Tag: metana

  • Riset: Bakteri Pemakan Metana Bisa Membantu Menahan Laju Pemanasan Global

    Ilustrasi: sampah makanan sebagai sumber utama gas metana

    7cloud.asia – Satu lagi kabar baik untuk Bumi. Peneliti dari Universitas Washington berhasil menemukan adanya bakteri pengonsumsi gas metana yang dapat memperlambat laju pemanasan global.

    Peneliti dari Universitas Washington mengusulkan metode untuk menghilangkan metana guna menahan laju pemanasan global dengan menggunakan sekelompok bakteri.

    Bakteri yang dikenal sebagai metanotrof ini secara alami mengubah metana menjadi karbon dioksida dan biomassa, sehingga efektif mengurangi pemanasan global yang dipicu metana.

    Metana adalah gas rumah kaca pemicu pemanasan global yang dihasilkan dari energi (gas alam dan sistem minyak bumi), industri, pertanian, penggunaan lahan, dan aktivitas pengelolaan limbah.

    “Semua bakteri dalam kelompok ini ‘memakan’ metana, mengeluarkannya dari udara dan mengubah sebagiannya menjadi sel sebagai sumber protein berkelanjutan,” menurut peneliti utama, Mary E Lidstrom seperti dikutip The Guardian.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan tanaman dan bakteri untuk bersihkan polusi tanah

    Tim Lidstrom telah menemukan strain bakteri dalam kelompok ini yang disebut methylotuvimicrobium buryatense (5GB1C) yang dapat menghilangkan metana secara efisien meskipun jumlahnya lebih sedikit.

    Jika teknologi ini tersebar luas, maka teknologi ini berpotensi membantu memperlambat pemanasan global, kata para peneliti.

    Biasanya, kelompok bakteri ini tumbuh subur di lingkungan dengan tingkat metana yang tinggi (antara 5.000 dan 10.000 bagian per juta (ppm)).

    Konsentrasi normal metana di atmosfer jauh lebih rendah dari angka itu, yaitu hanya sekitar 1,9 ppm.

    Namun area tertentu seperti tempat pembuangan sampah, sawah, dan sumur minyak mengeluarkan konsentrasi yang lebih tinggi, yaitu sekitar 500 ppm.

    “Bakteri yang dengan cepat memakan metana pada konsentrasi yang lebih tinggi yang ditemukan di sekitar peternakan, dan lain-lain, dapat memberikan kontribusi besar dalam mengurangi emisi metana, terutama dari pertanian tropis,” kata Euan Nisbet, profesor ilmu bumi di Royal Holloway, Universitas London, mengomentari tentang temuan penelitian.

    Baca: Ilmuwan AS gunakan cangkang lalat untuk bikin bioplastik

    Tingkat konsumsi metana yang tinggi pada strain ini diperkirakan dipicu oleh kebutuhan energi yang rendah dan ketertarikan yang lebih besar terhadap metana – lima kali lebih banyak dibandingkan bakteri lain, menurut penelitian tersebut.

    “Bakteri mengoksidasi metana menjadi CO2 (gas rumah kaca yang tidak terlalu kuat) sehingga Anda bahkan dapat menggunakan gas buang tersebut untuk memompa ke dalam rumah kaca dan menanam tomat,” kata Nisbet.

    Hambatan terbesar yang dihadapi Tim Lidstrom dalam penerapannya saat ini adalah masalah teknis: kita perlu meningkatkan unit pengolahan metana sebanyak 20 kali lipat.

    “Jika kita bisa mencapainya, maka hambatan terbesarnya adalah modal investasi dan penerimaan masyarakat,” kata Lidstrom.

    Lidstrom yakin, timnya dapat melakukan uji coba lapangan dalam waktu tiga hingga empat tahun, dan peningkatan skalanya akan bergantung pada modal investasi dan komersialisasi

    Baca: Pemanasan global sebabkan ribuan danau mengering

    Sektor pertanian merupakan sumber emisi metana terbesar yang disebabkan oleh kotoran ternak dan pelepasan saluran pencernaan.

    Metana sendiri disebut sebagai pemicu pemanasan global, dengan kekuatan  pemanasan 85 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam 20 tahun pertama setelah mencapai atmosfer.

    Metana juga menimbulkan masalah khusus sebagai gas rumah kaca.

    Konsentrasi Metana di atmosfer telah meningkat pesat selama 15 tahun terakhir, mencapai rekor tertinggi, dan saat ini menyumbang setidaknya 30% dari total pemanasan global.

    Pada tahun 2021, beberapa negara dengan perekonomian terbesar di dunia sepakat pada Cop26 untuk bekerja sama guna segera mengurangi tingkat metana. Namun, jumlahnya terus meningkat.

    Baca: Seperti ini dampak sampah makanan pada pemanasan global

    Untuk menerapkan bakteri pemakan metana dalam skala besar, diperlukan ribuan reaktor yang berfungsi tinggi.

    Mary Ann Bruns, profesor mikrobiologi tanah di Pennsylvania State University mengatakan, agak menakutkan tetapi jika kelangsungan hidup kita bergantung pada penurunan kadar metana di atmosfer, maka biaya mungkin menjadi prioritas yang lebih rendah dalam mengalokasikan sumber daya.

    “Kurangnya kemauan politik dan pemahaman di sektor swasta dan publik mengenai pentingnya mengurangi gas metana saat ini akan memperburuk pemanasan global di tahun-tahun mendatang,” katanya

    Saat ini, sebagian besar solusi pengurangan gas metana terfokus pada penurunan emisi, namun hal ini tidak selalu memungkinkan.

    Para peneliti menekankan bahwa strategi penghilangan metana dan penurunan emisi diperlukan untuk memenuhi target iklim.

    Baca: Start up Singapura ini mengubah sampah makanan jadi produk bernilai tinggi

    Namun, Lidstrom mengingatkan, semua strategi pengurangan emisi yang meningkatkan aktivitas bakteri di komunitas alami juga dapat mengakibatkan peningkatan emisi dinitrogen oksida (N2O), yang memiliki potensi pemanasan global 10 kali lipat dibandingkan emisi metana.

    Yang terpenting, teknologi berbasis bakteri metanotrofik ini tidak menghasilkan emisi dinitrogen oksida.

    Proyeksi terbaru memperkirakan bahwa pemanasan global dapat dikurangi 0,21C hingga 0,22C dengan menghilangkan 0,3 hingga 1 petagram metana pada tahun 2050.

    Penurunan suhu sebesar ini diperkirakan akan signifikan, terutama bila dikombinasikan dengan strategi pengurangan emisi lainnya.

    Sumber: The Guardian baca artikel asli di sini

  • Penggunaan PLTU Gas Bumi Dinilai Solusi Palsu Transisi Energi Bersih

    Penggunaan PLTU Gas Bumi Dinilai Solusi Palsu Transisi Energi Bersih

    7cloud.asia – Selama ini kita sering mendengar kampanye yang menyebutkan gas bumi sebagai energi transisi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

    Pemerintah juga gencar menarasikan bahwa gas bumi atau metana adalah energi transisi sebelum kita bisa bisa benar-benar beralih ke energi bersih.

    Tapi, apakah gas bumi benar-benar solusi? Atau justru ini hanya strategi untuk mempertahankan energi fosil, meskipun dengan wajah yang berbeda? Berikut ulasannya seperti dilansir di laman resmi Greenpeace Indonesia, greenpeace.org.

    Banyak masyarakat terjebak narasi ini, apalagi kalau sedikit banget informasi yang dibagikan media tentang bahayanya gas bumi dibandingkan informasi tentang bahaya batubara.

    Laporan terbaru yang dikeluarkan oleh Greenpeace Indonesia dan CELIOS memberikan gambaran yang sangat menarik dan mungkin cukup mengejutkan soal gas bumi ini.

    Laporan ini mengungkapkan bahwa gas bumi yang selama ini dianggap sebagai “energi yang lebih bersih” sebenarnya bukanlah solusi untuk masalah perubahan iklim.

    Baca: Pembangkit gas fosil bukan solusi tepat transisi energi

    Sebaliknya, gas bumi justru bisa jadi sebuah jebakan baru bagi Indonesia dalam menghadapi krisis iklim dan ketergantungan terhadap energi fosil.

    Ada banyak hal yang perlu digali lebih dalam mengenai narasi gas bumi sebagai energi transisi. Masyarakat perlu memahami siapa saja yang diuntungkan dari penggunaan gas bumi ini, serta mengapa harus bersikap lebih kritis dalam menerima argumen yang menyebut gas bumi sebagai solusi energi masa depan.

    Jangan sampai masyarakat terjebak dalam narasi yang sebenarnya hanya menguntungkan segelintir pihak, sementara dampaknya bisa merugikan banyak orang dan lingkungan.

    Gas Bumi: gimmick atau kenyataan?
    Pemerintah Indonesia dan sektor industri menganggap gas bumi sebagai “jalan tengah” yang aman sebelum beralih sepenuhnya ke energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan lainnya.

    Gas bumi dianggap sebagai energi yang lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan batu bara yang emisinya sangat tinggi.

    Gas bumi memang lebih bersih dibanding batu bara, jika kita hanya menghitung emisi karbon dioksidanya saja. Ini adalah bentuk greenwashing!

    Baca: Emisi yang dihasilkan gas alam tak lebih baik ketimbang batu bara

    Pasalnya, gas bumi tetap saja sumber energi fosil yang selain menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂). Gas bumi yang memiliki nama lain metana (CH4) ini jauh lebih berbahaya karena efek pemanasan globalnya bisa 82.5 kali lebih kuat dibandingkan CO₂.

    Parahnya lagi, methane leakage atau kebocoran metana bisa terjadi di seluruh rantai pasok gas bumi — dari ekstraksi, distribusi, hingga pembakaran.

    Dengan kebocoran metana ini, total emisi gas bumi bahkan berpotensi lebih tinggi daripada batu bara. Kondisi ini menjadikan gas bumi sebagai pilihan energi yang tidak ramah iklim.

    Jadi, gas bumi adalah bahan bakar fosil yang tetap saja berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Laporan Greenpeace dan CELIOS bahkan menyebutkan bahwa, gas bumi tetap menghasilkan emisi yang sangat besar dan bahkan jauh lebih berbahaya dalam jangka panjang.

    Lalu, siapa yang diuntungkan dari narasi ini? Jawabannya adalah: perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di industri energi fosil, baik itu perusahaan minyak dan gas bumi nasional maupun investor asing yang mendanai proyek-proyek energi gas bumi.

    Baca: Ini yang terjadi jika dunia tak mengerem penggunaan bahan bakar fosil

    Mereka berusaha untuk memperluas pasar gas bumi di Indonesia dengan menggunakan narasi “gas bumi sebagai energi transisi” sebagai alat untuk memperkenalkan gas bumi sebagai solusi energi masa depan.

    Namun, dari penelusuran CELIOS pemanfaatan gas bumi ini akan menimbulkan dampak besar bagi ekonomi.

    Dampak kesehatan yang ditimbulkan dari pembangkit gas fosil dengan skenario 22 gigawatt (GW) memberikan beban ekonomi hingga Rp89,8 – Rp249,8 triliun dalam 15 tahun ke depan.

    Dibanding mendorong pembangkit gas fosil, opsi energi terbarukan mampu berkontribusi terhadap perekonomian sebesar Rp2.627 triliun pada 2040.

    Ekspansi pembangkit gas fosil dalam skenario 2,68 GW meningkatkan CO₂ hingga
    5,97 juta ton per tahun dan metana hingga 5.332 ton per tahun.

    Sementara dalam skenario gas fosil 22 GW CO₂ akan mengalami lonjakan hingga 49,02 juta ton per tahun dan metana (CH₄) hingga 43.768 ton per tahun.

    Baca: Saatnya penggunaan energi fosil disetop

  • UNEP Luncurkan Proyek Penelitian Soal Emisi Metana dari Tambang Batu Bara

    UNEP Luncurkan Proyek Penelitian Soal Emisi Metana dari Tambang Batu Bara

    7cloud.asia – Observatorium Emisi Metana Internasional (IMEO) yang digagas Program Lingkungan PBB (UNEP), pada Rabu (16/7/2025) meluncurkan proyek penelitian baru yang bertujuan untuk meningkatkan akurasi data emisi metana dari tambang batu bara.

    Penelitian yang didukung pemerintah Australia ini akan menjadi yang pertama di dunia untuk melacak emisi dan memandu upaya mitigasi di seluruh sektor batu bara dan baja.

    Menggunakan simulasi tambang batu bara terbuka, di mana batu bara digali dari permukaan, para ilmuwan akan mengevaluasi kemampuan teknologi pengukuran inovatif — mulai dari sensor berbasis darat hingga pesawat dan satelit.

    Sebagai sumber utama emisi metana, tambang batu bara menghadirkan peluang iklim yang signifikan — terutama bagi industri baja, yang menggunakan batu bara metalurgi sebagai sumber bahan bakar.

    Tahun lalu, sektor batu bara melepaskan sekitar 40 juta ton metana di seluruh dunia, menjadikannya penghasil emisi metana terbesar kedua di sektor energi.

    Namun, secara global, emisi dari tambang batu bara masih kurang termonitor dan dilaporkan, dan emisi dari tambang batu bara terbuka sangat sulit diukur.

    Baca: RUPTL 2025-2034 masih bergantung pada bahan bakar fosil

    Temuan studi ini akan meningkatkan pemantauan metana dan menginformasikan pengembangan kerangka kerja regulasi dan strategi untuk mengurangi emisi metana, yang merupakan penyebab sekitar sepertiga pemanasan global saat ini.

    “Data yang akurat dan andal sangat penting untuk menemukan peluang mitigasi dan melacak kemajuan,” kata Martin Krause, Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP.

    Dia menambahkan, “Dengan menilai perangkat mana yang paling sesuai untuk mengukur emisi metana di lingkungan pertambangan khusus ini, kami akan memastikan bahwa kami memiliki informasi yang tepat untuk memanfaatkan peluang iklim yang mudah ini.”

    Pemerintah Australia menjanjikan pendanaan baru sebesar 5,5 juta dolar Australia (~USD 3,2 juta) kepada IMEO UNEP untuk melakukan studi ini. Kontribusi ini sejalan dengan tujuan Australia untuk membangun industri energi bersih baru melalui agenda Future Made in Australia.

    Dekarbonisasi logam merupakan prioritas bagi Australia, baik karena potensinya untuk mengurangi emisi global secara signifikan maupun karena peluang ekonomi bagi Australia.

    Metana dari batu bara metalurgi menambah sekitar seperempat jejak iklim baja tanur sembur —mayoritas baja— tetapi dapat dimitigasi dengan harga sekitar satu persen dari harga baja. Ini merupakan peluang besar yang belum dimanfaatkan untuk aksi iklim yang cepat.

    Baca: Pensiun dini 13 PLTU batu bara di Indonesia

    Emisi metana harus dikurangi setidaknya 30 persen pada tahun 2030 agar batas kenaikan suhu Bumi di bawah 1,5 derajat Celsius tetap tercapai.

    Oleh karena itu, inilah target yang ditetapkan oleh Global Methane Pledge, yang menyatukan lebih dari 155 negara, termasuk Australia, untuk mempercepat pengurangan emisi metana dan menghindari dampak terburuk perubahan iklim.

    Tambang batu bara terbuka adalah jenis tambang batu bara yang paling umum di Australia, tempat eksperimen penting ini akan dilakukan, dan merupakan sumber utama emisi dalam rantai pasokan baja.

    Dengan data berkualitas lebih tinggi, pemerintah dan industri dapat lebih memahami emisi rantai pasokan sektor baja dan mengembangkan strategi untuk memitigasinya.

    Secara global, sebagian besar pelaporan bergantung pada faktor emisi generik, yang seringkali gagal menangkap beragam emisi yang berasal dari tambang batu bara terbuka. Namun, sains dan teknologi baru memungkinkan data yang lebih mudah ditindaklanjuti.

    Menteri Perubahan Iklim dan Energi Australia, Chris Bowen, menegaskan bahwa Australia berkomitmen untuk memastikan bahwa sistem inventaris nasional kelas dunianya terus menggunakan teknologi dan metode terbaik yang tersedia.

    “Kami senang dapat memberikan kontribusi ini untuk membantu semua negara lebih memahami dan mengelola emisi metana fugitive dari tambang batu bara terbuka,” ujarnya.

    Baca: Studi global ungkap kenaikan suhu Bumi lampaui ambang batas 1,5°C

  • UNEP Luncurkan Inisiatif untuk Kurangi Sampah Makanan

    UNEP Luncurkan Inisiatif untuk Kurangi Sampah Makanan

    7cloud.asia – Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP) dan para mitranya pada 13 November lalu meluncurkan inisiatif baru untuk mengurangi sampah makanan pada tahun 2030.

    Inisiatif yang dinamai Food Waste Breakthrough ini sekaligus untuk mengurangi emisi metana hingga tujuh persen sebagai bagian dari upaya memperlambat perubahan iklim.

    Diluncurkan di sela COP 30 di Belém, Food Waste Breakthrough merupakan Solusi Iklim 2030 di bawah Kemitraan Marrakech untuk Aksi Iklim Global.

    Inisiatif ini menyatukan pemerintah, kota, dan masyarakat sipil untuk bertindak terhadap isu yang menyentuh inti dari kelaparan global dan perubahan iklim.

    Penelitian mengungkap, masyarakat global membuang lebih dari satu miliar ton sampah makanan setiap tahun, menyumbang hingga 10 persen dari emisi gas rumah kaca global.

    Sampah makanan menyumbang hingga 14 persen emisi metana, yang meski berumur pendek tapi 84 kali lebih kuat dalam menghangatkan atmosfer daripada karbon dioksida selama 20 tahun.

    Baca: Sampah makanan picu masalah serius pada lingkungan

    Dengan kontribusi terhadap kerugian finansial sebesar 1 triliun dolar AS per tahun, mengurangi sampah makanan menawarkan salah satu solusi paling hemat biaya, terukur, dan berdampak tinggi untuk mengatasi perubahan iklim dan kelaparan terutama di perkotaan.

    “Dunia membuang makanan dalam jumlah yang tak termaafkan setiap tahun, di setiap negara, kaya maupun miskin,” kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.

    Dia menambahkan, mengurangi sampah makanan menjadi kunci untuk mengatasi kelaparan dan mengurangi emisi metana dari tempat pembuangan sampah – tindakan tegas untuk menurunkan suhu global, menghemat uang, dan mengatasi kerawanan pangan secara bersamaan.

    ”Food Waste Breakthrough adalah jenis inisiatif besar yang kita butuhkan untuk mengendalikan perubahan iklim dan menyimpan makanan bergizi bagi mereka yang membutuhkannya,” imbuhnya.

    Climate High-Level Champion COP 30, Dan Ioschpe mengatakan bahwa jika tidak ditangani, dampak metana dari sampah makanan dapat meningkat dua kali lipat pada tahun 2050, mengancam iklim dan ketahanan pangan global.

    Namun, Ioschpe menegaskan, masyarakat global bisa mengambil aksi untuk mencari solusi dari masalah ini. Ia mengajak negara-negara bersatu.

    Baca: Fakta mengejutkan soal sampah makanan

    ”Dengan menyatukan pemerintah, kota, bisnis, dan komunitas di seluruh dunia untuk mengurangi separuh sampah makanan pada tahun 2030 dan mencegah makanan berakhir di tempat pembuangan akhir, kita dapat mengurangi metana, membuka aksi iklim yang berani, dan mendorong umat manusia menuju masa depan di mana kekurangan pangan dan sampah menjadi sejarah,” ujarnya.

    Tiga pilar utama
    Food Waste Breakthrough dibangun di atas tiga pilar, yakni peningkatan kapasitas dan advokasi, data dan kebijakan, serta keuangan dan Implementasi.

    Didanai oleh Fasilitas Lingkungan Global, UNEP akan meluncurkan proyek global senilai 3 juta dolar AS selama empat tahun untuk mengimplementasikan target Terobosan Sampah Makanan.

    Proyek ini akan mempercepat pencegahan limbah makanan dan mitigasi metana dengan mengadaptasi dan meningkatkan skala solusi yang telah terbukti di tingkat nasional dan sub-nasional di negara-negara berkembang, serta mendorong kolaborasi global dalam topik ini.

    “Menangani limbah makanan melalui pencegahan dan perubahan perilaku tidak hanya menjanjikan aksi iklim yang hemat biaya, tetapi juga mendukung konsumsi berkelanjutan,” ujar Carlos Manuel Rodríguez, CEO dan Ketua Global Environment Facility.

    “Kami berharap dapat bermitra dengan negara dan kota untuk meningkatkan investasi tersebut sebagai bagian dari komitmen kami untuk mewujudkan perubahan transformasional melalui solusi terintegrasi.”

    UNEP juga bekerja sama dengan lembaga keuangan dan yayasan untuk mengamankan tantangan senilai 5 juta dolar AS, untuk mendanai 20-25 inovasi komunitas yang dipimpin oleh kota-kota atau pemuda di Amerika Latin dan Karibia, Asia, Afrika, serta Timur Tengah.

    Baca: Sistem pangan sirkular jadi solusi untuk atasi sampah makanan

  • UNEP: Penggunaan AI Berhasil Hilangkan Gas Metana Setara Emisi dari 24 Juta Mobil Bertenaga Fosil

    UNEP: Penggunaan AI Berhasil Hilangkan Gas Metana Setara Emisi dari 24 Juta Mobil Bertenaga Fosil

    7cloud.asia – Kecerdasan Buatan (AI) membantu mengubah pengamatan satelit menjadi tindakan mitigasi emisi gas metana di sektor minyak dan gas.

    Gas metana merupakan komponen utama gas alam (biogas) dan sangat mudah terbakar. Di atmosfer, metana bertindak sebagai gas rumah kaca kuat yang berkontribusi signifikan terhadap pemanasan global.

    Menurut laporan terbaru dari Program Lingkungan PBB (UNEP), upaya mitigasi ini telah memberikan manfaat iklim yang setara dengan menghilangkan emisi tahunan hampir 24 juta mobil penumpang bertenaga bensin.

    Laporan berjudul “Menyoroti Peluang: Bagaimana Kecerdasan Buatan Mempercepat Aksi Metana” tersebut, menyoroti bagaimana Observatorium Emisi Metana Internasional (IMEO) UNEP memanfaatkan AI, melalui Sistem Peringatan dan Respons Metana (MARS).

    Teknologi ini mengidentifikasi emisi metana utama dan dengan cepat memberi tahu pemerintah dan perusahaan tentang peluang tindakan yang dapat diambil. Sejak beroperasi penuh pada tahun 2024, MARS telah berkontribusi pada lebih dari 40 tindakan mitigasi metana di seluruh dunia.

    Dengan lebih dari 30 satelit yang menghasilkan sejumlah besar data tentang emisi metana, manusia kesulitan memproses informasi ini dan memungkinkan tindakan dalam skala besar.

    Dengan bantuan AI, secara dramatis proses ini dipercepat sehingga memungkinkan analis IMEO untuk memproses 12 hingga 15 kali lebih banyak data sambil mempertahankan ketelitian ilmiah.

    Alur kerja yang dibantu AI mengidentifikasi 80–85 persen deteksi metana yang dikonfirmasi sebelum tinjauan ahli, membantu mengurangi sumber yang diperkirakan telah memancarkan 1,2 juta ton metana.

    Baca: UNEP Luncurkan Proyek Penelitian Soal Emisi Metana dari Tambang Batu Bara

    Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP, Martin Krause mengatakan mitigasi metana ini hanyalah permulaan. Menurutnya, pelajaran sebenarnya dari pekerjaan ini adalah bahwa AI dapat membantu mengubah ledakan data lingkungan menjadi tindakan praktis.

    “Dengan menggabungkan keahlian ilmiah dengan alat AI yang ringan dan hemat energi, kita dapat merespons lebih cepat tidak hanya terhadap emisi metana, tetapi juga terhadap berbagai tantangan lingkungan,” ujarnya sebagaimana dilansir di laman resmi unep.org baru-baru ini.

    Pendekatan UNEP menunjukkan bahwa AI dapat mendukung aksi iklim tanpa secara signifikan meningkatkan beban lingkungan yang ingin diatasi.

    Model pemantauan metana dirancang khusus agar ringan dan hemat energi, hanya membutuhkan sumber daya komputasi yang sederhana namun memberikan peningkatan substansial dalam kapasitas pemantauan.

    Temuan ini muncul ketika pemerintah dan perusahaan menghadapi tekanan yang semakin besar untuk memenuhi Janji Metana Global dan Seruan Aksi Sekretaris Jenderal PBB tentang Metana.

    Sekretaris Jenderal telah menyerukan kepada negara-negara untuk menanggapi 80 persen peringatan metana yang diterima melalui MARS, menggarisbawahi perlunya deteksi dan pemberitahuan tepat waktu.

    Metana sekitar 80 kali lebih kuat dan berbahaya daripada CO₂ selama periode 20 tahun, namun hanya bertahan di atmosfer selama sekitar satu dekade.

    Mengurangi emisinya – yang sebagian besar berasal dari sektor bahan bakar fosil, pertanian, dan limbah – dapat dengan cepat memperlambat laju pemanasan global dan memberikan manfaat lain seperti pengurangan polusi udara dan peningkatan hasil panen.

    Baca: Tekan Emisi Metana UNEP Luncurkan Inisiatif untuk Kurangi Sampah Makanan

    Mengubah volume data metana yang berkembang pesat menjadi tindakan yang ditargetkan untuk memberikan manfaat, hingga kini tetap menjadi tantangan utama.

    MARS mengatasi tantangan ini dengan mengintegrasikan data dari lebih dari 30 instrumen satelit dan menggunakan model AI untuk membedakan emisi metana, seperti kebocoran dari fasilitas minyak dan gas, dari kebisingan lingkungan.

    Sistem ini saat ini sedang diperluas ke sektor tambahan di luar minyak dan gas, termasuk batubara dan limbah.

    Sejak tahun 2023, sistem ini telah menganalisis lebih dari 1,3 juta pengamatan satelit. Hasilnya adalah pendekatan yang terukur untuk pemantauan metana pada saat volume data lingkungan meningkat pesat.

    Keahlian manusia tetap menjadi pusat proses. Setiap deteksi yang ditandai AI ditinjau dan diverifikasi secara independen oleh analis IMEO sebelum pemberitahuan dikeluarkan, memastikan bahwa keputusan tetap didasarkan pada penilaian ilmiah.

    UNEP juga menyediakan dataset dan kode utama secara terbuka, membantu para peneliti, pemerintah, dan organisasi lain untuk membangun pengalamannya dan memperluas akses ke alat pemantauan metana.

    “Seiring dengan meningkatnya volume data metana yang tersedia di seluruh dunia berkat misi satelit baru, tantangannya bukan lagi menemukan emisi tetapi menindaklanjutinya,” kata Krause.

    “Pengalaman UNEP menunjukkan bagaimana AI dapat membantu menjembatani kesenjangan tersebut, memungkinkan identifikasi pelepasan metana besar dengan lebih cepat dan membantu mengubah data menjadi pengurangan emisi yang terukur.”