7cloud.asia – Di jalanan yang ramai di Mathare Kenya, Safrina Raiza memimpin aksi bersih-bersih lingkungan yang mengubah komunitasnya. Safrina dan kawan-kawannya juga menggaungkan gerakan, satu pohon pada satu waktu.
Melalui Mathare Roots Initiative, Safrina memimpin aksi lingkungan di permukiman perkotaan seperti penanaman pohon, pembersihan sampah, dan pendidikan lingkungan.
Karyanya merepresentasikan sebuah kebenaran yang kuat: gerakan global yang paling bermakna dimulai dari kaum muda yang melihat apa yang perlu diubah di lingkungan mereka sendiri dan memutuskan untuk bertindak.
Inisiatif ini, sebuah proyek akar rumput yang dipimpin oleh pemuda, secara langsung membahas Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDG 11: Kota Berkelanjutan, SDG 13: Aksi Iklim, dan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi.
Pesannya jelas: “Anda tidak perlu memikirkan segalanya untuk memulai – gunakan apa yang Anda miliki, bekerja sama dengan orang-orang di sekitar Anda, dan ambil tindakan. Bahkan langkah kecil pun dapat menghasilkan dampak yang berarti jika dilakukan secara konsisten.”
Baca: Membangun kesadaran kaum muda untuk bergerak melawan krisis iklim
Di seberang benua di Burundi, seorang pemimpin muda lainnya membuktikan bahwa pendidikan adalah fondasi pembangunan berkelanjutan.
Chancelle Bamuhaye mengubah pengalaman relawannya di masa remaja bersama UNICEF Burundi menjadi Hope for a Better Future, sebuah LSM yang dipimpin oleh pemuda yang telah membangun kembali 13 sekolah di daerah pedesaan dan menyumbangkan lebih dari 1.600 bangku.
Prestasi puncaknya: mendanai sebuah sekolah di desa adat Busekera, yang menyediakan pendidikan bagi lebih dari 1.000 anak.
Selain infrastruktur, organisasinya telah mendukung 17 anak dengan kondisi kesehatan serius dan mendistribusikan lebih dari 5.000 pembalut wanita yang dapat digunakan kembali kepada anak-anak perempuan yang rentan.
Karyanya mendapatkan pengakuan dari para pemimpin pemerintah dan praktisi pembangunan.
Baca: Anak muda Flobamorates berkontribusi menahan krisis iklim
Tahun ini, Hari Pemuda Internasional 2025 merayakan aktivisme mereka melalui tema “Aksi Pemuda Lokal untuk SDGs dan Selanjutnya” – sebuah proses di mana kaum muda mengambil komitmen global dan mewujudkannya di komunitas mereka.
Diperingati setiap tahun pada tanggal 12 Agustus, Hari Pemuda Internasional mengakui bagaimana kaum muda seperti Safrina dan Bamuhaye membuktikan, melokalisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) bukan hanya tentang menerjemahkan tujuan-tujuan abstrak.
Upaya ini juga tentang memecahkan masalah yang mereka hadapi sehari-hari: dari aksi lingkungan hingga akses pendidikan, dari pembangunan perdamaian hingga partisipasi demokratis.
Para pemimpin muda di seluruh dunia sedang mengubah tujuan pembangunan berkelanjutan dari sekadar aspirasi menjadi praktik nyata.
Baca: ‘Framing’ agama efektif gerakkan aksi lingkungan
Para pemimpin muda ini menunjukkan bagaimana memulai secara lokal sambil berpikir sistematis menciptakan perubahan yang langgeng.
Dampak mereka menjangkau berbagai benua dan konteks, disatukan oleh pendekatan yang sama: menolak menunggu izin untuk menciptakan masa depan yang mereka bayangkan.
Dari jalanan Mathare yang lebih bersih hingga ruang kelas baru Burundi, mereka mewujudkan esensi lokalisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan– menjadikan Tujuan Global bermakna dalam konteks komunitas tertentu.
Lewat anak-anak muda ini, tujuan pembangunan berkelanjutan menjadi nyata dan tidak berakhir di ruang konferensi. Di tangan pemuda yang mengubahnya dari dokumen kebijakan menjadi praktik sehari-hari.

Leave a Reply