Tag: natal

  • Natal Sudah Dirayakan Umat Kristen Sejak Abad 2 Masehi

    Natal Sudah Dirayakan Umat Kristen Sejak Abad 2 Masehi

    7cloud.asia – Sebagian besar orang, termasuk umat Kristen, meyakini bahwa Natal adalah kristenisasi dari perayaan-perayaan pagan.

    Natal dianggap sebagai cara Kristen untuk pemujaan dewa matahari (Sol invictus), pemujaan dewa Saturnus (Saturnalia), dan pemujaan dewa matahari dari Persia yang diadopsi oleh masyarakat Romawi (Mithras).

    Dalam bahasa akademik, kristenisasi perayaan pagan disebut dengan Historical Religions Theory atau teori sejarah agama.

    Menurut teori ini, penetapan kelahiran Yesus sebagai penyebar agama Kristen dan penetapan perayaan Natal pada tanggal 25 Desember terjadi pada abad 4 Masehi.

    Namun, terdapat bukti-bukti dari manuksrip dan teori, bahwa sebenarnya Natal telah ada jauh sebelum abad 4 M. Apa alasannya?

    Baca: Mengenal ritual thudong di kalangan umat Budha

    Tanggal 25 Desember sebagai kelahiran Yesus

    1. Berdasarkan manuskrip

    Beberapa manuskrip dari abad 3 M menunjukkan penetapan tanggal kelahiran Yesus, baik secara tersurat maupun tersirat.

    Hypolitus (170-235 M), seorang teolog dan tokoh Gereja Katolik di kota Roma, Italia, menyinggung saat kelahiran Yesus di dalam teks Komentar Nabi Daniel (204 M).

    Di dalam teks tersebut tertulis Yesus dilahirkan “di Bethlehem, 8 hari sebelum kalender Januari (25 Desember), pada hari keempat (Kamis),…”.

    Hypolitus menggunakan perhitungan kalender Julian, yaitu kalender yang berpatokan pada rotasi bumi terhadap matahari, dan mulai diterapkan oleh Julius Caesar pada tahun 45 SM.

    Baca: Ibadah haji sudah ada sejak lama sebelum Islam berkembang

    2. Menurut Calculation Theory

    [Teks De Pascha Computus (243 M) yang merupakan penjelasan seputar perhitungan penetapan Paskah, dan keterangan dari sejarawan Kristen, Sextus Julius Africanus (160-240 M), dapat dirujuk sebagai dasar penghitungan tanggal kelahiran Yesus].

    Berdasarkan sumber tersebut, penetapan tanggal kelahiran Yesus dapat dihitung dengan berpatokan pada tanggal kematian Yesus. Yesus wafat di kayu salib pada tanggal 25 Maret (kalender Julian).

    Tradisi Yahudi meyakini peristiwa awal mula dikandung dalam rahim atau kelahiran dari orang suci terjadi pada tanggal dan bulan yang sama dengan peristiwa kematian (integrative age),.

    Dari asumsi teologis ini, disimpulkan bahwa inkarnasi, atau penjelmaan roh dalam wujud manusia, dari Yesus Kristus terjadi pada 25 Maret ketika Yesus dikandung di dalam rahim Maria.

    Baca: Mengenal wukuf yang menjadi puncak ibadah haji

    Dari tanggal 25 Maret inilah kemudian disimpulkan secara hipotetis bahwa Yesus lahir 9 bulan setelah dikandung, yaitu tanggal 25 Desember.

    Cara perhitungan dengan menggunakan asumsi teologis semacam ini dikenal dengan istilah Calculation Theory.

    Berdasarkan teori itu, penetapan saat kelahiran Yesus tidak ada kaitannya dengan perayaan sol invictus, saturnalia dan mithras karena perayaan-perayaan pagan tersebut tidak jatuh pada 25 Desember.

    Sol invictus kemungkinan dirayakan pada 8, 9, atau 28 Agustus, 19 atau 22 Oktober, atau 11 Desember. Saturnalia dirayakan antara tanggal 17- 23 Desember.

    Terkait Mithras, tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa kultus ini dirayakan pada 25 Desember.

    Rujukan teks terkait perayaan Natal
    Terkait bukti perayaan Natal sebelum abad 4 M, ada beberapa teks yang dapat dirujuk.

    Tiga diantaranya adalah Didascalia Apostolorum, Liber Pontificalis dan Epistle of Theophilus.

    Baca: Menghidupkan relief di Candi Borobudur

    Ketiga teks tersebut memberikan informasi kehidupan Gereja perdana seputar aturan moral, peribadatan, dan daftar para Paus, pemimpin tertinggi gereja Katolik Roma.

    Didascalia Apostolorum adalah kumpulan tulisan yang muncul sekitar tahun 250 M. Teks ini menyinggung perihal perayaan Epifani (Penampakan).

    Gereja Katolik merayakan Epifani untuk memperingati kedatangan tiga orang majus (orang-orang bijak) ke kandang Bethlehem.

    Gereja Kristen Timur dan Ortodoks merayakan Epifani untuk memperingati peristiwa pembaptisan Yesus.

    Di dalam tradisi umat Kristen Timur, Ortodoks, dan Katolik, perayaan Epifani merupakan salah satu rangkaian dari perayaan Natal. Didascalia Apostolorum dapat menjadi bukti petunjuk bahwa Natal sudah dirayakan sebelum abad 4 M.

    Di dalam teks tersebut, dikatakan bahwa perayaan Epifani dirayakan pada tanggal 6 Januari dalam kalender Julian.

    Baca: Tradisi unik warga Badui bernama Seba

    Jika dikonversi ke kalender Gregorian, kalender yang juga berpatokan pada rotasi bumi terhadap matahari dan kita gunakan sejak tahun 1582 M hingga saat ini, perayaan Epifani jatuh pada tanggal 25 Desember.

    Bukti yang lebih kuat adalah Liber Pontificalis. Teks ini berisikan semacam biografi singkat para paus.

    Di dalam teks tersebut, dikatakan bahwa Paus Telesphorus yang menjabat dari tahun 125 M – 136 M memerintahkan sebuah perayaan pada malam kelahiran Yesus Kristus.

    Memang tidak tertera secara eksplisit penetapan tanggal perayaan Natal. Akan tetapi, Liber Pontificalis menjadi bukti bahwa perayaan Natal sudah dirayakan pada awal abad 2 M.

    Sementara itu, Epistle of Theophilus menyebutkan tanggal 25 Desember sebagai tanggal perayaan kelahiran Yesus. Teks tersebut menjadi petunjuk bahwa perayaan kelahiran Yesus sudah dilakukan sebelum tahun 196 M, sehingga besar kemungkinan Natal telah dirayakan sebelum itu.

    Ketiga teks di atas menunjukkan bahwa asal usul Natal bukanlah perayaan Sol Invictus, Saturnalia, atau Mithras. Perayaan Natal sudah dirayakan oleh umat Kristiani sejak abad 2 M.

    Artikel ini telah diterbitkan di The Conversation, Penulis: Martinus Ariya Seta; Dosen, Universitas Sanata Dharma

  • Cuaca di Hari Natal, Beberapa Wilayah di Jakarta Berpeluang Hujan Ringan

    Cuaca di Hari Natal, Beberapa Wilayah di Jakarta Berpeluang Hujan Ringan

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di beberapa wilayah di Jakarta pada Senin (25/12/2023).

    Di Kepulauan Seribu, hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi pada Senin pagi dan malam.

    Kemudian pada siang hari, wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur berpotensi terjadi hujan ringan.

    Sedangkan wilayah lainnya wilayah Jakarta berpotensi cerah dan berawan.

    Dari laman resmi BMKG sebagian besar kota-kota di Indonesia juga berpeluang hujan dengan intensitas ringan pada perayaan Natal hari ini.

    Pada pagi hari, hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di Kota Banda Aceh, Banjarmasin, Palangkaraya, Samarinda, Tanjung Pinang, Makassar, Medan.

    Kemudian pada siang hari hujan dengan intensitas ringan diprediksi terjadi di Kota Denpasar, Serang, Jambi, Pontianak, Palangkaraya, Mataram, Manokwari, Mamuju, Makassar dan Padang.

    Pada malam hari hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Banda Aceh, Palangkaraya, Pangkal Pinang, Pekanbaru dan Mamuju.

    BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Bandung dan Banjarmasin pada siang hari.

    Hujan dengan intensitas sedang diprediksi mengguyur Kota Bandung dan Semarang pada malam hari.

    Beberapa kota juga diperkirakan terjadi hujan disertai petir pada siang hari, yaitu Kota Banda Aceh, Pangkal Pinang dan Tanjung Pinang.

    Pada malam hari Kota Jambi dan Samarinda berpeluang terjadi hujan disertai petir.

    Di wilayah perairan juga berpeluang terjadi hujan dengan intensitas lebat, yaitu perairan Samudra Hindia Barat Acehi hingga Bengkulu, Selat Malaka, Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Laut Jawa, Selat Makassar.

    Kondisi cuaca serupa juga berpeluang terjadi di Teluk Bone, Teluk Tomini, Laut Sulawesi, Laut Banda, Laut Halmahera dan Laut Arafura

    Suhu udara berkisar antara 19 hingga 34 derajat celsius. Suhu terendah diprediksi terjadi di Kota Bandung. Sedangkan suhu tertinggi diperkirakan terjadi di Kota Semarang dan Ambon.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Sudahkah Pohon Natal Anda Ramah Lingkungan?

    Sudahkah Pohon Natal Anda Ramah Lingkungan?

    7cloud.asia – Natal merupakan salah satu perayaan terbesar bagi umat Kristiani yang dirayakan setiap bulan Desember.

    Dan, pohon Natal telah menjadi simbol dan komponen penting yang nyaris tak bisa dilepaskan dari perayaan ini.

    Sayangnya, tidak peduli apakah pohon natal itu dari tanaman asli atau palsu, dua-duanya berdampak buruk bagi lingkungan.

    Jadi, menjelang liburan Natal kali ini, kami ajak Anda untuk mempertimbangkan kembali hubungan antara pohon Natal dan lingkungan hidup.

    Baca: Natal sudah dirayakan sejak abad 2 Masehi

    Jejak Karbon
    Pohon Natal asli biasanya dibuat dari pohon Cemara. Pohon Natal asli membawa jejak karbon rata-rata sebesar 3,5 kilogram karbon dioksida (CO2) jika dibuang melalui metode seperti pemotongan atau pembakaran kayu.

    Namun, jika sampah tersebut dibiarkan membusuk di tempat pembuangan sampah, jejak karbonnya akan berlipat ganda menjadi 16 kilogram CO2.

    Meskipun beberapa orang mendukung pohon plastik dengan alasan bahwa pohon tersebut dapat digunakan kembali sebagai fitur ramah lingkungan, dampak terhadap lingkungan menunjukkan cerita yang berbeda.

    Misalnya saja, pohon buatan setinggi dua meter diperkirakan menimbulkan dampak karbon sebesar 40 kilogram jika dibuang begitu saja.

    Sebagai gambaran, seseorang perlu menggunakan kembali pohon Natal buatan setidaknya selama 12 tahun agar sesuai dengan keramahan lingkungan dari pohon Natal asli.

    Baca: Perayaan Lebaran yang tak ramah lingkungan

    Dapat terurai vs Tidak dapat terurai secara hayati
    Pohon Natal asli menawarkan manfaat lingkungan yang signifikan karena dapat terurai secara hayati dan tidak menimbulkan bahaya kimiawi terhadap lingkungannya.

    Setelah dibuat kompos, pohon-pohon ini dapat digunakan kembali sebagai kayu, mulsa, atau pupuk. Beberapa pohon Natal asli bahkan ditempatkan secara strategis di dasar kolam, sungai, dan lautan untuk membangun habitat bawah air yang baru.

    Sebelum dipanen, pohon Natal asli berperan penting dalam mendukung ekosistem alami dengan menyediakan perlindungan bagi berbagai spesies burung dan mamalia sekaligus secara aktif menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen.

    Namun, kekhawatiran muncul dari para peneliti yang menyatakan bahwa pohon-pohon ini mungkin tidak mencapai potensi penyerapan karbon sepenuhnya karena pohon-pohon tersebut biasanya dipanen pada “masa remaja”, sebelum mencapai puncak kematangan.

    Baca: Mengenal ritual Thudong atau ziarah tahunan umat Budha

    Sebaliknya, pohon Natal buatan sebagian besar dibuat dari plastik berbahan dasar minyak bumi seperti polivinil klorida (PVC) dan logam.

    Sifatnya yang tidak dapat terurai secara hayati dan tidak dapat didaur ulang berkontribusi terhadap meluapnya TPA di akhir siklus hidupnya, sehingga melepaskan lebih banyak gas rumah kaca dan bahan kimia beracun ke lingkungan.

    Selain itu, proses manufaktur sering kali dilakukan di negara-negara berkembang sebelum dikirim ke negara-negara kaya di belahan Bumi Utara.

    Sehingga hal ini semakin menambah jejak karbon pohon Natal melalui transportasi.

  • BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cold Surge Jelang Natal, Apa Itu?

    BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cold Surge Jelang Natal, Apa Itu?

    7cloud.asia – Menjelang perayaan Natal tahun ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat mewaspadai Cold Surge atau seruak dingin yang dapat memicu hujan lebat dan sangat lebat di sejumlah wilayah.

    Data BMKG mencatat ada peningkatan signifikan indeks Cold Surge. Dalam laman resmi BMKG, Cold Surge merupakan jalaran udara dingin yang mengalir dari daratan Asia menuju wilayah Indonesia bagian barat.

    Adanya cold surge dapat ditandai dengan penguatan angin permukaan, penurunan suhu permukaan yang tajam, dan kenaikan tekanan permukaan di Laut Cina Selatan.

    Baca: BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem saat libur Nataru

    Pada saat monsun dingin Asia berlangsung, seringkali terjadi penjalaran massa udara dingin dari pusat tekanan tinggi di daratan Asia menuju ke arah Selatan dan ke arah Timur. Penjalaran massa udara dingin ini kemudian dikenal dengan istilah Cold surge.

    Meskipun masa aktifnya hanya dalam beberapa hari namun Cold Surge memiliki dampak cuaca yang merusak bagian Timur Asia dan juga berpengaruh terhadap hujan diwilayah Asia Tenggara.

    Selain Cold Surge, faktor lainnya yang memicu terjadinya hujan lebat adalah adanya fenomena gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial dan Kelvin di sejumlah daerah seperti Sumatera bagian utara, Jawa hingga Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi.

    BMKG juga memantau potensi terbentuknya bibit siklon tropis di perairan timur Filipina bagian selatan.

    Baca: Banjir besar seperti tahun 2020 berpotensi melanda Jakarta

    Faktor-faktor tersebut menciptakan kondisi atmosfer yang mendukung terjadinya hujan lebat, angin kencang serta berpotensi banjir di sejumlah wilayah.

    Diantaranya wilayah Sumatera bagian utara, Jawa, Bali, Nusa tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

    Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air, terutama di wilayah rawan.

    BMKG juga mengajak masyarakat untuk membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar untuk mengurangi risiko banjir.
    Selain itu, jika beraktivitas di luar ruangan hindari wilayah rawan bencana serta mempersiapkan perlengkapan darurat.

  • Khotbah Natal Paus Fransiskus: Serukan Diakhirinya Perang Ukraina

    Khotbah Natal Paus Fransiskus: Serukan Diakhirinya Perang Ukraina

    7cloud.asia – Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus, dalam pesan Natal yang disampaikan pada Rabu (25/12/2024) menyerukan agar perang di Ukraina segera diakhiri,

    Dalam khotbah Hari Natal “untuk kota ini dan dunia”, Paus Fransiskus menyerukan perundingan antara Ukraina dan Rusia untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan puluhan ribu orang tersebut.

    Paus Fransiskus menyebut secara lugas konflik Ukraina dan menyerukan “keberanian yang dibutuhkan untuk membuka pintu negosiasi.”

    Berbicara dari balkon tengah Basilika Santo Petrus kepada ribuan orang di alun-alun di bawahnya, Paus mengatakan, “Semoga suara senjata-senjata dilenyapkan di Ukraina yang dilanda perang!” Ia juga menyerukan “isyarat dialog dan pertemuan untuk mencapai perdamaian yang adil dan abadi.”

    Fransiskus, yang telah menjadi Paus sejak tahun 2013, dikritik pejabat Ukraina tahun ini ketika mengatakan bahwa negara itu harus memiliki keberanian bak “bendera putih” untuk berunding guna mengakhiri perang dengan Rusia.

    Baca: Mengembalikan esensi Natal dengan pohon Natal ramah lingkungan

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya telah mengesampingkan kemungkinan untuk terlibat dalam perundingan damai tanpa dipulihkannya perbatasan Ukraina seperti sebelum perang.

    Akan tetapi, Zelenskyy telah menunjukkan keinginan yang semakin besar untuk bernegosiasi sejak terpilihnya kembali Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

    Pada awal Desember, Zelenskyy mengemukakan gagasan penyelesaian diplomatik berupa “pembekuan” garis pertempuran saat ini dan penempatan pasukan asing di Ukraina. Rusia telah menuntut agar Ukraina menghentikan ambisinya untuk bergabung dengan aliansi militer NATO.

    Paus Fransiskus, yang berusia 88 tahun dan sedang merayakan Natal ke-12 pada masa kepausannya, menyerukan diakhirinya konflik, baik secara politik, sosial maupun militer, di tempat-tempat termasuk Lebanon, Mali, Mozambik, Haiti, Venezuela, dan Nikaragua.

    Paus Fransiskus, yang belakangan semakin kritis terhadap kampanye militer Israel di Gaza dan menyebutnya sebagai “kekejaman” pada pekan lalu, juga kembali menyerukan gencatan senjata dalam perang Israel-Hamas dan dibebaskannya sandera Israel yang tersisa, yang masih ditahan oleh Hamas.

    Baca: Paus Fransiskus serukan puasa dan doa bersama untuk Gaza

    Ia menyebut situasi kemanusiaan di Gaza “sangat serius” dan meminta “pintu dialog dan perdamaian (untuk) dibuka lebar-lebar.”

    Paus Fransiskus membuka Tahun Suci bagi Gereja Katolik di seluruh dunia pada Selasa (24/12/2024) malam, atau Malam Natal, yang akan berlangsung hingga 6 Januari 2026.

    Tahun Suci Katolik, yang juga dikenal sebagai Yubelium, dianggap sebagai masa perdamaian, rasa maaf dan pengampunan.

    Pada Rabu, Paus mengatakan bahwa tahun Yubelium seharusnya menjadi masa bagi “setiap orang, semua orang dan bangsa… untuk menjadi peziarah harapan, untuk membungkam suara senjata dan mengatasi perpecahan.”

    Fransiskus juga menyerukan “Solusi yang disetujui bersama” untuk merobohkan tembok perbatasan yang telah membagi pulau Siprus di Mediterania antara Republik Siprus dan Republik Turski Siprus Utara sejak tahun 1974.

  • Umat Kristen di Gaza Gelar Misa Natal untuk Pertama Kalinya Sejak 2023

    Umat Kristen di Gaza Gelar Misa Natal untuk Pertama Kalinya Sejak 2023

    7cloud.asia – Umat Kristen di Jalur Gaza pada Rabu (24/12/2025) berkumpul untuk melaksanakan Misa Natal untuk pertama kalinya dalam dua tahun, menandai kembalinya ibadah berjamaah dengan suasana khidmat usai perang menghancurkan yang membuat perayaan keagamaan terhenti.

    Misa Natal di Gaza tersebut berlangsung tanpa lampu, musik, dan dekorasi yang secara tradisional menjadi ciri khas hari raya tersebut.

    Sebaliknya, suasananya dipenuhi duka cita saat para jemaah berdoa untuk mereka yang tewas selama konflik.

    Selama dua tahun terakhir, komunitas kecil Kristen itu terpaksa membatasi praktik keagamaan hanya pada doa-doa pribadi di tempat perlindungan atau gereja-gereja yang rusak.

    Kembalinya jemaat ke gereja pada Rabu dimungkinkan berkat perjanjian gencatan senjata baru-baru ini dan penarikan sebagian pasukan Israel dari kawasan bersejarah kota tersebut.

    “Sebelum perang, kami biasa berdoa bersama, menghias pohon Natal di rumah, dan berbagi kudapan manis,” kata Edward Antoine (37), yang ibu dan saudara perempuannya tewas dalam perang tersebut.

    “Tahun ini, saya menghadiri Misa sendirian, tetapi doa memberi saya kekuatan,” ungkapnya.

    Komunitas Kristen Gaza, yang berjumlah sekitar 1.000 orang sebelum perang, mengalami kehilangan yang signifikan.

    Direktur Operasi Patriarkat Latin di Gaza George Anton mengatakan sedikitnya 53 anggota komunitas tewas, baik dalam serangan langsung maupun karena kurangnya perawatan medis saat berlindung di kompleks gereja.

    Perang pecah pada 7 Oktober 2023, setelah militan Hamas melancarkan serangan ke Israel selatan. Serangan balasan Israel menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza.

    Beberapa gereja, yang berfungsi sebagai tempat berlindung bagi umat Kristen dan Muslim, terkena serangan dalam perang tersebut.

    Meskipun gencatan senjata saat ini telah membawa ketenangan yang bersifat tidak mutlak, rasa tidak aman masih membayangi warga.

    “Kami terkadang masih mendengar ledakan. Kami merasa cukup dengan doa hari ini. Kami berusaha bertahan hidup dan berharap kematian di Gaza segera berakhir,”
    kata Hilda Ayad (29).

    Misa tersebut hanya terbatas pada ritual keagamaan. Para pengurus gereja menegaskan bahwa tidak akan ada perayaan publik atau festival musik tahun ini sebagai bentuk penghormatan kepada ribuan warga Palestina yang tewas di seluruh wilayah tersebut.

    “Tidak akan ada kebahagiaan sejati selama Gaza hancur. Kehilangan kami adalah bagian dari penderitaan semua orang di sini,” kata Faten al-Salafiti (67), yang kehilangan suami dan putranya dalam serangan terhadap sebuah gereja.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua

  • Kesederhanaan dan Material Ramah Lingkungan Warnai Perayaan Natal 2025 di Gereja Katedral

    Kesederhanaan dan Material Ramah Lingkungan Warnai Perayaan Natal 2025 di Gereja Katedral

    7cloud.asia – Gereja Katedral Jakarta menampilkan suasana berbeda dalam perayaan Natal 2025. Seluruh rangkaian dekorasi mengusung konsep sederhana melalui penggunaan material ramah lingkungan.

    Pohon Natal di area gereja tersusun dari karung beras serta batok kelapa yang dirangkai menjadi ornamen bernuansa alami.

    “Memang saat ini yang disampaikan adalah pohon natal, terutama yang kelihatan itu, terlihat menggunakan bahan daur ulang,” ujar Humas Gereja Katedral Susyana Suwadie di Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).

    “Yaitu dari karung beras yang kemudian diberi warna dan juga batok kelapa yang juga dipakai diberikan sebagai ornamen aksesoris. Nah ini memang warna natural, ini kebetulan sekali,” imbuhnya.

    Baca: Umat Kristen di Gaza gelar misa Natal untuk pertama kalinya sejak 2023

    Susy menegaskan konsep sederhana seperti ini telah menjadi tradisi Katedral pada setiap perayaan Natal. Komitmen tersebut sekaligus mendorong pelestarian nilai budaya.

    “Dan tapi memang sejak beberapa tahun ini katedral selalu berkomitmen menggunakan bahan daur ulang ataupun juga misalnya patung-patung yang sudah ada digunakan kembali, kemudian juga komitmen mengangkat wastra nusantara sebagai cinta tanah air,” kata Susy.

    Ia juga memaparkan tema Natal tahun ini, ‘Allah hadir menyelamatkan keluarga’. Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi masyarakat, terutama ketika berbagai daerah terdampak bencana.

    “Ini nanti kita akan dapatkan di homili dari Bapak Kardinal Ignasius Suharyo dan mengenai bencana juga beliau beberapa kali dalam pesan-pesan juga selalu mengungkapkan bagaimana keprihatinan beliau dan juga mengajak semua bisa berpartisipasi membantu saudara-saudara kita yang memerlukan bantuan di area bencana,” tutup Susy.

    Baca: Mengembalikan esensi Natal dengan pohon natal yang ramah lingkungan

    Sementara Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo, dalam khotbah Misa Pontifikal Natal 2025, menegaskan pesan moral tentang merosotnya martabat manusia.

    Ia menyentil kecenderungan manusia memilih kegelapan dibandingkan terang. Menurutnya, penolakan manusia terhadap terang memunculkan kerusakan moral.

    “Manusia sering memilih hidup di dalam kegelapan dan buahnya kita semua tahu adalah semakin luntur dan merosotnya moralitas kehidupan,” ujar Suharyo di Gereja Katedral Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).

    Ia juga mengutip pandangan Paus Fransiskus mengenai ketidakadilan, bahaya uang, serta korupsi sebagai bentuk perendahan martabat.

    Baca: Sudahkah perayaan Natal anda ramah lingkungan?

    “Luka-luka bernanah akibat korupsi merupakan dosa berat yang berteriak keras ke surga untuk mendapatkan pembalasan,” tuturnya.

    Ia menegaskan ajaran Rasul Paulus mengenai manusia yang mencerminkan kemuliaan Allah. Menurutnya, kegelapan moral yang merusak kehidupan sosial.

    “Manusia merendahkan martabatnya sendiri ketika membiarkan hidupnya dipimpin kegelapan,” kata dia.

    Ia kembali mengutip pandangan Paus Fransiskus mengenai ketidakadilan sosial yang menyakiti kelompok lemah.

    “Betapa banyak luka ditanggung orang-orang yang tidak mempunyai suara karena teriakan mereka diredam. Undangan menaburkan pengharapan dengan rajin berbuat baik tidak akan pernah berakhir,” tandasnya.

  • Pesan Natal Paus Leo XIV Kecam Situasi Memperihatinkan di Gaza

    Pesan Natal Paus Leo XIV Kecam Situasi Memperihatinkan di Gaza

    7cloud.asia – Paus Leo XIV, dalam pesan Natalnya yang disampaikan dari Vatikan, mengecam keras memburuknya situasi kemanusiaan yang dihadapi warga Palestina di Jalur Gaza.

    Dalam pesan Natalnya, Leo XIV juga menyerukan perhatian dan kepedulian dunia internasional terhadap penderitaan sipil yang terus berlangsung di wilayah tersebut.

    Dalam pesan yang disampaikan dari Vatikan pada Kamis (25/12/2025) itu, Paus menempatkan krisis Gaza sebagai salah satu tragedi kemanusiaan paling mendesak saat ini, di tengah konflik berkepanjangan dan terbatasnya akses bantuan.

    Ia menegaskan bahwa perayaan Natal seharusnya menjadi momentum refleksi global atas penderitaan sesama manusia, khususnya mereka yang hidup dalam bayang-bayang perang, pengungsian, dan ketidakpastian masa depan.

    Baca: Misa Natal untuk pertama kalinya di Gaza sejak 2023

    “Bagaimana mungkin kita tidak memikirkan tenda-tenda di Gaza yang selama berminggu-minggu terpapar hujan, angin, dan dingin?” ujar Leo XIV, Paus pertama asal Amerika Serikat itu, dalam pidatonya.

    Pada 30 November Paus Leo XIV mengatakan solusi dua negara menjadi satu-satunya cara untuk mengakhiri konflik Palestina-Israel yang hingga kini masih berlangsung.

     

    Paus Leo menekankan bahwa resolusi apa pun harus mencakup pendirian Negara Palestina, seraya menegaskan kembali posisi Vatikan terkait isu tersebut.

    “Kami semua tahu bahwa pada saat ini Israel masih belum menerima solusi itu, namun kami memandangnya sebagai solusi satu-satunya”, katanya.

    Baca: Anak-anak di Gaza yang meninggal akibat musim dingin terus bertambah

    Sementara itu, umat Kristen di Jalur Gaza pada Rabu (24/12/2025) berkumpul untuk melaksanakan Misa Natal untuk pertama kalinya dalam dua tahun.

    Misa ini menandai kembalinya ibadah berjamaah dengan suasana khidmat usai perang di Gaza yang membuat perayaan keagamaan terhenti.

    Misa Natal di Gaza tersebut berlangsung tanpa lampu, musik, dan dekorasi yang secara tradisional menjadi ciri khas hari raya tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/WAFA