Tag: musim hujan

  • BMKG: Musim Hujan Tahun 2023/2024 Akan Mundur

    BMKG: Musim Hujan Tahun 2023/2024 Akan Mundur

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut imbas El Nino akan menyebabkan awal musim hujan mundur hingga bulan November 2023. 

    BMKG juga memperkirakan musim hujan kali ini tidak berlangsung serentak di semua wilayah Indonesia.

    “Curah hujan yang turun pada periode musim hujan 2023/2024 pada umumnya diprediksi akan normal dibandingkan biasanya,” urai Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers prakiraan musim hujan 2023/2024 di Jakarta, Jumat (8/9/2023).

    Sementara periode puncak musim hujan sendiri diprediksi umumnya terjadi di Januari dan Februari 2024.

    Baca Juga: BRIN: El Nino Berlangsung Hingga Mei 2024, Kapan Hujan Mulai Turun?

    Tetapi ada beberapa daerah yang diprediksi mengalami curah hujan yang lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan biasanya.

    Dwikorita menjelaskan awal musim hujan umumnya berkaitan erat dengan peralihan Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi Angin Baratan (Monsun Asia).

    Nah, prediksi BMKG, Angin Timuran diprediksi masih tetap aktif hingga November 2023, utamanya di Indonesia bagian Selatan.

    Sementara itu, Angin Baratan diprediksi akan datang lebih lambat dari kondisi normalnya. 

    “Sejak mulai muncul pada pertengahan bulan Mei 2023, gangguan iklim El Nino terus berkembang mencapai level El Nino moderat sejak akhir Juli 2023 dan saat ini Indeks El Nino berada pada nilai +1.504. Kondisi El Nino moderate tersebut diprediksi tetap bertahan hingga awal 2024,” jelasnya.

    Baca Juga: Banjir Kepung Hong Kong, Terparah dalam 139 Tahun

    Saat ini, lanjut Dwikorita, beberapa Zona Musim (ZOM) telah terkonfirmasi mulai mengalami musim hujan.

    Pada bulan September ini sebagian Sumatera Barat dan Riau bagian Selatan mulai diguyur hujan. 

    Di bulan berikutnya, Oktober wilayah Jambi, Sumatera Selatan bagian Utara, Jawa Tengah bagian Selatan, sebagian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah bagian barat, sebagian besar Kalimantan Timur diprediksi turun hujan.

    Pada bulan November, hujan mulai mengguyur lebih banyak wilayah lagi.
    Yaitu Wilayah Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar Banten, Jakarta, Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, Bali.

    Selain itu hujan juga diperkirakan akan turun di sebagian kecil NTB, sebagian kecil NTT, Sulawesi Utara, Gorontalo, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, Maluku Utara bagian Utara dan Papua Selatan bagian selatan.

    Baca Juga: Imbas El Nino, Petani di Banjarsari Ciamis, Jawa Barat Tunda Masa Tanam

    Pada akhir tahun, bulan Desember wilayah yang berpotensi turun hujan adalah Jawa Timur bagian Utara, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi Tenggara dan Maluku.

    Pada Januari hingga April, musim hujan secara bertahap mulai mengguyur seluruh wilayah di Indonesia.

    Namun, musim hujan yang terjadi tersebut bisa diatas normal dan di bawah normal. Hujan yang diatas normal diperkirakan terjadi di wilayah Aceh bagian selatan, Sumatera Utara bagian utara, Riau bagian utara, Sumatera Barat bagian selatan, Jambi bagian Utara, Bengkulu bagian utara, Sumatera Selatan bagian barat.

    Wilayah Banten bagian selatan, Sulawesi Tengah bagian selatan dan Sulawesi Tenggara bagian selatan juga diprediksi hujan turun di atas normal.

    Sementara hujan di bawah normal diperkirakan mengguyur sebagian kecil Sumatera Utara, Lampung bagian selatan, sebagian kecil Banten, sebagian kecil Jawa Barat, Jawa Tengah bagian timur, Jawa Timur bagian selatan.

    Baca Juga: Mentan Perkirakan Indonesia Bisa Kekurangan Beras hingga 1,2 Juta Ton Akibat El Nino

    Selain itu hujan dibawah normal diprediksi mengguyur wilayah sebagian Kalimantan Barat, sebagian NTT, Sulawesi Tengah bagian utara, Papua Barat bagian selatan dan Papua bagian barat.

    Dwikorita mengimbau kepada seluruh pihak baik masyarakat maupun pemerintah agar lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim hujan.

    Terutama di wilayah yang mengalami sifat musim hujan atas normal (lebih basah dibanding biasanya).

    Wilayah ini, kata dia, diprediksi mengalami peningkatan risiko bencana banjir dan tanah longsor.

    Dia meminta pemerintah daerah secara maksimal mengedukasi masyarakat tentang cara menghadapi risiko bencana yang mungkin terjadi selama musim hujan serta pentingnya memperhatikan peringatan dini.

    “Kami berharap informasi Prakiraan Musim Hujan 2023/2024 ini dapat dijadikan sebagai acuan pemerintah daerah dan sektor terkait untuk menyusun rencana Aksi Dini (Early Action), dalam rangka menekan kerugian yang dapat ditimbulkan adanya bencana hidro-meteorologi,” pungkasnya.

    Reporter: Nurakhmayani)

  • Beberapa Wilayah di Bengkulu Masuk Musim Hujan Pada Oktober Ini

    Beberapa Wilayah di Bengkulu Masuk Musim Hujan Pada Oktober Ini

    7cloud.asia – Musim kemarau masih melanda sebagian besar wilayah di Indonesia sebagai dampak El Nino.

    Namun, memasuki bulan Oktober beberapa wilayah diprediksi memasuki musim hujan. Misalnya Bengkulu yang diperkirakan pada Oktober ini akan turun hujan.

    Hal ini diungkapkan Kasi Data dan Informasi pada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Pulau Baai Bengkulu, Anang Anwar.

    “Kami prediksi hujan akan terjadi pada Oktober di Bengkulu, sebab pada awal November telah memasuki musim hujan,” ujar Anang seperti dikutip Antaranews.

    Baca: BMKG perkirakan musim hujan 2023 akan mundur

    Meski hujan, namun hal ini tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah Bengkulu dan Indonesia.

    Sebab, lanjut Anang, terjadi pergerakan awan hujan bergerak dari wilayah barat Sumatera menuju Pulau Jawa dan Nusa Tenggara. Selain itu juga adanya transisis dari musim kemarau kering ke musim hujan.

    Hujan diperkirakan dimulai dari daerah pegunungan ke daerah dataran rendah seperti Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Rejang Lebong.

    Juga Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Bengkulu Tengah, dan Kota Bengkulu.

    Baca: 10 persen wilayah Indonesia mulai masuk musim hujan

    Puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada Januari – Februari 2024 dan awal musim hujan ditandai dengan peralihan Monsun Australia menjadi Monsun Asia.

    Sebelumnya sejumlah di Bengkulu beberapa hari ini diselimuti kabut pagi yang pekat.

    Menurut BMKG Bengkulu hal ini akibat masa udara di permukaan belum mengalami penguapan. Kemudian penguapan atau masa udara naik ke atas terjadi pada siang hari.

    Hal ini bisa terjadi karena partikel basah atau uap air dan bisa juga karena partikel kering alias asap tergantung dengan kondisi di sekitar.

    Baca: El Nino akan berlangsung sampai Mei 2024, kapan mulai musim hujan

    “Kabut pagi yang terjadi di sejumlah wilayah Bengkulu disebabkan karena masa udara di permukaan belum mengalami penguapan atau udara masih stabil,” kata Anang.

    Semakin banyak uap air yang dihasilkan, maka pertumbuhan awan semakin besar.

    Kondisi ini membuat wilayah Provinsi Bengkulu berpeluang besar terjadinya hujan. 

    Reporter: Nurakhmayani

  • BMKG Perkirakan Musim Hujan di Banten Mulai November

    BMKG Perkirakan Musim Hujan di Banten Mulai November

    7cloud.asia – Beberapa wilayah di Indonesia diprediksi akan memasuki musim hujan pada November 2023. Salah satunya Provinsi Banten, namun hujan turun tidak serentak.

    Koordinator Bidang Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Serang Banten, Tatang Rusmana menjelaskan hasil  kajian BMKG musim hujan baru akan turun pada Dasarian I November  2023

    “Setiap daerah berbeda-beda musim hujannya, maka untuk awal musim hujan di Provinsi Banten tidak akan terjadi secara serentak,” jelas Tatang seperti yang dilansir Antaranews.

    Perbedaan ini terjadi karena keragaman iklim yang terjadi akibat El Nino yang membuat wilayah-wilayah di Banten tidak serentak memasuki musim hujan.

    Baca: Sebagian wilayah Indonesia sudah masuk musin hujan

    “Untuk curah hujan yang akan terjadi diprediksi berbeda dari tahun lalu, karena terganggu oleh fenomena El Nino sehingga curah hujannya akan berada di bawah normal dengan adanya kenaikan suhu,” urainya.

    Selanjutnya Tatang menjelaskan kenaikan suhu muka laut di wilayah Samudera Pasifik bagian Timur, yang mempengaruhi penurunan suhu muka laut di wilayah Indonesia.

    Kondisi tersebut menyebabkan curah hujan berkurang. Akibatnya, secara umum musim hujan datang terlambat dari biasanya bulan September.

    Mengenai cuaca panas ekstrem, Tatang mengatakan masyarakat tak perlu khawatir hal tersebut akan terjadi.

     

    Baca: BRIN perkirakan El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Meski demikian, pihaknya mengimbau kepada pemerintah daerah (pemda) dan masyarakat untuk lebih mengoptimalkan penyimpanan air baik danau, waduk, embung dan kolam retensi.

    Selain itu, masyarakat juga dapat melakukan penyimpanan air buatan lainnya melalui gerakan memanen air hujan atau melakukan manajemen air bersih.

    “Sehingga pada puncak musim kemarau, masyarakat bisa lebih siap menghadapi bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi,” ujarnya.

    Sebelumnya, beberapa wilayah di Banten mengalami kekeringan hingga warga kesulitan mendapatkan air. Salah satunya di Kota Serang.

    Baca: BMKG perkirakan musim kemarau akan berlangsung hingga akhir Oktober

    Sejak bulan Agustus kekeringan akibat fenomena El Nino melanda kota Serang. Tercatat 27 titik lokasi yang mengalami kekeringan.

    Akibatnya sebanyak 3.408 jiwa, dari 2.308 kepala keluarga (KK) di Kota Serang terdampak kekeringan dan krisis air bersih.

    Bahkan beberapa warga Serang harus berjalan mencari air bersih hingga masuk ke dalam hutan.

    “Kita pada malam hari mendapatkan air bersih dari sumber mata air di kawasan hutan,” kata Sarip, warga Margaluyu Kabupaten Lebak.

    Demi mendapatkan air bersih, lanjut Sarip, masyarakat di wilayah ini terpaksa berjalan kaki ke hutan- hutan sepanjang 1 kilometer.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Ahli Perkirakan Musim Hujan Akan Segera Berakhir

    Ahli Perkirakan Musim Hujan Akan Segera Berakhir

    7cloud.asia – Meski belum merata, sebagian besar wilayah di Indonesia kini memasuki musim hujan. Namun, musim hujan kali ini diperkirakan lebih cepat berakhir.

    Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan menjelaskan musim hujan kemungkinan hanya sampai akhir Januari.

    Hal ini akibat direndam fenomena El Nino moderat yang hingga kini masih ada. “Musim hujan mestinya Desember, Januari, dan Februari (DJF), sepertinya tidak sampai Februari hujannya sudah habis karena El Nino itu berawal bulan Mei 2023 dan akan berakhir pada Mei 2024,” jelas Eddy.

    Menurut Eddy, fenomena hujan yang sekarang turun di berbagai wilayah Indonesia dipengaruhi oleh Monsun Asia atau angin barat.

    Baca: Waspada, Jakarta Banjir

    Angin musim yang bersifat periodik itu membawa uap air dari Siberia, Jepang, Hongkong hingga Vietnam ke Indonesia dan menciptakan hujan.

    Monsun Asia lebih dominan daripada El Nino moderat yang sekarang tengah berlangsung.

    Kondisi ini yang membuat hujan masih bisa turun terutama di daerah selatan Indonesia, seperti Pulau Sumatra bagian timur dan Pulau Jawa.

    “Walaupun El Nino tidak kuat tetap ada efek mengurangi jumlah curah hujan yang akan masuk ke Indonesia,” ungkapnya.

    Dengan kondisi seperti ini, dia menyarankan para petani untuk mempercepat masa tanam selagi hujan masih turun agar tanaman yang membutuhkan banyak air bisa berkembang dengan baik.

    Selain itu, opsi lain adalah menanam tanaman tahan kering seperti palawija mengingat fenomena El Nino masih akan berlangsung sekitar empat sampai lima bulan ke depan.

    Baca: Fenomena El Nino belum berakhir

    “Meski ada irigasi, sumber air itu tetap berasal dari atas (hujan), kalau kering cepat-cepat menanam saja jangan sampai kehabisan air,” katanya.

    Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan prakiraan cuaca pada tahun 2024.

    Menurutnya, sepanjang tahun 2024, gangguan iklim dari Samudra Pasifik yaitu ENSO diprakirakan akan berada pada fase El Nino Lemah – Moderat di awal tahun 2024.

    Selanjutnya hingga akhir tahun 2024 diprediksikan berada pada fase Netral.

    Terdapat peluang namun kecil untuk berkembang menjadi fenomena La Nina yang merupakan pemicu anomali iklim basah.

    Baca: Riau tetapkan status siaga bencana

    Demikian juga dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) yang merupakan penyebab gangguan iklim dari Samudra Hindia, diprediksikan akan berada pada fase Netral dari awal hingga akhir tahun 2024.

    Berdasarkan dinamika atmosfer tersebut lanjut Dwikorita, maka jumlah curah hujan tahunan pada 2024 diprediksi berkisar pada kondisi normal.

    Namun, terdapat beberapa wilayah yang diprediksikan dapat mengalami hujan tahunan di atas normal yaitu meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Barat bagian selatan, sebagian kecil Riau.

    Kondisi cuaca seperti ini juga terjadi di sebagian kecil Kalimantan Selatan, sebagian kecil Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat bagian utara, sebagian kecil Sulawesi Selatan, sebagian kecil Papua Barat dan Papua bagian utara.

    Baca: Cuaca ekstrem di Jawa Tengah 4-10 Januari

    Selain itu ada pula daerah yang diprediksikan akan mengalami hujan tahunan di bawah normal yaitu meliputi sebagian Banten, sebagian kecil Jawa Barat.

    Hujan tahunan di bawah normal juga berpotensi terjadi di sebagian kecil Jawa Tengah, sebagian Yogyakarta, sebagian kecil Jawa Timur, sebagian kecil Nusa Tenggara Timur, dan Papua bagian selatan.

    “Meskipun kemarau 2024 diprediksi berlangsung dengan normal, namun terdapat wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan karena secara iklim memang memiliki curah hujan yang rendah, yaitu meliputi sebagian Lampung, sebagian Jawa, sebagian Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur dan Papua bagian selatan,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan pada Bulan November 2024

    BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan pada Bulan November 2024

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah di Indonesia saat ini telah memasuki musim hujan. Puncak musim hujan 2024 diprediksi akan terjadi pada November 2024 hingga Februari 2025.  

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers yang dilakukan secara daring.

    Dia menjelaskan musim hujan yang terjadi kali ini tidak terjadi secara bersamaan.

    “Musim hujan 2024-2025 telah terjadi di sebagian kecil wilayah pada Agustus 2024. Kemudian diprediksi akan terjadi di sebagian besar wilayah lainnya pada bulan September hingga November 2024,” jelas Dwikorita.

    Baca: Banjir hingga 2 meter landa Gorontalo Utara

    Selanjutnya mantan rektor Universitas Gajah Mada (UGM) ini memaparkan sebanyak 10,7 persen dari 669 zona musim di Indonesia sudah mulai mengalami musim hujan pada bulan September.

    Diantaranya pesisir timur perairan Sumatera Utara, Riau bagian selatan, Jambi, sebagian Bengkulu, Sumatera Selatan bagian barat, sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Timur dan sebagian Papua.

    Kemudian memasuki bulan Oktober 2024, sebanyak 30,04 persen dari 669 zona yang akan mengalami musim hujan. Yaitu sebagian besar Sumatera Selatan, sebagian besar pulau Jawa, sebagian besar pulau Kalimantan.

    Baca: Sungai Ngarai Sianok meluap, 7 rumah diterjang banjir

    Selain itu, pesisir barat Sulawesi Selatan, pesisir utara Sulawesi Utara, Maluku Utara, sebagian kecil Maluku dan Papua Barat juga diprediksi mengalami musim hujan di bulan Oktober 2024.

    Sementara sebanyak 25,9 persen wilayah akan memasuki musim hujan di bulan November yaitu Lampung bagian selatan, pulau Jawa bagian timur, sebagian besar pulau Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Merauke bagian selatan.

    Selanjutnya pada periode Januari – Februari 2025 diprakirakan terjadi yang di antaranya Lampung, Pulau Jawa bagian utara, sebagian kecil dari Pulau Sulawesi, Pulau Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan sebagian besar Pulau Papua.

    Baca: Banjir bandang terjang Ternate, 14 orang meninggal

    Namun, Dwikorita menjelaskan sebanyak 16,2 persen wilayah lainnya mengalami pola musim hujan sepanjang tahun atau disebut hanya mengalami satu musim jika dibandingkan dengan rerata klimatologisnya.

    Meski musim hujan di tiap wilayah berbeda-beda, tetapi BMKG meyakini musim hujan kali ini masih dalam kategori normal atau tidak lebih basah dan tidak lebih kering.

    Dwikorita berharap dengan adanya informasi prediksi musim hujan 2024-2025, masyarakat dapat mengantisipasi dengan menjaga lingkungan masing-masing.

     

    Baca: Tim gabungan mulai normalisasi Sungai Rua, Ternate

    Hal ini perlu dilakukan agar masyarkat terhindar dari bencana hidrometeorologi berupa banjir, longsor, banjir bandang, dan lain-lain yang berpotensi terjadi saat musim hujan.

    Selain itu, prediksi ini juga dapat menjadi acuan bagi kementerian/lembaga termasuk pemerintah daerah untuk menyusun rencana aksi dini (early action).

     

    “Bagi pemerintah daerah diharapkan lebih optimal lagi mengedukasi masyarakat untuk menghadapi risiko bencana selama musim hujan serta pentingnya terus memonitor perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini yang disampaikan BMKG,” urai Dwikorita.

     

  • Indonesia Sedang Berada di Puncak Musim Hujan, BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Cuaca Ekstrem

    Indonesia Sedang Berada di Puncak Musim Hujan, BMKG Imbau Masyarakat Waspadai Cuaca Ekstrem

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan tahun 2024/2025 akan berlangsung hingga akhir Maret 2025.

    “Musim hujan diprediksi akan berakhir sampai bulan Maret, akhir Maret 2025, dan April itu transisi dari musim hujan ke musim kemarau,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati seperti yang dilansir Antaranews.

    Sementara puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia terjadi di bulan Januari hingga Februari, sehingga saat ini masih menghadapi puncak musim hujan.

    Baca: Pulau Jawa Waspada Bencana hingga April 2025

    Dia mengimbau, di puncak musim hujan seperti sekarang, masyarakat mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem yang masih berulang dan hampir merata di seluruh wilayah Indonesia.

    “Hanya tempatnya itu bergeser-geser, misalnya dari Sumatera, dari Jakarta, lalu ke Jawa Tengah, ke Jawa Timur, lalu nanti ke Sulawesi, nanti balik lagi ke Jakarta, jadi akan berpindah-pindah tempatnya,” ungkapnya.

    Karena itu, lanjut Dwikorita, masyarakat dapat terus memonitor perkembangan cuaca informasi di situs resmi BMKG, mengingat dinamika cuaca yang cepat berubah-ubah.

    Baca: Hujan ekstrem di Jawa Barat diperkirakan hingga 7 Februari 2025

    “Jadi masih tetap harus waspada siaga dengan cara terus memonitor perkembangan informasi BMKG, ini karena dinamika cuaca yang sangat cepat berubah, jadi mohon dimonitor agar bisa beradaptasi dalam menyusun rencana kegiatan sehari-hari,” katanya.

    Seperti yang diberitakan sebelumnya, BMKG memprediksi adanya peningkatan intensitas hujan, hingga terjadinya hujan ekstrem di Jawa Barat, dalam periode 2 hingga 7 Februari 2025.

    “Hal ini, berkaitan dengan adanya bibit siklon tropis yang baru saja muncul di perairan Samudera Hindia, yang kemungkinan dapat membahayakan pelayaran atau publik baik secara langsung, ataupun tidak langsung,” ungkapnya.

    Baca: Puncak musim hujan di Jatim Februari 2025, ini mitigasi yang perlu dilakukan

    Mantan rektor UGM tersebut menjelaskan saat ini sebagian besar wilayah Indonesia termasuk Jabar masih dalam puncak musim hujan hingga akhir Februari atau Maret mendatang.

    Kondisi cuaca seperti ini terjadi akibat pengaruh angin muson dari Asia yang semakin menguat dan disertai dengan La Nina lemah yang diprediksi berlangsung hingga bulan Maret-April.

    Selain itu, masih ada pula pengaruh Madden-Julian Oscillation (MJO) yang semakin bergerak ke arah Indonesia bagian tengah dan pengaruh seruakan udara dingin dari dataran tinggi di Asia atau dataran tinggi Siberia.

     

  • BMKG: Sebagian Besar Wilayah Indonesia Sudah Masuki Musim Hujan

    BMKG: Sebagian Besar Wilayah Indonesia Sudah Masuki Musim Hujan

    7cloud.asia – Awal musim hujan di Indonesia tidak terjadi dalam waktu bersamaan. Sebanyak 43,8 persen dari zona musim (ZOM) di wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan pada dasarian kedua Oktober 2025.

    Selanjutnya, musim hujan akan meluas secara bertahap ke wilayah selatan dan timur, dengan puncak musim hujan diprediksi banyak terjadi pada bulan November hingga Desember 2025 di Indonesia bagian barat dan pada Januari hingga Februari 2026 di Indonesia bagian selatan dan timur.

    Sejalan dengan prediksi tersebut, dalam beberapa hari terakhir BMKG mencatat kejadian hujan sangat lebat (curah hujan mencapai ≥ 100 mm/hari) di sejumlah wilayah Indonesia.

    Sementara itu, kondisi cuaca panas di sejumlah wilayah Indonesia secara konsisten mengalami penurunan, ditandai dengan tidak adanya wilayah dengan suhu maksimum lebih dari 36°C.

    Secara umum, suhu maksimum tercatat dalam beberapa hari terakhir di Lampung Utara, Lampung (35,8°C), Kupang, Nusa Tenggara Timur (35,5°C), Manokwari, Papua Barat (34,8°C).

    Baca: Udara panas menyengat akan berlangsung hingga November 2025

    BMKG memprediksi potensi hujan akan meningkat di sebagian wilayah Indonesia meliputi Sumatra bagian selatan, sebagian besar Pulau Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, sebagian Kalimantan, Maluku, dan sebagian besar Papua.

    Peningkatan ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal. Pada skala regional, aktivitas fenomena atmosfer seperti MJO, Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin yang secara bersamaan melewati wilayah Indonesia menjadi pemicu hujan lebat di sejumlah wilayah.

    Selain itu, faktor lokal di masing – masing wilayah menjadikan kondisi atmosfer relatif labil sehingga meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.

    Mempertimbangkan peningkatan potensi hujan dalam waktu mendatang, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir, genangan, dan longsor yang berdampak pada aktivitas harian maupun transportasi.

    Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diharapkan dapat menjaga saluran drainase agar tidak tersumbat serta rutin memantau informasi cuaca resmi BMKG sebelum beraktivitas.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Selama sepekan ke depan, pertumbuhan awan hujan yang signifikan berpotensi terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia.

    Kondisi ini dipicu oleh interaksi berbagai faktor atmosfer skala global, regional, hingga lokal, yang mempertahankan atmosfer berada dalam kondisi labil dan mendukung perkembangan awan konvektif.

    Aktivitas atmosfer tersebut berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas bervariasi, mulai dari ringan hingga lebat.

    Berdasarkan hasil pemantauan dinamika atmosfer terkini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, seperti hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir, angin kencang, serta gelombang laut yang tinggi di sejumlah wilayah di Indonesia.

    Masyarakat diharapkan secara rutin memantau informasi prakiraan dan peringatan dini cuaca melalui kanal resmi BMKG, serta menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan saluran drainase berfungsi dengan baik sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan genangan air maupun bencana hidrometeorologi lainnya.

    Baca: Eropa alami bencana terburuk akibat perubahan iklim

    Prospek cuaca 31 Oktober–3 November 2025
    Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi berawan hingga hujan ringan. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Riau, Kep. Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.

    Peningkatan curah hujan juga berpotensi terjadi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, Papua Selatan.

    Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

    Sementara Peringatan Siaga (Hujan lebat – sangat lebat) disampaikan untuk penduduk Papua Pegunungan.

     

     

  • Indonesia Masuki Puncak Musim Hujan, BMKG Ingatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi

    Indonesia Masuki Puncak Musim Hujan, BMKG Ingatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Indonesia mulai memasuki periode puncak musim hujan yang berlangsung sejak November 2025 – Februari 2026.

    Dalam pernyataannya, puncak musim hujan ini ditandai dengan potensi peningkatan curah hujan tinggi dan bencana hidrometeorologi banjir-tanah longsor.

    Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa fase musim hujan ini menandai periode siaga terhadap potensi banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah.

    “Puncak musim hujan dimulai November ini dan akan berlangsung hingga Februari. Potensi curah hujan ekstrem meningkat sehingga perlu kewaspadaan tinggi di daerah rawan bencana,” kata dia dalam konferensi pers “Kesiapan Menghadapi Puncak Musim Hujan” di Jakarta, Sabtu (1/11/2025).

    Baca: Sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim hujan

    Dia menjelaskan sebagian besar wilayah Jawa, Sumatra bagian barat, dan Kalimantan bagian tengah akan mengalami curah hujan intensif pada Desember 2025 – Januari 2026.

    Sedangkan wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, umumnya akan mencapai puncaknya pada Januari hingga Februari 2026.

    Sebagaimana yang dilaporkan tim Meteorologi BMKG sebelumnya, kata dia, kondisi atmosfer yang labil disertai penguatan monsun Asia serta suhu muka laut yang lebih hangat menjadi faktor utama meningkatnya curah hujan di tanah air pada periode tersebut.

    “Air laut yang lebih hangat hingga tiga derajat Celsius meningkatkan penguapan, memperkaya pasokan uap air di atmosfer, dan memicu hujan lebih intens,” ujarnya menambahkan.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Berdasarkan hasil analisa tim Meteorologi BMKG bahkan mendapati 43,8 persen wilayah Indonesia atau setara dengan 306 zona musim telah memasuki periode musim hujan hingga akhir Oktober 2025.

    Wilayah yang telah memasuki musim hujan meliputi sebagian Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, sebagian Jawa Timur, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi serta Papua.

    Dengan demikian, Dwi mengimbau secara khusus kepada pemerintah daerah bersama masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di daerah dengan riwayat banjir dan longsor, seiring meningkatnya potensi cuaca ekstrem selama empat bulan ke depan.

    “Pola puncak hujan tidak terjadi serentak, melainkan bergeser dari barat ke timur Indonesia,” kata dia.

  • Musim Hujan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik

    Musim Hujan, Harga Sayur Mayur Merangkak Naik

    7cloud.asia – Musim hujan kini tengah melanda Indonesia. Hal ini menyebabkan harga sayur mayur di beberapa tempat merangkak naik.

    Seperti Pasar Banjarsari, Ciamis, Jawa Barat. dari pantauan 7cloud.asia pada Jumat (21/11/2025), harga cabai merah keriting melonjak menjadi Rp 80.000 per kilogram dari harga Rp 50.000 per kilogram.

    Demikian juga dengan cabai rawit yang naik dari harga Rp 40.000 kini menjadi Rp 50.000 per kilonya. Harga bawang merah juga mengalami kenaikan dari harga Rp 40.000 per kilogram kini naik menjadi Rp 48.000 per kilogram.

    Baca: Pemerintah Baru, Harga Sembako Tinggi

    Kenaikan juga terjadi pada wortel yang dibanderol menjadi Rp. 20.000 per kilogram dari harga Rp 12.000 per kilogram. Demikian pula dengan tomat yang kini berada pada harga Rp 15.000 per kilogram dari harga Rp 8000 per kilonya.

    Harga sawi hijau pun tak luput dari kenailkan. Sekilo sawi hijau kini dijual dengan harga Rp 16.000 per kilogram. Harga ini naik dua kali lipat dari harga sebelumnya Rp 8000 per kilogram. Harga pakcoy juga naik menjadi Rp 18.000 per kilogram dari harga Rp 10.000 per kilogram.

    Menurut Adi, salah satu pedagang sayur mayur kenaikan ini terjadi sejak satu minggu terakhir. “Musim hujan, banyak yang banjir, longsor jadi sayuran banyak yang busuk  atau gagal panen,” jelas Adi kepada 7cloud.asia.

    Baca: Harga Sembako Melonjak, Pembeli dan Pedagang Mengeluh

    Kenaikan harga ini juga membuat omsetnya menurun, karena pembeli mengurangi bahkan batal membeli sayuran.

    “Pengaruh banget. Banyak pelanggan yang biasanya beli segini terus dikurangi atau nggak jadi beli karena mahal harganya,” katanya.

    Adi mengaku sudah seminggu ini omset yang ia dapat hanya beberapa ratus ribu saja. Padahal biasanya ia bisa mendapatkan omset 1 hingga 1,5 juta rupiah per hari.

    Dia berharap pemerintah turun tangan untuk menstabilkan harga. Apalagi jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2026, dimana harga sayuran dan sembako akan melonjak naik.