat, usia 1 minggu sudah bisa kita panen,” kata Habib menerangkan.

  • Gerakan Jumat Menanam: Mampukah Menghijaukan Jakarta?

    Gerakan Jumat Menanam: Mampukah Menghijaukan Jakarta?

    7cloud.asia – Gerakan Jumat Menanam Pohon yang dicanangkan Dinas Pertamanan dan Hutan kota DKI Jakarta berhasil menanam ribuan pohon di lima wilayah Jakarta, sepanjang tahun 2025.

    Ribuan pohon ini ditanam untuk menambah ruang terbuka hijau yang masih sangat kurang di Jakarta. Penanaman pohon sekaligus sebagai upaya meredam polusi udara akibat emisi kendaraan bermotor.

    Jenis pohon yang ditanam terdiri atas pohon pelindung dan produktif, seperti tabebuya, ketapang kencana, trembesi, mahoni, matoa, mundu, kamboja, dan jenis lainnya.

    Namun demikian, tidak ada data pasti bagaimana kelangsungan ribuan pohon yang telah ditanam tersebut.

    Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Tamhut) Jakarta Selatan telah melaksanakan kegiatan penghijauan dengan menanam sebanyak 1.099 pohon di 10 wilayah kecamatan sepanjang tahun 2025.

    “Penanaman dilakukan melalui program rutin Jumat Menanam maupun kegiatan lainnya,” ujarKepala Suku Dinas Tamhut Jakarta Selatan, Herlina Merinda Kamis (8/1/2025) seperti dikutip beritajakarta.id

    Herlina menjelaskan, penanaman difokuskan pada lahan-lahan yang terlihat gersang, seperti taman, taman pemakaman umum (TPU), RPTRA, jalur hijau, dan lokasi lainnya.

    Herlina merinci, penanaman terbanyak dilakukan pada Februari dengan jumlah 222 pohon, disusul Januari 152 pohon, dan Juli 111 pohon. Sementara itu, penanaman terendah tercatat pada Oktober dengan jumlah 39 pohon.

    “Berdasarkan wilayah, Kecamatan Jagakarsa menjadi lokasi dengan jumlah penanaman terbanyak, yakni 265 pohon sepanjang tahun 2025. Adapun Kecamatan Mampang Prapatan mencatat jumlah penanaman paling sedikit, yaitu 57 pohon,” bebernya.

    Herlina menambahkan, pada tahun ini pihaknya akan terus mengintensifkan kegiatan penanaman, terutama di lahan-lahan yang gersang maupun untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh secara optimal.

    “Jakarta Selatan saat ini menjadi lokasi pembangunan sejumlah taman, salah satunya Taman Bendera Pusaka yang masih dalam proses pembangunan. Tentunya di lokasi tersebut akan dilakukan penghijauan secara optimal,” imbuhnya.

    Sementara, Sudin Tamhut Jakarta Timur berhasil menanam sebanyak 1.135 pohon di tahun 2025.

    Kepala Sudin Tamhut Jakarta Timur, Dwi Ponangsera mengatakan, ribuan pohon tersebut ditanam di 10 kecamatan, terutama pada lahan kosong yang memungkinkan untuk ditanami pepohonan.

    Menurutnya, lokasi penanaman meliputi tepi jalan protokol, jalan lingkungan, jalur hijau, taman, RPTRA, area waduk atau embung, hingga Taman Pemakaman Umum (TPU).

    “Seluruh pohon ini kami tanam untuk mendukung program penghijauan sekaligus meningkatkan kualitas udara,” ujarnya, Senin (5/1/2025).

    Dwi menjelaskan, jenis pohon yang ditanam antara lain Tabebuya Kuning, Tabebuya Pink, Mahoni, Trembesi, Kenari, Duku, Mangga, Rambutan, serta sejumlah jenis pohon lainnya.

    “Kami juga menanam tanaman hias sebanyak 289.612 polybag yang tersebar di 10 kecamatan,” terangnya.

    Sementara itu, Kepala Seksi Jalur Hijau dan Pemakaman Sudin Tamhut Jakarta Timur, Made Widhi Adnyana Surya Pratita merinci, penanaman 1.135 pohon tersebut tersebar di Kecamatan Ciracas sebanyak 82 pohon, dan Cipayung 488 pohon.

    Kemudian, di Kecamatan Cakung 296 pohon, Duren Sawit 50 pohon, Kramat Jati 28 pohon, Makasar 45 pohon, Matraman 12 pohon, Pasar Rebo 25 pohon, dan Pulo Gadung 26 pohon.

    “Penanaman pohon ini dilakukan melalui kegiatan rutin Jumat Menanam, kerja bakti Minggu pagi, serta berbagai kegiatan lainnya,” bebernya.

    Ia menambahkan, untuk penanaman tanaman hias tersebar di sembilan kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Cipayung sebanyak 74.898 tanaman, Cakung 21.172 tanaman, dan Duren Sawit 12.350 tanaman.

    “Untuk di Kecamatan Kramat Jati 11.700 tanaman, Jatinegara 30.300 tanaman, Makasar 100 tanaman, Matraman 26.339 tanaman, Pasar Rebo 11.035 tanaman, dan Pulo Gadung 101.718 tanaman,” tandasnya.

  • Menanam Pohon dan Produksi Oksigen: Bagaimana Pohon Menyerap Karbon dan Memproduksi Oksigen untuk Lingkungan

    Menanam Pohon dan Produksi Oksigen: Bagaimana Pohon Menyerap Karbon dan Memproduksi Oksigen untuk Lingkungan

     

    7cloud.asia – Sejumlah kota menggalakkan gerakan menanam pohon untuk mengatasi polusi udara yang terus memburuk.

    Ya, tumbuhan terutama tumbuhan berkayu atau pohon lewat proses fotosintesis menyerap karbon secara efektif sekaligus penghasil oksigen yang dibutuhkan manusia.

    Tak hanya berperan dalam menghasilkan udara bersih, menanam pohon juga berarti mendukung konservasi air tanah dan menjaga kelestarian kehidupan di Bumi.

    Hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut, pohon menyerap air hujan dan kemudian menyimpannya di akarnya, sehingga secara tidak langsung menjaga ketersediaan air tanah.

    Mungkin Anda bertanya-tanya, berapa banyak karbon yang diserap dan oksigen yang dilepaskan sebatang pohon, serta faktor apa saja yang mempengaruhi produksi oksigen? Jawabannya akan diulas dalam tulisan ini, ikuti sampai rampung.

    Dilansir onetreeplanted.org, meskipun sebagian besar oksigen diproduksi oleh fitoplankton, pohon tetap memainkan peran penting dalam menyediakan oksigen dan udara bersih yang kita butuhkan.

    Baca: Perubahan Iklim Memaksa Tumbuhan Lebih Sering “Berpuasa”

    Di negara empat musim, pohon cemara douglas, pohon beech, pohon cemara, dan pohon maple tercatat sebagai spesies pohon yang menghasilkan oksigen paling banyak.

    Sementara untuk dearah tropis seperti Indonesia, pohon penghasil oksigen yang sangat tinggi antara lain adalah bambu, damar (Agathis alba), pohon bodhi dan beringin (Ficus Benjamina).

    Hal ini antara lain karena memiliki kanopi daun yang sangat lebat dan besar, memungkinkan produksi oksigen yang masif.

    Sementara pohon penyerap karbon (CO2) terbesar adalah trembesi (Samanea saman). Berdasarkan penelitian, satu pohon Trembesi dewasa mampu menyerap hingga 28,5 ton CO2 per tahun. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan pohon peneduh lainnya.

    Pohon angsana misalnya, mampu menyerap hingga sekitar 680 kg CO2 per tahun, disusul pohon beringin yang mampu menyerap sekitar 535 kg CO2 per tahun dan pohon kerai payung dengan serapan sekitar 404 kg CO2 per tahun.

    Jika Anda mencari tanaman hias untuk di dalam ruangan (skala mikro), Lidah Mertua (Sansevieria) dan Sirih Gading adalah penghasil oksigen terbaik yang juga menyaring racun (polutan) dari udara.

    Baca: Cara Pohon Menurunkan Suhu Panas Perkotaan

    Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi oksigen
    Jadi, berapa banyak oksigen yang sebenarnya diproduksi oleh pohon? Pohon ek dewasa dapat menghasilkan, rata-rata, 100.000 liter oksigen per tahun.

    Jika dirinci itu berarti sekitar 274 liter oksigen per hari. Angka ini kira-kira setengah dari kebutuhan rata-rata manusia yang mencapai 550 liter oksigen setiap hari.

    Artinya butuh setidaknya dua pohon ek untuk memenuhi kebutuhan oksigen oleh per kepala. Jadi saatnya kita mendorong lebih banyak pohon ditanam bukan?

    Jumlah oksigen yang diproduksi pohon dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk spesies, usia, kesehatan, dan kondisi lingkungan sekitar.

    Selain itu sebatang pohon juga tidak menghasilkan jumlah oksigen yang sama sepanjang tahun. Kondisi musim turut mempengaruhi produksi oksigen.

    Baca: Menanam Pohon Terbukti Efektif Menurunkan Efek Pulau Panas Perkotaan

    Selama musim gugur, pohon mulai bersiap untuk musim dingin, menggugurkan daunnya (jika pohon tersebut gugur daun), dan memasuki masa dormansi.

    Penguraian klorofil membuat pohon lebih sulit menyerap sinar matahari dan menggunakannya untuk menghasilkan energi. Karena itu, daun perlahan mulai kehilangan warna hijaunya, berubah menjadi berbagai warna merah, cokelat, dan oranye.

    Begitu musim dingin dimulai, pohon memasuki keadaan dormansi. Mirip dengan hibernasi, dormansi berarti pohon menghemat energinya untuk musim yang akan datang.

    Selama waktu ini, pohon tidak aktif berfotosintesis atau menghasilkan oksigen, menyebabkan kadar oksigen turun dan karbon dioksida meningkat.

    Pohon lebih dari sekadar mengganti hal ini di musim semi dan musim panas, sehingga manusia cenderung tidak terlalu terpengaruh ketika pohon memasuki masa dormansi.