7cloud.asia – Kasus suspek Mpox (MonkeyPox) atau cacar monyet terus bertambah di Indonesia. Sementara WHO telah menetapkan status kegawatdaruratan untuk penyakit Mpox ini.
Menurut catatan Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 88 kasus Mpox di Indonesia selama tahun 2022-2024. Sebanyak 88 kasus Mpox yang ditemukan di Indonesia telah dinyatakan sembuh.
Sebanyak 74 kasus di antaranya terjadi sebelum dan hingga tahun 2023 dan 14 kasus di tahun 2024.
Menyikapi kondisi ini Anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo mendesak Pemerintah untuk segera menerapkan kembali kewajiban protokol kesehatan.
Dia juga meminta pemerintah mempersiapkan penanganan khusus untuk anak-anak yang berpotensi terkena Mpox, terutama jika ada keluarga yang menjadi suspek.
Baca: Mengapa WHO menetapkan status kegawatdaruratan untuk penyakit Mpox
“Mpox sudah harus ditangani dengan serius. Kami mendesak Pemerintah untuk segera menerapkan protokol kesehatan ke masyarakat dan menyiapkan penanganan secara lebih komprehensif, khususnya untuk anak-anak yang juga berisiko terpapar Mpox,” ujar Rahmad Handoyo dalam rilisnya kepada Parlementaria, di Jakarta, Jumat (6/9/2024).
Rahmad mengharapkan komitmen tinggi dari Pemerintah untuk menangani Mpox, apalagi berdasarkan informasi Kementerian Kesehatan (Kesehatan) sudah ada laporan sepuluh kasus suspek Mpox di Bali, Yogyakarta, Jakarta dan sekitarnya, serta Kalimantan.
Di Jabodetabek, suspek ditemukan di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kemudian ada juga beberapa suspect Mpox di wilayah Jakarta Barat.
Sebelumnya 3 kasus suspect Mpox juga terdapat di Palembang, Sumatera Selatan, meski hasil pemeriksaan laboratoriumnya sudah dinyatakan negatif.
Rahmad mengatakan, Pemerintah perlu mewaspadai varian terbaru Mpox yaitu Clade 1B di mana varian ini cukup membahayakan pasien karena penyebarannya sangat cepat.
Baca: Cegah penyebaran Mpox, Kemenhub wajibkan aplikasi SATUSEHAT
Mpox clade 1B ini berasal di Kongo dan kini telah menyebar keluar dari benua Afrika,
“Meskipun di Indonesia belum ada penambahan kasus positif Mpox dan Clade I juga belum terdeteksi, Pemerintah harus mengambil langkah konkret salah satunya dengan implementasi protokol kesehatan ataupun edukasi masif kepada masyarakat,” jelas Politisi PDI-Perjuangan ini.
Walaupun bukan penyakit mematikan, penyakit Mpox yang terjadi karena infeksi virus MPXV itu mudah menular.
Penularan virus Mpox antarmanusia dapat terjadi melalui kontak langsung berupa berjabat tangan, bergandengan, dan termasuk kontak seksual.
Virus MPXV sendiri merupakan spesies dari genus Orthopoxvirus. Ada dua clade virus MPXV, yaitu Clade I (dengan subclade Ia dan Ib) dan Clade II (dengan subclade IIa dan IIb).
Baca: WHO tetapkan kegawatdaruratan global penyebaran Mpox
Clade Ia dan Ib memiliki manifestasi klinis yang lebih berat bila dibandingkan dengan Clade II.
Varian Mpox Clade I, baik Ia maupun Ib, belum terdeteksi di Indonesia. Sejak 2022 hingga saat ini, varian yang ditemukan di Indonesia adalah varian Clade II.
Terlepas dari hal itu, Rahmad meminta Pemerintah untuk meningkatkan sistem surveilans epidemiologis yaitu kegiatan analisis yang dilakukan secara sistematis dan terus menerus terhadap suatu penyakit agar dapat dilakukan tindakan penanggulangan secara efektif.
Hal ini mengingat sudah mulainya bermunculan kembali kasus suspect Mpox beberapa waktu terakhir.
“Deteksi dini adalah kunci dalam memitigasi penyebaran penyakit. Selain itu, optimalisasi fasilitas laboratorium untuk mendeteksi berbagai patogen dengan cepat dan akurat juga menjadi prioritas,” ungkap Rahmad.

Leave a Reply