Tag: migrasi

  • Evolusi Warteg: Dirintis Orang Tegal Lalu Jadi Merek Bersama

    Evolusi Warteg: Dirintis Orang Tegal Lalu Jadi Merek Bersama

     

    7cloud.asia – Warung Tegal atau biasa disingkat Warteg telah lama dikenal sebagai tempat makan yang menyediakan makanan dengan harga yang terjangkau di Jakarta

    Keberadaan warteg diyakini sudah ada di Jakarta sejak tahun 1960an saat banyak warga Tegal bermigrasi ke Jakarta. Warteg kini telah berevolusi menyesuaikan perkembangan zaman. 

    Bisa dikatakan, warteg adalah fast food ala Indonesia yang sangat merakyat dan belakangan juga dilirik oleh kaum berduit. Warung Tegal Marmo di kawasan Tebet, Jakarta Selatan adalah salah satu contohnya.

    Bahkan kini ada pemilik warteg yang membuka franchise atau waralaba, seperti warteg Bahari yang bertebaran di banyak sudut kota Jakarta.

    Baca: Maluku Punya Cerita: dari papeda hingga ina gandong

    Sejarawan Makanan Universitas Padjajaran, Fadly Rahman, seperti dilansir BBC Indonesia mengatakan bahwa awal mula warteg tidak bisa dipisahkan dari migrasi orang-orang Tegal ke Jakarta.

    Ia menyebut, fenomena urbanisasi yang mulai terjadi pada dekade tahun 60-an menjadi asal mula lahirnya warteg.

    Saat itu, Jakarta memang tengah gencar melakukan pembangunan dan banyak sekali membutuhkan tenaga-tenaga kerja dan yang banyak datang untuk bekerja di Jakarta ini di antaranya adalah orang-orang Tegal.

    Baca: Mengenal tradisi mudik yang berasal sejak jaman Majapahit

    Jadi mereka datang dan kemudian dari perjalanan awal sejarah Tegal, awal sejarah warung nasi Tegal ini, istri-istrinya juga ikut.

    Ia mengatakan pada awalnya, para warga Tegal hanya membuka warung-warung kecil agar bisa memenuhi kebutuhan makan para kuli bangunan dan menu yang disajikannya pun sangat sederhana.

    “Para pekerja yang memang melihat Warteg ini adalah tempat makan yang murah meriah tapi porsinya banyak dan pilihan lauk sayur, pilihan sayur lauk pauknya juga sangat beragam.

    Baca: Mengenal tradisi seba masyarakat adat Badui

    Itu, ujarnya, yang membuat kenapa warteg berkembang bukan hanya sebagai makanan para kuli bangunan seperti di awal-awal dekade tahun 1960-an.

    Fadly mengatakan bahwa rahasia di balik keberhasilan warteg dalam bertahan sejak dulu hingga sekarang – meski saingan di bidang kuliner semakin beragam dan kompetitif – berada pada menu ‘rumahan’ warteg yang dapat dinikmati masyarakat kelas manapun.

    “Ini yang membuat kenapa dia enggak bisa tergeser, walaupun industri kuliner sekarang kan memungkinkan siapapun punya preferensi makan apapun, selama kita masih makan nasi dari pagi sampai malam maka warteg itu akan tetap hidup sampai kapanpun.”

    Baca: Negara akui suku Punan Batu sebagai masyarakat adat

    Pemilik warteg Otista, Tarsih Irdayanti mengatakan bahwa saat ia kecil, para warga Tegal yang bermigrasi ke Jakarta untuk membuka usaha warteg terbatas menjadi dua kampung, yakni Desa Sidakaton dan Desa Sidapurna.

    Ia sendiri berasal dari daerah Cabawan, yang letaknya tak jauh dari kedua kampung tersebut.

    “Karena Tegal itu kota bisnis, bahkan saat zaman dulu, Gusdur bilang [Tegal itu] Jepangnya Indonesia. Kenapa? Karena di sana banyak [manufaktur] besi, terus industri lah. Dan banyak juga yang mulai pergi ke Jakarta buat buka usaha,“ ujar Tarsih

    Baca: Lintas Melawai yang pernat hype di 1990an

    Ayah Tarsih pertama kali membuka toko minuman kopi dan rokok di era 70-an di bawah Jembatan Besi, Jakarta Barat. Usaha tersebut kemudian berkembang menjadi warung yang dikelola oleh istrinya.

    “Ibu saya dibantu oleh kakak saya, jadi ITC Roximas itu saya dari masih bedeng sampai jadi tuh saya dagang di sana. Berapa puluh tahun itu kakak saya punya warung disitu, 30 tahunan,“ ujar Tarsih.

    Namun kini, sambungnya, bukan hanya orang Tegal yang menjalani bisnis warteg. 

    Baca: Kurir sepeda Lazada, upaya bisnis yang lebih ramah lingkungan

    Ia mengatakan siapapun yang memiliki modal bisa membuka warteg sendiri atau mengelola cabang warteg atau yang disebut dengan warteg franchise.

    Jadi begitulah perjalanan warteg, dirintis orang Tegal yang kemudian menyebar ke seluruh Indonesia.

    Sumber: BBC Indonesia, baca artikel asli di sini

     

  • Lonjakan Migrasi Pencari Kerja Menuju Jakarta: Pentingnya Antisipasi Pengangguran dan Wilayah Kumuh

    Lonjakan Migrasi Pencari Kerja Menuju Jakarta: Pentingnya Antisipasi Pengangguran dan Wilayah Kumuh

    7cloud.asia – Setiap tahun, permasalahan kenaikan arus perpindahan atau migrasi penduduk usia produktif menuju ibu kota Jakarta hampir selalu menjadi fenomena yang mengundang berbagai respons.

    Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jakarta menunjukkan fenomena migrasi tersebut.

    Sebabnya, perkembangan dan pembangunan masif masih menjadi magnet bagi para pencari kerja dari berbagai daerah, menarik ribuan orang untuk migrasi dan mencoba peruntungan di pusat ekonomi dan pemerintahan ini.

    Kenaikan ini menunjukkan pentingnya persiapan dan reaksi yang efektif dari berbagai pihak untuk memastikan transisi ini membawa manfaat optimal bagi semua.

    Data terakhir dari Dashboard Statistik Kependudukan DKI Jakarta menunjukkan adanya peningkatan signifikan pendatang dari luar DKI sekitar hampir lebih 8000 orang.

    Angka ini terhitung semenjak lebaran 2024 hingga sekarang yang mengurus administrasi kependudukan untuk menjadi warga resmi Jakarta.

    Musim liburan seperti lebaran umumnya memang menjadi momentun urbanisasi tiap tahunnya, dengan pendatang yang mencari peruntungan selama Ramadan memutuskan untuk tinggal serta dipicu arus balik dari desa ke kota selama musim mudik.

    Baca: Tantangan Jakarta dalam mewujudkan kota global

    Jajak pendapat Litbang Kompas pada 25-29 Maret 2024 mengenai topik seputar Lebaran menunjukkan bahwa 25,2 persen responden mengatakan berencana mengajak saudara atau kerabat keluarga untuk ikut ke kota tempat tinggal mereka.

    Arus urbanisasi ini menegaskan kebutuhan akan strategi yang matang dalam mengelola arus masuk penduduk baru.

    Tantangan dalam Menghadapi Lonjakan Calon Pekerja
    Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah rendahnya tingkat pendidikan di kalangan pendatang.

    Data yang masih dihimpun dari Dashboard Statistik Kependudukan Dukcapil DKI Jakarta menunjukan bahwa dari 8000-an pendatang yang terekam, hampir sekitar 84,11 persen yang pendidikan akhirnya hanya sebatas SMA/SMK.

    Fenomena ini perlu mendapat perhatian khusus karena aspek pendidikan menjadi variabel penting dalam menentukan keberhasilan seseorang mendapatkan lapangan pekerjaan.

    W. Arthur Lewis, ekonom asal Amerika Serikat (AS) peraih Nobel Memorial Prize, membahas perpindahan penduduk berpendidikan minim ke daerah ibu kota melaui Teori Migrasi Dual-Sektor.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta berhasil benahi 220 RW kumuh

    Teori tersebut diterbitkan dalam karya ilmiah berjudul Economic Development with Unlimited Supplies of Labour (Pembangunan Ekonomi dengan Pasokan Tenaga Kerja tak Terbatas).

    Teori yang dikembangkan pada 1954 ini memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk memahami dampak migrasi dari daerah pedesaan ke perkotaan, khususnya dalam konteks negara berkembang.

    Inti dari teori ini adalah pembagian ekonomi menjadi dua sektor utama: sektor tradisional atau pedesaan, dan sektor modern atau perkotaan.

    Dalam sektor pedesaan tradisional, produksi pertanian atau pekerjaan yang kurang produktif mendominasi. Tenaga kerja di sektor ini sering kali berlimpah dan kurang dimanfaatkan secara optimal, dengan tingkat produktivitas yang rendah.

    Sebaliknya, sektor modern atau perkotaan terdiri dari industri modern dan jasa dengan tingkat produktivitas yang lebih tinggi.

    Sektor ini menawarkan peluang pekerjaan yang lebih baik dan gaji yang lebih tinggi, menarik tenaga kerja dari sektor pedesaan.

    Baca: Masih ada 90 RW kumuh di Jakarta Selatan

    Menurut Lewis, perpindahan penduduk dari sektor tradisional ke sektor modern adalah hal yang tak terelakkan seiring dengan proses pembangunan ekonomi, terutama di Indonesia.

    Namun, jika kita melihat statistik pengangguran terbuka per provinsi berdasarkan data BPS, Jakarta menduduki peringkat keempat pengangguran terbanyak di angka 6,03persen per Februari 2024.

    Angka pengangguran di Jakarta ini di atas rata-rata nasional yang sebesar 4,38persen dari penduduk usia produktif.

    Ranking Jakarta hanya di bawah Banten, Riau, dan Jawa Barat–namun perlu diingat bahwa sebagian sebagian wilayah Banten dan Jawa Barat masuk dalam wilayah aglomerasi Jakarta.

    Teori Lewis juga menyatakan bahwa urbanisasi yang tidak terencana ini menghasilkan kawasan kumuh dan kondisi hidup yang buruk di kota-kota besar.

    Klaim ini didukung dengan data dari peta dari KOTAKU, program yang diusung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk memperbaiki fasilitas wilayah kumuh dan menjadikannya hunian layak.

    Tergambar masih banyaknya persebaran daerah kumuh di DKI Jakarta, diwarnai dengan zona merah, terutama daerah Jakarta Utara.

    Ini menciptakan tantangan besar bagi pemerintah Jakarta dalam menyediakan layanan dasar dan infrastruktur yang memadai.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Pinto Buana Putra(Research associate di Institute for Democracy and Welfarism (IDW) Jogja, Universitas Gadjah Mada)

     

  • Mengenali Migrasi Tahunan Burung Layang-layang: Tempuh Jarak Ribuan Kilometer

    Mengenali Migrasi Tahunan Burung Layang-layang: Tempuh Jarak Ribuan Kilometer

    7cloud.asia – Ribuan burung layang-layang asia (Hirundo rustica) mulai terlihat singgah di kota Indramayu, Jawa Barat pada Jumat (7/2/2025).

    Jawa Barat merupakan salah satu tempat singgahnya burung layang-layang Asia saat mereka melakukan migrasi tahunan menghindari cuaca dingin di belahan bumi utara yang menjadi tempat mereka berkembang-biak.

    Dilansir birdoftheworld.org, burung layang-layang biasanya berkembangbiak di belahan bumi utara seperti Eropa, Amerika utara atau Asia utara.

    Di dunia, ada sekitar 88 jenis burung layang-layang Asia, namun hanya tujuh di antaranya merupakan residen dan bermigrasi ke Indonesia.

    Saat musim dingin tiba, burung layang-layang berimigrasi menghindari udara dingin dengan berimigrasi ke belahan bumi selatan yang lebih hangat.

    Baca: Kenaikan suhu air laut picu migrasi biota

    Adapun rute imigrasi burung yang tergolong kecil adalah mulai ke Amerika Tengah dan Selatan, Spanyol selatan, Maroko, Mesir, sub-Sahara Afrika, Timur Tengah, India, Indochina, Malaysia, Australia, hingga Indonesia.

    Bulan September menjadi bulan permulaan migrasi burung layang-layang tersebut. Kelompok pertama bakal tiba disusul kelompok berikutnya hingga Desember.

    Kawanan burung layang-layang akan kembali ke habitat asalnya pada Februari dan Maret saat cuaca menghangat.

    Burung layang-layang yang berbiak di Eropa biasanya bermigrasi ke sejumlah wilayah di Afrika. Burung layang-layang Amerika akan bermigrasi ke Amerika latin.

    Sementara burung layang-layang yang singgah di Indonesia diperkirakan berasal dari Siberia, Rusia dan China yang merupakan daerah berkembang-biaknya burung-burung layang Asia.

    Dilansir mongabay.com, untuk menghindari udara dingin, burung layang-layang asia terbang ribuan kilometer, mencari makan, dan istirahat di daerah lain.

    Baca: Upaya Kota Chicago bantu burung yang bermigrasi tak menabrak dinding kaca

    Saat bermigrasi, layang-layang asia akan melakukan perjalanan panjang, melewati berbagai hambatan habitat seperti laut dan gurun. Uniknya, jenis ini mencari makan yang berupa serangga sembari terbang.

    Di Indonesia sendiri, sudah banyak catatan mengenai imigrasi burung layang-layang asia ini. Namun, masih sangat sedikit yang melakukan penelitian.

    Berdasarkan hasil kumpulan pengamatan layang-layang asia dari eBird -situs database online observasi burung, burung layang-layang asia teramati di hampir seluruh wilayah Indonesia.

    Namun, individu yang paling banyak terpantau jumlah dan pengamatnya ada di Aceh, Medan, Pulau Samosir, Riau, Padang, Pulau Siberut, Pulau Mentawai, dan Jambi untuk wilayah sumatera.

    Di Pulau Jawa ada di Banten, Jakarta, Pamanukan, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Baluran; lalu Pulau Bali; diikuti Pulau Lombok; juga di Pulau Nusa Tenggara Timur yaitu di Labuan Bajo dan Pulau Ende.

    Di Kalimantan, teramati di Palangkaraya dan Samarinda; sementara di Pulau Sulawesi yaitu di Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.

  • Setiap Pergantian Musim Jutaan Burung Melakukan Migrasi, Pembangunan Kota Jadi Kendala

    Setiap Pergantian Musim Jutaan Burung Melakukan Migrasi, Pembangunan Kota Jadi Kendala

    ruangkotacom – Dua kali setahun, jutaan burung di seluruh planet Bumi melakukan perjalanan epik antara tempat berkembang biak dan tempat musim dingin mereka.

    Fenomena migrasi burung ini menjadi salah satu keajaiban alam terbesar di dunia. Migrasi burung sangat penting untuk mempertahankan keanekaragaman hayati planet ini.

    Sebagai penyebar benih dan pengendali serangga, burung membantu menjaga ekosistem yang sehat. Melalui perjalanan panjang mereka, burung-burung ini menghubungkan habitat yang jauh dan menumbuhkan keseimbangan ekologi.

    Burung juga menghubungkan orang-orang di seluruh dunia, dengan kembalinya spesies yang sangat dicintai yang dirayakan dalam banyak budaya sebagai berkah dan penanda pergantian musim.

    Kini, migrasi burung yang biasa terjadi menjelang pergantian musim dan dihormati sebagai Hari Burung Migrasi Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 10 Mei,

    Baca: Kota Chicago cegah burung yang bermigrasi tabrak dinding kaca

    Namun, perjalanan burung, besar dan kecil, penuh dengan bahaya. Bahaya terlemah rentan terhadap cuaca buruk, predator, dan kelelahan. Selama ribuan tahun, orang telah memburu burung yang bermigrasi untuk makanan.

    Belakangan, polusi, kabel listrik, bangunan kaca yang mengilap, hilangnya habitat, dan perubahan iklim menambah ancaman yang dialami burung-burung yang berimigrasi ini.

    Banyak bahaya yang tumpang tindih di kota-kota, yang telah menjadi fokus upaya untuk membantu burung mencapai tujuan mereka, terutama ketika pusat kota terletak di rute migrasi utama, yang dikenal sebagai jalur migrasi.

    Kondisi ini menjadi ancaman nyata terhadap kelestarian burung-burung yang biasa bermigrasi atau yang biasa disebut dengan burung migran.

    Setidaknya 134 spesies burung migran terancam punah, menurut laporan tahun 2024 dari Konvensi Spesies Migrasi, sebuah kesepakatan global yang dirancang untuk melindungi hewan yang melakukan perjalanan lintas batas.

    Baca: Migrasi tahunan burung layang-layang

    Dari 1.189 spesies yang tercantum dalam konvensi tersebut, 44 persen menunjukkan penurunan populasi, dengan 22 persen terancam punah.

    Inisiatif seperti Generation Restoration Cities membantu menginspirasi penduduk dan mendukung pemerintah kota dan daerah di seluruh dunia dalam membangun jaringan dan berbagi pengalaman.

    Kepala Cabang Adaptasi dan Ketahanan di Divisi Perubahan Iklim UNEP. Mirey Atallah mengatakan, upaya melestarikan ruang bagi burung telah dilakukan otoritas Seattle (AS) dan Istanbul (Turkiye).

    ”Pelajaran terpenting yang mereka ajarkan kepada kita adalah bahwa daerah perkotaan yang dipulihkan dan dikelola secara berkelanjutan dapat menjadi tempat berlindung di dunia yang terus berubah bagi satwa liar maupun manusia,” katanya.

    Apa yang dilakukan pemerintah dua kota ini akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi lingkungan