Tag: muda

  • Riset: Ide Bunuh Diri Bisa Terdeteksi Saat Usia Muda

    Riset: Ide Bunuh Diri Bisa Terdeteksi Saat Usia Muda

    7cloud.asia – Data terbaru dari Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa dari 921 kasus bunuh diri yang tercatat, sebagian besar melibatkan generasi muda.

    Dikutip dari laman resmi BRIN, data dari 2012 hingga 2023 menunjukkan bahwa angka bunuh diri tertinggi terjadi di kalangan remaja dan dewasa muda.

    Untuk usia remaja, faktor-faktor yang sering disebut sebagai pemicu bunuh diri termasuk tekanan akademis, harapan tinggi untuk berprestasi, perubahan hormon, masalah keluarga, serta meningkatnya bullying dan cyber bullying.

    Selain itu, pengaruh media sosial dan kurangnya akses ke dukungan emosional juga turut berperan.

    Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional RS Marzoeki Mahdi Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.KJ memaparkan bahwa ide mengakhiri hidup bisa terdeteksi pada remaja, menurut hasil studi.

    Baca: Kasus bunuh diri pada anak meningkat

    “Ini adalah disertasi saya tahun 2019 yang mana datanya diambil pada akhir 2019, sebelum pandemi di Jakarta. Yang berisiko adalah 13,8 persen dari 910 remaja (125),” kata Nova dalam forum diskusi Denpasar 12 secara daring di Jakarta, Rabu (31/7/2024).

    Nova menjelaskan anak muda atau remaja adalah orang yang masih senang mengambil risiko dan merasa mampu melakukan segala-galanya.

    Pada usia remaja, kematian sepertinya masih jauh sehingga akhirnya banyak mengambil keputusan-keputusan yang ceroboh (reckless). Pemikiran mereka juga abstrak.

    Adapun ketahanan jiwa remaja, menurut dia, bergantung dari ada atau tidaknya perasaan kesepian, ketiadaan harapan, merasa menjadi beban, serta keinginan menjadi bagian dari sesuatu, ujarnya.

    “Ketika itu ada terdeteksi, risikonya 5,39 kali lebih besar untuk mempunyai ide bunuh diri dibandingkan yang tidak,” kata Nova dikutip Antaranews.com.

    Baca: Usia remaja rentan alami gangguan kesehatan mental

    Pada 2021, Nova mengulangi pengambilan sampel tersebut dengan menyasar mahasiswa-mahasiswi satu kampus di Kota Bogor sebanyak 2.181 sampel.

    Hasilnya terlihat ide bunuh diri terdeteksi pada 49,1 persen dari 2.181 atau sekitar 1.070 sampel.

    Menurut Nova, Jawa Barat memiliki angka prevalensi depresi dua minggu terakhir pada penduduk umur 15 tahun ke atas, tertinggi di tingkat nasional yakni sebesar 3,3 persen.

    Lebih dari dua kali lipatnya Jakarta yang tercatat di angka 1,5 persen berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Waspadai 6 Pemicu Serangan Jantung di Usia Muda

    Waspadai 6 Pemicu Serangan Jantung di Usia Muda

    7cloud.asia – Serangan jantung umumnya dikaitkan dengan mereka yang telah berusia lanjut seiring dengan menurunnya metabolisme tubuh.

    Namun, belakangan risiko serangan jantung juga terjadi pada semua kelompok umur termasuk mereka yang masih berusia muda seperti umur 20-an atau 30-an.

    Dalam artikel yang dirilis Medical Daily beberapa waktu lalu, diperkirakan satu dari setiap lima kasus serangan jantung terjadi pada individu di bawah usia 40 tahun.

    Serangan jantung pada anak muda ini umumnya karena faktor risiko yang dapat memicu serangan jantung seperti diabetes dan hipertensi.

    Artikel itu menyebut, setidaknya terdapat enam faktor risiko yang dapat memicu penyakit serangan jantung di usia muda, yakni:

    1. Diabetes
    Penderita diabetes memiliki risikodua hingga empat kali lebih besar mengalami serangan jantung pada usia muda dibandingkan orang tanpa diabetes.

    Kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan penumpukan plak di arteri yang menyebabkan aterosklerosis.

    Baca: Serangan jantung mengintai mereka yang malas bergerak

    2. Hipertensi
    Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan cikal bakal penyakit jantung karena menyebabkan penebalan otot jantung dan merusak pembuluh darah.

    Insiden hipertensi meningkat lebih cepat pada orang dewasa usia muda dibandingkan pada orang dewasa yang telah lanjut usia.

    3. Obesitas
    Menurut sebuah studi tahun 2018, dengan setiap unit BMI (indikator penentu berat badan) tambahan, risiko tekanan darah tinggi turut meningkat yang dapat memicu risiko serangan jantung.

    Lebih dari satu dari tiga orang Amerika Serikat mengalami obesitas dan prevalensi obesitas sekitar 40 persen pada orang dewasa berusia 20 hingga 39 tahun.

    Baca: Paparan polusi udara dalam waktu lama bisa picu serangan jantung 

    4. Stres
    Stres dapat meningkatkan peradangan, tekanan darah, dan menurunkan kadar kolesterol baik dalam tubuh.

    Seseorang yang mengalami stres cenderung memiliki pola makan, tidur, dan olahraga yang tidak teratur.

    Masalah pekerjaan dan relasi sosial juga bisa memicu stres pada orang dewasa usia muda.

    5. Merokok
    Penelitian telah menunjukkan bahwa perokok memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung tiga kali lipat dibandingkan dengan bukan perokok.

    Usia seseorang mulai merokok juga memengaruhi tingkat risiko serangan jantung yang dialami.

    Baca: Pengaruh kopi pada kesehatan jantung 

    Perokok yang memulai kebiasaannya sejak dini berisiko lebih tinggi mengalami kematian akibat serangan jantung.

    Namun, perokok yang menghentikan kebiasaan tersebut pada usia 40 tahun dapat mengurangi risiko kematian dini sekitar 90 persen.

    6. Gaya hidup tidak sehat
    Orang dewasa di usia muda cenderung kurang tidur, melakukan rutinitas kerja berlebihan, banyak mengonsumsi makanan tidak sehat, dan mengurangi aktivitas fisik.

    Faktor-faktor tersebut berkontribusi pada peningkatan kadar kolesterol jahat yang dapat menyebabkan serangan jantung.

  • Sepertiga Anak Muda Rentan Alami Masalah Kesehatan Mental, Tapi Sedikit yang ke Psikolog

    Sepertiga Anak Muda Rentan Alami Masalah Kesehatan Mental, Tapi Sedikit yang ke Psikolog

    7cloud.asia – Merasakan sedih terus-menerus hingga kehilangan minat terhadap aktivitas yang disukai merupakan beberapa tanda gangguan kesehatan mental. Kondisi ini rentan dialami kaum muda Milenial maupun Gen Z.

    Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional (I-NAMHS) menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia usia 11-17 tahun (sekitar 15,5 juta orang) mengalami gangguan mental dalam kurun 2021-2022.

    Masalah kesehatan mental paling umum yang dialami kaum muda adalah kecemasan, gangguan perhatian, hiperaktivitas, dan depresi.

    Sayangnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan hanya 10,4 persen kaum muda yang mendapatkan pengobatan formal.

    Angka ini menunjukkan lebarnya kesenjangan antara kebutuhan psikologis kaum muda dengan jumlah mereka yang mengakses layanan kesehatan mental.

    Enggan ke psikolog karena skeptis dan malu
    Kondisi mental kaum muda rentan terganggu akibat berbagai perubahan biologis dan psikososial yang signifikan, misalnya pubertas, kemampuan berpikir abstrak, pembentukan identitas diri, hingga tuntutan orang tua agar mereka hidup mandiri.

    Selain itu, kondisi mental kaum muda kian rentan terganggu akibat paparan media sosial, bullying (perundungan), kekerasan seksual, pola asuh keras, hingga kesulitan ekonomi.

    Meskipun sangat rentan mengalami gangguan mental, banyak kaum muda enggan mengakses layanan psikologis akibat sejumlah hal berikut:

    1. Minim literasi kesehatan mental
    Rasa skeptis terhadap tenaga profesional menghambat kaum muda mencari pengetahuan memadai tentang penanganan gangguan mental.

    Rasa skeptis ini membuat mereka cenderung merasa lebih nyaman untuk menyelesaikan masalah mental sendiri ataupun dengan bantuan orang terdekat (seperti teman dan keluarga).

    Media sosial memperburuk kecenderungan kaum muda dalam mengenali kondisi mentalnya. Studi dalam Qualitative Health Research mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial yang intensif bisa meningkatkan praktik self diagnose (diagnosis sendiri) yang membuat kaum muda kian enggan ke profesional.

    2. Rasa malu akibat stereotip negatif
    Beberapa kaum muda merasa malu untuk mengakses layanan mental. Hal ini disebabkan oleh pemahaman keliru mengenai stereotip negatif terhadap orang dengan gangguan mental, seperti dianggap lemah, berbeda, dan kurang kontrol diri.

    3. Akses layanan kesehatan mental terbatas
    Keterbatasan akses layanan kesehatan mental turut memengaruhi keputusan kaum muda dalam mencari pengobatan.

    Minimnya informasi layanan kesehatan mental, keterbatasan ketersediaan tenaga profesional (terutama di daerah kecil dan pedesaan), lokasi yang jauh dan mahal, serta waktu tunggu terlalu lama, bisa mengurangi keinginan mereka untuk mencari pertolongan.

    4. Respons negatif tenaga kesehatan
    Respons negatif dari tenaga kesehatan bisa menyebabkan kaum muda menunda atau berhenti berobat. Hal ini terungkap dalam sebuah penelitian yang melibatkan 90 kaum muda dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Papua.

    Riset tersebut mengambil responden yang mengalami depresi, kecemasan, dan gangguan bipolar.

    Saat hendak berobat, salah seorang responden yang enggan disebutkan namanya mengaku menemukan banyak tenaga kesehatan (nakes) yang belum memahami kesehatan mental.

    “Saya dianggap orang gila ketika meminta surat rujukan ke fasilitas kesehatan pertama. Pun saat dirawat di rumah sakit, nakes menghujat dan meremehkan gejala depresi yang saya rasakan.”

    Seorang responden lain yang juga peserta BPJS Kesehatan bahkan mengaku kesulitan memperoleh rujukan untuk mendapatkan layanan psikiater di rumah sakit.

    “Setelah dua kali ditolak, dokter umum di puskesmas akhirnya memberikan surat rujukan saat saya menunjukkan bekas luka akibat melukai diri sendiri. Apakah saya harus mati dulu, baru mereka percaya bahwa saya sangat tertekan?”

    Respons negatif nakes berbahaya karena berisiko memperberat gejala gangguan mental pasien, serta meningkatkan kecenderungan menyakiti diri sendiri, hingga percobaan bunuh diri.

    4. Mahalnya biaya terapi non-BPJS
    Pelayanan kesehatan mental tergolong mahal, khususnya jika kaum muda tidak memiliki BPJS Kesehatan.

    Konsultasi psikologis di rumah sakit pemerintah berkisar antara Rp100 ribu-Rp500 ribu tergantung daerahnya. Adapun konsultasi kesehatan mental di klinik ataupun rumah sakit swasta berkisar Rp300 ribu-Rp1 juta.

    Keanggotaan BPJS Kesehatan sangat penting untuk menjamin berbagai macam terapi kesehatan mental kaum muda secara gratis.

    Pentingnya jaga kesehatan mental
    Kita tak boleh mengabaikan gangguan mental yang rentan dialami Milenial dan Gen Z. Sebab, kondisi ini bisa berdampak negatif, dari mengganggu keseharian, merenggangkan hubungan sosial, hingga meningkatkan risiko penyalahgunaan zat terlarang maupun seks tidak aman.

    Bahkan, kajian ilmiah dalam Clinical Practice & Epidemiology in Mental Health menunjukkan bahwa gangguan mental bisa mengurangi capaian akademis dan karier kaum muda di masa depan.

    Untuk itu, kaum muda perlu meningkatkan literasi kesehatan mental. Pun keluarga dan sekolah harus menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan suportif, termasuk mendeteksi dini (bukan mendiagnosis penyakit) masalah mental kaum muda.

    Literasi kesehatan mental bisa kita peroleh lewat berbagai upaya pembelajaran dan pelatihan dari jurnal kesehatan dan sumber valid yang terferifikasi oleh profesional.

    Penelitian membuktikan, peningkatan literasi kesehatan mental bisa mengubah perilaku kaum muda dalam mencari pertolongan psikologis.

    Lewat literasi kesehatan mental yang baik, kaum muda dan lingkungan terdekatnya bisa saling berperan aktif dalam mengenali, memberikan pengetahuan, menghindari stigma, serta mendeteksi dini tanda-tandanya.

    Deteksi gratis secara digital juga bisa dilakukan menggunakan fitur “Kesehatan Mental” di aplikasi SatuSehat Mobile milik Kemenkes. Jika kamu mengalami gejala yang mengarah ke gangguan mental, segera cari bantuan ke psikolog, psikiater, atau konselor.

    Semakin cepat gejalamu mendapat penanganan, semakin kecil dampak lanjutannya, dan kian besar pula peluangmu untuk pulih.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis:
    Hasna Fikriya (Peneliti di Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK UGM) dan,

    Firdaus Hafidz (Lecturer in Health Policy and Management UGM)

    Fiddina Mediola, dokter spesialis psikiatri, turut berkontribusi menulis artikel ini. spesialis psikiatri, turut berkontribusi menulis artikel ini.

  • Hari Pemuda Internasional 2025: Merayakan Aktivisme Anak Muda untuk Lingkungan yang Berkelanjutan

    Hari Pemuda Internasional 2025: Merayakan Aktivisme Anak Muda untuk Lingkungan yang Berkelanjutan

    7cloud.asia – Di jalanan yang ramai di Mathare Kenya, Safrina Raiza memimpin aksi bersih-bersih lingkungan yang mengubah komunitasnya. Safrina dan kawan-kawannya juga menggaungkan gerakan, satu pohon pada satu waktu.

    Melalui Mathare Roots Initiative, Safrina memimpin aksi lingkungan di permukiman perkotaan seperti penanaman pohon, pembersihan sampah, dan pendidikan lingkungan.

    Karyanya merepresentasikan sebuah kebenaran yang kuat: gerakan global yang paling bermakna dimulai dari kaum muda yang melihat apa yang perlu diubah di lingkungan mereka sendiri dan memutuskan untuk bertindak.

    Inisiatif ini, sebuah proyek akar rumput yang dipimpin oleh pemuda, secara langsung membahas Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDG 11: Kota Berkelanjutan, SDG 13: Aksi Iklim, dan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi.

    Pesannya jelas: “Anda tidak perlu memikirkan segalanya untuk memulai – gunakan apa yang Anda miliki, bekerja sama dengan orang-orang di sekitar Anda, dan ambil tindakan. Bahkan langkah kecil pun dapat menghasilkan dampak yang berarti jika dilakukan secara konsisten.”

    Baca: Membangun kesadaran kaum muda untuk bergerak melawan krisis iklim

    Di seberang benua di Burundi, seorang pemimpin muda lainnya membuktikan bahwa pendidikan adalah fondasi pembangunan berkelanjutan.

    Chancelle Bamuhaye mengubah pengalaman relawannya di masa remaja bersama UNICEF Burundi menjadi Hope for a Better Future, sebuah LSM yang dipimpin oleh pemuda yang telah membangun kembali 13 sekolah di daerah pedesaan dan menyumbangkan lebih dari 1.600 bangku.

    Prestasi puncaknya: mendanai sebuah sekolah di desa adat Busekera, yang menyediakan pendidikan bagi lebih dari 1.000 anak.

    Selain infrastruktur, organisasinya telah mendukung 17 anak dengan kondisi kesehatan serius dan mendistribusikan lebih dari 5.000 pembalut wanita yang dapat digunakan kembali kepada anak-anak perempuan yang rentan.

    Karyanya mendapatkan pengakuan dari para pemimpin pemerintah dan praktisi pembangunan.

    Baca: Anak muda Flobamorates berkontribusi menahan krisis iklim

    Tahun ini, Hari Pemuda Internasional 2025 merayakan aktivisme mereka melalui tema “Aksi Pemuda Lokal untuk SDGs dan Selanjutnya” – sebuah proses di mana kaum muda mengambil komitmen global dan mewujudkannya di komunitas mereka.

    Diperingati setiap tahun pada tanggal 12 Agustus, Hari Pemuda Internasional mengakui bagaimana kaum muda seperti Safrina dan Bamuhaye membuktikan, melokalisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) bukan hanya tentang menerjemahkan tujuan-tujuan abstrak.

    Upaya ini juga tentang memecahkan masalah yang mereka hadapi sehari-hari: dari aksi lingkungan hingga akses pendidikan, dari pembangunan perdamaian hingga partisipasi demokratis.

    Para pemimpin muda di seluruh dunia sedang mengubah tujuan pembangunan berkelanjutan dari sekadar aspirasi menjadi praktik nyata.

    Baca: ‘Framing’ agama efektif gerakkan aksi lingkungan

    Para pemimpin muda ini menunjukkan bagaimana memulai secara lokal sambil berpikir sistematis menciptakan perubahan yang langgeng.

    Dampak mereka menjangkau berbagai benua dan konteks, disatukan oleh pendekatan yang sama: menolak menunggu izin untuk menciptakan masa depan yang mereka bayangkan.

    Dari jalanan Mathare yang lebih bersih hingga ruang kelas baru Burundi, mereka mewujudkan esensi lokalisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan– menjadikan Tujuan Global bermakna dalam konteks komunitas tertentu.

    Lewat anak-anak muda ini, tujuan pembangunan berkelanjutan menjadi nyata dan tidak berakhir di ruang konferensi. Di tangan pemuda yang mengubahnya dari dokumen kebijakan menjadi praktik sehari-hari.

  • Hari Pemuda Internasional 2025: Peran Anak Muda Sebagai Agen Perubahan

    Hari Pemuda Internasional 2025: Peran Anak Muda Sebagai Agen Perubahan

    7cloud.asia – Di beberapa zona konflik paling menantang di dunia, kaum muda sedang mendefinisikan ulang seperti apa pembangunan perdamaian.

    Yosuke Nagai, Direktur Eksekutif Accept International, memimpin upaya rehabilitasi bagi Pemuda yang Terkait dengan Kelompok Bersenjata Non-Negara (YANSAG) di Somalia, Yaman, Indonesia, dan Kolombia.

    Sebagai pendiri Gugus Tugas Global untuk Pemuda Pejuang, ia mendukung transformasi mereka yang sering dianggap sebagai ancaman menjadi agen perdamaian.

    “Kaum muda ini sering kali diabaikan atau hanya dianggap sebagai ancaman, terutama di zona konflik di mana kesepakatan damai tampaknya mustahil dicapai. Melalui program kami, kami membantu mereka terhubung kembali dengan komunitas mereka dan menjadi agen aktif dalam mempromosikan perdamaian berkelanjutan di tingkat lokal,” jelasnya.

    Pesan Yosuke kepada kaum muda dalam mendorong perubahan “Jika kaum muda ini dapat menjadi agen perdamaian yang unik, mereka yang terlibat dalam kekerasan akan berkurang sementara mereka yang membangun masyarakat akan meningkat.”

    Dari aksi akar rumput hingga advokasi kebijakan, para pemimpin muda juga berupaya memastikan suara mereka membentuk keputusan yang memengaruhi mereka.

    Baca: Merayakan aktivisme anak muda untuk lingkungan yang berkelanjutan

    Jonathan Oriki Some, pemimpin Young Africans for Sustainable Africa dan bertugas di Dewan Penasihat Pemuda UN-Habitat, terus memperjuangkan partisipasi pemuda dalam pengambilan keputusan.

    Dengan lebih dari 60 persen populasi Afrika berusia di bawah 25 tahun, ia berpendapat: “Kita menjalani konsekuensi dari kebijakan yang dibuat tanpa melibatkan kita. Kita harus menjadi rekan pencipta solusi dan masa depan yang kita inginkan.”

    Jonathan menekankan bahwa inklusi pemuda yang bermakna mentransformasi tata kelola itu sendiri: “Ketika pemuda dilibatkan, keputusan menjadi lebih jujur, inovasi berkembang pesat, dan masyarakat menjadi lebih responsif dan adil.

    ”Melibatkan pemuda bukan sekadar strategi, melainkan sebuah kebutuhan untuk mencapai perubahan berkelanjutan yang digerakkan oleh masyarakat.” ujarnya.

    Para pemimpin muda dunia telah menunjukkan bagaimana memulai secara lokal sambil berpikir sistematis menciptakan perubahan yang langgeng.

    Dampak mereka menjangkau berbagai benua dan konteks, disatukan oleh pendekatan yang sama: menolak menunggu izin untuk menciptakan masa depan yang mereka bayangkan.

    Baca: Membangun kesadaran kaum muda untuk bergerak melawan krisis iklim

    Upaya mereka terwujud di jalanan Mathare yang lebih bersih hingga ruang kelas baru Burundi, dari Indigenous One Stop Ekuador yang menjembatani pelestarian budaya dengan urbanisasi berkelanjutan, hingga mantan pejuang yang menjadi pembawa damai dan pemuda Afrika di ruang pengambilan keputusan.

    Para pemimpin muda ini mewujudkan esensi lokalisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, menjadikannya dalam konteks komunitas tertentu.

    Di tangan para pemuda ini, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan menjadi nyata tidak hanya di ruang konferensi, tetapi juga di tangan pemuda yang mengubahnya dari dokumen kebijakan menjadi praktik sehari-hari.

    Tahun ini, Hari Pemuda Internasional 2025 merayakan aktivisme mereka melalui tema “Aksi Pemuda Lokal untuk SDGs dan Selanjutnya” – sebuah proses di mana kaum muda mengambil komitmen global dan mewujudkannya di komunitas mereka.

    Diperingati setiap tahun pada tanggal 12 Agustus, Hari Pemuda Internasional mengakui bagaimana kaum muda seperti Safrina dan Bamuhaye membuktikan, melokalisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) bukan hanya tentang menerjemahkan tujuan-tujuan abstrak.

    Upaya ini juga tentang memecahkan masalah yang mereka hadapi sehari-hari: dari aksi lingkungan hingga akses pendidikan, dari pembangunan perdamaian hingga partisipasi demokratis.

    Baca: Peran pemuda adat sebagai benteng wilayah adat