7cloud.asia – Selama ini kita sering mendengar kampanye yang menyebutkan gas bumi sebagai energi transisi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
Pemerintah juga gencar menarasikan bahwa gas bumi atau metana adalah energi transisi sebelum kita bisa bisa benar-benar beralih ke energi bersih.
Tapi, apakah gas bumi benar-benar solusi? Atau justru ini hanya strategi untuk mempertahankan energi fosil, meskipun dengan wajah yang berbeda? Berikut ulasannya seperti dilansir di laman resmi Greenpeace Indonesia, greenpeace.org.
Banyak masyarakat terjebak narasi ini, apalagi kalau sedikit banget informasi yang dibagikan media tentang bahayanya gas bumi dibandingkan informasi tentang bahaya batubara.
Laporan terbaru yang dikeluarkan oleh Greenpeace Indonesia dan CELIOS memberikan gambaran yang sangat menarik dan mungkin cukup mengejutkan soal gas bumi ini.
Laporan ini mengungkapkan bahwa gas bumi yang selama ini dianggap sebagai “energi yang lebih bersih” sebenarnya bukanlah solusi untuk masalah perubahan iklim.
Baca: Pembangkit gas fosil bukan solusi tepat transisi energi
Sebaliknya, gas bumi justru bisa jadi sebuah jebakan baru bagi Indonesia dalam menghadapi krisis iklim dan ketergantungan terhadap energi fosil.
Ada banyak hal yang perlu digali lebih dalam mengenai narasi gas bumi sebagai energi transisi. Masyarakat perlu memahami siapa saja yang diuntungkan dari penggunaan gas bumi ini, serta mengapa harus bersikap lebih kritis dalam menerima argumen yang menyebut gas bumi sebagai solusi energi masa depan.
Jangan sampai masyarakat terjebak dalam narasi yang sebenarnya hanya menguntungkan segelintir pihak, sementara dampaknya bisa merugikan banyak orang dan lingkungan.
Gas Bumi: gimmick atau kenyataan?
Pemerintah Indonesia dan sektor industri menganggap gas bumi sebagai “jalan tengah” yang aman sebelum beralih sepenuhnya ke energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan lainnya.
Gas bumi dianggap sebagai energi yang lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan batu bara yang emisinya sangat tinggi.
Gas bumi memang lebih bersih dibanding batu bara, jika kita hanya menghitung emisi karbon dioksidanya saja. Ini adalah bentuk greenwashing!
Baca: Emisi yang dihasilkan gas alam tak lebih baik ketimbang batu bara
Pasalnya, gas bumi tetap saja sumber energi fosil yang selain menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂). Gas bumi yang memiliki nama lain metana (CH4) ini jauh lebih berbahaya karena efek pemanasan globalnya bisa 82.5 kali lebih kuat dibandingkan CO₂.
Parahnya lagi, methane leakage atau kebocoran metana bisa terjadi di seluruh rantai pasok gas bumi — dari ekstraksi, distribusi, hingga pembakaran.
Dengan kebocoran metana ini, total emisi gas bumi bahkan berpotensi lebih tinggi daripada batu bara. Kondisi ini menjadikan gas bumi sebagai pilihan energi yang tidak ramah iklim.
Jadi, gas bumi adalah bahan bakar fosil yang tetap saja berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Laporan Greenpeace dan CELIOS bahkan menyebutkan bahwa, gas bumi tetap menghasilkan emisi yang sangat besar dan bahkan jauh lebih berbahaya dalam jangka panjang.
Lalu, siapa yang diuntungkan dari narasi ini? Jawabannya adalah: perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di industri energi fosil, baik itu perusahaan minyak dan gas bumi nasional maupun investor asing yang mendanai proyek-proyek energi gas bumi.
Baca: Ini yang terjadi jika dunia tak mengerem penggunaan bahan bakar fosil
Mereka berusaha untuk memperluas pasar gas bumi di Indonesia dengan menggunakan narasi “gas bumi sebagai energi transisi” sebagai alat untuk memperkenalkan gas bumi sebagai solusi energi masa depan.
Namun, dari penelusuran CELIOS pemanfaatan gas bumi ini akan menimbulkan dampak besar bagi ekonomi.
Dampak kesehatan yang ditimbulkan dari pembangkit gas fosil dengan skenario 22 gigawatt (GW) memberikan beban ekonomi hingga Rp89,8 – Rp249,8 triliun dalam 15 tahun ke depan.
Dibanding mendorong pembangkit gas fosil, opsi energi terbarukan mampu berkontribusi terhadap perekonomian sebesar Rp2.627 triliun pada 2040.
Ekspansi pembangkit gas fosil dalam skenario 2,68 GW meningkatkan CO₂ hingga
5,97 juta ton per tahun dan metana hingga 5.332 ton per tahun.
Sementara dalam skenario gas fosil 22 GW CO₂ akan mengalami lonjakan hingga 49,02 juta ton per tahun dan metana (CH₄) hingga 43.768 ton per tahun.

Leave a Reply