7cloud.asia – Upaya mengurangi sampah plastik di Indonesia dimulai dari inisiatif-inisiatif untuk mengembangkan kemasan yang berkelanjutan agar lebih mudah didaur ulang.
Pengurangan sampah plastik juga dilakukan dengan mengurangi penggunaan plastik resin baru, dan mengembangkan inovasi-inovasi baru.
Sebagai salah satu produsen makanan (FCMG) yang turut menghasilkan timbulan sampah plastik, Nestle Indonesia turut mendukung upaya pemerintah mengurangi sampah plastik.
Beberapa inisiatif pengembangan kemasan berkelanjutan yang telah dilakukan Nestlé Indonesia, antara lain menghadirkan sedotan 100 persen kertas pada produk siap konsumsi MILO dan DANCOW serta mangkuk kertas untuk kemasan siap saji KOKO KRUNCH Double Choco.
Nestlé Indonesia juga bertransisi menggunakan kemasan monomaterial agar lebih mudah didaur ulang. Untuk produk dalam kemasan karton, Nestlé Indonesia menggunakan 100 persen kertas daur ulang dengan sertifikat Forest Stewardship Council (FSC).
Nestlé Indonesia juga melakukan studi kemasan isi ulang yang berkolaborasi dengan Siklus dan Qyos serta studi kemasan guna ulang berkolaborasi dengan Alner.
Baca: Nestle Sediakan Fasilitas Waste Station di 10 Titik
Guna mendukung peningkatan waste management di Indonesia, Nestlé Indonesia juga mengembangkan TPS3R atau TPST. Kedua fasilitas ini dapat mengelola keseluruhan sampah rumah tangga, baik sampah organik maupun sampah anorganik.
Dalam keterangannya yang diterima Jumat (18/10/2024) Nestlé menyadari, penanganan sampah yang kompleks tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu pihak.
Dibutuhkan kolaborasi besar dan menjalankan peran dari masing-masing pihak untuk mempercepat pengentasannya, mulai dari pemerintah, produsen, pegiat persampahan, hingga masyarakat umum.
Untuk itu, Nestlé Indonesia bergabung dalam Project STOP dalam mendirikan dua TPST di Kecamatan Lekok dan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Nestlé Indonesia juga bermitra dengan KSM Sahabat Lingkungan dalam mengelola 12 Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat
Berkolaborasi dengan Wast4Change, Nestle mendirikan Rumah Pemulihan Material di Kelurahan Kebagusan, Jakarta Selatan.
Baca: Saset Produk FMCG menyumbang terbesar sampah plastik
Bersama Waste4Change, Nestlé Indonesia juga menyediakan waste drop box di Kantor Pusat Nestlé Indonesia untuk mengelola sampah rumah tangga jenis anorganik milik karyawan.
Kemudian, Nestlé Indonesia juga bekerja sama dengan Sustainable Waste Indonesia (SWI) serta Indonesia Plastic Recycler (IPR) dalam bermitra dengan para 36 pelapak dan pendaur ulang sampah plastik di Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Jawa Timur.
Perusahaan juga bergabung dalam PRAISE dan IPRO sebagai salah satu founding member dalam upaya kolaborasi lintas industri untuk meningkatkan angka pengumpulan dan daur ulang sampah kemasan.
Upaya pengentasan di segala lini itu diharapkan dapat mengurangi kebocoran sampah ke lingkungan ataupun sampah yang bermuara di TPA serta dapat meningkatkan angka daur ulang yang juga mendukung pengembangan waste management.
Dengan upaya ini diharapkan secara bertahap, ekonomi sirkular di Indonesia benar-benar terwujud.
Baca: KLHK dorong masyarakat dan produsen bangun ekosistem daur ulang
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mencatat, Indonesia menghasilkan 30,97 juta ton timbulan sampah pada 2023. Data itu bahkan belum lengkap.
Hingga 17 Juli 2024, data sampah yang masuk baru berasal dari 280 kabupaten dan kota, sedangkan Indonesia memiliki total 514 kabupaten dan kota.
Dari sampah yang sudah tercatat, 20,2 juta ton atau 65,24 persen di antaranya berstatus terkelola dan 10,77 juta ton atau 34,76 persen tidak terkelola.
Peraturan Menteri LHK Nomor 6 Tahun 2022 mendefinisikan “pengelolaan sampah” sebagai kegiatan yang sistematis, menyeluruh, serta berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.
Merujuk aturan tersebut, sampah berstatus terkelola jika tercatat masuk ke fasilitas pengelolaan, seperti bank sampah, tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), tempat pemrosesan akhir (TPA).
Sampah terkelola juga bisa disetor ke pusat daur ulang (PDU), insinerator, pusat olah organik (POO), serta diolah menjadi kompos dan produk kreatif.

Leave a Reply