Tag: mpox

  • WHO Tetapkan Penyakit Cacar Monyet sebagai Darurat Kesehatan Sejak 2022, Seperti Ini Kondisinya di Indonesia

    WHO Tetapkan Penyakit Cacar Monyet sebagai Darurat Kesehatan Sejak 2022, Seperti Ini Kondisinya di Indonesia

    7cloud.asia – Infeksi virus Mpox  atau yang juga dikenal sebagai cacar monyet menjadi perhatian di banyak belahan dunia, termasuk Indonesia.

    Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penyakit Cacar Monyet atau MPox ini sebagai darurat kesehatan masyarakat global pada Juli 2022.

    Laporan WHO juga menyinggung kekhawatiran bahwa cacar monyet ini terabaikan di wilayah Asia Tenggara karena kurangnya akses terhadap fasilitas medis yang memadai.

    Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, tercatat ada 15 orang dengan kasus positif cacar monyet, dan 1 kasus sembuh (Agustus 2022).

    Baca: Ahli sebut kasus cacar monyet capi ribuan kasus

    Selain itu dari 14 orang kasus positif aktif (positivity rate PCR 44 persen) cacar monyet, dimana hampir semua bergejala ringan dan tertular secara kontak seksual.

    Data tersebut juga menyebutkan bahwa semua pasien tersebut adalah laki-laki usia 25-50 tahun.

    Selain itu, data DKI Jakarta juga menyebutkan bahwa terdapat 20 orang dengan hasil PCR negatif, dan 2 orang yang masih menunggu hasil PCR.

    Dari tanggal 13 Oktober hingga saat ini terdapat 14 orang dengan kasus positif atau terduga positif yang saat ini tengah menjalani isolasi di RS.

    Sementara itu, Kementerian Kesehatan juga telah menyediakan vaksin cacar monyet atau MPox yang telah diberikan kepada 251 orang dari target 495 orang.

    Baca: Pengawasan di Bandara Soetta diperketat untuk cegah penyebaran cacar monyet

    Penyakit cacar monyet ini disebabkan oleh virus yang ditularkan dari hewan ke manusia dan dapat menimbulkan gejala ringan hingga berat

    Mpox atau cacar monyet dapat menular dari manusia ke manusia dan tidak hanya dari hewan ke manusia.

    Cepatnya penyebaran cacar monyet Mpox secara global dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti tingginya jumlah orang yang bepergian; perdagangan internasional hewan seperti monyet.

    Satu hal yang perlu diwaspadai adalah munculnya jalur penularan baru cacar monyet dari manusia ke manusia, khususnya melalui hubungan seksual sesama laki-laki.

    Munculnya gejala yang tidak biasa dan masih minimnya ketersediaan vaksin cacar monyet di negara-negara berisiko tinggi.

    Lebih dari 90 persen kasus cacar monyet di dunia dilaporkan pada populasi khusus yaitu homoseksual dan biseksual.

    Baca: Kasus cacar monyet di Jakarta meningkat, warga diminta waspada

    Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Moh. Adib Khumaidi mengatakan, PB IDI melalui Satgas MPox akan terus mengawal perkembangan kasus cacar moyet di Indonesia.

    “Diperlukan upaya berkelanjutan dan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, organisasi layanan kesehatan, dan organisasi internasional agar dapat mengatasi masalah Mpox di Asia Tenggara ini secara efektif,” ujar Adib dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (30/10/2023).

    Adib menambahkan perlu juga dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap penyakit cacar monyet ini dan peningkatan akses terhadap pengobatan yang efektif.

    IDI juga meminta pemerintah untuk meningkatkan pendanaan untuk penelitian dan upaya pengendalian, serta pembentukan respons terkoordinasi yang melibatkan partisipasi semua negara terutama di Asia Tenggara.

    Ketua Satgas MPox PB IDI, Hanny Nilasari, mengatakan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit ccar monyet menjadi adalah salah satu alasan utama diabaikannya penyakit ini di Asia Tenggara.

    Baca: Waspadai nyeri pinggang berkepanjangan

    Banyak masyarakat, ujarnya, yang masih belum mengetahui gejala Mpox dan mungkin tidak tahu cara melindungi diri dari penyakit tersebut.

    “Kurangnya informasi ini dapat menyebabkan keterlambatan dalam mencari pertolongan medis, yang dapat berakibat lebih parah. Selain itu, sering terjadi kesalahpahaman cacar monyet ini bukanlah penyakit serius atau tidak umum terjadi,” ujarnya.

    Dia mengingatkan, hal ini dapat mengakibatkan kurangnya kepedulian terhadap penyakit ini dan keengganan mengambil tindakan untuk melindungi diri dari infeksi.

    Hanny menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gejala-gejala penyakit cacar monyet ini, dan mendidik masyarakat tentang cara melindungi diri dari infeksi.

    “Dengan cara ini, kita dapat mengurangi penyebaran penyakit dan meningkatkan hasil bagi mereka yang terinfeksi,” katanya. 

    Baca: Ini bahayanya jika duduk terlalu lama

    Dia mengatakan, banyak penderita cacar monyet memiliki gejala ringan, yang mungkin tidak cukup parah sehingga memerlukan perhatian medis.

    Hal ini dapat mengakibatkan penyakit ini terabaikan, karena orang mungkin berasumsi bahwa gejalanya tidak serius dan akan sembuh dengan sendirinya.

    Namun, kasus Mpox yang ringan sekalipun dapat menular dan menyebabkan penyebaran penyakit, serta berakibat fatal terutama pada pasien dengan imunitas rendah.

  • Cegah Penyebaran MPox atau Cacar Monyet, Kemenhub Kembali Wajibkan Penggunaan Aplikasi SATUSEHAT

    Cegah Penyebaran MPox atau Cacar Monyet, Kemenhub Kembali Wajibkan Penggunaan Aplikasi SATUSEHAT

    7cloud.asia – Kemenhub kembali mewajibkan penggunaan aplikasi SATUSEHAT untuk para pelaku perjalanan yang baru pulang dari luar negeri dan akan masuk ke Indonesia mulai 27 Agustus 2024.

    Kewajiban penggunaan aplikasi SATUSEHAT itu diterapkan demi mencegah penularan penyakit Mpox atau cacar monyet di bandar udara.

    Kewajiban ini dituang dalam Surat Edaran Dirjen Perhubungan Udara Nomor SE 5 DJPU Tahun 2024 tentang Penggunaan SATUSEHAT Health Pass pada Pelaku Perjalanan Luar Negeri.

    “Langkah ini diambil setelah ada penetapan penyakit Mpox atau lebih dikenal dengan cacar monyet,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara M Kristi Endah Murni dalam keterangan di Jakarta, Rabu (28/8/2024) dikutip CNN Indonesia

    Ia menyampaikan bahwa penetapan kebijakan itu sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia (Public Health Emergency of International Concern) oleh Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization-WHO) pada 14 Agustus 2024.

    Baca: WHO tetapkan kegawatdaruratan MPox secara global

    “Persyaratan tersebut juga menindaklanjuti Surat Menteri Kesehatan tentang Penerapan SATUSEHAT Health Pass,” ujarnya.

    Penetapan SE 5 DJPU Tahun 2024 itu sebagai panduan bagi badan usaha angkutan udara dan perusahaan angkutan udara asing agar setiap orang (personel penerbangan dan penumpang) pelaku perjalanan luar negeri yang terbang menuju ke Indonesia untuk mengisi formulir swadeklarasi elektronik bernama SATUSEHAT Health Pass.

    “Serta, panduan bagi penyelenggara bandar udara internasional melakukan langkah-langkah pencegahan dan penanganan penularan penyakit Mpox di bandar udara,” ucap Kristi.

    Kemenhub telah meminta badan usaha angkutan udara dan perusahaan angkutan udara asing yang melayani penerbangan dari dan ke luar negeri Indonesia agar melakukan melakukan sosialisasi mengenai kebijakan itu, guna mencegah terjadinya penularan penyakit Mpox di tanah air.

    Permintaan itu meliputi sosialisasi dan menginformasikan kepada setiap orang (personel penerbangan dan penumpang) pelaku perjalanan luar negeri yang terbang menuju ke Indonesia untuk mengisi formulir swadeklarasi elektronik SATUSEHAT Health Pass pada domain https://sshp.kemkes.go.id.

    Baca: Kasus cacar monyet atau MPox sudah ditemukan di Jakarta

    Kedua, pengisian formulir swadeklarasi elektronik SATUSEHAT Health Pass bagi setiap orang (personel penerbangan dan penumpang) pelaku perjalanan luar negeri, dilakukan di bandar udara keberangkatan.

    Ketiga, berkoordinasi dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan jika terdapat permasalahan dalam pengisian formulir swadeklarasi elektronik SATUSEHAT Health Pass di bandar udara kedatangan.

    Keempat, berkoordinasi dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan dalam rangka upaya pencegahan penularan penyakit Mpox di Indonesia.

    Sedangkan, untuk penyelenggara bandara udara yang berstatus sebagai bandar udara internasional agar melakukan koordinasi dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan dalam rangka upaya pencegahan penularan penyakit Mpox di bandar udara.

    Kedua, berkoordinasi dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan dalam menangani penumpang yang diduga terjangkit penyakit Mpox di bandar udara kedatangan.

    “Saya telah memerintahkan Direktur Keamanan Penerbangan dan Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara untuk melakukan pengawasan atas pemberlakuan surat edaran. Semua pihak untuk dapat melaksanakan dengan penuh tanggung jawab,” kata Kristi.

  • Mengenali Apa Itu Cacar Monyet atau MPox Hingga WHO Menetapkan dalam Status Gawat Darurat

    Mengenali Apa Itu Cacar Monyet atau MPox Hingga WHO Menetapkan dalam Status Gawat Darurat

    7cloud.asia – Pemerintah memperketat pemeriksaan kesehatan di pintu masuk dan mengaktifkan kembali pelacakan mobilitas pelaku perjalanan melalui aplikasi SATUSEHAT Health Pass menyusul ditemukannya cacar monyet atau Mpox varian Clade Ib di luar kawasan Afrika.

    Afrika merupakan sumber penyakit cacar monyet atau Mpox yang kini telah dinyatakan badan kesehatan dunia, WHO dalam status gawat darurat.

    Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 88 kasus Mpox di Indonesia selama tahun 2022-2024. Sebanyak 74 kasus di antaranya terjadi sebelum dan hingga tahun 2023 dan 14 kasus di tahun 2024.

    Dalam rangka memberikan informasi terkini perkembangan Mpox, Organisasi Riset Kesehatan (ORK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan menyelenggarakan webinar bertajuk “Apa kabar Mpox?” pada Rabu (4/9/2024).

    Kepala ORK BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti menjelaskan, Mpox dipengaruhi oleh beberapa clade yaitu clade Ia, clade lb, dan clade Ilb.

    Baca: Kemenhub wajibkan penggunaan aplikasi SATUSEHAT tuk cegah penyebaran Mpox

    Virus Mpox Clade Ib yang telah menyebar ke luar Afrika terindikasi memiliki derajat keparahan yang lebih tinggi, penularan lebih cepat, termasuk menular ke populasi anak-anak.

    Clade Ia berkaitan dengan kasus yang terjadi pada anak-anak dan juga dewasa dengan manifestasi klinis yang lebih berat. Sedangkan clade lb dan Ilb, penularan antar manusia sebagian besar terjadi melalui kontak seksual.

    “BRIN sebagai badan organisasi riset memiliki salah satu tanggung jawab dalam upaya pencegahan wabah/KLB di Indonesia,“ ujar Indi.

    Penelitian lebih lanjut perlu terus dilakukan terkait epidemiologi, transmisi dan pengembangan vaksin atau terapi baru dalam upaya pengendalian Mpox.

    Diharapkan melalui webinar ini peserta dapat memperoleh informasi terkini perkembangan Mpox sekaligus mendorong peluang kerja sama dengan instansi terkait dalam upaya pencegahan penyebaran Mpox di Indonesia.

    Baca: WHO tetapkan status kegawatdaruratan global terkait penyebaran Mpox

    Sementara, Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN, Harimat Hendrawan mengkapkan, dari Hasil Penilaian Risiko Bersama (PRB) atau Joint Risk Assesment (JRA) Mpox di Indonesia hingga saat ini belum ditemukan kasus Mpox pada hewan.

    Namun, karena cukup banyak masyarakat yang hidup berdampingan dengan hewan peliharaan sehingga dikhawatirkan terdapat potensi penularan balik (spill back) dan pembentukan reservoir hewan baru.

    “Risiko-risiko tersebut perlu segera diketahui, termasuk perkembangan terkini terkait Mpox. Pengetahuan yang terus berkembang tentang Mpox membantu dalam upaya mitigasi faktor risiko dan mengidentifikasi cara-cara penularan baru serta meningkatkan langkah-langkah pencegahan yang efektif,” imbuh Hendrawan.

    Menurutnya, pencegahan dapat diupayakan dengan pemberian vaksin cacar, penggunaan pelindung pribadi, dan menghindari kontak dengan hewan yang terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi.

    Pengobatan umumnya bersifat suportif, dengan fokus pada pengelolaan gejala dan pencegahan infeksi sekunder. Beberapa terapi antiviral mungkin digunakan dalam kasus-kasus yang parah atau berisiko tinggi.

    “Prinsipnya kita harus kembali menegakkan disiplin protokol kesehatan untuk mencegah resiko penularan,” tegas Hendrawan.

  • Varian Baru Mpox yang Lebih Ganas Berpotensi Masuk ke Indonesia

    Varian Baru Mpox yang Lebih Ganas Berpotensi Masuk ke Indonesia

    7cloud.asia – Varian baru Mpox atau cacar monyet, Clade lb yang lebih ganas dan penularannya lebih cepat, berpotensi masuk ke Indonesia tanpa terdeteksi.

    Hal ini diungkapkan oleh National Professional Officer (NPO) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Indonesia, Musthofa Kamal saat menjelaskan potensi varian baru tersebut masuk ke Indonesia.

    “Sejauh ini (di Indonesia) masih belum ada kasus Clade Ib, tetapi potensi tidak terdeteksi tentu saja ada, sama dengan negara lainnya seperti Singapura dan Malaysia. Mereka juga ada potensi tapi sejauh ini belum ada kasus di wilayah mereka juga,” jelas Kamal seperti yang dilansir Detik.com.

    Baca: WHO tetapkan kegawatdaruratan kasus cacar monyet

    Selanjutnya Kamal menerangkan, di Indonesia hingga kini masih ‘aman’ dari kasus Mpox Clade lb karena  sistem surveilans di Indonesia saat ini berjalan baik. Dengan demikian hal tersebut dapat dicegah.

    Di wilayah Asia Tenggara, kasus Mpox Clade Ib terdekteksi berada di negara Thailand. Sementara di wilayah Eropa, kasus ini terdeteksi di negara Swedia.

    Penularan kasus tersebut dari orang yang memiliki riwayat perjalanan ke negara endemik, seperti DR Kongo dan Burundi.

    Meski demikian, menurutnya Indonesia adalah salah satu negara yang paling siap dalam menghadapi potensi penyebaran kasus Mpox.

    Baca: Kasus cacar monyet di Indonesia meningkat, 1 orang meninggal

    Kesiapan tersebut berupa pemberlakuan  skrining SATUSEHAT Health Pass serta testing oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) untuk pelaku perjalanan dari luar negeri.

    “Ini kemudian diperkuat tidak hanya di klinik-klinik dan rumah sakit saja, tapi juga di pintu masuk (perbatasan). Termasuk kapasitas testing di Indonesia termasuk yang paling baik yang saya bilang, vaksin tersedia, obat juga,” terangnya.

    Sementara itu, Plt Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan hingga kini kasus Mpox di Indonesia masih belum bertambah.

    Baca: cacar monyet di Indonesia capai 38 kasus

    Sejak Januari hingga awal September terdapat 14 kasus Mpox, namun semuanya kini telah sembuh.

    “Memang kemarin sempat ada lima suspek, terus beberapa hari yang lalu itu sempat ada 10 suspek dan kemarin ada dari Bandara Soekarno-Hatta itu dikatakan ada tiga suspek, ya. Namun semuanya sampai saat ini masih ada tujuh sampel yang dalam pemeriksaan, sementara yang lain sudah negatif,” kata Siti.

     

     

  • Suspek Mpox Bermunculan, DPR Desak Pemerintah Terapkan Protokol

    Suspek Mpox Bermunculan, DPR Desak Pemerintah Terapkan Protokol

    7cloud.asia – Kasus suspek Mpox (MonkeyPox) atau cacar monyet terus bertambah di Indonesia. Sementara WHO telah menetapkan status kegawatdaruratan untuk penyakit Mpox ini.

    Menurut catatan Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 88 kasus Mpox di Indonesia selama tahun 2022-2024. Sebanyak 88 kasus Mpox yang ditemukan di Indonesia telah dinyatakan sembuh.

    Sebanyak 74 kasus di antaranya terjadi sebelum dan hingga tahun 2023 dan 14 kasus di tahun 2024.

    Menyikapi kondisi ini Anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo mendesak Pemerintah untuk segera menerapkan kembali kewajiban protokol kesehatan.

    Dia juga meminta pemerintah mempersiapkan penanganan khusus untuk anak-anak yang berpotensi terkena Mpox, terutama jika ada keluarga yang menjadi suspek.

    Baca: Mengapa WHO menetapkan status kegawatdaruratan untuk penyakit Mpox

    “Mpox sudah harus ditangani dengan serius. Kami mendesak Pemerintah untuk segera menerapkan protokol kesehatan ke masyarakat dan menyiapkan penanganan secara lebih komprehensif, khususnya untuk anak-anak yang juga berisiko terpapar Mpox,” ujar Rahmad Handoyo dalam rilisnya kepada Parlementaria, di Jakarta, Jumat (6/9/2024).

    Rahmad mengharapkan komitmen tinggi dari Pemerintah untuk menangani Mpox, apalagi berdasarkan informasi Kementerian Kesehatan (Kesehatan) sudah ada laporan sepuluh kasus suspek Mpox di Bali, Yogyakarta, Jakarta dan sekitarnya, serta Kalimantan.

    Di Jabodetabek, suspek ditemukan di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kemudian ada juga beberapa suspect Mpox di wilayah Jakarta Barat.

    Sebelumnya 3 kasus suspect Mpox juga terdapat di Palembang, Sumatera Selatan, meski hasil pemeriksaan laboratoriumnya sudah dinyatakan negatif.

    Rahmad mengatakan, Pemerintah perlu mewaspadai varian terbaru Mpox yaitu Clade 1B di mana varian ini cukup membahayakan pasien karena penyebarannya sangat cepat.

    Baca: Cegah penyebaran Mpox, Kemenhub wajibkan aplikasi SATUSEHAT

    Mpox clade 1B ini berasal di Kongo dan kini telah menyebar keluar dari benua Afrika,

    “Meskipun di Indonesia belum ada penambahan kasus positif Mpox dan Clade I juga belum terdeteksi, Pemerintah harus mengambil langkah konkret salah satunya dengan implementasi protokol kesehatan ataupun edukasi masif kepada masyarakat,” jelas Politisi PDI-Perjuangan ini.

    Walaupun bukan penyakit mematikan, penyakit Mpox yang terjadi karena infeksi virus MPXV itu mudah menular.

    Penularan virus Mpox antarmanusia dapat terjadi melalui kontak langsung berupa berjabat tangan, bergandengan, dan termasuk kontak seksual.

    Virus MPXV sendiri merupakan spesies dari genus Orthopoxvirus. Ada dua clade virus MPXV, yaitu Clade I (dengan subclade Ia dan Ib) dan Clade II (dengan subclade IIa dan IIb).

    Baca: WHO tetapkan kegawatdaruratan global penyebaran Mpox

    Clade Ia dan Ib memiliki manifestasi klinis yang lebih berat bila dibandingkan dengan Clade II.

    Varian Mpox Clade I, baik Ia maupun Ib, belum terdeteksi di Indonesia. Sejak 2022 hingga saat ini, varian yang ditemukan di Indonesia adalah varian Clade II.

    Terlepas dari hal itu, Rahmad meminta Pemerintah untuk meningkatkan sistem surveilans epidemiologis yaitu kegiatan analisis yang dilakukan secara sistematis dan terus menerus terhadap suatu penyakit agar dapat dilakukan tindakan penanggulangan secara efektif.

    Hal ini mengingat sudah mulainya bermunculan kembali kasus suspect Mpox beberapa waktu terakhir.

    “Deteksi dini adalah kunci dalam memitigasi penyebaran penyakit. Selain itu, optimalisasi fasilitas laboratorium untuk mendeteksi berbagai patogen dengan cepat dan akurat juga menjadi prioritas,” ungkap Rahmad.