Tag: nestle

  • 5 Perusahaan Penghasil Sampah Plastik Terbesar Ini Mulai Memikirkan Daur Ulang

    5 Perusahaan Penghasil Sampah Plastik Terbesar Ini Mulai Memikirkan Daur Ulang

    7cloud.asia – Sampah plastik masih menjadi momok besar yang mengancam dunia. Produksi sampah plastik terus meningkat sementara kemampuan untuk mendaur ulang belum mencapai kemajuan berarti.

    Laporan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) yang dirilis 22 Februari 2022 menyebut, jumlah sampah plastik yang dihasilkan pada 2021 meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding sebelumnya menjadi 353 juta ton.

    Fortuneidn.com mengutip Japan Today mennulis Laporan OECD itu juga menggarisbawahi bahwa sampah plastik menyumbang 3,4 persen dari emisi rumah kaca global pada 2019.

    Data The Changing Markets Foundation pada 2020 memuat beberapa perusahaan yang berada di peringkat teratas produksi kemasan plastik yang kemudian menjadi sampah plastik terbanyak di dunia.

    Perusahaan-perusahaan itu turut menyumbang peningkatan sampah plastik secara global termasuk di Indonesia.

    Kabar baiknya, perusahaan-perusahaan penghasil sampah plastik terbesar itu kini mulai mendaur-ulang sampah plastik yang dihasilkannya.

    Baca: Kampanye konsep guna ulang untuk kurangi sampah plastik

    Berikut ini lima perusahaan dengan produksi kemasan plastik terbanyak di dunia sebagaimana dilansir fortuneidn.com: 

    1. The Coca-Cola Company

    Didirikan pada 1982 di Georgia, Amerika Serikat, The Coca-Cola Company  produk mereka mendunia. Bahkan Coca Cola memiliki restoran dan mesin penjualan yang tersebar di lebih dari 200 negara. 

    Diperkirakan, The Coca-Cola Company memproduksi kemasan plastik sebanyak 2.900.000 ton untuk produk mereka. Meskipun begitu, perusahaan ini sudah memiliki beberapa rencana untuk mengurangi sampah plastik yang diproduksi. 

    Salah satunya, mulai 1 Agustus 2022 Coca Cola akan mengubah kemasan soda lemon-lime Sprite dari hijau menjadi plastik bening.

    Pasalnya, plastik botol hijau Sprite disebut mengandung green polietilena tereftalat hijau (PET). Meskipun dapat didaur ulang, zat aditif tersebut tidak dapat secara khusus didaur ulang menjadi botol baru.

    Pada 2025, Coca Cola akan mengurangi penggunaan sedotan plastik. Khusus di Australia, penggunaan sedotan plastik akan digantikan dengan sedotan yang berbahan dasar kertas. 

    Adapun target lain yang hendak dicapai Coca Cola adalah, pada 2030, perusahaan ini menargetkan mampu mendaur ulang 50 persen dari kemasan botol ataupun plastik yang mereka produksi.

    Baca: KLHK ajak warga boikot produk yang tak peduli sampah plastik

    2. PepsiCo

    PepsiCo didirikan pada 1965 melalui penggabungan Pepsi-Cola dan Frito-Lay. Kompetitor The Coca-Cola Company ini menempati posisi kedua sebagai perusahaan yang memproduksi kemasan plastik terbanyak. 

    PepsiCo diperkirakan memproduksi kemasan plastik sebanyak 2.300.000 ton untuk kemasan produk makanan dan minuman ringan mereka.

    Namun, perusahaan menargetkan 25 persen kemasan plastik dapat mereka daur ulang pada 2025. Pihak PepsiCo mengatakan telah menetapkan tujuan pengurangan plastik termasuk mengurangi plastik murni sebesar 35 persen pada 2025 mendatang.

    Selain itu, PepsiCo juga megembangkan isi ulang dan penggunaan kembali melalui bisnis seperti SodaStream dan SodaStream Professional.

    “Program ini kami perkirakan akan menghindari 67 miliar botol plastik sekali pakai hingga 2025,” kata seorang juru bicara PepsiCo, dilansir dari The Guardian, Jumat (16/9/2022).

    Baca: Koalisi Bebas Plastik desak transparansi soal pengelolaan sampah plastik 

    3. Nestlé

    Nestlé dibentuk pada tahun 1905 melalui penggabungan antara Anglo-Swiss Milk Company dan Farine Lactée Henri Nestlé. Perusahaan multinasional yang berkantor pusat di Swiss ini memproduksi berbagai jenis produk mulai dari makanan hingga minuman. 

    Dalam pengemasan, Nestle menggunakan 1.700.000 ton kemasan plastik. Hingga kini Nestlé masih menggunakan kemasan satu kali pakai. Meskipun demikian, Nestlé sedang mencari kemasan alternatif lain selain plastik, yang dapat digunakan satu kali pakai dan inovasi lainnya.

    Misalnya, pada 2019 Nestlé Indonesia meluncurkan inovasi berupa sedotan kertas untuk minuman kemasan produk mereka. Terobosan itu didasari oleh dukungan terhadap target pemerintah mengurangi sampah plastik hingga 70 persen pada 2025.

    Executive Vice President Nestlé SA untuk Zona Asia, Oceania dan Afrika Sub-Sahara (AOA) Chris Johnson menjelaskan, inisiatif ini merupakan kontribusi terkini pihaknya untuk mewujudkan komitmen Nestlé untuk mendaur ulang dan menggunakan kembali 100 persen kemasan pada tahun 2025.

    Selain itu, perusahaan juga memiliki rencana mengenai penggunaan kemasan yang dapat digunakan kembali dengan sistem refill. Kini, rencana tersebut sedang diproses dan berada dalam tahap uji coba.

    Baca: Tiga tuntutan koalisi bebas plastik

    4. Danone

    Danone merupakan produsen makanan dan minuman terbesar di dunia yang berpusat di Prancis.
     
    Di Indonesia, Danone mengembangkan 4 kategori utama dalam bisnisnya, yaitu produk susu segar, nutrisi awal kehidupan, air, dan gizi medis. 

    Beberapa produk tersebut dikemas dengan menggunakan kemasan plastik. Adapun jumlah kemasan plastik yang diproduksi perusahaan ini adalah 820.000 ton. 

    Dalam upaya mengurangi sampah plastik, Danone telah menargetkan 25 persen pendaurulangan untuk semua kemasan plastik di tahun 2025. Adapun di 2050, Danone menargetkan 50 persen daur ulang untuk kemasan botol.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    5. P&G

    Procter & Gamble Co. (P&G) didirikan pada 1837 dan berkantor pusat di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat (AS).
     
    Perusahaan multinasional ini memiliki beberapa produk, seperti produk untuk perawatan bayi, perawatan tubuh, perawatan rambut, perawatan rumah, perawatan mulut, dan lainnya.
     
    Produk-produk tersebut banyak dikemas dengan menggunakan kemasan plastik yang kemudian menjadi sampah plastik.

    Jumlah kemasan plastik yang kemudian menjadi sampah plastik yang diproduksi P&G diperkirakan  mencapai 714.000 ton.

    P&G pada 2025 menargetkan untuk melakukan daur ulang terhadap 8 persen kemasan plastik yang mereka produksi. 

    Baca: apakah bioplastik benar-benar aman untuk lingkungan

     

     
  • Nestle Sediakan Fasilitas Waste Station di 10 Titik: Masyarakat Bisa Tukarkan Sampah Anorganik dengan Voucher Belanja

    Nestle Sediakan Fasilitas Waste Station di 10 Titik: Masyarakat Bisa Tukarkan Sampah Anorganik dengan Voucher Belanja

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan hingga infrastruktur pengumpulan dan pembuangan yang belum memadai.

    Menjawab tantangan itu, Nestlé yang merupakan salah satu produsen sampah anorganik menyediakan fasilitas Waste Station untuk mengumpulkan dan mengelola sampah anorganik secara optimal dan berkelanjutan.

    Fasilitas Waste Station ini merupakan kolaborasi Nestle bersama Rekosistem, dengan menggandeng mitra ritel, yakni Hero Supermarket dan Hypermart, sebagai lokasi fasilitas Waste Station.

    Dengan adanya Waste Station ini, konsumen dapat mengelola sampah rumah tangga dan menyetornya ke Waste Station terdekat sekaligus berbelanja dan mendapat poin.

    “Inisiatif itu diharapkan dapat mendukung konsumen untuk memulai perubahan perilaku dalam melakukan pilah sampah dari rumah dan memastikan sampah yang disetor akan dikelola dan didaur ulang secara optimal oleh Rekosistem,” tulis Nestlé dalam keterangan resmi yang diterima,  Jumat (18/10/2024).

    Nestlé memulai kolaborasi pertama dengan Hero Supermarket pada Desember 2023 lalu, dengan membuka fasilitas Waste Station di 5 area, yakni Hero Taman Alfa Jakbar, Hero Permata Hijau Jakbar, Hero Kota Wisata Cibubur, Hero Lebak Bulus Jaksel, dan Hero Kemang Jaksel.

    Kolaborasi berikutnya dilakukan bersama Hypermart pada Maret 2024 dengan membuka fasilitas Waste Station di 5 area yaitu, yaitu Hypermart Cyberpark Tangerang, Hypermart Gading Serpong Tangerang, Hypermart Vila Melati Mas Tangerang, Hypermart Puri Indah Jakarta Barat, dan Hypermart AR Hakim Surabaya.

    Baca: Agar Reuse, reduce dan recycle tak hanya jadi slogan

    Pilah, kumpulkan, dan dapatkan voucer belanja
    Untuk menyetor sampah di Waste Station, masyarakat diharapkan telah memilah sampah dari rumah karena fasilitas ini hanya dapat menerima sampah anorganik dan minyak jelantah.

    Masyarakat yang ingin berpartisipasi, harus memastikan sampah dalam keadaan bersih dan kering guna memastikan sampah masih memiliki nilai tinggi untuk didaur ulang.

    Kemudian, kemas sampah anorganik, baik menggunakan kardus, kantong plastik, kantong kertas, maupun tas spunbond, lalu bawa ke lokasi Nestlé Waste Station.

    Selanjutnya, pindai (scan) Nestlé Rekosistem Website QR Code di Waste Station untuk merekam penyetoran sampah dan mengumpulkan poin.

    Lalu, isi informasi sampah yang disetorkan untuk mendapatkan kode unik dan tulis kode unik pada kemasan dan setorkan pada petugas Waste Station.

    Konsumen dapat menyetorkan seluruh material sampah jenis anorganik, seperti kertas, kardus, plastik, kaleng, kaca, dan minyak jelantah.

    Material sampah tersebut masih memiliki nilai dari ulang, tetapi harus didukung dengan pemilahan agar sampah tidak terkontaminasi dengan material organik ataupun minyak dan sambal.

    Seluruh sampah akan disetorkan kepada pengepul dan pendaur ulang sampah sesuai dengan jenis material. Sampah ini akan dijadikan bahan baku material daur ulang atau dikelola secara bertanggung jawab agar tidak bermuara di TPA.

    Baca: Cara memilah sampah dari rumah

    Menariknya, masyarakat dapat mengumpulkan poin dari setiap sampah yang disetorkan. Poin ini dapat ditukarkan dengan voucer belanja partner ritel, yakni Hero Supermarket atau Hypermart, sesuai dengan lokasi penyetoran.

    Masyarakat bisa mendapatkan 800 poin untuk setiap 1 kg sampah anorganik. Konsumen yang mengemas secara terpisah sampah kemasan dari merek-merek Nestlé akan memperoleh 1.500 poin spesial untuk setiap 0,5 kg.

    Setiap 25.000 poin yang terkumpul dapat ditukarkan dengan voucer belanja senilai Rp 25.000 untuk digunakan berbelanja di mitra ritel.

    Selain menyediakan 10 fasilitas Waste Station, Nestlé secara berkelanjutan menjalankan upaya-upaya untuk mendukung pengurangan dan penanganan sampah dari hulu ke hilir, baik di Indonesia maupun global.

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mencatat, Indonesia menghasilkan 30,97 juta ton timbulan sampah pada 2023. Data itu bahkan belum lengkap.

    Hingga 17 Juli 2024, data sampah yang masuk baru berasal dari 280 kabupaten dan kota, sedangkan Indonesia memiliki total 514 kabupaten dan kota.

    Dari sampah yang sudah tercatat, 20,2 juta ton atau 65,24 persen di antaranya berstatus terkelola dan 10,77 juta ton atau 34,76 persen tidak terkelola.

    Peraturan Menteri LHK Nomor 6 Tahun 2022 mendefinisikan “pengelolaan sampah” sebagai kegiatan yang sistematis, menyeluruh, serta berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

  • Kurangi Sampah Plastik, NestlĂ© Indonesia Berupaya Kembangkan Kemasan Berkelanjutan

    Kurangi Sampah Plastik, Nestlé Indonesia Berupaya Kembangkan Kemasan Berkelanjutan

    7cloud.asia – Upaya mengurangi sampah plastik di Indonesia dimulai dari inisiatif-inisiatif untuk mengembangkan kemasan yang berkelanjutan agar lebih mudah didaur ulang.

    Pengurangan sampah plastik juga dilakukan dengan mengurangi penggunaan plastik resin baru, dan mengembangkan inovasi-inovasi baru.

    Sebagai salah satu produsen makanan (FCMG) yang turut menghasilkan timbulan sampah plastik, Nestle Indonesia turut mendukung upaya pemerintah mengurangi sampah plastik. 

    Beberapa inisiatif pengembangan kemasan berkelanjutan yang telah dilakukan Nestlé Indonesia, antara lain menghadirkan sedotan 100 persen kertas pada produk siap konsumsi MILO dan DANCOW serta mangkuk kertas untuk kemasan siap saji KOKO KRUNCH Double Choco.

    Nestlé Indonesia juga bertransisi menggunakan kemasan monomaterial agar lebih mudah didaur ulang. Untuk produk dalam kemasan karton, Nestlé Indonesia menggunakan 100 persen kertas daur ulang dengan sertifikat Forest Stewardship Council (FSC).

    Nestlé Indonesia juga melakukan studi kemasan isi ulang yang berkolaborasi dengan Siklus dan Qyos serta studi kemasan guna ulang berkolaborasi dengan Alner.

    Baca: Nestle Sediakan Fasilitas Waste Station di 10 Titik

    Guna mendukung peningkatan waste management di Indonesia, Nestlé Indonesia juga mengembangkan TPS3R atau TPST. Kedua fasilitas ini dapat mengelola keseluruhan sampah rumah tangga, baik sampah organik maupun sampah anorganik.

    Dalam keterangannya yang diterima Jumat (18/10/2024) Nestlé menyadari, penanganan sampah yang kompleks tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu pihak.

    Dibutuhkan kolaborasi besar dan menjalankan peran dari masing-masing pihak untuk mempercepat pengentasannya, mulai dari pemerintah, produsen, pegiat persampahan, hingga masyarakat umum.

    Untuk itu, Nestlé Indonesia bergabung dalam Project STOP dalam mendirikan dua TPST di Kecamatan Lekok dan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

    Nestlé Indonesia juga bermitra dengan KSM Sahabat Lingkungan dalam mengelola 12 Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat

    Berkolaborasi dengan Wast4Change, Nestle mendirikan Rumah Pemulihan Material di Kelurahan Kebagusan, Jakarta Selatan.

    Baca: Saset Produk FMCG menyumbang terbesar sampah plastik

    Bersama Waste4Change, Nestlé Indonesia juga menyediakan waste drop box di Kantor Pusat Nestlé Indonesia untuk mengelola sampah rumah tangga jenis anorganik milik karyawan.

    Kemudian, Nestlé Indonesia juga bekerja sama dengan Sustainable Waste Indonesia (SWI) serta Indonesia Plastic Recycler (IPR) dalam bermitra dengan para 36 pelapak dan pendaur ulang sampah plastik di Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Jawa Timur.

    Perusahaan juga bergabung dalam PRAISE dan IPRO sebagai salah satu founding member dalam upaya kolaborasi lintas industri untuk meningkatkan angka pengumpulan dan daur ulang sampah kemasan.

    Upaya pengentasan di segala lini itu diharapkan dapat mengurangi kebocoran sampah ke lingkungan ataupun sampah yang bermuara di TPA serta dapat meningkatkan angka daur ulang yang juga mendukung pengembangan waste management.

    Dengan upaya ini diharapkan secara bertahap, ekonomi sirkular di Indonesia benar-benar terwujud.

    Baca: KLHK dorong masyarakat dan produsen bangun ekosistem daur ulang

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mencatat, Indonesia menghasilkan 30,97 juta ton timbulan sampah pada 2023. Data itu bahkan belum lengkap.

    Hingga 17 Juli 2024, data sampah yang masuk baru berasal dari 280 kabupaten dan kota, sedangkan Indonesia memiliki total 514 kabupaten dan kota.

    Dari sampah yang sudah tercatat, 20,2 juta ton atau 65,24 persen di antaranya berstatus terkelola dan 10,77 juta ton atau 34,76 persen tidak terkelola.

    Peraturan Menteri LHK Nomor 6 Tahun 2022 mendefinisikan “pengelolaan sampah” sebagai kegiatan yang sistematis, menyeluruh, serta berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

    Merujuk aturan tersebut, sampah berstatus terkelola jika tercatat masuk ke fasilitas pengelolaan, seperti bank sampah, tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), tempat pemrosesan akhir (TPA).

    Sampah terkelola juga bisa disetor ke pusat daur ulang (PDU), insinerator, pusat olah organik (POO), serta diolah menjadi kompos dan produk kreatif.